Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 178


__ADS_3

Jimmy baru diperbolehkan memberitahu Frita setelah selesai persidangan besok. Malam itu keluarga mereka datang ke kantor polisi sambil membawa pengacara ternama.


“Tolonglah bos saya yakin kamu bisa bantu kami,” ucap kuasa hukum Diaz.


“Maaf sekali pak saya tetap akan menegakkan hukum,” jawab Jimmy.


“Ayolah bos berapapun uang jaminannya pasti akan kami bayar,” bujuk kuasa hukum.


“Saya hanya bertugas menangkap mereka, jika ingin bernegosiasi masalah seperti itu sebaiknya anda menemui jaksa dan hakim pengadilan besok.”


“Dasar polisi munafik!” gerutu kuasa hukum itu marah-marah. Dia kemudian membeberkan ancaman balik kepada Jimmy beserta beberapa bukti palsu yang telah dia siapkan namun hal itu tetap tidak membuat Jimmy mundur.


Malam itu keluarga Diaz dan rekan-rekannya hanya bisa pasrah karena gagal untuk membujuk Jimmy. Mereka kemudian pergi menuju rumah jaksa dan hakim yang akan hadir di pengadilan besok. Namun Jimmy segera menelepon mereka untuk memastikan agar jaksa dan hakim itu tidak menerima suap dari keluarga Diaz dan teman-temannya.


Esok paginya pengadilan dimulai. Semua saksi dan bukti penting dihadirkan dalam persidangan itu. Aditya didampingi kuasa hukum yang disediakan oleh Jimmy, sementara Diaz dan tiga temannya didampingi empat pengacara ternama. Mereka ingin mencoba membuat Aditya menjadi pelaku utama kejadian itu namun jaksa dan hakim tidak bisa dibujuk.


Hakim pengadilan memutuskan untuk menghukum mereka berlima di penjara selama empat belas hari. Khusus Diaz dan tiga temannya juga diharuskan membayar denda kepada pemilik café yang merasa dirugikan. Setelah selesai persidangan mereka segera digiring ke sel tahanan. Mereka ditempatkan di sel yang sama. Jimmy kemudian menghubungi Frita.


“Ada apa Jim?” tanya Frita.


“Kamu sekarang di mana Fri?” tanya Jimmy.


“Aku sedang di kantor nih, ada apa?”


“Aku cuma ingin ngasih kabar kalau sopir pribadi kamu Aditya sekarang ditahan di sel tahanan.”


“Hah? Sebentar.. kok bisa Jim? Aditya itu baik loh, kok bisa-bisanya dia ditahan?”


“Dia kemarin terlibat perkelahian di café dengan Diaz. Tadi pengadilannya sudah berlangsung. Dia akan berada di sel selama empat belas hari ke depan.”


“Tunggu, kamu nanti saja menjelaskan hal itu. Aku dan ayah akan segera ke sana sekarang,” ucap Frita sambil mengakhiri panggilan.


Frita kemudian terburu-buru menemui ayahnya. Pandu juga terlihat sangat terkejut mendengar kabar seperti itu. Ketika mereka hendak menuju mobil mereka berpapasan dengan Rani yang memang sedang mencari Frita. Rani sangat kaget saat Frita menjelaskan keadaan Aditya. Pandu dan Frita segera pergi menuju kantor polisi. Setelah sampai, Frita buru-buru masuk ke dalam.

__ADS_1


“Eh Fri,” sapa Jimmy.


“Aditya di mana Jim?” tanya Frita dengan raut wajah cemas.


“Kamu sama om sebaiknya santai dulu di sini. Nanti saat waktunya, kalian boleh bertemu Aditya di ruangan khusus.” Jawab Jimmy.


“Saya ingin mendengar kronologis kejadiannya,” kata Pandu. Jimmy mengangguk lalu menceritakan semua kejadiannya kepada Pandu dan Frita. Walau begitu Frita terlihat sangat gelisah karena ingin segera bertemu dengan Aditya.


Saat waktunya tiba. Frita dan Pandu menemui Aditya di ruangan khusus. Dari raut wajahnya terlihat tidak ada rasa takut dan sedih sama sekali. Dia masih terlihat tenang seperti biasanya. Diaz yang melihat Aditya di jenguk oleh wanita pujaannya semakin frustasi. Terlebih baru sebentar di dalam sel dia dan teman-temannya merasa disiksa oleh tahanan lainnya.


“Kamu kenapa bisa sampai seperti ini Dit?” tanya Frita sambil menitikkan air mata.


“Aku yakin kamu dan ayahmu juga sudah mendengar semuanya dari Jimmy,” jawab Aditya, dia tersenyum sambil menyeka air mata Frita.


“Ini semua pasti ulah Diaz,” ucap Pandu.


“Memang benar pak. Saya juga sengaja melakukan hal ini untuk membalas perlakuannya,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Maksudnya?”


Pandu hanya tertawa mendengar penjelasan Aditya. mereka kemudian mengobrol cukup panjang hingga akhirnya mereka pamit pulang. Baru saja Pandu serta Frita meninggalkan kantor polisi. Ratna datang ke sana bersama seorang anak buahnya. Dia juga kemudian menemui Aditya di ruangan yang sama.


