
Aditya tak bicara untuk beberapa saat dan hanya memandangi Frita yang tak berani menatap matanya.
Akhirnya, setelah kecanggungan yang terasa sangat panjang itu, Aditya akhirnya bisa berkata, “Aku tak bisa hidup seperti ini.”
Frita belum berani menatap matanya, tetapi dia juga bisa bersuara, “Aku pun juga tidak bisa, Mas.”
Aditya bangkit berdiri dan menghampiri Frita. Kini jarak mereka cukup dekat jika saja mereka ingin berpelukan. Dan memang itulah yang terjadi. Frita menangis panjang, tapi tanpa suara.
Aditya berbisik, “Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa tega melakukannya padamu?”
Tentu saja Aditya tak mengharapkan jawaban dari Frita, sebab itu pertanyaan retoris. Ia bisa dan pasti menanyakan itu langsung kepada Gagas Darmawan ataupun Lucky Wicaksono yang sudah jelas bertanggung jawab atas peristiwa tadi pagi. Mereka hanya belum ada kesempatan bertemu, sebab Pandu yakin ada permainan yang tak mungkin dimenangkan atas kejadian ini jika mereka bertindak gegabah.
Di sisi lain, Frita yang mendengar pertanyaan Aditya itu juga tak terlalu yakin atas kejadian tadi pagi. Ia merasa sangat pusing begitu bangun dari tidurnya di atas meja dalam kondisi setengah telanjang, tapi ada sebercak darah di situ, darah segar, tepat di bagian bawah tubuhnya. Ia tak merasa sakit sama sekali, tapi itu benar-benar darah dan ia tahu seseorang telah terluka.
“Apa mungkin itu darah seseorang yang bukan aku? Itu tak mungkin!” batin Frita tak terlalu yakin.
Frita pikir ialah yang terluka, dan bukankah memang seharusnya begitu?
Seseorang secara anonim mengirimkan foto dia sedang ditindih oleh seorang lelaki yang entah siapa di meja kantor kecil itu. Seorang lelaki yang tak terlihat wajahnya. Itu sudah cukup menjelaskan situasinya bahwa Frita adalah korban perkosaan.
Frita belum ingin mengatakan soal foto dari sosok anonim itu pada Aditya. Itu biar menjadi urusan nanti saja. Yang jelas Gagas dan Lucky pasti akan mendapat ganjaran. Ia bilang pada Aditya, “Jika memang pernikahan kita dibatalkan, aku tak akan memaksa. Itu semua ada di tanganmu, Mas. Keputusan itu.”
Aditya sulit berkata-kata. Ia mencintai Frita, sang rembulan kota Bandung. Ia tidak ingin meninggalkannya begitu saja saat kejadian buruk mendadak menimpanya seperti saat ini.
“Kamu bicara apa sih!” sahut Aditya. “Sudahlah, tenangkan dirimu dulu, Frit. Kita akan selesaikan ini sama-sama.”
__ADS_1
Frita hanya terisak-isak saja.
“Aku memikirkan beberapa rencana sejak digiring ke kantor polisi ini. Boleh jadi rencana itu kulakukan. Tapi ada rencana-rencana cadangan yang sudah kupikirkan juga sampai detik ini. Kamu jangan khawatir.”
“Terima kasih, Mas.”
Mereka kembali berpelukan sebelum akhirnya Jimmy mengetuk pintu, kembali ke dalam ruangan interogasi itu.
“Bagaimana, Dit? Maaf, aku sudah mengganggu waktu kalian berdua. Sayangnya, kalian tak bisa lama-lama mengobrol di sini.”
Tampak dari celah pintu yang sedikit terbuka, Pandu dan Gina menatap cemas ke arah keduanya. Tapi Frita terlihat tenang. Mereka pun juga tampak tenang setelah tahu persoalan asmara anak sulung mereka tak mengalami masalah berarti dengan Aditya.
Tidak lama kemudian, seorang lelaki berpakaian rapi datang. Gayanya begitu klimis. Ia menjabat tangan Pandu dan seperti mencari-cari sesuatu, karena kepalanya melongok ke sana kemari. Pandu menunjuk ke arah ruangan interogasi yang setengah terbuka.
