
Ellena membuka pintu rumahnya untuk menerima kiriman pizza dari Sean yang baru saja di sampaikan Sean padanya. Tapi saat dia membuka pintu rumahnya, justru dia kaget dengan sosok yang hadir di depannya saat ini.
Ellena masih berdiri tertegun melihat sosok yang ada di depannya. Dia sampai lupa menyapa orang yang datang itu.
“Pizza,” ucap seorang pria di depan rumah Ellena.
“Oh iya,” jawab Ellena sambil melihat orang yang baru saja turun dari motor di depan rumahnya.
“Misi bentar ya, Pak,” ucap Ellena saat dia akan menemui pengantar pizza yang ada di depan rumahnya.
“Oh iya, Ell,” ucap Devan yang datang bertamu.
Ellena berjalan menuju ke pagar rumahnya untuk mengambil pizza kiriman dari Sean. Dia sangat senang sekali saat menerima kiriman makanan dari orang yang sedang mengisi hatinya tersebut. Setelah mendapatkan pizzanya, Ellena segera kembali masuk ke dalam rumah seolah dia lupa kalau ada Devan di ada di depan teras rumahnya.
“Mama punya pizza, siapa yang mau pizza?” ucap Ellena sambil menunjukkan kotak pizza di tangannya pada Nathan.
“Nathan mau. Nathan mau, Ma,” ucap Nathan kegirangan sambil melompat-lompat.
“Mama ambil piring dulu ya, biar ga tumpah semua nanti,” ucap Ellena sambil meletakkan pizza itu di atas meja di depan TV.
Ellena berjalan ke dapur dan segera mengambil piring untuk Nathan yang pasti sudah tidak sabar ingin menikmati pizza-nya. Siska yang ada di sana segera keluar lebih dulu karena mendengar suara kegirangan Nathan bertemu pizza malam ini.
“Waah ... Mama beli pizza neeh, malam ini kita makan pizza, Than,” ucap Siska sambil membuka kotak pizza tersebut.
“Nathan mau dua. Mau dua nanti ya,” pinta Nathan sambil menunjuk ke arah dua potongan pizza yang sudah menggodanya.
“Makannya satu-satu. Ga boleh serakah. Nanti kalo masih mau lagi, baru boleh ambil lagi,” ucap Ellena yang datang dengan membawa tiga buah piring.
“Kamu tumben beli pizza tanggal tua begini,” tanya Siska.
“Sean yang kirim, Bu. Buat camilan Nathan sebelum tidur katanya,” jawab Ellena sambil tersenyum.
“Om Sean itu siapa, Mama?”
“Om Sean? Hmm ... siapa ya?? Nanti kita kenalan ya, pokoknya Om Sean itu baik banget. Makanya sekarang kirim pizza buat Nathan. Kapan-kapan kalo Om Sean ga sibuk, kita undang main ke sini ya?” ucap Ellena sambil memberikan satu potong pizza untuk Nathan.
__ADS_1
“Main ke sini bawa pizza lagi,” jawab Nathan yang segera saja duduk sambil membawa piring pizzanya.
“Ell, itu pintu depan kok belum kamu tutup. Sean di depan kah?” tanya Siska sambil melihat ke pintu depan yang masih terbuka.
“Eh ya ampun! Ada Pak Devan. Ya ampun sampe lupa. Ellena keluar dulu, Bu.”
Ellena yang kegirangan mendapatkan perhatian dari Sean sampai lupa kalau ada Devan di depan rumahnya. Dia pun segera meletakkan lagi potongan pizza yang sudah ada di tangannya. Dia segera saja melangkah keluar rumah untuk bertemu dengan Devan.
Di teras rumah sederhana itu, Devan duduk sambil tersenyum bahkan menertawakan dirinya sendiri. Dia datang untuk bertemu Ellena dan juga Nathan dengan membawa ayam goreng serta beberapa makanan ringan dengan harapan dia bisa bertemu dengan Nathan dan mengambil hati bocah itu.
Tapi ternyata kedatangannya itu malah kalah dengan dengan seloyang pizza kiriman dari Sean. Meskipun Sean tidak datang sendiri mengantarkan pizza itu, tapi sepertinya kehadiran pizza itu saja sudah membuat Ellena dan keluarganya senang. Devan merasa dipermalukan saat ini oleh pizza itu.
“Pak Devan,” panggil Ellena.
Devan menoleh ke arah Ellena, “Ell, kamu lagi sibuk ya? Aku dateng di waktu yang ga tepat rupanya,” ucap Devan.