“Kamu kok nggak ngabarin aku sih Dit?” tanya Ratna. Raut wajahnya berubah sedih.


“Aku nggak sempet Rat, lagipula aku baik-baik saja kok,” jawab Aditya, dia tersenyum sambil memegang tangan Ratna untuk menghiburnya.


“Coba kalau kamu ngabarin aku, pasti aku akan mencari pengacara yang hebat agar bisa membebaskanmu dari hukuman seperti ini.”


“Tidak usah repot-repot Rat, aku juga nggak tersiksa kok di sini. Lagi pula Cuma dua minggu doang di sini.”


“Tetep saja itu lama Dit.”


“Kalau ada tahanan di sini yang berani mengganggu bos, bilang saja biar saya yang patahkan lehernya,” ucap anak buah Ratna.

__ADS_1


“Tidak perlu kok, mereka juga nggak berani menggangguku,” jawab Aditya sambil tertawa kecil. Sejak masuk memang para tahanan sangat ketakutan kepada Aditya. bahkan mereka bersedia melakukan apapun perintahnya termasuk menyiksa Diaz dan teman-temannya.


Mereka berbincang cukup lama. Setelah merasa cukup tenang Ratna pamit pulang kepada Aditya. dia juga menyampaikan salam dan permintaan maaf dari Bima karena tidak bisa menengoknya. Para tahanan di sana hanya bisa kagum dan iri melihat Aditya terus dikunjungi oleh wanita cantik.


Setelah Ratna pulang, sore harinya Aditya kembali kedatangan tamu wanita cantik. Kali ini giliran Rani dan Sherly yang datang mengunjungi Aditya. lagi-lagi Aditya semakin membuat iri para narapidana yang lainnya terutama Diaz. Bahkan beberapa sipir penjara tampak geleng-geleng kepala melihat semua orang yang menengok Aditya hari ini.


“Kamu kok bisa sampai seperti ini Dit?” tanya Rani.


“Aku kira kamu izin kerja itu kemana,” timpal Sherly.


“Ya mau bagaimana lagi,” jawab Aditya sambil tersenyum. Dia kemudian menceritakan semua kronologisnya hingga bisa seperti itu.


“Maaf Mbak, waktu besuknya sudah hampir selesai,” kata sipir penjara.


“Iya pak,” jawab Rani.


“Kalian kok bisa berdua datang kemari, bagaimana ceritanya?”


“Aku tadi dengar kejadian ini dari Mbak Frita. Setelah itu tahu-tahu Sherly juga menanyakannya karena melihat Mbak Frita terlihat begitu gelisah dan sedih.” Jawab Rani. Aditya hanya mengangguk paham. Rani dan Sherly kemudian pamit pulang mereka bilang pasti akan kembali datang untuk menengok keadaan Aditya.


Setelah itu selama empat belas hari ke depannya Aditya selalu dikunjungi oleh wanita-wanita cantik. Hal itu membuatnya semakin dikagumi oleh polisi dan narapidana lainnya. Nasibnya sangat berbeda jauh dengan Diaz dan teman-temannya. Gara-gara kesombongan mereka sendiri karena anak dari keluarga kaya akhirnya mereka semakin menderita.


Setiap hari mereka disuruh suruh dan diperintah oleh narapidana lainnya. Hingga tubuh mereka semakin kurus dan frustasi karena merasakan tekanan yang hebat. Hari ini di siang harinya mereka berlima akan dibebaskan. Keluarga mereka juga sudah menunggu di kantor polisi. Pandu, Frita, Rani, Sherly dan Ratna datang untuk menyambut kebebasan Aditya.


“Wah rame juga ternyata yang ingin menjemput Aditya ya,” ucap Arya datang menghampiri mereka bersama Jimmy.


“Iya Pak. Kebetulan hari minggu ini kami libur jadi sama-sama datang deh,” jawa Frita sambil berusaha untuk tersenyum. Padahal dia sebenarnya agak kesal karena bukan hanya dia yang datang untuk menyambut Aditya.


“Aku tidak menyangka jika mereka juga akan datang hari ini,” pikir Ratna. Tiba-tiba seorang wanita yang tengah hamil besar menghampiri mereka. Parasnya terbilang cantik.


“Kenalkan ini istriku Mia, dia sedang mengandung anak pertama kami,” ucap Arya kepada Pandu dan yang lainnya. Mia kemudian bersalaman sambil tersenyum.


Tak lama kemudian lima orang pria datang dengan wajah ceria menghampiri orang-orang yang berkumpul di sana. Diantara mereka terlihat hanya Aditya saja yang bisa tersenyum bahagia.

__ADS_1


Diaz dan rekan-rekannya terlihat menangis senang karena bebas dari siksaan. Setelah berbincang cukup lama akhirnya mereka berpisah. Aditya ikut pulang bersama Pandu dan Frita. Sedangkan Ratna, Rani dan Sherly pulang ke kediamannya dengan bahagia.


BERSAMBUNG…


__ADS_2