
“Selamat siang Mbak Rani,” sapa resepsionis di telepon.
“Siang, ada apa ya?”
“Ini Mbak ada tamu yang ingin bertemu dengan Mbak Frita.”
“Tamu? Perasaan hari ini Mbak Frita nggak ada janji, memangnya siapa tamunya?”
“Namanya Diaz Argawijaya. Katanya Mbak Frita juga bakalan tahu.”
“Oke, akan aku sampaikan sama Mbak Frita.”
Panggilan diakhiri, Rani merenung sebentar mengingat ngingat nama Diaz. Perasaan selama ini belum ada klien atau mitra bisnis yang bernama Diaz. Dia kemudian pergi ke ruangan Frita untuk memberitahukannya.
“Masuk,” ucap Frita saat mendengar ada yang mengetuk pintu.
“Ada apa Ran?” tanya Frita dengan lesu.
“Ini Mbak ada tamu yang bernama Diaz Argawijaya ingin ketemu. Tapi setelah saya cek hari ini nggak ada janji temu dengannya.”
“Diaz?” tanya Frita kaget, wajahnya tiba-tiba terlihat cemas.
“Iya Mbak katanya dia sedang menunggu di depan.”
“Oke aku akan segera menemuinya,” ucap Frita sambil pergi, Rani hanya termenung melihat sikap Frita yang mendadak khawatir seperti itu. Kalau saja pekerjaannya sudah beres mungkin dia akan ikut bersama Frita.
“Frita, Rembulan kota Bandung. Calon istriku,” sapa Diaz menyambut Frita yang datang sembari hendak memeluknya. Hal itu membuat Frita kaget dan mundur. Diaz mengurungkan niatnya memeluk Frita.
“Maaf aku terbawa suasana melihat kecantikanmu,” kata Diaz sambil tersenyum.
“Kamu Diaz?”
“Ya, Diaz Argawijaya. Calon suamimu.”
“Kita bicaranya di café saja yuk,” ajak Frita, dia tidak mau karyawan lain berkumpul di sana gara-gara Diaz.
Frita dan Diaz beserta bodyguardnya pergi menuju café. Beberapa karyawan yang ada di sana mulai berbisik bisik perihal Diaz dan Frita. Hanya resepsionis saja yang kelihatannya tidak tertarik dengan Diaz.
__ADS_1
Aditya jam istirahat ini berniat untuk menemui Frita langsung di café perusahaan. Dia ingin menanyakan langsung masalah apa yang membuat tunangannya itu mencoba menjauh darinya. Ketika sampai di café dia sangat kaget karena Frita terlihat sedang berbincang bersama seorang pria. Dia mencoba untuk menyapa Frita namun dua orang bodyguard menghadangnya.
“Apa maksud kalian?” tanya Aditya.
“Lu nggak boleh mengganggu perbincangan mereka berdua,” jawab seorang bodyguard.
“Lah siapa yang mau mengganggu, orang gue makan di meja itu,” kata Aditya sambil menunjuk meja kosong di sekitar Frita dan Diaz.
“Nggak boleh, hari ini lu bisa makan di luar, tapi tenang saja makanan lu semuanya dibayar sama bos gue.”
“Gue cuma mau makan di sana bukan minta dibayarin!” tegas Aditya.
“Lu belagu juga ya!” bentak bodyguard.
“Kalian sedang apa?” tanya Diaz.
“Ini bos dia katanya mau duduk di dekat meja kalian, padahal saya sudah melarangnya.”
“Biarkan saja, cuma masalah sepele kok diributkan,” perintah Diaz mencoba mengambil hati Frita.
Aditya kemudian memesan makanan dan duduk di meja yang berada di dekat mereka berdua. Melihat Aditya dibiarkan duduk di meja yang kosong beberapa karyawan juga mulai berani untuk mengisi meja yang masih kosong di dekat mereka.
“Kamu seharusnya nggak perlu sampai begitu Di, nanti mereka sengaja pesen banyak loh,” ucap Frita.
“Lah biarin orang jarang-jarang juga kan mereka makan sepuasnya. Lagian berapa sih harga makanan di sini, aku lihat yang paling mahal saja tadi satu porsinya cuma seratus ribu doang. Aku juga kalo sekali makan biasanya habis delapan dolar amerika,” jawab Diaz.
“Iya sih, tapi aku jadi nggak enak sama kamu.”
“Nggak apa-apa toh kamu kan calon istriku masa aku pelit sama istri sendiri,” kata Diaz sambil memegang tangan Frita.
