Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 227


__ADS_3

Lucky memang sudah sangat lama memendam perasaan cinta pada Frita yang entah beberapa kali ia lihat tak sengaja dalam acara keluarga Gina Lisnia. Jika mereka berdua ditakdirkan menikah, jelas akan lebih mudah membesarkan perusahaan Om Christian yang sudah merawatnya sejak kecil. Ia juga akan memperoleh kebahagiaan serta harta yang sangat berlimpah.


Memang itu rencana Christian. “Agar kita bisa menguasai sepenuhnya perusahaan tersebut.”


Bayangan itu mungkin memang menjanjikan, kalau saja Lucky tidak menderita impotensi.


Lucky mengumpat dalam hati, “Sialan! Kenapa orang sepertiku yang harus sakit macam ini!?”


Tapi, tak ada pilihan lain baginya. Ia melucuti pakaian atas Frita dan menatap tubuh mulus gadis itu dengan perasaan yang sesungguhnya membuatnya hancur. Jika saja dia tak menderita impotensi, jelas ini surga bagi Lucky.


“Tapi, tak ada waktu, Brengsek!” umpat Lucky pada dirinya sendiri.


Tidak ada yang tahu di dunia ini Lucky mendapat penyakit itu, yang entah sejak kapan. Termasuk Christian dan Gagas. Maka, ia berharap semua ini cepat berakhir saja. Kalau saja Christian tak membuat rencana ini begitu mendadak, ia bisa meminta Gagas melakukannya. Tapi, itu juga terdengar gila. Bukankah yang mencintai Frita hanyalah dia?


Dengan cekatan, Lucky juga melucuti rok Frita hingga kini gadis itu hanya tampak mengenakan pakaian dalam saja. Di balik pakaian itu, ada surga yang tak bakal Lucky capai. Maka, dengan kesal pemuda itu mengambil pisau Swiss Army yang tersimpan di saku jasnya. Dan menyayat pahanya sendiri hingga terluka.


Lucky merasa berbisik kepada dirinya sendiri, “Baiklah, tahap terakhir. Loe jangan terlalu lama, Lucky!”


Dengan cepat ia mencopot ****** ***** Frita dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan: memberikan noda darah pada bagian bawah tubuh gadis itu, tapi tak lebih dari itu. Ia berharap nanti akan timbul kesan ia benar-benar sudah memerkosa Frita dan sebuah aib memalukan akan ditanggung oleh keluarga Pandu jika pernikahan mereka tak segera dilangsungkan.


Lucky tidak bisa berpikir lain. Ia segera mengembalikan ****** ***** itu ke posisi semula, dan membiarkan Frita tergeletak di meja dengan hanya mengenakan pakaian dalam.


Christian sempat memfoto posisi mereka berdua berada di atas meja. Entah untuk apa itu. Dia hanya bilang, “Mungkin saja kita butuh ini.”


Lucky memakai lagi celananya dan pergi meninggalkan gedung itu bersama Gagas dan sang om, yang tak bicara kecuali memandanginya dengan puas. Seolah Christian berkata pada dua pemuda itu, “Ini kemenangan kita. Ini kemenangan perusahaan kita untuk masa depan bersama!”


Dalam perjalanan kembali ke apartemennya, Lucky baru menyadari betapa tadi ia tidak benar-benar ‘menyentuh’ gadis itu. Betapa sesungguhnya itu bukan pemerkosaan. Itu harusnya akan mudah saja disadari oleh Frita, sebab ia masihlah perawan.

__ADS_1


Hanya saja, Frita terlalu panik saat terbangun dan mendapati darah di ************ dan membuat Pandu marah besar. Gina sempat pingsan, tapi mereka tahu ini pasti sudah direncana sebelumnya oleh Christian. Meilisa juga pasti ada di balik ini. Mereka sadar jika ini didengar oleh publik, Frita akan jadi santapan media-media yang ganas itu.


Pandu hanya bisa berkata, “Untuk saat ini, kita simpan dulu kejadian ini.”


“Sayang, kamu yang kuat. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya,” bisik Gina pada Frita yang hanya bisa menangis sambil merapikan kembali pakaiannya.


Mereka bahkan tak tahu siapa yang melakukannya. Pandu berharap semoga saja itu tak diperbuat oleh Christian. Tapi, bukankah teman lamanya tadi tak hadir di sini? Jadi, apa maksud semua ini?


