Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 26


__ADS_3

“Asal kamu tahu Fri, ayahmu berhutang nyawa kepadaku. Karena itu wajar dong aku meminta bayaran yang setimpal. Menikahimu misalnya,” kata Aditya.


Pandu bingung melihat hal itu. Dia tidak bisa berkata sedikitpun. Dia tidak menyangka jika Aditya akan berkata seperti itu di depan Frita. Pandu pikir hal itu malah akan menyebabkan hubungan diantara mereka semakin memburuk. Frita tampak marah dan menatap tajam Aditya. dia kemudian menampar Aditya lagi dua kali, sambil menangis Frita kemudian pergi ke kamarnya.


“Apa yang kamu pikirkan Dit?” tanya Pandu.


“Aku hanya tidak mau dia kecewa ketika mengetahui kebenarannya langsung dari anda.”


“Tapi hal ini hanya akan membuat hubungan kalian semakin memburuk Dit.”


“Setidaknya itu lebih baik daripada hubungan anda dengannya yang memburuk.”


“Apa yang harus aku lakukan sekarang, jika sudah seperti ini. Aku pasti akan semakin kesusahan untuk meyakinkan Frita agar mau menikahimu.” ujar Pandu pelan sambil memegang kepalanya.


“Menurutku anda saat ini hanya perlu membuat saya tampak buruk di hadapannya.”


“Kenapa?”


“Seminggu lebih saya bekerja untuknya, saya sedikit paham sikapnya. Saat ini, saya yakin itu yang terbaik. Aku percaya jika perasaan di dalam hati manusia itu laiknya air yang berada di dalam ember, jika seseorang membuat riak di permukaanya maka lama kelamaan air itu akan tenang kembali, kecuali kita menghancurkan embernya,” jelas Aditya asal-asalan.


Pandu tampaknya mengerti dengan perkataan asal-asalan Aditya. dia meminta maaf kepada Aditya karena dirinyalah yang membuat situasi seperti ini terjadi. Namun dia juga berterimakasih kepada Aditya karena ternyata Aditya begitu peduli dengan keluarganya. Pandu kemudian pergi menuju kamar Frita untuk menghiburnya.


Frita di dalam kamar tampak sedang menangis tersedu-sedu di kasurnya. Dia tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi. Dia tidak menyangka ternyata selain untuk melindunginya, dia bertunangan dengan Aditya juga karena ayahnya dipaksa.


Ternyata Aditya memang orang yang sangat kejam dan seenaknya saja. Frita saat ini semakin membenci Aditya. dia berjanji akan membuat Aditya menderita seumur hidupnya karena telah memaksa ayahnya untuk membuat pilihan seperti itu. Dia tidak akan pernah memaafkan Aditya.


“Fri, ayah masuk ya,” ujar Pandu sembari masuk ke dalam kamar.


“Fri. maafkan ayah karena sudah mengambil keputusan seperti itu,” ucap Pandu sambil duduk di samping Frita.


“Ayah tidak punya pilihan lain saat itu. Ini juga demi kebaikanmu Fri. maafkan Ayah.”


“Aku tidak marah sama ayah kok. Aku hanya tidak menyangka jika Aditya ternyata sekejam itu,” jawab Frita sambil memeluk ayahnya. Pandu malah ikut sedih dan meneteskan airmatanya.


“Maafkan ayah.”


“Mulai sekarang kalau Aditya meminta sesuatu kepada ayah. Biarkan aku yang mengambil keputussannya. Aku tidak mau ayah terus terusan dipaksa menuruti keinginannya. Aku sangat menyayangi ayah.”


“Baiklah.”


Setelah menyeka airmatanya, Frita kemudian keluar dari kamarnya dan berpamitan hendak berangkat kerja. Frita juga bilang kepada Pandu. jika hari ini dia tidak mau diantar dulu oleh Aditya. dia ingin menenangkan pikirannya. Di ruang tamu Frita dengan tajam menatap Aditya.


“Sudah siap berangkat Mbak?” tanya Aditya dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


“Ya iyalah,” jawab Frita dingin. Dia melangkah melewati Aditya dengan wajah kesal.


“Okelah,” jawab Aditya sambil berjalan mengikuti.


“Siapa bilang aku hari ini berangkat denganmu?” tanya Frita berbalik dengan wajah muram.


“Lah terus Mbak mau jalan kaki?”


“Mau jalan kaki kek, mau jalan bebek kek. Ya terserah gua dong.”


“Wah jangan-jangan takut jatuh cinta ya, kalau terus berangkat bareng mah,” goda Aditya sambil tersenyum.


“Jangan mimpi deh!” ucap Frita ketus. Kemudian melangkah ke luar dari rumah. Namun langkahnya kembali terhenti.


“Asal lu tahu ya Dit. Gua akan buat lu nyesel seumur hidup!” kata Frita sambil membelakangi Aditya.


“Kayaknya menarik juga,” jawab Aditya sambil tertawa.


