Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 243


__ADS_3

Ada banyak alasan yang membuat Aditya menghormati Rahman Sugandi, tak hanya sebagai seseorang yang melatihnya banyak hal, melainkan sosok pengganti ayah yang tak pernah dia kenal sejak kecil.


Suatu kali di masa lalu. Ini kisah tak diketahui siapa pun. Hanya Rahman Sugandi dan Aditya saja yang tahu. Saat itu Rahman Sugandi terjebak di Surabaya, tak bisa pergi ke mana-mana karena harus sembunyi sementara waktu dari kejaran seorang mafia yang memintanya menjual tujuh butir berlian langka di dunia pada mereka.


Rahman Sugandi memang seorang kolektor, tetapi ia bukan kolektor culas. Sering kali ia malah membantu kepolisian nasional hingga interpol dalam meringkus maling benda-benda seni yang langka.


Suatu siang Rahman Sugandi yang menyetir mobil seorang diri di area sepi di timur Surabaya menggumam, “Panas sekali di sini.”


Sebuah motor mendadak berhenti. Ada dua orang. Seorang membawa palu besi dan memukul kaca jendela Rahman Sugandi sampai dia terkejut. Tak sempat membela diri, Rahman Sugandi sudah dirampok, kehilangan dompet, jam tangan mahal, serta sebuah tas yang berisi dokumen penting.


Rahman Sugandi hanya bisa berteriak, “Kembalikan itu!”


Ia sungguh tak bisa mengejar pemotor itu, apalagi ban mobilnya juga dibocorkan oleh salah satu perampok itu.


Rahman Sugandi berpikir ia diserang oleh suruhan mafia yang dijauhinya, tetapi itu cuma perampok biasa. Nah, Aditya yang berada tak jauh dari situ beraksi. Dengan sigap, Aditya melempar pembonceng motor tadi dengan botol teh dingin yang terbuat dari beling.


Motor itu jatuh berputar-putar di aspal, membuat satu perampoknya terluka parah setelah menghantam sebatang tiang listrik, sementara satunya lagi bersiap menghajar Aditya.


“Bocah ingusan! Sini, mau kusate kau?!” pekik si perampok itu.


Aditya agak takut juga, jadi ia kabur dari kejaran perampok itu. Makluk saja saat itu Aditya belum bisa berkelahi seperti sekarang. Dia masih pemuda polos yang berusaha bertahan hidup jauh dari kampungnya.


Rahman Sugandi melihat peluang barangnya bisa diselamatkan. Ia tak perlu susah mengejar motor. Ia hanya perlu mengeluarkan sepucuk pistol dan membuat ambruk si perampok.


Dor!


Suara tembakan itu, bagi Aditya, adalah suara perkenalannya dengan Rahman Sugandi, si Guru Tanpa Nama. Aditya menoleh kebingungan melihat perampok yang sedang mengejarnya tampak mati. Rahman Sugandi mendekatinya.


“Nak, terima kasih sudah membuat mereka berhenti. Ada dokumen penting milik saya di tas itu,” kata Rahman Sugandi pada Aditya.


Lelaki berambut putih itu segera mengambil tasnya dari tangan sang perampok dan menatap Aditya. “Kau mau apa, Nak?”


“Tolong, jangan bunuh saya!” kata Aditya.

__ADS_1


“Tenang, saya orang baik-baik. Ini kau boleh lihat KTP-ku. Aku hanya seorang kolektor dan pistol ini diberikan polisi untuk menjaga diriku sendiri,” kata Rahman Sugandi.


“Kok bisa begitu?”


“Yah, ceritanya panjang.”


Akhirnya siang itu membawa mereka ngobrol panjang lebar setelah melaporkan kejadian perampokan itu pada polisi. Rahman Sugandi bisa melihat kebaikan di diri si pemuda ini. Maka, Aditya diajak makan, diberikan tempat tinggal di sebuah rumah yang bagus di pusat kota Surabaya.


“Sampai kapan kau kabur dari pamanmu itu?” tanya Rahman Sugandi.


“Entah, saya belum tahu.”


“Ingat, Nak,” kata Rahman Sugandi lagi, “Kau boleh saja kabur sampai ke ujung dunia, tapi jangan lupakan asalmu. Kembalilah suatu hari nanti untuk pamanmu itu.”


Aditya agak kesal mendapat nasihat dari orang yang baru dikenalnya, tapi ia jelas tak bisa membantah itu. Ia sendiri agak menyesal kabur dari Paman Salim. Maka, tidak ada yang dia ucapkan selain, “Baik, saya akan berusaha.”


“Oke,” kata Rahman Sugandi. Setelah diam sejenak, lelaki itu berujar lagi, “Aku tahu kau orang yang baik. Maka kamu kubantu. Ini bukan karena balasan sebab sudah melempar para perampok tadi dengan botol, lho.”


