
“Menuntut? Apa maksud Ibu dengan menuntut?” tanya guru Nathan.
“Tentu saja karena dia udah salah. Dia mendorong anak saya sampai jatuh tadi. Dia membuat anak saya tenggelam!” ucap Luna sambil menunjuk ke arah Ellena yang masih duduk memeluk Nathan.
“Mama Aura, jangan asal nuduh deh. Tadi sudah ada banyak saksinya yang melihat kalo yang pertama kali bikin masalah itu Aura. Dia coba celakai Nathan, iya kan?” ucap salah satu wali murid.
“Iya bener.”
“Iya kok, saya sampe ikutan nyebur soalnya takut anak saya tenggelam juga.”
“Iya ... tadi Aura yang mendorong Nathan berulang kali. Padahal tadi Nathan sedang bersama Samuel kan, Bu. Seharusnya Ibu tidak bersikap seperti itu,” ucap guru Nathan mencoba menjelaskan suasana.
“Kalian pikir saya buta apa ya. Kan biasa anak-anak itu berantem. Tapi ga usah dong Ibunya ikut belain anaknya. Lagian kalo Aura sampe di dorong sama orang dewasa kaya dia, ya pasti bakalan kalah. Saya ga terima sama semua ini. Saya akan tetap perkarakan hal ini di jalur hukum.”
“Eeh Mama Aura, pernah ga tanya ke guru gimana Aura kalo di sekolah? Anak saya pernah ga mau sekolah 3 hari karena diisengin sama Aura. Aura itu terlalu bandel,” ucap salah satu wali.
“Eeh iya loh. Anak saya tuh sama diejek sama Aura gara-gara saya jemput pake motor. Ya ampun, apa salahnya coba.”
“Anak saya juga gitu. Di isengin sama Aura karena ga punya boneka barbie terbaru. Nangis dia minta sama Papanya. Bu, Aura itu di ajarin baik ga sih?”
“Heeh!! Kalian harusnya ngaca ya kalo mau tetep anaknya sekolah di sini. Orang kaya kalian ini ga pantes sekolah di tempat kaya gini. Ini sekolah mahal, tapi kalo muridnya dari kalangan kaya kalian ... haduuh, kok kasian sekali sama reputasi sekolah.”
“Cukup Bu Luna!!” ucap Ellena kesal.
Ellena mengangkat wajahnya dan menatap lurus pada Luna yang ada di depannya. Dia seolah tidak peduli kalau yang sedang memusuhinya saat ini adalah tunangan Sean. Dan mungkin kalau Sean tahu tentang hal ini, bisa saja akan mempersulit posisinya di kantor.
__ADS_1
“Hentikan semuanya. Saya tidak akan takut menghadapi tuntutan Ibu, karena saya merasa benar. Saya menyelamatkan anak saya dan semua orang di tempat ini saksinya. Dan satu lagi Bu, sekolah ini tempat untuk belajar, tempat untuk menuntut ilmu dan belajar kebaikan dari seorang guru. Bukan tempat ajang pamer kekayaan dan mengkotak- kotakkan status sosial orang yang sekolah di tempat ini. Apa gunanya kalau uang banyak tapi akhlaknya tidak ada. Saya rasa itu lebih rendah di bandingkan dengan orang yang lebih miskin tapi punya harga diri!” papar Ellena panjang.
“Iya bener itu. Bener banget. Kita kayanya perlu bilang ke kepala sekolah untuk memikirkan ulang status pelajar milik Aura di sekolah ini.”
Ucapan dukungan untuk Ellena berdatangan. Mereka semua rata-rata adalah korban sikap jahil Aura di sekolah. Mereka selama ini diam dan tidak berani terlalu banyak protes karena Luna adalah salah satu donatur besar di sekolah ini.
Tentu saja Luna tidak bisa mendiamkan hal itu begitu saja. Dia terus protes bahkan menyuruh guru sekolah itu memanggil kepala sekolah, dia ingin agar anak Ellena dikeluarkan dari sekolah ini.
Tetapi untungnya kepala sekolah sangat bijaksana. Dia tidak bisa mengeluarkan seorang siswanya hanya karena masalah yang tidak terlalu kuat kesalahannya, hanya mempermasalahkan sikap Ellena yang tidak sengaja mendorong Aura. Sikap itu pasti akan dilakukan oleh seorang ibu walaupun bukan Ellena saat kondisi anaknya sedang terancam bahaya. Ellena merasa lega dengan dukungan dari kepala sekolah.