Frita dengan kesal melangkah pergi ke halaman. Tampak di luar gerbang sudah ada taksi online yang sengaja dipesan oleh Frita untuk berangkat ke kantor. Dia sudah bertekad akan membuat Aditya merasa tersiksa hingga dia memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Dia rasa dengan cara itu dia bisa bebas dari Aditya tanpa membatalkan balas budi ayahnya.


“Dasar rembulan yang dingin,” gumam Aditya sambil tersenyum.


“Maafkan aku Dit. Kelihatannya mulai saat ini kamu akan dibuat kesusahan oleh Frita,” ujar Pandu.


“Sudahlah, anda tidak bersalah sama sekali. Lagipula tantangan seperti apapun tidak akan membuat saya membatalkan kesepakatan kita. Saya sudah berhutang budi terlalu banyak kepada anda.”


“Ya, saya juga yakin dengan hal itu. Oh iya, Bapak mau berangkat bareng sama saya?” tanya Aditya.


“Hari ini saya berangkat agak siangan. Ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan,” jawab Pandu.


“Oh begitu, baiklah kalo begitu saya duluan Pak.”


“Iya Dit.”


Aditya kemudian berpamitan kepada Pandu untuk berangkat ke kantor. Dalam perjalanan tampak Aditya tersenyum mengingat tingkah laku Frita yang semakin dingin kepadanya. Baginya hal itu terasa begitu lucu.


Erik sedang menghadap cermin di kamarnya. Tampak beberapa kali dia merapikan rambutnya terus berputar melihat kerapihan seluruh pakaiannya. Setelah dirasa sempurna dia tampak senyam senyum sendiri sambil mengangkat alis matanya dan bergaya. Erik keluar sambil bersiul, ayahnya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu.


“Eh Yah, hari ini aku datang ke kantor agak siang ya,” ujar Erik.


“Memangnya kamu mau main ke mana? Yang serius dong Rik kalo masih mau kerja di kantor,” kata Ayahnya.


“Lah ayah pagi-pagi udah sewot gitu. Aku mau ke kantor Glow & Shine Co. dulu yah mau menanyakan jawaban Frita,” jawab Erik sambil tersenyum.

__ADS_1


“Frita lagi, Frita lagi. Di otakmu itu memang cuma ada Frita doang ya?” gerutu Ayahnya.


“Ya iyalah. Aku itu tipe pria yang setia Yah. Nggak mungkin aku mikirin cewe lain.”


“Nih anak. Ya sudahlah terserah kamu saja.”


“Nah gitu dong Yah.”


Erik pergi bersama sopirnya. Sedangkan ayahnya masih ada di rumah memegangi kepalanya. Dia tidak mengira Erik akan menjadi anak yang aneh seperti itu. Padahal dulu istirnya waktu mengandung Erik sama sekali tidak pernah ngidam yang aneh-aneh.


Sepanjang perjalanan tampak Erik terus senyum senyum sendiri ketika membayangkan Frita menerima lamarannya. Dia mulai browsing di toko online mencari gaun pengantin paling bagus yang cocok dengan Frita. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, tampak anak buahnya memanggil.


“Ada apa sih kalian mengganggu saja?” tanya Erik.


“Eh, maaf bos. Kami cuma mau ngasih tahu kalau bang Gilang sama bang Botak sudah ready bersama kami.”


“Oh begitu. Bagus deh. Gini saja, kalian nanti cari jalan paling sepi yang ada di Bandung. Nanti aku akan menyuruh si brengsek itu datang ke sana. Tinggal kalian sikat deh.”


“Oke Bos siap!”


“Sip. Eh nanti langsung share lokasinya ya.”


“Beres lah Bos.”


Erik mengakhiri panggilannya. Dia kembali mencari gaun pengantin yang bagus. Namun ternyata dia malah menemukan banyak sekali gaun pengantin indah dan mahal hingga dia pusing untuk memilihnya. Erik kemudian memutuskan untuk menelepon sekretarisnya.


“Halo pak Erik selamat pagi. Ada perlu apa ya?” tanya sekretarisnya.


“Selamat pagi. Kamu bisa bantuin saya sebentar nggak?”


“Bantuin apa ya Pak?”


“Gini, saya berencana mau beli gaun pengantin paling bagus di toko online. Eh ternyata banyak juga yang bagus. Tolong kamu segera pilihin yang paling bagus dan cocok sama Frita ya.”


“Wah jadi pak Erik sudah mau menikah nih?”


“Iyalah masa jomblo terus seumur hidup.”


“Duh selamat ya Pak. nanti saya pilihkan yang paling bagus deh.”


“Oke. Nanti segera kirim ke saya ya. Mau saya tunjukin ke Frita langsung.”


“Beres Pak.”

__ADS_1


Erik mengakhiri panggilannya. Dia kembali bersiul, hatinya sudah tak sabar untuk segera bertemu Frita. Dia juga sudah ingin memberi pelajaran kepada orang yang mengganggu acara lamarannya kemarin.


BERSAMBUNG…


__ADS_2