
“Kamu habis dari mana Dit? Lagian siapa wanita itu,” tanya Frita.
“Kenalin ini Ratna temanku, aku baru dari rumahnya tadi karena ada sedikit keperluan,” jawab Aditya.
“Dia sendiri siapa Dit?” tanya Ratna.
“Dia bosku di perusahaan, namanya Frita. Aku bertugas sebagai sopir pribadinya.”
“Oh, jadi ini rembulan kota Bandung.”
Frita dan Ratna saling beradu pandangan kesal. Aditya bingung karena mereka tiba-tiba bersikap kesal seperti itu. Aditya hanya menghela nafas dia ingat dengan Clarissa. Dia rasa mungkin keduanya memang tidak bisa akrab dengan Ratna.
“Ayo Dit sebaiknya kita kembali ke rumah sakit kamu kan baru sembuh nggak baik angina-anginan kayak begini,” ucap Frita sambil menarik tangan Aditya.
“Kapan-kapan kamu mampir ke rumahku lagi ya,” teriak Ratna sambil melambaikan tangan.
“Iya Rat, terimakasih sudah mengantarku ya,” jawab Aditya. Sambil mengikuti langkah Frita.
Ratna kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. Aditya ditarik oleh Frita kembali ke ruangannya. Aditya langsung disuruh duduk di tempat tidurnya. Dia merasa semakin bingung harus bersikap seperti apa kepada Frita. Apakah dia harus kembali bersikap dingin atau bagaimana, dia masih sangat bingung.
“Sebenarnya hubunganmu seperti apa sih dengan wanita tadi?”
“Memangnya kenapa Fri?”
“Nggak, kamu kan baru sembuh eh malah udah bela-belain kabur cuma buat ketemu dia doang.”
“Oh, aku kebetulan ada perlu sedikit dengan kakeknya tadi, aku minta maaf karena buat kamu khawatir.”
“Lagian dari penampilannya saja dia kayak gitu, hati-hati Dit mungkin dia bukan wanita baik-baik.”
“Kamu ini ada-ada saja Fri, dia orang baik kok nggak usah khawatir,” jawab Aditya sambil tersenyum.
“Yasudah, aku mau pulang lagi. Ini sup kamu makan selagi hangat,” ujar Frita dengan kesal menaruh kotak makanan yang dibawanya.
“Kamu nggak mau nemenin aku di sini?”
“Nggak! Lagian kamu sudah sembuh ini.”
__ADS_1
“Kamu kejam banget,” ucap Aditya sambil tersenyum.
“Terserah aku dong, kan aku cuma bos kamu!” tegas Frita sambil melangkah pergi dengan wajah kesal.
Aditya menghela nafas dalam lalu membuka kotak makanan. Setelah sedikit mencicipinya dia tersenyum. Dia tahu Frita sengaja memasak sup itu untuknya rasanya memang agak hambar tapi dia senang Frita sampai memaksakan diri berbuat seperti itu untuknya.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumam Aditya sambil terbaring di tempat tidurnya.
“Kelihatannya Frita benar-benar kesal. Sayang sekali, aku harus sendirian di ruangan ini sekarang. Hemh, setidaknya saat ini aku tidak perlu memikirkan perasaan seperti itu dulu. Musuhku masih banyak di luar sana.”
Ketika sedang bingung dia kembali teringat kata-kata Bima jika geng Merak juga tahu kalau dia diculik dari salah seorang anak buahnya. Namun mereka juga tidak tahu tepatnya dari siapa karena tiba-tiba rumor itu tersebar cepat dan sampai ke telinga Bima sendiri.
Ketika pikirannya sedang sibuk dengan berbagai analogi kejadian yang menimpanya dia perlahan mendengar dua langkah kaki orang mendekat ke ruanganya. Dari caranya melangkah dia jelas-jelas bukan orang biasa. Aditya waspada sambil bersiap untuk kemungkinan terburuk. Pintu perlahan di buka, muncul dua sosok pria di hadapannya.
“Hahaha kelihatannya pendengaran bos kita ini memang masih tajam,” puji Egi Winduaji, salah satu dari tiga orang terkuat geng Gagak yang dulu menjadi bawahan Aditya.
“Tapi sayangnya dia malah harus terbaring karena dihajar penculik,” timpal Adrian sambil tersenyum.
“Kalian, aku kira tadinya pembunuh bayaran,” jawab Aditya.
“Di mana Arfa?”
“Dia sedang sibuk balapan dengan beberapa pecundang,” jawab Adrian sambil menaruh sekeranjang buah-buahan segar.
