
Aditya, Rinda, dan Guru Tanpa Nama sudah menyingkir dari gedung mewah itu tak lama kemudian. Mereka melepaskan cewek bayaran yang tadi pergi bersama Rinda usai memastikan ia tak akan kembali ke Nino.
“Sumpah! Aku nggak akan balik!” katanya ketakutan.
“Bagus. Soalnya nanti dia pasti membunuhmu,” sahut Rinda dengan santai.
Cewek itu berlalu pergi dengan tubuh gemetar ketakutan.
“Apa yang mesti kita lakukan?” tanya Aditya setelah mereka masuk ke mobil Frita yang tadi dipinjam Aditya untuk pergi kemari. Tak ada yang melihat mereka, jadi Aditya segera buru-buru tancap gas.
“Hestu jelas tadi mengibarkan bendera permusuhan. Mau tak mau kau harus lawan, Nak,” tutur Guru Tanpa Nama kali ini terlihat pasrah.
“Untungnya aku dapat beberapa informasi soal mereka. Hestu dibantu dua orang Jepang. Mereka saudara angkatnya saat masih di luar negeri dulu,” kata Rinda.
“Gimana kamu bisa cepat tahu? Padahal baru juga terjun sehari?” tanya Aditya.
“Nino terlalu banyak bicara,” kata gadis itu.
Mereka berhenti di depan sebuah hotel. Aditya menurunkan Rahman dan Rinda di sana. Sang guru berpesan sebelum Aditya cabut.
“Hestu beda dengan tuannya. Setiawan Budi mungkin pernah mengincar keluarga Frita. Tapi kurasa tidak dengan Hestu. Kau jangan terlalu khawatir.” katanya.
“Ya, saya akan ladeni apa pun yang mereka inginkan selama tak membuat Frita atau yang lain dalam bahaya,” sahut Aditya.
Ia pun berlalu, menyetir mobilnya dengan setengah ngebut. Aditya tak sadar kini dibuntuti oleh sebuah mobil sedan merah. Mobil bagus yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Siapa lagi ini?” gerutu Aditya kesal.
Ia segera menginjak pedal rem, menepikan mobilnya, dan menghampiri sedan merah itu yang juga berhenti mendadak di belakangnya.
“Siapa loe?” tanya Aditya sambil menuju ke dekat pintu depan sedan itu.
Ratna mengintip dari dalam. Ia terlihat jauh lebih ceria ketimbang biasanya. Tentu Aditya tak percaya menemui wanita ini lagi sekarang.
“Hah, kamu ternyata. Apa lagi, Ratna? Kamu marah? Atau apa?” tanya Aditya, tak tahu lagi harus bicara apa.
“Enggak. Barusan kulihat kamu datang ke pemakaman Setiawan Budi, ya?” sahut Ratna yang juga keluar dari mobilnya. Mereka berjalan ke tepi, mencari tempat teduh di pinggir jalan sepi itu.
“Ya. Mereka mengundangku. Anak buah Setiawan Budi.”
“Dan mereka hampir membunuhmu, kan?” tanya Ratna.
__ADS_1
“Dari mana kamu tahu?”
Ratna terkekeh geli. “Nino Darsono dulu sempat pernah kerja sama kakekku. Tapi tak lama. Dia pemuda yang licik. Aku tak suka padanya.”
Aditya tampak tertarik dan terus menyimak.
Ratna melanjutkan, “Nino terlalu banyak omong. Beberapa temanku masih sesekali nongkrong dengannya di distotik. Dan dia bilang rencana Hestu untukmu, Dit.”
“Brengsek. Sepertinya Nino cowok yang tampangnya kinclong itu, ya?”
“Ya, yang mirip aktor Korea gitu deh,” sahut Ratna ogah-ogahan. “Tapi kamu mesti hati-hati sama anak buah Nino. Mereka liar dan kadang-kadang tak pakai otak. Mereka bisa saja melukai keluarga Frita.”
Aditya cuma diam saja.
“Aku datang untuk membantumu, Dit,” tutur Ratna setelah mereka diam beberapa saat.
Waktu itu telepon Aditya berdering. Dari Frita. Ia bertanya apakah Aditya baik-baik saja.
“Sudah berapa jam kamu ke sana, Mas?” tanya Frita cemas. “Ada sesuatu?”
Aditya memutuskan menutupi peristiwa di kamar sempit tadi saat ia hampir saja mati di tangan HEstu.