“Kita akan tahu nanti. Hanya soal waktu saja,” katanya pada Frita, dan mereka pun pulang.


Siang menjelang sore, mobil yang dibawa oleh Aditya dan Julio sudah sampai di rumah. Waktu itu seluruh saudara dan kerabat yang datang untuk acara nikahan salah satu kerabat mereka sudah pulang ke kota masing-masing. Kini rumah Pandu terasa sepi, kecuali ada Paman Salim yang terlihat menunduk murung.


Aditya bertanya, “Ada apa?”


Paman Salim tak bisa menjawab dan beliau malah izin pergi bersama Deri entah ke mana. Yusi juga tak bisa menjelaskan dan memutuskan keluar rumah dengan alasan cari angin.


“Nak, sebaiknya kamu pulang dulu, ya. Ada sesuatu di sini dan kami tidak mungkin menjelaskan padamu,” kata Pandu pada keponakannya itu.


Julio terlihat heran, tetapi memang dia berencana pulang ke rumahnya sore ini juga. Clarissa tak terlihat di situ karena asyik bertamu ke rumah Shelly D.


“Baiklah, Om,” kata Julio yang segera mengambil barangnya dari kamar. Ia sempat melihat Frita menangis di kamar sambil ditemani Gina Lisnia. Gina yang biasanya amat ramah pada Julio, kali itu terlihat enggan menyapanya.


“Pasti sesuatu yang penting, dan bahaya,” batin Julio, yang tak mengerti dan tidak bisa menebak-nebak. Pemuda itu pamit pada Aditya yang terlihat kebingungan.


Entah bagaimana Pandu menjelaskan pada calon menantunya itu. Entah, dia juga tak tahu pasti kejadiannya. Kisah pemerkosaan Frita sangat memukul perasaan Aditya. Ia yang biasa mudah terpancing emosi hingga bisa saja menghajar orang tanpa keraguan, kini terlihat lemah.


Aditya tak berkata apa-apa saat berdiri di ambang pintu kamar Frita. Dan gadis itu pun juga tak bicara. Mereka berdialog dengan hanya tatapan mata. Dan, tentu saja, apa yang terjadi kali ini membuat situasi perasaan mereka menjadi benar-benar lain.

__ADS_1


Aditya merasa kacau. Ia izin pergi sebentar setelah berdiri kaku beberapa menit di depan Frita.


Di luar, Paman Salim mencoba menenangkan Aditya, tapi pemuda itu bilang,” Ini bukan sesuatu yang mudah, Paman. Mungkin sebaiknya Paman Salim pulang dulu ke desa.”


“Tapi, siapa yang menemanimu di sini?” kata Paman Salim.


“Ah, Paman tenang saja. Aku bisa mengurus diri sendiri,” ujar Aditya.


Deri tanpa diminta bersedia mengantar sang paman kembali ke desa, dan sekaligus juga menemani menjaga beliau di sana untuk sementara ini. Aditya berterima kasih pada Deri yang sudah banyak membantu.


Yusi tak banyak bicara sejak melihat Aditya keluar. Lalu, ketika Aditya meminjam kunci mobilnya, Yusi tak mungkin diam saja.


“Loe mau ke mana, Dit?” tanya Yusi.


“Menenangkan diri. Kupikir aku harus menenangkan diri.”


Yusi tidak bisa mencegah. Ia membiarkan Aditya meminjam mobilnya. Ia tak perlu cemas karena mobil itu bisa dilacak dengan GPS. Jadi pasti akan ketahuan ke mana si Aditya pergi.


Matahari saat itu mulai turun ke barat. Hari mulai gelap ketika telepon itu melayang ke ponsel Clarissa. Yusi tahu Clarissa sedikit banyak dekat dengan Aditya dan mungkin gadis itu bisa menenangkannya.


“Apa yang terjadi?” tanya Clarissa.


Begitu tahu peristiwa yang menimpa sang kakak, Clarissa shock dan bertekad akan membantu Aditya agar bangkit dari kekecewaaannya.


“Masalah ini harus selesai. Kalau Kak Adit tidak bangkit, mana mungkin?” Itulah yang Clarissa katakan dalam hati.


Yusi segera menjemputnya dengan mobil lain di tempat Shelly D. Artis itu telanjur menyukai keluarga ini, jadi ia memutuskan ikut serta. Mereka bertiga pun meluncur ke salah satu klub malam terbesar di Bandung, tempat di mana mobil yang dibawa Aditya tadi mengarah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2