Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 3


__ADS_3

“Ellena.”


Terdengar panggilan seseorang dari arah depan Ellena berdiri. Wanita cantik itu segera menoleh ke arah depan dan melihat ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Kaca depan mobil itu terbuka dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang sangat dia kenal.


“Eh Pak Budi. Maaf ga tau kalo dateng,” sapa Ellena ramah dan segera masuk ke dalam mobil itu.


“Ngelamun aja, liat siapa sih?” tanya Pak Budi, sopir kantor.


“Enggak ... itu kayanya Bos baru ya. Penasaran aja sih liat orangnya. Katanya masih muda dan ganteng.”


“Cewek kalo liat yang muda trus ganteng pasti meleng ya. Kita lewat sana ya, siapa tau bisa liat wajah Bos yang baru.”


“Eeh ga usah ... malu, Pak.”


Tapi Pak Budi tidak mendengarkan apa yang diminta oleh Ellena. Mobil itu melaju ke arah dua mobil mewah yang parkir di depan lobi. Di samping dua mobil mewah itu masih ada beberapa orang yang memberi sambutan pada bos baru cabang Pacific Group itu.


Ellena menoleh ke arah lobi, dia masih sangat penasaran pada sosok pemuda yang sudah dibicarakan oleh teman-temannya selama beberapa hari ini. Dia sangat ingin tahu karena hari ini dia tidak mengikuti acara penyambutan secara resmi.


Terlihat ada banyak punggung yang dilihat oleh Ellena dan juga beberapa wajah petinggi perusahaan yang sudah dia kenal. Tapi entah mengapa, mata Ellena tertuju pada punggung dengan jas hitam yang tampak sangat kokoh dan begitu menarik dibandingkan yang lain.


“Punggungnya bagus amat ya. Pasti cakep orangnya,” gumam Ellena pelan.


“Masa punggung bisa gambarin wajah. Bisa aja kamu ini, Ell,” ucap Pak Budi sambil menyetir.


“Ya kan siapa tau, Pak. Punggung itu beda banget ama yang lain. Keliatan gagah dan sangat berwibawa.”


“Ya karena itu Bos barunya. Ntar juga lama-lama tau wajah Bos baru. Tapi denger-denger Bos baru kita tuh galak orangnya. Lebih cerewet dari kakaknya dulu.”


“Masa? Jadi ini anak Pak Haris Wijaya juga?”


“Iya ... anak kedua. Kalo Bos kita yang lama kan sekarang pindah ke Amerika.”


“Oh ... baru denger saya. Semoga ga nyusahin pegawai lah.”


Mobil yang dinaiki Ellena segera meluncur menuju ke tempat tujuan. Dia harus memenangkan hati klien lagi hari ini, Ellena ingin mendapatkan sedikit bonus lebih bulan ini karena dia ingin merayakan ulang tahun putranya.


Setelah bertemu dengan klien, Ellena segera kembali ke kantor karena masih ada urusan yang harus dia selesaikan. Ellena ingin agar malam ini dia tidak lembur, Ellena ingat akan janjinya pada Nathan untuk memenuhi tugas belajar bersama dari guru kindergarten-nya.


Tuk tuk tuk

__ADS_1


Suara sepatu Ellena terdengar sangat yakin menuju ke ruangan Silvia. Dia ingin melaporkan tentang keberhasilannya mendapatkan klien lagi. Hari ini Ellena semakin merasa kalau keberuntungan sedang menyelimutinya sejak kelahiran Nathan.


“Ellena,” panggil seorang pria dari arah belakang.


Ellena menoleh lalu kemudian tersenyum, “Siang, Pak,” sapa Ellena balik.


“Ell, kamu bisa ke ruangan saya sebentar?”


“Boleh, Pak.”


Langkah Ellena kini berbalik arah, dia mengikuti langkah si pemuda tampan yang tadi memanggilnya. Ellena segera duduk di depan meja kerja sang pemuda, di mana di atas meja itu tertulis nama Devan Alex Wijaya manajer pemasaran Pacific Group.


“Ell, saya sudah mendengar tentang kinerja kamu belakangan ini yang meroket tajam. Itu luar biasa, Ell,” ucap Devan dengan senyum bangga.


“Makasih, Pak. Tapi mungkin ini cuma keberuntungan saya aja.”


“Ga ada yang kaya gitu, Ell. Keberuntungan itu hanya ada 30 persen, sisanya adalah kerja keras. Bahkan bukan hanya satu orang yang bilang kamu luar biasa, bahkan Bu Silvia yang terkenal sangat ketat saja sampai memuji kamu.”


“Closing Power, itu cuma candaan, Pak,” ucap Ellena sambil terkekeh.


“Mau itu candaan ato enggak yang pasti saya lihat buktinya nyata. Hmmm ... gini Ell, kamu tahu kan kalao hari ini Bos baru kita masuk dan seperti biasa akan ada masa promosi bagi pegawai yang prestasinya bagus. Kalo kamu masuk dalam masa promosi untuk 3 bulan kamu sanggup ga?”