Terdengar suara sendok makan yang jatuh ke lantai. Semua orang melirik ke arah datangnya suara. Ternyata sendok Aditya yang jatuh barusan. Aditya hanya terdiam dengan tatapan kosong. Perasaannya kini mulai kacau setelah mendengar percakapan mereka. Perlahan dia mengambil sendoknya kembali.
“Oh iya, aku lupa. Aku datang ke sini karena ingin mengajakmu ke suatu pesta sebelum hari lamaran kita, aku ingin mengenalkanmu kepada keluarga dan semua mitra bisnisku,” kata Diaz. Aditya yang mengurungkan niatnya untuk mengambil sendok yang jatuh. Entah kenapa tiba-tiba nafsu makannya mendadak hilang.
“Pesta apaan Di?”
“Pesta mewah yang disponsori oleh rekan bisnis orang tuaku. Lebih tepatnya itu pesta untuk merayakan ulang tahun teman ayahku. Jadi aku ingin memanfaatkan momen itu untuk mengenalkanmu.”
__ADS_1
“Memangnya kapan waktunya?”
“Hari sabtu besok, ibumu pasti akan menjemputmu datang ke pesta ekslusif itu. Hari minggu malam senin kita akan mengadakan lamaran di kediamanku yang ada di Bandung. Kamu siap-siap saja ya dari sekarang, jaga kesehatanmu agar tidak sakit.”
Frita hanya terdiam. Selama beberapa hari ini sejak Gina menyampaikan kabar buruk itu dia terus berpikir apa yang seharusnya dia lakukan. Di lain sisi hatinya jelas-jelas sudah mencintai Aditya, tapi di lain sisi dia juga sangat sayang kepada Ibunya. Terlebih dia sendiri tahu seperti apa sifat buruk ibunya jika ada orang yang berani menghalangi keinginannya, dia bahkan sanggup bercerai dengan ayahnya hanya karena masalah yang kecil.
Aditya bangkit dari kursi dan membawa makanannya pergi. Tiba-tiba kejadian seperti waktu pertama Arya datang ke sana terulang kembali. Aditya sengaja berpura-pura tersandung hingga makanannya jatuh menimpa Diaz. Sontak hal itu membuat Diaz kaget lalu bangkit.
“Baju seratus Dolarku, duh celana seratus lima puluh dolarku, mana sampai tembus ke kaos dua ratus dolarku lagi, aduh ternyata sepatu enam ratus dolarku juga kena. Sial!” gerutu Diaz sambil mencoba membersihkan makanan yang menempel.
“Maaf pak, maaf banget saya tidak sengaja,” ucap Aditya sambil mencoba ikut membersihkan namun tangannya segera di tepis.
“Kurang ajar!” bentak seorang bodyguard dengan marah langsung menghampiri. Frita ikut berdiri karena khawatir situasinya akan lebih buruk.
“Sudah biarkan saja dia!” perintah Diaz. Dia tidak mau semua kebaikannya mentraktir karyawan menjadi luntur setelah menunjukan sikap kejamnya.
“Maaf banget pak sekali lagi maaf,” kata Aditya.
“Pergi sana!” bentak bodyguard sambil membawa Aditya keluar dari café.
“Duh maaf banget ya Di, aku bisa ganti kok,” kata Frita.
“Loh kamu ini ada-ada saja Fri masa kamu yang bakalan ganti sih?” tanya Diaz sambil membuka jasnya.
“Dia itu sopir pribadiku. Jadi biarkan aku ganti ya.”
“Hahaha apalagi kalau dia sopir pribadimu, nggak apa-apa kok aku nanti bisa beli pakaian baru lagi.”
Diaz dan bodyguardnya kemudian pamit pulang. Frita juga meminta maaf sekali lagi atas kejadian barusan, dia juga minta maaf karena tidak bisa mengantarnya sampai gerbang. Diaz hanya tersenyum sambil pergi. Diperjalanan hendak keluar dari perusahaan Diaz kembali berpapasan dengan Aditya. pandangan mereka bertemu.
Tatapan Aditya yang tajam membuat bodyguard Diaz jengkel namun ketika hendak menghampirinya Diaz menahannya. Aditya terus menatap mereka hingga keluar dari gedung perusahaan.
“Kenapa kita tidak menghabisinya saja bos?”
“Kita harus menjunjung image kita di sini. Jika kita malah terpancing oleh sikap seorang sopir yang tidak tahu sopan santun maka para karyawan akan menertawakan kita. Aku tidak mau teman-teman dan karyawan Frita menganggapku pria arogan.”
“Tapi tatapannya tadi jelas-jelas membuatku kesal!”
__ADS_1
“Tenang saja, lain kali jika bertemu di situasi yang pas kita bisa mempermalukannya. Kita tunggu saja waktunya,” jawab Diaz sambil tersenyum licik.
BERSAMBUNG…