Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 60


__ADS_3

Sherly perlahan berjalan menuju ruangan Frita. Dia sudah menyiapkan mentalnya jika nanti Frita memarahinya karena sudah gagal bernegosiasi dengan Unesia Corp. Semakin dekat dengan ruangan Frita membuat jantungnya semakin berdebar kencang.


“Selamat Siang Mbak,” sapa Sherly sambil membuka pintu. Di dalam terlihat Frita sedang berbincang dengan Rani.


“Siang Sher, silahkan masuk,” jawab Frita.


“Silahkan duduk,” ucap Frita setelah Sherly masuk.


“Sebelumnya saya benar-benar minta maaf Mbak.”


“Minta maaf kenapa?”


“Saya sudah gagal bernegosiasi dengan Unesia Corp. saya benar-benar mohon maaf,” jelas Sherly sambil menyerahkan berkas penuntasan kerjasama yang belum ditanda tangani Erik.


“Gagal apanya Sher?” tanya Rani.


“Lah, ini uang pembayaran hutangnya sudah masuk ke rekening perusahaan. Bahkan Unesia memberikan kompensasi sebesar lima puluh juta rupiah sebagai permintaan maaf mereka, kalau masalah tanda tangan sih nggak penting kalau uangnya sudah ada mah.” jelas Frita. Sherly sontak terkejut mendengarnya.


Sherly bingung kenapa bisa seperti itu. padahal tadi Erik belum menandatangani berkasnya, dia bahkan malah mencoba menyakiti mereka bertiga. Dia rasa ini semua adalah berkat usaha Aditya. Sherly tersenyum, dia pikir Aditya memang belum banyak berubah. Dia tidak pernah mengharapkan pujian dari orang lain atas kerja kerasnya.


“Saya paham situasinya. Kemungkinan ini semua berkat kerja kerasnya Aditya,” ucap Sherly dengan bangga.


“Aditya? Apa maksudmu?” tanya Frita.


“Sebenarnya saat kami pergi menemui Erik di villa pribadinya, dia seperti mengulur waktu untuk menandatangani berkas itu. saya bahkan sudah putus asa. kemungkinan ketika saya pergi, Aditya melanjutkan negosiasinya dengan Erik hingga berhasil,” jelas Sherly.


“Apa itu benar?” tanya Frita karena masih belum percaya jika Aditya bisa membuat Erik melunasi hutangnya.


“Benar Mbak. Jika tidak percaya silahkan Mbak tanyakan juga kepada Dani. Kami berdua bahkan sudah menganggap tugas kami ini gagal sepenuhnya. Aditya adalah orang yang paling berjasa dalam tugas kali ini.”


Frita termenung, sedikitpun dia tidak menyangka jika Aditya memiliki kemampuan negosiasi sehebat itu. padahal Sherly sendiri yang memang sudah berpengalaman malah menyerah menghadapi Erik. Rani hanya tersenyum mendengarnya, kekaguman dirinya kepada Aditya semakin bertambah. Aditya seolah tidak henti-hentinya membuat dia terkejut.


“Sebenarnya saya sudah berunding dengan petinggi perusahaan lainnya untuk memberikan penghargaan kepadamu karena sudah berhasil membuat Unesia melunasi hutangnya,” kata Frita.


“Penghargaannya berupa uang tunai senilai sepuluh juta rupiah. Tapi karena kenyataannya seperti itu maka saya putuskan membagi tiga uang tunai itu untukmu, Dani dan Aditya,” tambah Frita.

__ADS_1


“Terima kasih banyak Mbak, tapi saya rasa yang paling pantas untuk menerima penghargaan itu hanyal Aditya seorang.”


“Kalau begitu, saya akan memberikan penghargaan kepadamu dan Dani uang tunai senilai tiga juta rupiah. Sedangkan Aditya akan mendapat uang senilai empat juta rupiah, itu sudah fix tidak bisa dirubah lagi,” ucap Frita sambil menata ulang isi amplop di tangannya. Lalu memberikan satu amplop kepada Sherly.


“Baik Mbak. Terima kasih banyak.”


“Ran tolong kamu berikan amplop ini kepada Aditya dan Dani, sudah ku kasih nama kok,” perintah Frita.


“Baik Mbak,” jawab Rani sambil menerima dua amplop dari Frita.


Sherly dan Rani keluar dari ruangan Frita. Di luar kantor, mereka berdua berpisah, Rani menuju gedung bagian keamanan sedangkan Sherly menuju gedung bagian keuangan. Frita menghela nafas dalam di ruangannya dia tidak habis pikir dengan kejadian hari ini.