“Pasti, saya mau taruh kamu jadi ganti Bu Silvia. Bu Silvia akan naik di ruangan saya karena projek dia sangat sempurna selama 3 bulan ini. Dan saya akan menggantikan Pak Rahmat.”


“Waah ... selamat, Pak. Direktur pemasaran yang baru ya.”


“Iya ... jadi kamu bisa ya kalo saya ajukan promosi. Syaratnya gampang kok. Selama 3 bulan harus bisa capai target 20 klosingan. Kamu bisa kan?”


“Cuma 20 aja? Eh, kok sombong saya,” ucap Ellena sambil menutup mulutnya karena sadar dia salah.


“Hehehe ... ucapan semangat yang bagus. Jadi ok ya ini, kalo dapet 20 klosingan dalam bulan ini, bulan depan kamu langsung naik jabatan.”


“Waah mau banget, Pak. Makasih banyak, Pak,” jawab Ellena dengan senyum mengembang.


Ellena sangat senang dengan kabar yang di sampaikan oleh Devan. Dia yakin kalau bulan ini dia bisa tembus untuk mendapatkan 20 closingan baru. Pertengahan bulan saja dia sudah mendapatkan lebih dari separuh. Elena bulan ini memang benar-benar banyak dibanjiri oleh keberuntungan.


Devan ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang diekspresikan oleh Ellena. Rasa kagumnya kepada Ellena semakin dalam. Wanita yang sangat cantik, pintar dan juga sangat sederhana itu sudah lama berdiam di hatinya. Walaupun cintanya belum terbalas, tapi dia yakin suatu saat Ellena akan menerima cintanya.


“Makasih informasinya, Pak. Saya permisi dulu.”

__ADS_1


“Ok. Jangan lupa traktir saya dengan gaji pertama sebagai ketua tim ya, Ell.”


“Pasti, Pak. Nasi goreng pinggir jalan akan pindah ke kafe,” ucap Ellena sambil tersenyum lebar.


“Aku tunggu janji kamu.”


Ellena memang beberapa kali mentraktir Devan saat dia berhasil closing untuk klien yang memang direkomendasikan oleh Devan. Tapi karena gaji Ellena belum terlalu banyak, dia hanya bisa mentraktir di warung pinggir jalan. Namun Ellena senang karena Devan tidak pernah menolak di mana pun dia mengajak pemuda itu makan.


Setelah melaporkan hasil pertemuannya dengan klien kepada Silvia, Ellena segera kembali ke ruangannya. Di sana sudah ada Arina yang sudah menanti kabar baik dari temannya tersebut.


“Gimana ... gimana? Closing lagi ga?” tanya Arina.


“Closing donk. Ellena gitu loh. Eh tapi ada yang lebih penting dari sekedar closing. Ada yang lebih besar lagi.”


“Haah ... ada yang lebih besar lagi? Apa itu? Kamu ga diajakin nikah kan ama klien-nya.”


“Husst! Ngawur aja. Klient-nya bandot tua tau. Sini deh pindah sini. Ini rahasia soalnya,” ucap Ellena sambil menepuk meja yang sedang kosong di sebelahnya.


Setelah Arina pindah ke sebelah Ellena, wanita itu segera menceritakan apa yang tadi disampaikan oleh Devan. Tampak senyum Arina mulai mengembang sedikit demi sedikit mendengar kabar bahagia yang disampaikan oleh sahabatnya itu.


“Waah ... jadi atasan aku donk bentar lagi. Selamat ya sayang. Aku seneng banget, kamu emang pantes kok dapet jabatan itu,” ucap Arina sambil memeluk Ellina.


“Belum, Rin. Masih lama kali ah.”


“Ga mungkin lama. Pasti bentar lagi bakal ada list klien lagi dari Pak Devan buat kamu. Gila ya, meskipun list itu aku olah, tetep aja nyantolnya di kamu. Kamu emang keren,” puji Arina.


“Doakan aja ya. Semoga bisa naik jabatan tahun ini. Eh iya, mana Bos barunya. Beneran ganteng ga?” tanya Ellena yang teringat akan kabar Bos baru di kantor.


“Waah gantengnya itu bikin orang ga kedip. Bisa pingsan ya kamu kalo liat. Eh iya, aku ada fotonya, tadi sempet foto dia pas liat di TV,” ucap Arina sedikit malu.


“Seniat itu ya kamu, mana coba liat. Waah kok ikutan penasaran ya aku aku,” jawab Ellena sambil memegang dadanya.


Ellena tidak sabar ingin melihat siapa Bos baru yang dikatakan oleh Arina sangat tampan itu. Saat melihat punggungnya tadi saja, Ellena sudah yakin kalau pemuda itu tampan. Apa lagi ditambah dengan pernyataan dari Arina, dia semakin yakin kalau pemuda itu pasti luar biasa.


Mata Ellena membulat saat dia melihat foto yang ada di ponsel milik Arina yang kini ada di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Dia bahkan memperbesar tampilan di layar ponsel itu untuk memperjelas gambar. Elena ingin agar tatapannya itu salah saat ini.


“Ini Bos baru kita? Siapa namanya?” tanya Ellena dengan suara bergetar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2