Nathan sudah mulai tenang. Dia sudah bisa bermain lagi bersama dengan teman-temannya. Tapi Ellena tidak mengijinkan Nathan bermain terlalu jauh darinya. Dia masih khawatir kalau nanti Aura akan bersikap buruk lagi pada Nathan.
Siska yang sejak tadi memperhatikan sikap Ellena sejak putrinya itu bertemu dengan Luna, jadi ingin tahu, apa benar putrinya belum pernah bertemu dengan Luna sebelumnya. Sikap Luna juga terlihat sangat berlebihan pada Ellena sampai ingin mempermasalahkan kejadian siang ini.
“Ell, kamu serius ga kenal sama Mama Aura?” tanya Siska kepo.
“Kalo ga ngobrol dan ga interaksi, kok dia bisa kaya ga suka banget gitu sama kamu. Ada yang kamu rahasiakan dari Ibu ya?” selidik Siska.
Ellena menoleh ke arah sang ibu. Dia bingung apakah dia harus mengatakan tentang siapa Luna atau tidak pada ibunya. Tapi akan lebih aneh kalau dia tidak mengatakan siapa Luna, karena sepertinya Luna sangat membencinya.
“Sebenernya kata Pak Devan, Luna itu tunangan Sean, Bu,” ucap Ellena pelan.
“Tunangan Sean? Sean ... Papanya Nathan?” tanya Siska meminta kepastian dari Ellena.
Ellena mengganguk, “Iya ... kami ketemu di pesta malam itu.”
__ADS_1
“Tapi kenapa dia kaya gitu sama kamu? Emangnya kamu di pesta sama Sean?”
“Nah itu yang Ellena ga tau, Bu. Waktu di pesta juga dia sama Sean kok. Nemenin Sean. Kami cuma ketemu waktu Ellena mau pamit pulang. Cuma itu doang kok. Ga ada yang lain.”
“Ya udah lah, biarin aja. Mungkin bener apa yang dia bilang, kamu kan karyawan biasa di kantor Sean, tapi udah bisa dateng ke pesta kaya gitu. Mungkin dia tau soal itu dari kamu. Udah ga usah dipikirin ya,” ucap Siska sambil menepuk-nepuk sayang pundak Ellena.
“Iya, Bu. Asal dia ga bikin masalah kaya tadi aja. Ga mungkin kalo Ellena diem aja kalo kejadian tadi keulang lagi.”
“Pasti. Ibu juga ngerti kok. Kita pulang yuk, udah capek Ibu,” ajak Siska.
Ellena pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Siska. Dia dan Siska kemudian merapikan barang-barang mereka dan mulai memanggil Nathan untuk segera mengajak bocah kecil itu pulang.
Namun sayangnya Nathan masih sedikit merengek karena dia masih ingin bermain bersama dengan teman-temannya yang masih belum pulang. Akhirnya Ellena sedikit bersabar menunggu sambil berbincang dengan para wali murid lainnya dulu.
Sekolah sudah mulai sepi, akhirnya Ellena mengajak Nathan pulang setelah bocah kecil itu sudah tampak kelelahan bermain. Ellena berjalan keluar menuju area parkir sambil menggandeng tangan mungil Nathan yang masih sanggup untuk berjalan sambil berlompatan kecil.
Namun langkah kaki Ellena terhenti saat dia melihat ada sebuah sedan mewah berhenti di depan gerbang utama sekolah. Di samping mobil mewah itu ada seorang pria tampan yang selama ini selalu mengganggu hidupnya. Pria itu sepertinya belum menyadari kalau Ellena ada di sana.
“Daddy,” panggil bocah kecil yang seketika membuat mata Ellena menoleh.
Tampak dengan sangat jelas di mata Ellena, Aura berlari ke arah Sean yang segera saja disambut oleh Sean dengan sebuah pelukan hangat. Lalu di depannya berjalan Luna dengan tampak sangat percaya diri menuju ke arah Sean juga.
“Yeaah, Daddy jemput Aura,” ucap bocah kecil itu yang sudah ada di gendongan Sean.
“Daddy?!” ucap Ellena dengan nada kaget.
__ADS_1
Tatapan mata Sean sekarang sedang tertuju pada Ellena dan bocah kecil yang sedang dia gandeng. Sean menatap tajam ke arah dua orang yang hanya berjarak 2 meter saja dari dia berdiri saat ini.
Bersambung....