Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 250


__ADS_3

Mereka menunggu di halaman belakang kantor desa yang terlihat sepi itu sampai hari menjadi gelap. Sebuah mobil akhirnya datang, menjemput keduanya.


“Perkenalkan, ini Feri, rekan satu selku,” kata Rai pada seseorang yang menjemput mereka.


Seseorang itu turun dari bangku kemudi. Tampak gagah dan mengenakan kemeja yang rapi dan wangi. Wajahnya memiliki bekas codet, tapi rambutnya klimis dan sangat rapi. Seperti orang yang belum lama diselamatkan dari ketersesatan di sebuah pulau tak bertuan.


“Feri, ini rekanku sebelum aku dipenjara. Namanya Burhan,” kata Rai lagi kepada Aditya.


Aditya dan Burhan berjabat tangan. Burhan tampak curiga pada Aditya. Ia tak suka bicara banyak, jadi diam saja sepanjang perjalanan. Hanya Rai yang terdengar paling banyak omong saat itu. Jauh berbeda dari Rai ketika masih di penjara rahasia.


Aditya sendiri mencoba mengingat-ingat, ia sepertinya kenal si Burhan ini.


Sebelum Aditya menyadari, Burhan akhirnya berkata setelah mereka hampir sampai di tujuan, yakni rumah salah satu teman lain Rai, “Kita pernah ketemu entah di mana. Aku hanya bisa mengingat sebuah bioskop di Jakarta Selatan.”


Kata-kata Burhan itu membongkar ingatan konyol sekitar dua tahun lalu di kepala Aditya. Ya, mereka pernah ribut saat itu. Aditya memiliki musuh banyak, tetapi sedikit saja yang sejeli Burhan. Sebab Burhan sengaja melacak identitas Aditya saat itu. Jadilah ia tahu nama aslinya bukan Feri.


“Kau Aditya, pasukan khusus bawahan Komandan Zaki, bukan? Jangan kau pikir karena penampilanku seseram ini, aku gagap teknologi, Bro. Aku tahu apa-apa yang mungkin belum kau tahu!” sembur Burhan setelah ia menghentikan mobilnya di tempat parkir.


Rai cuma bilang, “Burhan, apa-apaan ini?”


“Dia Aditya, salah satu sosok yang selama ini kelompok kita hindari!” kata Burhan.


Aditya hanya terdiam, bersiap jika mereka mengeroyoknya.


Namun, Rai tidak menyerangnya. Malah berkata, “Mana mungkin!”


“Coba perhatikan sekali lagi! Atau, kita bawa teman satu selmu ini masuk dan kita dengar pendapat teman-teman?” tawar Burhan.


Aditya tak bisa menolak. Identitasnya sudah terbongkar di sini, tapi itu toh tak akan mempengaruhi misi ini selama Rai bisa dibujuk dan selama nyawa anaknya masih ada dalam cengkeraman sang mafia di Jepang itu.


***


Rai Siluman adalah satu dari lima orang pencuri ulung yang tergabung dalam Grup Pencuri Tanpa Bayangan.


Itu sekadar julukan yang disematkan orang-orang pada Rai dan rekan-rekannya. Mereka kerap bekerja sendiri, tapi bersahabat erat. Menjadi penipu dan maling paling cerdas yang sudah memperdaya orang dari berbagai penjuru dunia.

__ADS_1


Hanya saja, mereka tak memiliki kemampuan apa-apa selain itu. Mereka tak dapat menolong anak Rai yang kini terjebak di markas mafia Jepang yang konon lebih keji dari Yakuza itu.


Maka, ketika Aditya dikepung oleh Pencuri Tanpa Bayangan, inilah yang kemudian ia tawarkan:


“Aku bisa membantu menyelamatkan anakmu, Rai, dari cengkeraman mafia Jepang itu. Sebagai bayarannya, kau juga harus membantuku mencuri dokumen itu dari tangan pembelimu.”


Tawaran itu sempat membuat ribut kelompok pencuri elite itu. Burhan, Toro, Vivian, dan Larry yang berada di ruangan itu meminta Rai agar tak termakan rayuan Aditya.


“Bisa jadi ini cuma jebakan agar kita semua tertangkap! Ingat, kau tak mungkin bisa bebas semudah itu dari penjara!”


“Aku dihukum mati. Suntikan kurang dosis yang sayangnya gagal membuatku mati,” kata Rai.


“Kau yakin? Setahuku kau tak sebodoh ini, Rai,” sela Burhan.