“Eh ... ga gitu kok, Pak. Maaf tadi sampe kelupaan. Pak Devan dari mana?” tanya Ellena yang ikut duduk di kursi yang ada di teras rumah Ellena.
“Tadi dari rumah, trus cari angin aja keluar bentar. Eh kok malah keinget sama Nathan. Akhirnya ya ini ... beliin ini buat Nathan,” ucap Devan sambil menunjukkan kantong belanjaannya.
“Ga papa. Lagian kan saya ke sini emang mau niatnya untuk ini. Tapi kayanya kamu lebih happy dapat pizza dari Sean.”
“Hmm ... ga gitu maksudnya, Pak. Tapi ....”
“Ga papa kok. Saya cuma mau bilang aja sama kamu kalo kamu emang milih Sean, ya kamu harus tau resikonya. Dia kan buka laki-laki sembarangan.”
“Maksud Bapak tahu resikonya itu apa?” tanya Ellena meminta kejelasan.
“Ya itu lah ... kan dia udah punya pasangan. Jadi jangan sampe kamu terluka.”
Ellena tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Devan. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh Devan saat ini. Pasti ini menyangkut Luna dan Sean. Tapi Ellena mencoba untuk percaya pada apa yang dikatakan Sean kepadanya tentang Luna.
Meskipun Sean belum mengatakan apa sebenarnya hubungan Sean dan Luna, tapi dengan Ellena ingin percaya kalau Sean dan wanita itu memang tidak ada hubungan apa pun. Ellena tidak ingin terpengaruh dengan apa pun saat ini. Dia hanya ingin melihat Sean dan mempercayainya.
Karena kehadirannya dirasa tidak tepat waktu, Devan akhirnya berpamitan pada Ellena. Dia merasa sangat tertolak saat ini. Dia hanya meninggalkan barang belanjaannya tadi yang memang sengaja dia beli untuk Nathan.
__ADS_1
***
“Eh ... denger ga sih kalo di kantor ada pelakor?”
“Iya bener ... siapa ya dia?”
“Iya sama. Katanya sih dia goda atasan kita. Duh gitu amat ya tuh orang, ga punya harga diri banget.”
“Iyq bener. Kalo sampe itu orang ketahuan siapa, hmmm ... semoga aja langsung di pecat.”
“Kalo perlu kita bikin malu dulu aja. Gerem aku kalo ada pelakor segala.”
Pembahasan tentang pelakor yang ada di kantor Ellena masih kencang berhembus. Ellena yang tidak tertarik dengan gosip yang ada di kantor pun tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh teman-temannya yang ada di dalam mobil jemputan itu.
Ellena lebih tertarik dengan ponselnya saat ini. Dia sedang chatting bersama dengan Sean yang menemaninya dari tadi. Ellena seakan tidak ada di antara teman-temannya saat ini. Dia memasuki dunianya sendiri bersama Sean.
“Rin, aku ke toilet dulu ya,” ucap Ellena saat mereka tiba di kantor.
“Aku tungguin?” tanya Arina.
“Ga usah, kamu duluan aja. Aku nyusul nanti aja.”
“Ok. Kalo gitu aku duluan ya.”
Ellena sengaja berbohong pada Arina karena dia ingin mengirimkan sarapan pagi untuk Sean terlebih dahulu. Tadi saat dia memasak, Sean mengatakan kalau dia ingin mencicipi masakan Ellena. Oleh karena itu, Ellena menyiapkan kotak makan yang dia sembunyikan di dalam tas kerjanya.
Setelah melihat keadaan sudah aman, Ellena segera masuk ke dalam lift yang tentu saja tidak ada Arina di dalamnya. Ellena segera menekan angka di dalam lift yang menuju ke ruangan Sean. Sesampainya di depan ruangan Sean, Ellena kemudian mencari sekretaris Sean. Tapi rupanya sekretaris Sean juga belum datang.
“Aku masuk aja deh. Aku langsung taroh trus aku balik ke ruangan aku. Sean pasti bakalan tau nanti kalo itu dari aku,” gumam Ellena lalu segera melangkah menuju ke ruang kerja Sean.
Ellena menata posisi yang bagus untuk bekal makanan itu. Dia juga menuliskan pesan manis untuk Sean yang dia letakkan di atas tempat makan itu. Setelah tugasnya selesai, Ellena segera bergegas keluar lagi dari ruangan itu.
“Ya ampun!!” ucap Ellena kaget saat dia melihat ada orang di balik pintu.
Bersambung....
__ADS_1