
Berita tentang kedatangan Direktur All Cosmetic ke perusahaan untuk membatalkan kontrak dengan cepat menyebar ke berbagai bagian. Aditya yang sedang berada di gedung bagian keamanan juga mendengar berita itu. hal itu membuatnya heran, padahal beberapa minggu yang lalu Frita baru saja mengunjungi semua klien Glow & Shine Co.
“Kelihatannya aku harus menanyakan masalah ini kepada Rani,” gumam Aditya.
“Nggak ku sangka ya, padahal baru dua hari aku mendengar kabar bahwa pak Pandu melimpahkan semua kebijakan perusahaan kepada bu Frita,” bisik seorang pria.
“Iya, mungkin bu Frita memang masih terlalu muda untuk mengurus perusahaan sebesar ini,” ujar yang lain.
“Ternyata kecantikan memang tidak bisa menjamin kesuksesan,” bisik yang lain.
“Aku harap perusahaan ini jangan dulu bangkrut sebelum semua hutangku lunas,” gumam yang lain.
Suasana semakin gaduh, hampir di setiap sudut perusahaan semua karyawan sedang membahas kebangkrutan perusahaan. Frita semakin bingung. Dia memutuskan untuk berdiskusi dengan wakil Presdir William. Mereka kemudian memutuskan untuk berbincang di café perusahaan.
“Aku ingin memastikan sekali lagi, berita yang beredar itu bohong kan?” tanya William.
“Ada yang bohongnya tapi ada yang benarnya juga Will,” jawab Frita lesu.
“Apa yang benarnya?”
“Tadi pak Dika datang kemari marah-marah sambil memberikan berkas pembatalan kerjasama.”
“Hanya perusahaan All Cosmetic saja?”
“Nggak Will, ada sekitar empat belas klien kita yang membatalkan kerjasama tapi mereka semua itu tergolong klien besar kita.”
“Lalu berapa kerugian yang akan dialami oleh perusahaan?”
“Tadi aku dan Rani sudah hitung sekitar tiga miliar. Jika kita tidak segera membujuk kembali mereka untuk bekerja sama maka kemungkinan kerugian yang akan kita alami akan semakin besar.”
“Itu angka yang terlalu besar,” ujar William sembari menggaruk kepalanya.
“Selain itu, aku tadi melihat Daniel bersama pak Dika. Walaupun dia memang tidak masuk ke dalam.”
“Cih, tikus busuk itu lagi rupanya. Kelihatannya selagi Glow & Shine Co masih berdiri, dia tidak akan berhenti untuk menghancurkannya.”
“Tapi jika memang ini ulah Daniel, bagiku masih ada hal yang membingungkan.”
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Aku yakin sekuat dan secerdas apapun Daniel, dia tidak akan mampu menggoyahkan para klien kita walau di iming-imingi potongan harga pada produk kosmetiknya.”
“Tapi dengan uang semuanya mungkin saja Fri.”
“Nah itu masalahnya Will. Aku tidak yakin jika Daniel meminjam sekalipun perusahaannya tidak akan mampu membuat klien kita yang jelas lebih besar dan lebih stabil income nya untuk membatalkan kontrak kerja sama dengan kita.”
“Kamu benar juga, lalu apa kamu punya rencana?”
“Aku masih bingung. Mungkin aku akan mengecek akar masalahnya dulu ketika meeting nanti. Setelah kita punya bukti bahwa tuduhan klien kita tidak benar barulah kita bisa melangkah lagi.”
Ketika sedang waktunya istirahat, Aditya pergi ke gedung utama untuk mencari Rani. mereka bertemu di depan ruangan Frita. Tersirat kegelisahan di wajah Rani. melihat sikapnya itu Aditya bisa memastikan bahwa rumor yang beredar memang benar adanya.
“Kamu baik-baik saja Ran? Wajahmu pucat begitu?” tanya Aditya sambil memegang kening Rani untuk memastikan suhu tubuhnya.
“Aku baik-baik saja Dit. Aku hanya sedang risau karena banyak pegawai yang bertanya kepadaku tentang rumor yang beredar,” jawab Rani sambil melangkah menuju café, Aditya mengikutinya.
“Memangnya berita yang beredar itu benar?” selidik Aditya, Rani tampak memperhatikan sekitarnya.