“Kalian seharusnya tidak usah repot-repot juga.”
“Ya setidaknya kami datang ke sini tidak dengan tangan kosong, btw bos sendirian di sini?”
“Ya, mungkin karena besok aku juga sudah bisa pulang. Btw kenapa kalian tahu aku ada di sini?”
“Kami mendengar jika bos dijadikan sandera oleh beberapa penculik. Karena khawatir kami mencari informasi keberadaan bos dan akhirnya bisa mendapatkannya.”
“Darimana kalian mengetahuinya?”
“Kami mendengar langsung dari Ketua,” jawab Adrian dan Egi hampir bersamaan.
Aditya mengernyitkan dahinya sambil berpikir. Dia tidak menyangka jika geng Gagak juga mengetahui kejadian itu. Kelihatannya dalang kejadian itu memang ada hubungannya dengan salah satu geng besar Bandung. Jika bukan geng Merak dan geng Gagak maka sisanya hanyalah geng Serigala. Tidak, dia masih terlalu dini untuk menyimpulkannya saat ini.
__ADS_1
“Aku sih curiga kalau dalangnya adalah geng Merak,” ucap Adrian.
“Aku juga berpikiran sama, terlebih katanya kalian berdua pernah terlibat perkelahian dengan Viktor,” timpal Egi. Aditya terkejut mengetahui prasangka mereka kepada geng Merak.
“Kemungkinan mereka hendak membalas dendam kepadamu bos.”
“Tapi jika memang iya, seharusnya dia langsung membunuhku saja,” bantah Aditya. Dia tidak mau mengatakan langsung kalau dia mengenal baik Ketua geng Merak, dia pikir mereka berdua berpikir seperti itu juga pasti ada alasannya.
“Aku juga awalnya berpikir seperti itu, tapi mungkin bisa saja mereka ingin mengendalikanmu atau malah ingin menyiksamu terlebih dahulu,” jawab Adrian.
“Memang ada kemungkinan seperti itu, tapi saat aku dan Viktor bertarung di restoran dulu, aku paham jika dia termasuk tipe orang yang selalu ingin menyelesaikan semua masalahnya sendirian. Karena itu aku merasa jika dia tidak akan melakukan hal seperti itu.”
Adrian hanya terdiam, mungkin dia juga tahu hal itu saat dulu bertemu dengan Viktor. Aditya tahu jika dibadingkan Arfa dan Egi memang Adrian lebih unggul dalam masalah kecerdasan. Mereka berdua memiliki kelebihan masing-masing.
“Sudahlah, lagipula masalah itu sudah selesai, bos masih hidup sampai saat ini itu membuktikan jika para penculiknya sudah tewas semua,” sela Egi sambil bangkit.
“Ya, aku sejak awal sudah yakin jika bos memang bisa mengatasi mereka semua, hanya saja aku merasa tidak terima jika ada orang yang berani bertindak seperti itu kepadamu,” timpal Adrian.
“Jika bos sudah tahu siapa dalang kejadian ini sebaiknya segera hubungi kami. Aku tidak akan segan-segan menghabisi mereka!” tegas Egi.
“Terimakasih. Aku pasti akan menghubungi kalian jika nanti butuh bantuan,” jawab Aditya.
“Ngomong-ngomong Ketua mengundangmu untuk berpesta besar nanti jika sudah keluar dari rumah sakit,” ucap Adrian.
“Dia bilang ingin sedikit bernostalgia dengan bos. Dia juga merasa senang jika bos berhasil selamat dari kejadian ini.”
“Maaf Gi, Drian. Tolong sampaikan kepada Ketua jika aku tidak bisa memenuhi undangannya.”
“Baiklah, tapi setidaknya kapan-kapan bos mampirlah ke markas kita dulu untuk berbincang bersama.”
“Tentu, jika waktunya tiba aku akan mampir tapi entah kapan.”
Egi dan Adrian pergi meninggalkan Aditya. Kini di ruangannya dia kembali sendirian. Pikirannya kembali melayang memikirkan undangan Ketua geng Gagak. Dia tahu seperti apa orangnya. Dia sengaja mengundangnya pasti karena ingin membujuknya agar kembali menjadi anggota geng Gagak.
Aditya hanya tersenyum. Dia jelas-jelas pasti akan menolak tawarannya, dia sudah merasa hampir mendapatkan ketenangan dalam kehidupannya. Dia tidak mau terlibat kembali dalam dunia seram, kotor dan gelap seperti dahulu.
BERSAMBUNG…
__ADS_1