Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 110


__ADS_3

Selagi menunggu kedatangan Gerald kembali, Jaja terus memarahi para petinggi geng Serigala karena kemampuan mereka terlalu lemah. Jaja memerintahkan mereka agar terus berlatih mengasah kemampuan bertarung dan kekuatan tenaga mereka. Karena tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti peperangan antar ketiga geng besar akan terjadi.


ka nanti situasinya mulai kacau, kalian harus jadi orang-orang yang berguna! Kemungkinan besar kepolisian juga terus berusaha mencari kesempatan untuk membubarkan kita. Karena itulah kalian harus menjadi lebih kuat lagi!” tegas Jaja.


“Ketua, bos Gerald sudah datang membawa tamu,” ucap seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


“Kalian semua keluar dari sini!” perintah Jaja kepada Gilang, Edgard dan beberapa petinggi lainnya.


“Oh ya lu yang tadi lapor kemari!” teriak Jaja kepada pria yang melaporkan kedatangan Gerald. Melihat hal itu Gilang dan Edgard hanya tersenyum.


“Ada apa Ketua?” tanya pria yang melapor.


“Kalau lu mau masuk ketuk pintunya dulu! Dasar sampah!” bentak Jaja sambil menghajar pria itu hingga muntah darah dan terkapar di lantai hanya dengan sekali pukul.


Gerald kemudian mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam bersama seseorang yang berjubah hitam. Semua bagian tubuhnya tertutupi termasuk rambutnya. Bahkan wajahnya mengenakan topeng menyeramkan. Jaja terus memperhatikannya sambil duduk.


“Dia adalah pemimpin dari kelompok Dark Assasins,” ucap Gerald. Orang itu membungkuk hormat kepada Jaja.


“Aku dengar jika kelompokmu tidak hanya sendirian.”


“Benar, anggota kelompok kami berjumlah enam orang. Mereka semua sudah terampil dan terlatih sebagai pembunuh bayaran. Selama ini kami belum pernah mengalami kegagalan dalam menjalankan kesepakatan,” ucap orang itu dengan suara yang disamarkan.


“Oh, tapi aku masih belum percaya jika belum melihat kemampuan lu langsung,” tantang Jaja. Pria itu tiba-tiba menjentikan jarinya. Sebuah jarum melesat cepat ke arah Jaja. Walaupun kaget tapi dengan cepat dia berhasil menjepit jarum itu diantara kedua jarinya.


“Jarum beracun?” gumam Gerald, lalu bergerak mendekati orang berjubah itu namun Jaja menahannya.


“Maaf, aku tidak bermaksud lancing. Tapi aku yakin kalau anda bisa menghindari jarum itu, kemampuan anda sangat dipuji-puji orang di pasar gelap,” ucap orang itu.


“Hahaha, tidak masalah. Sekarang aku yakin bahwa kemampuan kalian memang hebat.”


“Lalu siapa target kami?”


“Aku punya masalah dengan seseorang, ini fotonya. Aku ingin kalian semua menghabisinya,” jawab Jaja sambil menyerahkan foto Aditya saat dia masih bergabung dengan geng Gagak dulu.


“Hanya satu orang saja?”


“Ya, walaupun hanya seorang dia tetap akan menyusahkanku dalam menjalankan berbagai bisnis kotor ini jika terus dibiarkan. Berapa bayaran yang kalian minta?”

__ADS_1


“Kami biasanya meminta uang muka sebesar enam puluh juta rupiah. Sisanya akan kami minta setelah berhasil menghabisinya, jika semakin mudah menghabisinya maka bayarannya juga akan rendah.”


“Begitu ya, wakilku ini akan mengurus pembayarannya,” tunjuk Jaja kepada Gerald.


“Baiklah.”


“Ngomong-ngomong, kenapa suara lu disamarkan? Wajah lu juga ditutui topeng?”


“Seperti yang anda tahu, pekerjaan kami ini terlalu berbahaya. Kami juga sering menghabisi target di pemerintahan karena itu untuk menjaga keselamatan dari para intel brengsek kami menggunakan cara seperti ini.”


“Hahaha, aku mengerti. Tapi kita sekarang sudah membuat kesepakatan, apa tidak lebih baik jika lu menunjukan wajah lu?”


“Saya jamin informasi apapun tidak akan bocor, jadi anda juga tidak usah cemas untuk menyewa pembunuh bayaran lain untuk menghabisiku,” jawab orang itu sambil memperlihatkan separuh wajah bagian kanannya.


