
Aditya dengan sigap menahan golok itu dengan sapu, tapi sapu itu malah terpotong menjadi dua. Bagian ujung golok itu berhasil mengoyak baju Aditya. Aceng terlihat semakin beringas. Dia terus melayangkan goloknya.
“Hei, bukannya itu curang?” tanya Aditya selagi menghindari serangan Aceng.
“Cih! Jangan banyak bacot!” bentak Aceng.
“Ayo kita habisi saja orang itu!”
“Mati lu bangsat! Gara-gara lu hidung gue jadi gatal!” timpal dua anak buahnya
Mereka berdua mulai membantu Aceng menyerang Aditya. Dengan dua bagian sapu tadi Aditya terus menghalau serangan golok Aceng. Sedangkan kedua kakinya sibuk menahan beberapa serangan dua lawan yang lain. Dani mulai bisa tenang, dia memang tidak bisa membantu Aditya melawan ketiga bandit itu.
“Ini Dit!” teriak Dani sambil melemparkan golok kepada Aditya.
“Oke Dan!” jawab Aditya sambil menerimanya.
“Lihat gue juga bisa mainin golok!” teriak Aditya sambil menunjukan beberapa gerakan pencak silat dengan goloknya.
“Golok murahan kayak begitu nggak akan bisa ngelawan golok mustika keramat milik gue!” jawab Aceng sambil memainkan goloknya.
“Hahaha, golok mustika hongkong!” ledek Aditya.
Aceng semakin naik pitam, dia kembali menyerang Aditya dengan goloknya. Kini Aditya bisa dengan tenang menangkis serangan Aceng. Terlihat dia sangat mahir menggunakan golok. Bahkan kedua anak buah Aceng sudah terluka karena terkena serangan golok Aditya.
Aceng semakin marah dia terus menerus menyerang namun Aditya dengan tenang bisa menangkis semua serangannya. Kini terlihat Aceng mulai terpojok karena Aditya balik menyerangnya secara terus menerus. Aceng balas menyerang dengan sabetan ke arah pinggang Aditya namun dapat ditahan.
Ketika Aceng sudah mulai terpojok oleh Aditya tiba-tiba ada dua motor datang menghampiri. Tiga orang pria sangar turun mendekat. Aceng terlihat sumringah sementara Aditya hanya mengernyitkan keningnya. Dani semakin pucat karena ternyata kedua anak buah Aceng malah memanggil bala bantuan.
“Mana orang yang berani menantang gue!” tanya seorang pria yang memakai kalung rantai.
“Itu orangnya,” jawab anak buah Aceng sambil menunjuk Aditya.
“Bos Ivan kemana?” tanya Aceng.
“Dia akan segera menyusul kemari, karena itu sebaiknya kita cepat habisi dia agar bos tidak perlu turun tangan,” jawab pria itu.
“Wah, ternyata sampahnya semakin banyak saja,” ledek Aditya sambil bergaya memainkan golok di tangannya.
__ADS_1
Mereka berenam kembali mengeroyok Aditya. Dua anak buah Aceng kembali mendapat sabetan di tubuhnya hingga menjerit dan mengeluarkan darah. Empat orang kembali maju menyerang Aditya. Tapi kemampuan mereka yang masih mentah tidak membuat Aditya kerepotan sedikitpun.
Aceng dan pria yang memakai kalung mencoba menyerangnya dari depan, selagi menghindari serangan mereka dua orang lagi membuat serangan dadakan dari belakangnya dengan pisau. Tapi serangan mereka hanya mengoyak baju Aditya sedikit. Aditya dengan cepat memutarkan goloknya.
Pisau yang digunakan oleh mereka berdua tidak sanggup menahan ayunan golok itu hingga mengenai tangan mereka. Tanpa ampun Aditya menendang leher mereka lalu membanting mereka berdua hingga terkapar di tanah. Aceng dan pria yang mengenakan kalung terlihat mulai segan.
“Sebaiknya kalian jangan jadi orang pengecut seperti mereka, benar-benar memalukan,” ucap Aditya.
“Cih, kalau berani jangan pakai golok! Dasar pengecut!” bentak pria yang memakai kalung.
“Hahaha orang temen lu dulu yang pakai golok.”
“Cih, lu tahan serangan goloknya Ceng biar gue punya kesempatan menyerangnya dari jarak dekat,” bisik pria berkalung rantai.
“Oke,” jawab Aceng.
Aceng maju menyerang Aditya, sementara pria berkalung mengikutinya dari belakang. Aditya dengan sigap menahan serangan Aceng namun pria dibelakangnya maju melayangkan pisaunya ke leher. Aditya mengelak ke bawah, kaki Aceng menyerbu tubuhnya namun segera ditahan oleh golok. Aceng tak sempat menghentikan serangannya.
