Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 185


__ADS_3

Aditya maju menyerang Jaja. Tinju mereka beradu, Aditya terus-menerus menyerang Jaja dengan penuh amarah. Semua orang mulai ketakutan melihat aksinya yang brutal itu.


“Tidak kusangka kalau selama ini musuh yang gue cari ada di depan mata!” ucap Aditya dengan geram.


“Apa maksud lu Aditya?” tanya Jaja berusaha mengelak.


“Jangan banyak omong! Gue tahu kalau lu adalah Ketua Black Mafia!” tegas Aditya sambil menunjuk Jaja.


“Hahaha jadi begitu, ternyata si dungu Hans yang memberitahukannya kepada lu, kalau begitu gue nggak perlu repot-repot lagi menyembunyikannya.” ucap Jaja dengan tawa khasnya.


“Keparat! Lu pantas untuk mati di sini!” bentak Aditya sambil melompat menendang Jaja hingga terpental.


Jaja kembali mengeluarkan darah dari mulutnya. Namun dia mencoba untuk bangkit lagi tapi Aditya yang sudah terbakar api amarahnya tidak memberinya ampun. Dia terus menghajar Jaja hingga ambruk kembali. Bahkan serangan Jaja juga tidak dia hindari, rasa sakitnya dan kepahitan di masa lalunya membuat tubuhnya seakan kebal dari rasa sakit.


Setiap kali dia menghajar Jaja bayangan ketiga rekannya yang gugur saat mencoba menangkap anggota Black Mafia kembali terbayang. Jaja terus bangkit namu Aditya menghajarnya kembali hingga roboh. Melihat Aditya yang sudah termakan api balas dendam mulai membuat Jaja ketakutan.


Jaja kemudian berlari pelan dengan tubuh yang sempoyongan pergi meninggalkan ruangan itu. Aditya mengikutinya dengan berjalan santai di belakang. Semua orang menghindari mereka berdua dan tidak berani mendekat. Jaja berlari hingga keluar dari villa miliknya sambil sesekali melihat kebelakang ke arah Aditya.


“Lari kemanapun nyawa lu tidak akan pernah selamat, Jaja!” teriak Aditya sambil menenteng pisau belati miliknya. Semua orang yang melihatnya segera berlutut sambil gemetaran.


“Sniper tembak orang brengsek ini!” teriak Jaja dengan sisa tenaganya. Tubuhnya sudah sangat babak belur, dari beberapa lukanya bahkan keluar darah.


“Percuma! Putra saat ini pasti sudah menghabisi mereka semua termasuk rekan-rekan lu!”


“Mustahil.. mustahil..”


“Nyawa harus dibalas nyawa!” teriak Aditya sambil melompat menendang Jaja hingga roboh.


“Ampun.. ampun.. aarrgh..” teriak Jaja karena kedua tangannya dipatahkan oleh Aditya.


“Ini pembalasan untuk Frans!”


“Arrgghh..” lagi-lagi Jaja berteriak saat Aditya mematahkan kedua kakinya.

__ADS_1


“Itu pembalasan untuk Kaila! Gara-gara lu mereka berdua gagal menikah! Gara-gara lu mereka harus mengubur mimpi mereka untuk berkeluarga! Gara-gara lu mereka berdua gugur! Semua itu gara-gara lu!” teriak Aditya sambil meninju wajah Jaja hingga berdarah.


“Angkat tangan kalian!” teriak beberapa orang dari kejauhan. Ternyata villa itu sudah dikepung ratusan polisi yang dipimpin oleh Jimmy dan kepala kepolisian Jawa Barat langsung.


“Dan ini untuk temanku yang mengorbankan nyawanya untuk melindungiku! Ini untuk Leo!” teriak Aditya lalu menusukan pisau belati miliknya ke dada Jaja hingga musuhnya itu tewas seketika.


“Aditya…!” teriak Jimmy lalu melepaskan tembakan dari pistolnya. Tubuh Aditya roboh ke tanah. Tatapannya gelap seiring dengan tubuhnya yang mati rasa.


“Frita..” gumam Aditya pelan.


Peperangan besar di kebun teh itu selesai setelah polisi membubarkan mereka. Para petinggi geng Serigala juga tewas di tangan Egi, Adrian dan Arfa. Sedangkan anggota Black Mafia semuanya berhasil dibunuh oleh Putra. Beberapa orang yang dianggap provokator ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.


Dari perang itu banyak korban jiwa yang berjatuhan bahkan wartawan luar negeri ikut meliput kejadian itu. Para polisi mulai sibuk membereskan sisa kekacauan di perkebunan teh. Beberapa mayat korban perang itu sebagian dibawa ke kediaman keluarganya, sebagian lagi yang tidak memiliki keluarga dibawa ke rumah sakit.


Hari esoknya banyak pemakaman diadakan di seluruh kota Bandung. Jimmy dan beberapa petinggi kepolisian menghadiri upacara pemakaman rekan mereka Arya yang sudah gugur. Istri Arya yaitu Mia ikut dikuburkan di samping kuburan Arya, dia meninggal sesaat setelah melahirkan putra pertama mereka karena syok mendengar kabar kematian suaminya. Hari itu kesedihan benar-benar memenuhi kota Paris van java.