“Tapi untuk menjaga kepercayaan diantara kita. Apa segini sudah cukup, Ketua Jaja?” tanya orang itu dengan suara aslinya. Dia ternyata seorang pria.


“Hahaha, cukup. Tapi satu hal lagi, siapa namamu?”


“Panggil saja aku A,” jawab pria itu sambil mengenakan topengnya kembali.


“Hahaha, baiklah. Gerald segera urus uang muka untuk A dan teman-temannya!”


Gerald dan A kemudian keluar dari ruangan itu untuk membereskan masalah uang muka. Beberapa anggota geng Serigala terus memperhatikan A yang berpakaian cukup aneh. A kemudian menjentikan jarinya, lalu seorang pria langsung tumbang.


“Kalian harus tahu, gue nggak suka diperhatikan seperti itu!” bentak A dengan suara disamarkan.


“Maafkan anggota kami,” kata Gerald.


“Tidak masalah. Aku juga hanya menggunakan jarum biasa saja,” jawab A sambil kembali berjalan mengikuti Gerald.


“Aku lupa menanyakan satu hal,” ucap A.


“Apa itu?”


“Apa latar belakang target kita? Itu akan berguna agar aku menyusun rencana menghabisinya.”


“Aku tidak tahu sekarang dia ada di mana dan kehidupannya seperti apa. Tapi dahulu dia adalah bekas tangan kanan geng Gagak.”

__ADS_1


“Ho, jadi dia mantan petinggi geng besar ya. Lalu sekarang dia ada di geng apa?”


“Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia tidak bergabung dengan geng manapun.”


Setelah selesai mengurus uang muka yang A minta dia segera pamit. Gerald bilang agar dia berhati-hati karena kemampuan Aditya lumayan hebat. Tapi A bilang kalau Gerald tinggal menunggu kabar baiknya saja.


***


Aditya dan Frita sudah sampai di halaman kantor perusahaan. Frita kemudian keluar dari mobil, langkahnya terhenti ketika Aditya memanggil namanya.


“Ada apa Dit?”


“Emm beberapa hari ini Dani masih belum masuk kerja, jadi niatnya kalau hari ini dia kembali tidak masuk aku akan langsung menjenguknya di jam kerja. Latihan di bagian keamanan juga tidak berjalan, jadi daripada aku tidur saja.”


“Oh begitu, nggak masalah sih. Tapi kamu izin dulu sama pak Hadi dan bu Heni ya.”


“Oke kalau begitu, terimakasih ya.”


“Iya.”


Frita masuk ke dalam kantor, sedangkan Aditya pergi ke gedung bagian keamanan untuk menemui Heni. Di sana terlihat begitu sepi, bahkan Wira juga tidak menampakan batang hidungnya. Karena dia penasaran dia malah berkeliling ke gedung lainnya, beberapa pekerja malah terlihat sedang tidur-tiduran. Main game di ponsel.


Aditya hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya. Bahkan beberapa pegawai bagian keuangan juga tengah asyik bersantai di luar sambil mengobrol. Tapi Sherly tidak terlihat bersama mereka, mungkin Sherly termasuk orang yang rajin. Aditya kembali ke gedung bagian keamanan.


Sekarang dia sadar jika perusahaannya benar-benar sedang mengalami krisis setelah William membuat beberapa kebijakan aneh yang merugikan pekerja. Terlebih jumlah para pekerja baru juga belum mencukupi untuk menutupi kekurangan pegawai. Aditya segera pergi ke ruangan Heni.


“Pagi bu,” sapa Aditya. Heni terlihat masih sibuk dengan berkas di mejanya yang semakin banyak.


“Eh, Pagi Dit.”


“Perasaan Gedung ini semakin sepi saja bu.”


“Iya Dit, beberapa pekerja tidak masuk, ada juga yang dipecat sama perusahaan.”


“Dipecat?”


“Iya, aku juga tidak bisa apa-apa soal masalah itu,” jawab Heni sambil menghela nafas.

__ADS_1


Aditya kemudian pamit keluar, dia benar-benar kesal kepada William yang seenaknya saja membuat kebijakan di perusahaan. Dia berniat untuk menemui Rani, siapa tahu dia mempunyai informasi baru terkait langkah William di perusahaan. Namun ketika datang ke ruangannya terlihat Rani sedang menenangkan Frita yang terus menggerutu kesal.


BERSAMBUNG…


__ADS_2