“Terima kasih, Pak Pandu.”
Keluarga Pandu segera berpamitan. Shelly D ikut berjalan bersama mereka, sebab ia memutuskan untuk tak mengambil jadwal show terbarunya besok siang. Ia memilih tetap bersembunyi dulu di rumah lamanya, sebab shock atas peristiwa semalam yang menimpa. Lagi pula, kata sang asisten, para wartawan sudah mulai terlihat mengepung kediaman mewahnya di Jakarta.
Keluar dari lift, Frita yang berjalan paling belakang (sebab Gina dan Pandu berjalan jauh di depan menuju mobil mereka), Shelly D menghampirinya. Penyanyi itu berkata, “Aku baru mengenal kalian. Tapi aku tahu kalian sangat cocok. Kamu dan Aditya. Semoga peristiwa ini tak menjadi penghalang. Kalian harus terus bersama.”
“Terima kasih, Shelly D,” kata Frita yang kini sudah bisa menahan tetesan air mata di wajahnya.
“Panggil saja Desi,” sahut Shelly D sambil tersenyum.
“Apa?” Frita terlihat bingung.
__ADS_1
Clarissa yang mendengar percakapan mereka menyela, “Desi itu nama aslinya Kak Shelly D. Benar, kan, Kak?”
“Ya, benar. Sedikit orang yang tahu nama asliku. Kupikir kalian sudah kuanggap teman dekat. Jadi kalian berhak tahu,” kata Shelly D.
Frita memeluk Desi atau Shelly D, yang kini mencoba menutupi wajahnya sebab di area parkir, orang bisa saja menyadari keberadaannya. Bisa saja di situ ada wartawan lain yang menunggu lalu menyerangnya dengan seribu pertanyaan. Ia belum siap. Tapi tempat parkir kantor polisi ini lumayan sepi.
Frita menawari tumpangan pada Shelly D. Kebetulan mobil mereka berbeda dengan yang ditumpangi Pandu dan Gina. Sepanjang perjalanan, Clarissa mencoba untuk terus menghibur sang kakak dengan lelucon-leluconnya, yang entah kenapan sekarang terasa tak terlalu garing seperti biasa.
“Tumben kamu selucu ini, Clarissa,” kata Frita.
“Yah, bukannya dari dulu emang sudah lucu?” balas Clarissa sambil berpura-pura cemberut.
Clarissa dan Shelly D bernyanyi di sepanjang perjalanan itu. Bukan membawakan lagu-lagu Shelly D sendiri, melainkan lagu artis pujaan sang penyanyi tersebut. Clarissa sangat senang betapa ternyata penyanyi kesukaan Shelly D juga penyanyi yang disukai olehnya juga, meski dari generasi yang lebih tua.
Setiba di rumah, Pandu segera mendapat telepon dari sang pengacara bawah kini si Aditya sudah ada dalam perjalanan pulang, menumpang mobilnya.
“Apa yang dia katakan?” tanya Pandu yang masih cemas akan kondisi emosi sang calon menantu.
“Tidak ada, Pak Pandu. Tapi semua sepertinya baik-baik saja,” jawab si pengacara.
Aditya tak tahu harus pulang ke mana, jadi ia tak menolak ketika si pengacara klimis itu mengantarnya ke rumah mewah Pandu Saputra. Padahal ia bisa saja meminta si pengacara ini mengantarnya ke rumah teman-teman lamanya atau kenalan yang tidak terduga selama menjadi anggota pasukan khusus, atau mungkin rumah Komandan Malik atau Zaki, yang sudah banyak ia bantu.
Hanya saja, sisi tersembunyi di hati Aditya ingin memastikan betapa Frita baik-baik saja. Ia ingin menemui gadis itu esok pagi dan seterusnya. Ia berharap sampai kejadian pemerkosaan itu menjadi terang dan urusan ini benar-benar selesai, Frita tetap bisa tersenyum.
Bersambung....
__ADS_1