“Iya Dit. Sekarang saja para petinggi sedang sibuk. Frita juga sudah memerintahkan semua petinggi untuk mengadakan meeting,” bisik Rani.
“Memangnya kerugian yang dialami perusahaan sangat banyak? Ada rumor katanya perusahaan bisa bangkrut juga.”
Aditya mulai paham situasi yang sedang dialami perusahaan saat ini. Ketika sampai di café terlihat Frita sedang berbincang dengan William. Rani dan Aditya menghampiri mereka. William mengernyitkan keningnya karena heran melihat sopir seperti Aditya bisa bersama Rani.
“Dia bukannya sopir ya?” tanya William.
“Iya pak, dia Aditya sopir pribadinya mbak Frita,” jawab Rani. Aditya berusaha ramah dengan menjulurkan tangan hendak bersalaman.
“Mau pribadi atau gimana tetep saja sopir Ran,” jawab William sambil tersenyum masam.
“Memangnya sopir tidak boleh ada di sini ya?” tanya Aditya, dia merasa tersinggung karena William malah terlihat meremehkan pekerjaannya.
“Bukan begitu, kamu seharusnya tahu tempat saja. kami di sini hendak membicarakan urusan penting. Memangnya kamu mau ikutan ngobrol?”
“Memangnya nggak boleh? Nggak ada aturannya kok kalau di café ini bawahan dilarang ngobrol dengan atasan.”
Aditya segera pergi ke meja lain setelah melihat William tersinggung dengan kata-katanya. Namun tak lama kemudian William, Rani dan Frita malah pergi untuk melaksanakan meeting bersama para petinggi perusahaan.
Setelah selesai meeting, William keluar dari kantor dengan perasaan kesal kepada Aditya. Dia kemudian menelepon pegawai yang dekat dengannya untuk segera berkumpul. Dia berniat memberikan sedikit pelajaran kepada Aditya. Yana datang menghampiri William yang sedang duduk menunggunya.
__ADS_1
“Ada apa Bos?” tanya Yana.
“gue mau minta bantuan lu Yan,” jawab William dengan wajah serius.
“Bantuan apaan Bos?”
“Gue mau beri pelajaran kepada salah satu sopir perusahaan.”
“Sopir yang mana Bos?”
“Itu sopir pribadinya Frita, gue bener-bener nggak suka lihat dia kerja di sini.”
“Setuju Bos! Gue juga nggak suka tuh lihat dia deket-deket sama Rani.”
“Bagus kalo begitu, gue sudah punya sebuah rencana yang bagus buat ngeluarin dia dari perusahaan.”
William kemudian membisikan rencananya kepada Yana. Terlihat Yana hanya tertawa saja mendengar rencana yang sudah William susun. Mereka berdua terlihat begitu senang saat ini.
“Eh iya, btw saat ini di perusahaan terjadi rumor yang menarik Bos,” ucap Yana.
“Menarik apanya? Masalah klien yang marah-marah sambil membatalkan kontrak kerja sama?”
“Bukan itu Bos. Yang menariknya saat ini para pegawai mulai khawatir kalau perusahaan akan segera bangkrut.”
“Gue juga pernah dengar kalau masalah itumah.”
“Iya pasti, Cuma ada beberapa dari mereka yang menyayangkan keputusan pak Pandu perihal kewenangan Frita untuk mengatur setiap kebijakan di perusahaan. Mereka pikir jika seharusnya Presdir tidak buru-buru menyerahkan kewenangannya seperti itu.”
“Jadi mereka mengira bahwa semua pembatalan kontrak yang terjadi sekarang ini karena kesalahan Frita?”
“Ya, mereka benar-benar mengira kalau Frita sekarang masih belum sanggup untuk menjalankan perusahaan sebesar ini.”
“Memang menarik.”
“Benar kan?”
“Ya, kelihatannya impianku untuk mendapatkan Frita sudah ada di depan mata,” ujar William sambil tertawa puas.
Mereka berdua akhirnya berpisah untuk menjalankan peran dalam rencana yang sudah William susun. Yana terlihat bahagia karena pada akhirnya dia pasti bisa menyingkirkan Aditya saat ini. Jika Aditya sudah pergi maka kesempatan dirinya untuk mendapatkan Rani akan semakin besar.
__ADS_1
BERSAMBUNG…