
Keluarga penjahat itu datang hampir dalam formasi lengkap, kecuali segelintir dari mereka yang berkuasa di gedung dewan dan menjabat kedudukan tinggi di beberapa perusahaan ‘bersih’.
Mereka menolak ajakan untuk turut serta dalam acara lamaran Hendy Prakoso.
Mereka bilang, “Biarlah urusan kotor itu jadi bagian dari kalian.”
Bagaimanapun, Rama kerap ikut ambil alih tugas-tugas kotor dari Setiawan Budi, jadi meski ayah Rama menolak ikut, ia tetap mendapatkan pujian.
“Bagus rencanamu, Rama,” kata Setiawan Budi sebelum mereka berangkat siang itu. “Siapkan semua anak buahmu. Kita tidak perlu melukai. Hanya agar Pandu patuh saja pada apa yang kita mau.”
“Baik, Paman. Kalau terpaksa pakai cara kita?” tanya Rama penuh antusias.
“Maka, pakailah cara kita.”
Ya, kali itu mereka memaksa dan harus pulang dengan keputusan bulat: Frita dan Hendy harus dinikahkan.
***
“Mereka benar-benar sudah gila,” kata Pandu.
Ratna berlari ke dapur, menyusul mereka. Ia bilang, “Setiawan Budi juga ikut. Dit, ini akan jadi besar. Kurasa aku harus panggil orang-orangku.”
Aditya tak bisa menolak bantuan Ratna. Gadis itu segera menelepon seseorang.
Jimmy yang tahu akan ada pertikaian besar di sini, mengontak rekan-rekannya di kepolisian untuk bersiap.
“Loe harus cabut dari tempat ini. Paling tidak, sembunyi. Agar mereka tak tahu ada polisi di sini,” bisik Aditya pada Jimmy.
Polisi itu setuju. Ia memeriksa area belakang, tempat di mana kini Frita coba kabur dari pagar belakang. Jimmy memastikan Frita bisa pergi dengan selamat. Frita tak tahu harus kabur ke mana. Satu-satunya pilihan yang mungkin terbaik adalah rumah Shelly D, sang penyanyi idola itu.
Frita berhasil kabur, tapi Pandu harus menghadapi tamu besar kali itu. Setiawan Budi terlihat tenang menatap mata Pandu. Mereka sama-sama tak pernah betemu, tapi sudah saling tahu reputasi masing-masing. Pandu sebagai pebisnis ‘bersih’, sementara Setiawan Budi sebagai pebisnis ‘kotor’. Keduanya bertatap muka untuk beberapa detik sampai Setiawan Budi bertanya, “Di mana anakmu?”
***
“Clarissa, kamu di mana?” tanya Frita lewat telepon.
“Di kampuslah, Kak.”
“Oke, kamu tetap di sana! Jangan pulang!” katanya panik.
“Kenapa sih? Ada apa?!” tanya Clarissa ikutan panik.
“Ceritanya panjang! Keluarga penjahat itu datang lagi untuk melamarku! Nomor Mama kok enggak bisa dihubungi sih?” tukas Frita.
__ADS_1
Clarissa bilang mamanya sejak dua hari lalu pamit pergi ke Surabaya. Entah ada urusan apa. Gina Lisnia memang pergi tanpa memberi kabar, kecuali pada Clarissa saja. Itu pun tak jelas ia ada perlu apa.
Namun Frita setidaknya merasa lega, sang mama ada di tempat yang jauh. Ia kini justru mencemaskan Aditya dan papanya.
“Semoga saja mereka tidak berbuat macam-macam,” batin Frita sambil tak henti membayangkan betapa Aditya dan keluarga penjahat itu bisa saja bertikai.
***
Namun, Aditya mencoba sedapat mungkin untuk tenang dan tidak ribut.
Ia dengan santai melangkah dari dalam, muncul dari balik bahu Pandu, dan riang menyapa tamu-tamu itu.
“Halo, apa kabar kalian?”
Rama dan Reza merasa telah diledek. Dihajar habis-habisan seperti itu, ternyata tak membuat Aditya menyerah. Mereka pikir Aditya sudah kabur meninggalkan Frita. Dan lagi pula, bagaimana bisa dia diterima lagi di sini telah ketahuan menghamili Sherly?
Tapi pertanyaan itu tak mereka lontarkan. Hanya mereka simpan.
Reza Bastomi hanya bertanya, “Kenapa kepala loe diperban?”
“Oh, urusan kecil. Ada tikus-tikus busuk kemarin di ruang bawah tanahku. Mereka kuusik, lalu menjatuhkan kaleng cat ke kepalaku. Tapi tenang saja, sudah kuberi racun mereka semua,” jawab Aditya santai.