Sementara itu, di gedung bagian keamanan semua orang sedang mengolok olok Aditya terutama Jana dan Wira. Hal itu membuat emosi Dani meluap karena mereka melakukan hal itu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya. Dani melangkah mendekati Wira, namun Aditya yang paham segera menghalangi langkahnya.


“Coba kalo gue yang kemarin dipilih sama Mbak Sherly pastinya tugas kali ini akan berjalan lancar,” ujar Wira.


“Iya tuh, pak Dani juga pasti nggak bakalan babak belur seperti itu,” timpal Jana.


“Dia terpilih cuma karena beruntung doang, atau jangan-jangan dia terpilih cuma karena Mbak Sherly kasian saja liat penampilannya.”


“Dasar pengecut!”


“Sebagai sesame karyawan kalian tidak sepantasnya berkata seperti itu jika teman kalian mengalami kegagalan!” bentak Dani yang sudah tidak kuat menahan emosinya.


“Noh kan pak Dani saja sampe belain, pasti dia emang pake pengasihan,” ujar beberapa sopir.


“Orang kayak begitu mah nggak usah dikasihanin pak, nanti melunjak,” ucap Wira.


“Iya sesekali harus diberi pelajaran biar jera dan berpikir!” tambah Jana.


“Bilang saja kalian iri karena nggak dipilih sama Mbak Sherly,” jawab Aditya dengan santai. Dani tidak menyangka jika Aditya masih bisa bersabar menghadapi situasi seperti itu.


“Sok keren lu Dit!” bentak Jana.


Heni sejak tadi hanya termenung saja. dia juga kesal kepada Aditya karena sudah mempermalukan bagian keamanan. Dia tidak terima jika anggotanya gagal gara-gara Aditya. Dia berpikir mengenai cara menyingkirkan Aditya dari perusahaan atau paling tidak dari bagian keamanan.

__ADS_1


“Diam! Lu memang nggak tahu diri Aditya. Sudah jelas salah malah ngeles,” bentak Heni. Suasana di ruangan itu menjadi hening.


“Saya akan mengajukan surat pemecatanmu hari ini juga!” tegas Heni.


“Bagus bu pecat saja dia!”


“Saya setuju bu! Emang malu maluin saja, nggak guna!”


“Memang salah saya apa?” tanya Aditya.


“Pikir saja sendiri!”


Dani cemas, dia khawatir jika Aditya memang akan dipecat padahal dia sudah menyelamatkan nyawanya. Heni segera menyuruh wakilnya untuk menyiapkan surat rekomendasi pemecatan. Wakil kepala bagian keamanan pergi ke kantornya untuk melaksanakan perintah Heni.


“Bu tolong pertimbangkan kembali rencana ibu,” pinta Dani.


“Tidak bisa, aku mengerti jika kamu memang solider dengan temanmu namun pengecualian untuk Aditya.”


“Atuh bu setidaknya kasih lah surat peringatan dulu, SP berapa kek. Jangan langsung meminta untuk memecatnya,” ucap Dani mencoba membujuk Heni.


“Kalo tidak bisa ya tidak bisa! Atau kamu mau direkomendasikan untuk dipecat juga?” ancam Heni.


“Maaf bu,” ucap Dani, dia menatap Aditya seolah meminta maaf karena tidak bisa meyakinkan Heni. Aditya hanya tersenyum santai.


Surat rekomendasi pemecatan sudah jadi, di depan semuanya Heni menandatangani surat itu. Wira dan Jana tampak begitu senang. Impian mereka untuk menyingkirkan Aditya selama ini akhirnya bisa terwujud juga. Heni kemudian pergi dari ruangan hendak mengantarkan surat itu kepada Frita.


“Rasain!” ledek Jana.


“Mampus lu! Emang enak punya masalah sama gue!” timpal Wira.


“Coba kalo dulu lu nurutin kemauan gue, pasti aman lu,” ucap Jana.


“Emang pantes orang kayak dia mah dipecat juga,” ujar sopir yang dekat dengan Wira.


Heni datang kembali ke ruangan itu bersama Rani. dia bilang jika ada pengumuman penting yang harus dia sampaikan atas nama bu direktur Frita. Wira terlihat begitu sumringah, dia kemudian berteriak agar semua orang yang ada di sana berkumpul untuk mendengarkan pengumuman. Rani kemudian maju ke depan.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2