Darah keluar dari kaki Aceng. Aditya dengan keras melayangkan goloknya ke wajah Aceng namun berhasil ditahan tapi getaran yang dihasilkan dari benturan mengalir ke seluruh bagian tubuhnya menjadi bukti betapa kuatnya tenaga Aditya. Tiga kali Aditya melakukan serangan yang sama hingga pada akhirnya golok Aceng patah.
“Kenapa bisa,” ujar Aceng kaget tapi tubuhnya sudah melayang karena perutnya ditendang Aditya.
“Hahaha, katanya golok keramat plus mustika. Masa bisa patah begitu,” ledek Aditya.
“Kurang ajar!” bentak Aceng pelan karena darah keluar dari mulutnya.
“Sekuat apapun golok, jika dihantam di satu titik secara terus menerus tetap saja bisa patah. Aditya benar-benar cerdas, dia sengaja menghantam golok lawannya secara terus menerus di titik yang sama,” puji Dani.
Sebuah motor sport berhenti di halaman rumah Dani, seorang pria bertubuh kekar dengan helm dan jaket geng Gagak turun dari motor. Dengan gagahnya dia berjalan mendekat. Aceng dan pria berkalung langsung menghampirinya dengan senang dan penuh hormat.
“Bos Ivan akhirnya datang. Kami benar-benar tertolong,” ujar Aceng.
“Dasar payah. Kalian sampai babak belur seperti itu. Mana orangnya?” tanya Ivan.
“Itu Bos,” tunjuk Aceng kepada Aditya.
“Iya bos, dia bahkan tadi menjelek jelekan nama bos. Dia benar-benar tidak tahu diri mau menantang bos,” tambah pria berkalung mencoba untuk memanasi suasana Ivan.
__ADS_1
Ivan membuka helmnya lalu berjalan mendekati Aditya yang menatapnya tajam, Aceng mulai tersenyum puas. Tanpa disangka Ivan malah bersalaman dengan Aditya, dia kelihatan begitu kagum dan hormat kepada Aditya, hal itu membuat Dani dan para bandit heran.
“Maafkan kesalahan anak buah saya, mereka sudah berani berbuat kurang ajar kepada bos,” ucap Ivan sambil membungkuk.
“Lu tahu gue?” tanya Aditya.
“Saya tahu banget, awalnya dari kejauhan saya ragu tapi setelah dekat ternyata memang anda. Saya Ivan anak buahnya bos Egi. Malam waktu anda duel di restoran itu saya juga hadir dan benar-benar kagum dengan kehebatan anda,” jawab Ivan.
“Baguslah kalau sudah tahu. Gue ngelakuin hal ini cuma buat ngasih pelajaran sama mereka. Lu tahu nggak apa kesalahan mereka?”
“Tidak bos, kalau berkenan tolong kasih tahu saya.”
Aditya kemudian menjelaskan bahwa Aceng sudah memeras temannya, dia juga meminta Ivan agar semua uang dan barang yang diambil oleh Aceng segera dikembalikan kepada Dani jika memang ingin masalah ini selesai. Ivan hanya tertunduk malu dengan kelakuan anak buahnya. Dia kemudian meminta izin Aditya untuk menghajar anak buahnya.
“Kenapa bos?” tanya Aceng saat melihat Ivan berbalik.
“Kenapa tidak segera menghabisinya saja bos?” tanya pria berkalung.
“Lu benar-benar kurang ajar!” bentak Ivan.
“Ken-“
Belum sempat mereka bertanya lagi, Ivan sudah melayangkan beberapa serangan hingga mereka terkapar tak berdaya di tanah. Ivan kemudian meminta mereka melakukan perintah Aditya untuk mengembalikan barang dan uang Dani. Dia juga meminta mereka meminta maaf kepada Aditya.
Sambil merangkak Aceng dan pria berkalung rantai mendekati Aditya lalu meminta maaf sambil menangis. Mereka berjanji akan mengembalikan semua barang dan uang milik Dani. Ivan dan anak buahnya juga meminta maaf kepada Dani. Mereka juga berjanji akan mengembalikan semua hartanya.
“Terimakasih banyak Dit, lagi-lagi kamu menyelamatkan hidupku,” ucap Dani sambil menangis terharu setelah para bandit pergi.
“TIdak masalah Dan, dengan begini seharusnya kehidupan keluargamu sudah kembali tenang. Perusahaan membutuhkanmu karena itu aku harap kamu bisa kembali datang ke tempat kerja.”
“Baik Dit, besok senin aku akan kembali masuk kerja.”
“Baguslah,” ujar Aditya sambil menepuk pundak Dani. Ponselnya tiba-tiba berdering, Aditya sedikit menjauh untuk menerima telepon dari Putra.
“Ada apa Put?” tanya Aditya pelan.
“Aku berhasil menemukan informasi penting terkait gerak-gerik orang yang bernama William,” jawab Putra.
__ADS_1
BERSAMBUNG…