Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 190


__ADS_3

Waktu itu tengah malam, seminggu setelah Aditya menghajar si Tua Leo. Sebelas napi akan dikirim ke lokasi eksekusi malam itu. Aditya dan Leo Kurniawan termasuk di sana.


“Kalian jangan bikin ulah ya!” bentak seorang petugas bersenjata lengkap.


“Kami tembak langsung kepala kalian kalau macam-macam!” sahut petugas yang lain.


“Kalian gak ada wewenang untuk itu,” ledek seorang napi.


“Kami dapat perintah khusus. Jika ada kerusuhan apa pun, boleh tembak kalian di tempat! Tembak mati!”


Napi itu segera bungkam dan kembali ke barisan dari yang tadinya berjalan dengan asal-asalan.


Aditya dan Si Tua Leo tak banyak bicara, terlihat patuh dalam barisan.


Para petugas yang bekerja kali itu ada beberapa puluh orang. Mereka berdiri di kiri kanan jalan masuk ke gedung utama penjara, memastikan para tahanan berjalan dengan tertib ke sebuah mobil lapis baja yang disiapkan di depan.


Mobil lapis baja itu dikawal oleh sejumlah mobil polisi. Aditya menghitung dalam kepala, ada enam buah mobil polisi dan kendaraan militer yang mengawal ketat mereka. Saat ia akhirnya masuk ke mobil lapis baja tersebut, Si Tua Leo berbisik padanya, “Wah, ini jadi hari yang panjang, lho!”


Aditya agak tak mengerti maksudnya, tapi diam saja.


Rombongan mobil pun akhirnya bergerak. Mobil lapis baja berisi sebelas tahanan itu berada di urutan ketiga. Dua mobil polisi memimpin perjalanan ke tempat eksekusi. Penjara itu terletak di sebuah kota yang para tahanan tak tahu di mana itu. Jadi mereka tidak bisa menduga berada di kota mana, apalagi keadaan di mobil lapis baja tak bisa membuat mereka melihat jalanan.


Seorang napi bilang, “Bahkan sebelum kita dieksekusi saja, kita tak boleh melihat pemandangan kota ini.”


“Peduli setan!” sahut napi lainnya.


Mereka lalu berdebat dan Si Tua Leo membentak keduanya, “Jangan banyak bacot! Kalian tahu para polisi dan tentara itu sebenarnya goblok. Tunggu saja apa yang akan terjadi.”


Sementara itu, jalanan menuju tempat eksekusi mulanya terlihat sepi. Namun tidak begitu jauh, terlihat kerumunan kendaraan yang menghalangi jalan. Si petugas di mobil pertama turun dan bertanya, “Ada apa ini? Cepat menyingkir. Kami harus mengawal mobil lapis baja ini tepat waktu!”

__ADS_1


“Tidak bisa, Pak,” kata seorang pemuda kurus yang tampak babak belur wajahnya. “Kami barusan kecelakaan.”


Di situ terlihat sekumpulan anak muda terbaring, sepertinya terluka parah dan ada sebagian yang tak bergerak. Mobil dan motor pun terlihat tergeletak di sana-sini. Entah kecelakaan macam apa yang terjadi tengah malam di kota sesepi ini.


Polisi itu tak curiga dan mencoba memeriksa keadaan. Tanpa diduganya, seorang pemuda yang terlihat seperti sudah mati mendadak lompat dan menembakinya dengan brutal, begitupun pemuda-pemuda lain yang ternyata bersenjata, membuat polisi lain dari mobil-mobil lain keluar dan meladeni serbuan orang-orang tak dikenal itu.


Para tentara dan polisi adu tembak dengan orang-orang misterius itu. Dari dalam mobil lapis baja, terdengar keributan itu. Aditya dan Si Tua Leo saling berpandangan dengan kesan yang sulit Aditya jelaskan.


Si Tua Leo berkata, “Lihat, mereka gampang diserang. Pertanda kita yang digiring ke tempat eksekusi bukan tahanan sembarangan dan para pengawal kita cuma kumpulan orang tolol. Hahahah!”


“Dan Anda bangga atas anggapan itu?” tanya Aditya sinis.


“Nak, loe belum tahu siapa gue, ya?” balas Si Tua Leo dengan senyum licik.


Aditya memilih tak berkata-kata lagi.