“Kek..” ucap Ratna di samping kuburan Bima.


“Kenapa kakek melindungiku... kenapa..” ucap Ratna sambil menangis. Brian dan Viktor hanya berdiri di belakang Ratna.


“Sudahlah Rat, kita sebaiknya segera pulang. Aku yakin kalau Ketua juga tidak ingin melihatmu terus bersedih seperti itu,” ucap Brian sambil menghibur Ratna.


Rombongan mereka kemudian kembali ke markas besar geng Merak. Ratna masih terus menangis di kamar Bima. Niatnya dia ingin membereskan kamar kakek tercintanya itu namun hatinya tidak kuasa lagi menahan kesedihan yang dia rasakan. Melihat hal itu Brian kembali masuk untuk menghibur Ratna.


“Kamu tidak perlu membereskan kamar ini, biar kami saja yang melakukannya,” kata Brian.


“Tidak, aku yang akan membereskannya,” kata Ratna sambil berjalan menuju lemari baju Bima lalu membukanya.


“Baiklah,” ucap Brian sambil pergi meninggalkan kamar Bima.


“Ini?” gumam Ratna ketika melihat sebuah amplop bertuliskan namanya di lemari baju Bima. Dari kertasnya yang masih terlihat baru kemungkinan Bima membuatnya sesaat sebelum dia pergi ke markas geng Serigala bersama Aditya. perlahan Ratna membuka amplop itu lalu membacanya. Seketika air matanya kembali berderai saat membaca surat dari Bima.


“Ada surat untukmu Rat,” ucap Brian sambil menyodorkan sepucuk surat yang bertuliskan namanya. Ratna buru-buru menyembunyikan surat wasiat Bima dan menyeka air matanya.

__ADS_1


“Aditya?” gumam Ratna saat membaca nama pengirim surat itu.


Isi surat itu berisi permohonan maaf Aditya karena tidak bisa menghadiri pemakaman Bima. Dia juga minta maaf jika selama ini sudah berbuat salah kepada Ratna. Dia berterima kasih banyak atas kebaikan Ratna sekeluarga selama ini. Air matanya kembali keluar selagi dia membaca kata demi kata yang Aditya tulis sendiri.


“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Ratna.


“Sekarang aku dengar dia berada di dalam sel khusus. Tidak ada seorangpun yang bisa menjenguknya saat ini. Aku dengar para petinggi geng Gagak dan Ketua geng Kujang juga dibebaskan atas permintaan Aditya. dia bilang akan menanggung semua hukumannya sendiri,” jawab Brian.


“Lalu kapan pengadilannya akan dilaksanakan?”


“Aku dengar minggu depan dia akan diadili. Menurut kepolisian kemungkinan besar hukuman Aditya adalah hukuman mati,” jawab Brian sambil tertunduk. Ratna hanya terisak sambil mengusap wajahnya. Mereka sekarang bebas dari tuntutan kepolisian juga karena Aditya.


“Aku sebenarnya tidak menyangka kalau dia masih hidup setelah menghadapi Jaja. Aku pikir tadinya dia ditembak mati di tempat langsung oleh polisi. Tapi ternyata mereka malah menggunakan peluru bius untuk menangkapnya hidup-hidup,” gumam Brian sambil bersandar ke pintu kamar.


Di tempat lain, Rani dan Sherly juga sedang menangis setelah mendapat surat dari Aditya. isi suratnya kurang lebih sama. Dia meminta maaf kepada mereka dan berterima kasih atas kebaikannya selama ini.


Sementara itu di ruangan Jimmy. Pandu sedang berbincang dengan Jimmy terkait dengan pengadilan Aditya minggu depan. Frita bahkan terus menangis sambil memegang surat yang Aditya buat untuknya. Jimmy mulai sadar kalau ternyata Frita lebih mencintai Aditya daripada dirinya. Dia tidak melihat sedikitpun ada kesempatan baginya untuk dicintai oleh Frita.


Dalam surat itu Aditya meminta maaf kepada Frita karena kelihatannya dia tidak bisa menepati janjinya. Dia juga bilang kalau dirinya sangat mencintai Frita. Dia juga berterimakasih banyak kepada Frita atas kebaikannya dan keluarganya selama ini.


“Apa kami memang tidak bisa menemui Aditya saat ini pak?” tanya Pandu sambil menatap Jimmy.


“Maaf pak. Kami tidak bisa mengizinkannya. Penjagaannya saja sangat ketat, karena itu saya tidak bisa membantu,” jawab Jimmy.


“Sekali saja pak,” kata Frita sambil berurai air mata.


“Maaf Fri aku benar-benar tidak bisa membantumu kali ini.”


“Kalau meneleponnya bagaimana?”


“Tetap tidak bisa Fri. maafkan aku.”


“Memangnya tidak ada cara lain untuk membebaskan Aditya? seperti membayar jaminan misalnya?” tanya Pandu.

__ADS_1


“Sebenarnya bisa pak,” jawab Jimmy dengan tatapan serius.


BERSAMBUNG…


__ADS_2