“Bangsat,” gerutu Rama dan Reza nyaris bersamaan.
“Kita bertamu. Kalian yang sopan,” katanya pada mereka.
“Jadi, kabar itu mungkin salah, ya?” lanjut Setiawan Budi.
“Soal apa?” balas Aditya.
“Soal rumah tangga kalian yang hancur.”
“Sayangnya Anda keliru, Pak. Maaf, saya belum kenal siapa Anda, tapi saya duga Anda ini Setiawan Budi, bukan?” ujar Aditya sambil memberi isyarat agar mereka para tamunya duduk.
Pandu jelas gelisah dan gugup, tapi Aditya menatap matanya dengan sangat tenang. Ia pun kini bisa menenangkan diri juga karena sang menantunya.
“Ya, benar saya Setiawan Budi,” jawab sosok keji itu, sambil duduk di kursi depan Aditya.
“Lalu apa urusan Anda soal rumah tangga saya? Apa yang sudah saya lakukan?”
Para keponakan Setiawan Budi tampak tak tahan dan ingin menghajar Aditya, tapi sang pemimpin itu terlihat tenang juga. Setiawan Budi tak menutupi niatannya kemari. Ia bilang, “Kami kemari untuk melamar Frita, yang kami pikir sudah tak bersamamu.”
“Aneh,” kata Aditya. “Padahal tak ada apa-apa di rumah tangga kami. Boleh jadi kalian salah rumah?”
__ADS_1
“Banyak bacot!” sahut Reza tidak sabaran. “Loe kenapa ada di sini sih? Bukankah Frita sudah muak pada loe?!”
Setiawan Budi cuma menatap keponakannya itu.
Reza melanjutkan, “Kami di sini untuk menyelamatkan harga diri Frita yang sudah loe injak-injak! Perempuan macam dia tidak pantas dikhianati!”
Aditya malah tertawa keras. “Hahaha! Sejak kapan kalian peduli nasib orang?! Loe semua yang bisa melenggang bebas setelah kasus peredaran narkoba internasional itu? Loe pikir semua bisa dibeli? Maaf, kalian harus pulang. Kita tak ada lagi urusan.”
Aditya lalu menoleh pada Setiawan Budi, dan berkata, “Tanpa mengurangi rasa hormat saya, Pak, kami persilakan Anda pulang.”
Setiawan Budi tersenyum kecil. Ia mengangkat kedua tangannya, “Kalau itu yang kalian mau. Baiklah, saya pulang.”
Namun Setiawan Budi tak disusul oleh para keponakannya. Rama, Reza, Rako, dan yang lain masih berdiri di situ.
“Mau apa lagi kalian? Tuh, induk ayam sudah menyingkir. Apa lagi yang kalian tunggu?” ledek Aditya.
Tak disangka, itu membuat para anak buah Reza dan Rama segera menerjangnya. Untunglah Aditya sudah siap. Ia menangkis serangan-serangan itu, dan menghajar balik mereka semua.
“Bajingan! Beraninya main keroyok, ya?! Oke, maju kalian!” kata Aditya. Kali ini ia jelas lebih siap dan lebih waspada. Ia juga tidak sedang dilanda gundah karena Frita. Hubungan pernikahan mereka sudah membaik.
Aditya kini bisa bertarung dengan sangat baik.
Reza dan Rama, sebagai dua sosok tertinggi di antara para saudaranya, terlihat tak percaya pada kemampuan Aditya.
Hanya dalam waktu semenit, Aditya melumpuhkan dua puluh orang preman, yang membawa bermacam senjata.
Pandu berlari masuk ke rumah. Ia dikejar oleh beberapa preman dan Rako, tetapi Jimmy berhasil menembak mereka hingga tak bisa berjalan.
“Sialan! Siapa loe?!” bentak Rako.
“Gue polisi. Unit 1 dan 2, bantuan tolong secepat mungkin! Ada keributan di sini!” kata Jimmy lewat radio di genggamannya.
Sementara itu, Aditya kini berhadapan dengan Rama dan Reza. Seluruh anak buah mereka sudah dilumpuhkan. Jatuh bergeletakan di sana-sini.
“Mestinya kita tak perlu begini. Ada banyak hal yang lebih berguna daripada ribut begini,” kata Aditya.
“Mestinya loe gak bikin ribut di The King waktu itu. Dan loe gak bikin keluarga gue malu!” bentak Rama.
“Keluarga loe malu karena kelakuan kalian sendiri, Bodoh! Siapa suruh berbisnis kotor!”
Perkataan Aditya membuat Rama dan Reza semakin terbakar amarah. Kini kedua orang itu menyerang Aditya dari dua arah. Sebuah serangan yang bisa saja membuatnya mati!
Bersambung....
__ADS_1