Rai Siluman tampak resah. Di satu sisi, tawaran Aditya bagus. Ia tahu pasukannya Aditya bukan orang-orang sembarangan. Misi penyelamatan adalah bidangnya, sedang dia dan Pencuri Tanpa Bayangan hanya ahli dalam menyelinap, menipu, dan mencuri barang berharga.


Rai yang tertua di kelompok itu. Mereka menganggapnya seperti sosok bapak dan paman. Jadi, Rai biasa dihormati apa pun keputusannya. Namun kali ini keempat orang itu terlihat melawannya.


“Aku hanya ingin anakku selamat. Itu saja!” geram Rai pada teman-temannya.


Vivian bilang, “Itu ide yang bagus. Walau Aditya bisa saja menjebak kita. Bisa saja mereka merancang ini agar kita berempat juga ikut tertangkap.”


“Demi Tuhan! Tidak ada rencana macam itu! Kalian malah akan dibebaskan kalau mau membantu kami. Akan kupastikan itu!” kata Aditya.


“Itu dokumen negara. Sesuatu yang sangat penting. Yah, memang kita layak dapat hukuman sebenarnya,” sahut Toro yang kemudian juga terduduk pasrah.


“Apa-apaan ini? Aku masih mau hidup bebas!” tukas Larry yang termuda.


Mereka berenam pun berdebat, saling melempar argumen, saling meyakinkan satu sama lain. Namun keputusan Rai akhirnya tak berubah. Ia tetap menyetujui usulan dari Aditya.


“Kalau kau berkhianat, kau bisa mati,” ancam Larry.


“Kalian boleh membunuhku kapan pun kalian mau kalau memang ini tipuanku,” sahut Aditya dengan tenang.


“Tidak akan ada yang terbunuh di antara kita!” bentak Rai.

__ADS_1


Lalu ia menatap wajah Aditya dengan serius.


“Mungkin di penjara kau sudah menipuku. Tapi kurasa memang inilah jalan yang terbaik untuk kita semua. Mereka mendapatkan kembali dokumen negara itu, dan aku pun mendapatkan lagi anakku tercinta. Semua orang bahagia. Bukankah itu yang baik?” kata Rai.


“Nah, aku suka kata-katamu,” ujar Aditya.


Mereka pun bersiap berangkat besok paginya. Sebuah persiapan yang sangat tiba- tiba. Aditya tidak sempat membeli sejumlah pakaian untuk ganti. Sehingga Larry yang tubuhnya setara Aditya, harus menggerutu meminjaminya pakaian.


“Nanti akan kubayar sebagai ganti rugi, kalau kau tak keberatan,” bisik Aditya ke telinga Larry sebelum mobil mereka menuju ke bandara.


Larry hanya bisa ngedumel.


Di bandara, Aditya memisahkan diri sejenak, mencoba menghubungi Baskara dan Amy Aurora. Dua pasukan khusus yang membantu jelas akan lebih mudah. Ia tak lupa menyampaikan pada Baskara agar Skuad Malam tetap merahasiakan bahwa ia masih hidup saat ini.


***


“Tapi Frita menunggunya,” kata Nancy pada Baskara setelah ia menutup telepon.


“Itu yang diminta Bang Aditya sih. Ia enggak mau kematiannya terungkap sebagai kematian palsu, setidaknya dalam waktu dekat ini,” jawab Baskara.


“Tapi kenapa?” sahut Linda heran.


“Entahlah. Dia enggak bilang apa-apa,” kata Baskara yang segera bangkit untuk ke ruangan Komandan Malik, memberi kabar tentang Aditya yang butuh bantuan mereka.


“Kita bahkan baru kemarin menghadiri upacara kematiannya. Sekarang lelaki itu bangkit dan mengabarkan diri masih hidup. Bukankah itu keren?” kata Teo.


“Yah, memang. Aku siap membantu senior kita yang keren itu! Bagaimanapun, dia orang yang menginspirasiku sejak awal!” tukas Charlie dengan bahagia.


Komandan Malik terlihat berjalan tergesa-gesa bersama Baskara ke ruang bersantai mereka.


“Nah, anak-anak. Sepertinya sahabat kita masih hidup. Kita tak tahu kenapa dia tak mau kematian palsunya terungkap. Tapi biar itu jadi urusannya. Dia butuh bantuan kita untuk menolong seseorang. Lagi pula ini terkait dokumen negara yang memang sudah jadi tugas kita bersama untuk menjaganya. Kalian siap?” kata Komandan Malik.


“Siap, Komandan!”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2