
Dengan cepat Yana segera mengajak Angga untuk masuk ke mobil dan pergi dari sana. Walau bingung, Angga tetap mengikuti ajakan Yana.
“Kenapa kamu bisa ada di sini Put?” tanya Aditya.
“Kebetulan aku baru pulang, karena ada sedikit urusan aku memutuskan untuk lewat jalan ini,” jawab Putra.
“Urusan?”
“Ya. Aku mendengar ada seorang temanku yang disekap oleh geng Gagak karena telah menghajar anak buahnya yang ketahuan sedang mencopet di pasar.”
“Begitu. Mereka memang tidak pernah berubah. Setidaknya dengan keadaan seperti ini kemungkinan mereka dengan senang hati mau melepaskan temanmu, karena saat ini geng Kujang juga sudah mulai terkenal.”
“Ah, ini berkat kamu juga Dit. Mungkin saja nantinya geng Kujang akan mampu menyaingi tiga geng besar Bandung.”
“Aku percaya hal itu akan terjadi.”
“Kalau begitu aku duluan ya,” kata Putra.
“Hati-hati,” ucap Aditya.
Setelah mereka bersalaman Putra dan anak buahnya segera kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan Aditya. Rani tampak sedikit lega karena Yana dan Gugun sudah pergi. Aditya berjalan mendekatinya.
“Kamu tidak apa-apa kan Dit?” tanya Rani cemas.
“Tidak kok. Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku juga baik-baik saja kok, aku cuma terjatuh tadi.”
“Syukurlah. Maaf tadi aku tidak bisa menghalangi pria yang mendekatimu.”
“Tidak apa-apa kok. Lagipula kamu sudah berusaha, aku sudah senang melihat kamu berniat menolongku juga. Ya ampun pipimu kenapa?” tanya Rani cemas ketika melihat pipi Aditya berdarah.
Dengan segera dia mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap darah yang keluar di pipi Aditya. Rani sedikit merapikan rambut Aditya yang acak-acakan. Dari jarak sedekat itu Rani baru menyadari wajah Aditya yang terbilang tampan. Dia tidak habis pikir kenapa Aditya tidak merapikan rambutnya dan memilih baju yang lusuh seperti itu. Rani tertegun menatap mata Aditya.
“Kenapa Ran?” tanya Aditya hingga membuat Rani kaget karena melamun.
“Eh, nggak kenapa-napa kok,” jawab Rani sambil tersenyum.
“Terimakasih ya, btw sapu tanganmu jadi kotor tuh. Aku cuciin ya besok aku kembalikan kalo sudah kering,” kata Aditya hendak mengambil sapu tangan Rani.
“Nggak usah Dit. Aku juga bisa nyuci sendiri kok.”
“Aku kan nggak enak jadinya.”
“Sudah nggak apa-apa.”
Mereka memutuskan untuk pulang. Rani bingung bagaimana harus membayar bakso yang sudah dia makan tadi, dia coba kembali memanggil pemilik kedai namun dia tidak menyahut. Aditya memutuskan untuk memasukan uang lima puluh ribu rupiah dari bawah pintu kedai sebagai bayaran makanannya.
Rani agak kesal karena dia gagal kembali untuk mengganti uang Aditya yang dipakai membeli obat tadi. Aditya hanya tersenyum sambil berkata bahwa sekali-kali biarkan seorang bawahan yang mentraktir atasannya. Mereka berdua kembali ke dalam mobil dan pergi dari sana.
__ADS_1
“Keliatannya pak Yana cinta banget ya sama kamu,” ujar Aditya sambil menyetir.
“Ih. Akunya yang nggak suka Dit. Dia itu sebelas duabelas lah sama Erik. Risih banget kalau deket sama dia,” jawab Rani sambil bergidik.
“Loh padahal dia kaya Ran.”
“Aku tuh nggak peduli sama hal seperti itu. Aku tuh nyari nya pria yang bisa buat aku nyaman dan tenang Dit/”
“Sayang banget dong. Padahal dia udah susah-susah loh buat puisi.”
“Yah. Mau gimana lagi orang nggak suka.”
Aditya senang karena Rani tampaknya tidak ketakutan oleh kejadian yang baru saja terjadi di kedai bakso. Aditya kemudian memikirkan rencana untuk menangkap Gugun, jika orang seperti dia dibiarkan berkeliaran maka banyak orang yang akan resah. Dia juga khawatir Gugun akan kembali mencoba menculik Frita.
“Ngomong-ngomong soal puisi, aku juga bisa loh buat puisi untuk kamu,” kata Aditya.
“Eh masa?”
“Iyalah, emangnya orang lain doang yang bisa bikin puisi. coba dengerin deh, tapi jangan ketawa.”
“Lah itumah gimana nanti,” ujar Rani sambil tertawa kecil.
“Belum juga di bacain udah di ketawain saja.”
“Mana coba nanti aku kasih nilai deh.”