Dalam mobil lapis baja, suara adu tembak di luar terdengar sangat berisik. Para napi kompak menutup kuping, meski diam-diam mereka senang. Mungkin saja setelah serangan tak dikenal ini, mereka bisa kabur entah ke mana, dan tidak jadi dieksekusi. Mereka semua menduga kalau kejadian ini mungkin sudah diatur oleh Si Tua Leo.


Hanya saja, mendadak terjadi sebuah guncangan hebat pada mobil lapis baja yang mereka tumpangi.


Duaarrr!!!


Mobil itu berasa melayang sejenak, lalu terhempas kembali ke tanah. Aditya kaget bukan main. Kalau ini rencana Komandan, tentunya sangat berlebihan. Mereka tak mungkin menyerang mobil lapis baja dengan senjata semacam bazooka.


Akibat tembakan bazooka itu, para napi dan termasuk Aditya serta Si Tua Leo pun sempat mengalami ketulian sementara. Telinga mereka mendengung bagai dihuni para tawon. Ledakan yang terjadi dua kali itu memang sangat keras, tetapi mereka senang sebab mobil mereka kini berlubang dan mereka berlarian keluar ke jalanan.


Aditya bisa melihat para polisi dan tentara yang mengawal mereka bergeletakan di jalan. Banyak yang sudah tak bernyawa sepertinya. Tapi ia tak sempat memikirkan itu, karena Si Tua Leo bergerak begitu cepat, berlari menyusul para penyerang itu.


Aditya berteriak, “Hei, Pak Tua! Mau ke mana kau?!”

__ADS_1


Si Tua Leo berhenti dan berbalik badan, “Bukan urusan loe, Tolol.”


Orang-orang yang menyerang mobil lapis baja itu ternyata anak buah si Tua Leo. Mereka bersenjata lengkap dan berbaris menyambut si tua itu. Kini Aditya kebingungan. Bagaimana dengan rencana Komandan Malik untuk menyekam Si Tua Leo? Sesuatu yang salah terjadi!


Kini Aditya seakan menghadapi sepasukan tentara bayaran dengan tangan kosong.


Si Tua Leo, usai membuka borgol atas bantuan anak buahnya, mendekati Aditya dengan senapan mesin ringan, dan menodongnya. Aditya masih terborgol, tapi tak mau melawan. Pasrah jika si tua itu benar menembak dirinya.


Aditya segera memutar otak, mengaitkan seluruh rencana misi yang berubah sejak malam ini dengan seseorang yang berkaitan dengan mereka. Ia segera berkata, “Saya tahu siapa Amy.”


Si Tua Leo sontak kaget.


“Apa maksudmu?!” tanyanya dengan keras.


“Amy Aurora, wanita yang satu itu. Biasa dipanggil Aurora atau saya lebih senang memanggilnya Amy. Saya kenal. Anda juga, bukan?” balas Aditya yang merasa sudah menguasai situasi.


“Sebaiknya loe gak main-main ke gue!” kata Si Tua Leo dengan geram.


“Saya gak mungkin main-main dengan nyawa saya!”


“Baiklah, bawa dia! Mungkin dia berguna nanti!” kata Leo pada anak buahnya.


Maka Aditya dibawa serta dalam mobil rombongan itu. Dibawa ke sebuah tempat yang entah di mana. Dengan mata dan tangan yang terikat tentu saja. Aditya tak mampu memperkirakan mereka akan pergi ke mana, kecuali dua kemungkinan: bandara atau pelabuhan.


“Ya, ke sanalah Si Tua Leo akan membawaku. Bukankah ia seharusnya memang pergi ke Thailand?” pikir Aditya dengan sangat yakin.


Aditya tak mendengar percakapan apa pun lagi malam itu selain Si Tua Leo yang bilang akan tidur sebentar pada anak buahnya. Ia menyuruh mereka membangunkannya jika sudah tiba di tempat tujuan.


Aditya sendiri tak mungkin tidur. Ia mencoba terus menguping, berharap mendapat informasi apa pun dari mulut anak buah Leo Kurniawan, tapi ia tak mendapat apa-apa sampai mobil memelankan laju dan sepertinya berbelok ke sebuah tempat. Ketika mobil itu berhenti, Aditya bersiap untuk berbagai kemungkinan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2