“Oh, enggak. Ini barusan makan sama guruku. Sekarang dalam perjalanan pulang,” katanya.
“Aku tak mau apa-apa,” jawab Ratna tenang. “Cuma mau membantumu saja. Kali ini sebagai seorang sahabat.”
Aditya masih merasa tak enak atas sandiwara pernikahan tempo hari. Jadi ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Sebagai sahabat? Ia jelas tak keberatan menjadi sahabat dari Ratna. Namun, apa benar itu yang Ratna inginkan?
Ratna pun berkata, “Dengar, Dit. Aku memang jujur saja masih cinta padamu. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Tapi aku juga sadar kamu tak akan berpaling dari Frita. Aku menghormati itu. Maafkan atas kejadian malam itu.”
Aditya mengangguk. Ia jelas tak mungkin lupa kejadian ketika ia diberi obat khusus saat tidur satu ruangan bersama Ratna, hingga mereka berdua berhubungan intim tanpa dia sadari.
“Apa yang bisa kamu lakukan, lakukan saja. Yang jelas, semua bantuanmu selama ini sangat kuhargai, Ratna. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa,” kata Aditya.
Ratna cuma menyengir pendek. Tetap terlihat ceria dan jauh lebih cantik daripada biasanya. Ia bilang ia akan mengerahkan seluruh teman dan sahabatnya, untuk paling tidak mencegah Nino dan anak buahnya melakukan hal di luar batas.
“Dan kamu tak perlu membalasku, Dit. Semua ini kulakukan dengan tulus,” tutup Ratna, lalu berbalik ke mobilnya dan berlalu pergi.
Aditya memandangi sedan merah itu menjauh sebelum ia melanjutkan perjalanan pulang.
***
__ADS_1
Clarissa diam-diam menemui Aditya di dapur sore itu. Ia datang bersama seorang sahabatnya yang dulu terjebak di arena balap Vanessa dan Reza. Mereka baru saja balik dari menonton di bioskop.
“Ada sesuatu yang mau kubicarakan, Kak,” kata Clarissa.
“Apa?”
“Soal Rako,” jawab Clarissa sambil melongok ke ruang tengah, takut kalau sang kakak medengar orbolan ini.
Frita ternyata sedang asyik ngobrol bersama teman Clarissa di ruang tengah. Jadi ia pikir aman untuk bicara pada Aditya.
“Rako? Dia kenapa?” tukas Aditya.
Aditya hampir saja melupakan sosok Rako Subandi. Satu-satunya penerus Setiawan Budi yang kini tak berdaya dan tak punya taring. Kini ia kerap terlihat menyendiri di kampus usai sang paman, Setiawan Budi, tiada.
“Dia sering coba mendekatiku, tapi aku selalu menjauh. Kamu tahu sendiri, Kak. Dia jahat,” kata Clarissa.
“Ya. Lalu apa masalahnya?”
“Dia kemarin nulis surat. Mungkin karena aku terus menjauh. Dia selipkan surat itu di tasku. Isinya singkat saja dan kupikir Kak Adit harus membacanya,” jelas Clarissa sambil mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya.
Sungguh itu sebuah surat yang singkat. Hanya satu baris dan terdiri dari beberapa kata saja. Dan sangat jelas pesan itu ditujukan untuk Aditya.
Isi surat Rako itu berbunyi: “Butuh bantuan Aditya. Hestu punya rencana jahat.”
Aditya cuma membatin, “Apa-apaan ini?”
Clarissa bilang juga kalau setelah surat itu diselipkan di tasnya, Rako sempat bilang padanya kalau mereka harus ketemu di pesta dansa di pinggiran kota, dekat klub malam The King.
Waktu itu Clarissa menyahut dengan galak, “Mau loe apa sih?”
“Ini penting!” jawab Rako dengan ketakutan. “Ini soal nyawa kita semua!”
Aditya cuma melamun mendengar penjelasan Clarissa itu.
“Gimana, Kak?” tanya gadis itu resah. “Apa harus kita turuti si Rako itu?”
“Kapan dia bilang?” tanya Aditya.
“Besok malam jam 8.”
“Oke, kita ke sana besok malam. Tapi jangan sampai kakakmu tahu,” jawab Aditya.
__ADS_1
Clarissa mengangguk. Mereka balik lagi ke ruang tengah seperti tak pernah terjadi obrolan apa pun di dapur.
Bersambung....