“Untuk apa, Pak?”


Ucapan Rahman Sugandi jelas mengandung misteri, tapi Aditya tak bertanya-tanya atau penasaran ketika ia mendapatkan banyak ilmu dari lelaki tersebut; ilmu tentang cara bergaul ala orang kota, cara makan yang baik di meja makan, cara merayu wanita, cara berpura-pura menjadi orang bodoh atau orang jahat, dan lain sebagainya.


Aditya tak tahu apa yang ada di pikiran Rahman Sugandi saat itu. Sang kolektor itu berpikir, “Mungkin suatu hari nanti anak ini dapat menjadi sosok mata-mata yang baik demi membantu segala urusanku. Aku sudah terlalu tua dan kurasa aku butuh seorang murid untuk mewarisi bakatku.”


Hanya saja saat itu keadaan genting memaksa Rahman Sugandi cabut ke luar negeri. Aditya mendapat ‘sekolah’ gratis dari sang guru aneh itu selama beberapa bulan dan ia tak pernah melupakan betapa banyak manfaat yang ia dapatkan di kemudian hari berkat pertemuan mereka itu.


Karena itulah sebelum berpisah, Aditya berjanji, “Saya akan membantu Pak Gandi, apa pun itu yang Bapak butuhkan. Jika suatu hari nanti ada sesuatu yang terjadi, saya janji siap membantu!”


“Sudahlah, Dit. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya,” kata Rahman Sugandi saat itu.


Satu hal yang diminta oleh lelaki itu pada Aditya sebelum pergi adalah jangan sampai orang tahu pertemuan mereka ini. Ia malah meminta Aditya menyebut dirinya sebagai Guru Tanpa Nama.


***

__ADS_1


Kini, bertahun-tahun setelahnya, Rahman Sugandi teringat Aditya. Ia diam-diam tahu profil pemuda itu kini. Jauh melebihi harapannya dulu. Itulah kenapa sang Guru Tanpa Nama yakin Aditya sangat mampu membantunya.


Maka, sebuah telepon ditujukan ke lokasi tersembunyi di Kota Bandung.


“Halo?” ujar sebuah suara di sana.


“Halo, Dit? Apa kabar?” tanya Guru Tanpa Nama.


“Baik, Pak Gandi. Kabar Bapak bagaimana?” sahut Aditya.


“Aku tetap seperti ini. Kau sudah baca pesanku? Sekarang aku mau kau menemui seseorang yang alamatnya akan kukirimkan padamu,” kata Rahman Sugandi.


Aditya menyanggupi dan mereka memutuskan sambungan telepon setelah secara singkat berbasa-basi melepas kerinduan yang aneh antara seorang guru yang tak pernah diduga datang pada hidup Aditya, dengan sosok Aditya itu sendiri.


Aditya sejauh ini belum tahu apa yang mesti ia lakukan, tetapi ia tahu semua pasti terkait benda-benda berharga. Barang-barang yang sering jadi rebutan para kolektor dan pencuri internasional.


Membayangkan itu, pikirannya jadi lelah, tetapi ia telah berjanji kepada sang Guru Tanpa Nama, bukan? Dan janji harus ditepati.


Yang Aditya butuhkan kini hanyalah meminta para polisi memberikan tumpangan ke rumah seorang agen yang dikirim oleh Guru Tanpa Nama ke Bandung. Agen itu juga nanti yang akan membantu ‘menghapus’ jejak Aditya dari pemberitaan tentang sebuah desa yang diserang oleh seorang samurai dengan brutal.


“Nanti berita itu hanya berkisah tentang sebuah desa yang diserang, bukan aku dan Paman Salim yang diteror. Artinya semua yang bersamaku tetap aman. Kulakukan ini demi melindungi Frita dan Paman Salim,” kata Aditya pada diri sendiri.


Baskara diam-diam tahu tentang ini, karena peralatan canggihnya yang tak sengaja menangkap pembicaraan Aditya. Tapi ia bungkam, dan memilih tidak menyinggung itu, meski Yusi akhirnya bertanya-tanya ke mana saja Aditya setelah dibawa pergi oleh para polisi itu.


Aditya turun di sebuah toko roti tutup di tepi kota Bandung. Entah apa alasan yang ia ucapkan pada para polisi yang mengantarnya, tetapi dia menyebut-nyebut Komandan Malik agar mereka mau mengantarnya.


“Ini rahasia. Tolong jangan sampai calon istri saya dan Paman Salim tahu,” kata Aditya.


Ia lantas menaiki atap loteng bangunan toko roti itu dan menjumpai agen rahasia yang dimaksud oleh Guru Tanpa Nama.


“Amy? Kau di sini?”


Hanya itu yang terdengar dari bibir Aditya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2