“Malam ini kupandangi langit berbintang,
Malam ini kudatangi ruang lamunan,
Mencari sosok indahmu duhai gerangan.
Entah kenapa, wajahmu seakan terus melekat dalam pikiran,
Senyum manismu selalu terbayang dalam ingatan,
Putri senjaku, malam mungkin berlalu,
Tapi aku disini masih ada untukmu.”
Rani tampak senyum-senyum sendiri mendengarkan Aditya membaca puisinya. Entah kenapa perasaannya berdebar debar. Dia tidak menyangka jika Aditya juga bisa membuat puisi seperti itu.
“Bagaimana, kira-kira dapet nilai berapa?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Em berapa ya. Kasih bintang satu saja deh,” ujar Rani sambil tertawa.
“Dih dikit amat, bintang empat kek.”
“Lah kan bintang satu dari satu bintang doang.”
__ADS_1
“Berarti kalau ada sepuluh bintang dapetnya bintang sepuluh dong?”
“Bisa diatur lah.”
Mereka kembali tertawa. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Rani. Mereka berdua turun, Rani mengajak Aditya untuk mampir dulu di rumahnya namun dia tidak mau dengan alasan sudah malam.
Rani buru-buru masuk ke dalam sedangkan Aditya berdiri di luar karena disuruh untuk jangan dulu pulang. Rani datang sambil membawa plester luka. Dia kemudian menempelkannya di luka yang ada di pipi Aditya. setelah berpamitan Aditya segera mengemudikan mobilnya pergi menuju rumah Pandu.
Aditya segera memasukan mobil ke dalam garasi rumah Pandu. Luka di punggung dan di tangan kirinya terasa kembali. Hari ini energinya terkuras banyak karena ada beberapa kejadian yang tidak terduga. Ketika hendak pulang, Pandu keluar dari rumahnya dan memanggil Aditya.
“Saya kira anda sudah tidur. Ada apa Pak?” tanya Aditya sambil duduk di kursi.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Pandu cemas.
“Saya baik-baik saja kok.”
“Jujur aku tidak menyangka jika putriku hari ini menjadi target penculikan oleh banyak penjahat. aku ucapkan terimakasih karena kamu sudah bisa melindunginya.”
“Saya hanya melakukan apa yang telah kita sepakati saja.”
“Jika kamu terluka sebaiknya bicara saja biar segera di obati.”
“Saya baik-baik saja kok.”
“Satu hal lagi yang ingin saya minta darimu Dit.”
“Apa Pak?”
“Mulai malam ini aku ingin kamu tinggal di rumah ini. Jujur saja aku takut jika para penjahat itu juga berani untuk datang langsung ke rumahku. Aku sudah mnyiapkan kamar untukmu di dekat kamar pembantu.”
Awalnya Aditya hendak menolaknya. Namun dia mengerti seperti apa kekhawatiran Pandu akan keselamatan keluarganya. Aditya menerima permintaan Pandu itu, namun Aditya bilang ingin membawa dulu pakaian serta peralatan yang dia miliki di kontrakan. Pandu menyetujuinya.
Aditya membawa semua peralatan dan pakaiannya dengan mobil dan kembali kerumah Pandu. Di sana dia menempati kamar yang sudah disiapkan. Tidak terlalu luas namun cukup nyaman untuk ditempati seorang diri.
Di sebuah rumah mewah tampak seorang pria sedang duduk di kursi dengan santainya. Dia tampak sedang memperhatikan laptop di depannya. Dua pria dengan wajah sangar sedang duduk di kursi lain ruangan itu sambil menikmati rokok.
“Ketua, ada yang ingin bertemu dengan anda,” kata seorang pria sangar yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
“Apa dia orang penting?” tanya si pria itu.
“Bukan, mereka bilang ada urusan bisnis dengan Ketua.”
“Gerald, lu handle mereka. Gua nggak mau berurusan sama pebisnis kelas teri,” perintah si pria kepada anak buahnya yang sedang duduk di kursi sambil merokok.
“Oke.” Jawab Gerald sembari pergi menuju ruang tamu. Di sana tampak dua orang anak buah Erik sedang duduk menunggu.
Mereka berdua menelepon Erik untuk membahas kesepakatan dan bayarannya. Gerald langsung berbicara dengan Erik. Kesepakatan yang diajukan Gerald disetujui oleh Erik. Gerald kemudian memerintahkan Gilang dan si Botak untuk menjalankan rencana yang telah dibuat Erik. Kedua anak buah Erik kemudian pergi dari markas geng Serigala.
“Memangnya siapa Bos nama pria itu?” tanya si botak.
__ADS_1
“Entahlah. Dia bilang akan mencari dulu informasi tentang orang itu besok. Jika rencananya sudah siap maka kalian akan dihubungi olehnya. Yang jelas kita hanya perlu melumpuhkannya saja,” jelas Gerald.
BERSAMBUNG…