
Gugun dan teman-temannya terus bersorak menyemangati anak buah Hendrik yang sedang mengeroyok Aditya. Aditya lalu melambaikan tangannya ke arah Gugun dan teman temannya. Mereka malah mengernyitkan dahi.
“Bro bantuin sekarang, gue nggak bakalan sanggup ngalahin mereka,” ucap Aditya memanggil Gugun.
“Tolongin bro, kelihatannya kita harus merubah rencana,” kata Aditya sambil melambaikan tangannya lagi karena Gugun malah terdiam. Para anak buah Hendrik mulai melirik ke arah mereka.
“Eh gue nggak kenal sama lu ya!” bentak Gugun dengan wajah cemas.
“Lu jangan cuci tangan sendiri dong! Kita sudahi sandiwaranya sekarang, gue nggak bakalan mampu menghadapi mereka sendirian. Kita ubah rencananya sekarang,” ujar Aditya sambil terus menahan serangan lawan.
“Lu ngomong apa sih!” Gugun kemudian maju hendak menyerang Aditya.
“Hajar juga mereka!” teriak anak buah Hendrik.
Gugun dan teman-temannya terkejut, mereka kemudian diserang oleh anak buah Hendrik. Aditya tersenyum, dia mulai bisa leluasa menghadapi mereka karena sekarang fokus mereka sedang terbagi dengan kelompok Gugun. Aditya bisa dengan mudah menumbangkan beberapa anak buah Hendrik.
Gugun dan teman-temannya sedang kesusahan karena dikeroyok. Aditya kemudian membantu Gugun yang sudah babak belur, terlihat Gugun sangat marah kepadanya tapi mau bagaimana lagi jika dia tidak dibantu pasti akan tambah babak belur.
“Kalau lu mau selamat dari sini segera ikutin perintah gue,” ucap Aditya.
“Memangnya lu pikir siapa hah merintah gue!” bentak Gugun. Karena kesal Aditya segera menghajarnya, Gugun meringis kesakitan.
“Lu mau mati di sini atau mau selamat!” gertak Aditya.
“Oke gue setuju.”
“Lu pergi ke ruangan itu, ada ruangan lagi di dalamnya. Masuk ke toiletnya di sana ada dua orang pria yang gue ikat, lu pergi bawa mereka ke tempat rehabilitasi narkoba.”
“Lu ngawur apa?”
“Lakuin saja perintah gue!” bentak Aditya, Gugun tertunduk.
“Tapi gue punya hutang ke bos Hendrik yang sudah bebasin gue dari kantor polisi, pasti dia akan balas dendam,” ucap Gugun.
“Kalau lu sudah mengirim dua orang tadi ke tempat rehabilitasi, lu pergi cari Adrian dari geng Gagak. Bilang sama dia lu disuruh gabung ke geng sama gue,” jelas Aditya.
Gugun semakin ketakutan, dia tidak menyangka jika Aditya mengenal salah satu petinggi geng Gagak. Dia lalu mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian lari ke ruangan tempat ayah dan kakak Rani berada. Aditya sendiri segera berlari ke tempat Hendrik. Sementara teman-teman Gugun jadi bulan bulanan di keroyok oleh banyak orang.
Aditya mencoba membuka pintu namun Hendrik menguncinya dari dalam. Di belakangnya beberapa orang sudah mulai mengejar. Aditya menendang pintu itu hingga rusak, dia juga segera menghajar beberapa orang yang maju. Hendrik semakin cemas ketika Aditya berhasil masuk. Rani sedang tertunduk sambil menangis.
“Kurang ajar! Mereka kemana sih!” gerutu Hendrik sambil muncur ke dekat meja.
__ADS_1
“Sayang sekali kelihatannya mereka punya lawan lain di luar sana,” jawab Aditya sambil tersenyum melihat Rani.
“Lu jangan macem-macem sama gue ya! Gue itu anggota geng Serigala!” gertak Hendrik.
“Pantesan, jadi bar ini juga milik Ketua lu ya?”
“Ya! Sekarang lu sudah nggak bisa lolos lagi, geng serigala pasti balas dendam karena lu berbuat onar di tempat ini!”
“Begitu ya, asal lu tahu kalau gue nggak pernah takut lawan siapapun,” jawab Aditya dengan tenang.
“Mati lu!” teriak Hendrik.
Suara tembakan terdengar, ternyata Hendrik sengaja mendekati meja untuk mengambil pistol, Hendrik kemudian menjerit kesakitan. Tangan kanannya sudah tertancap pisau belati yang dilempar Aditya. Pistolnya sudah terlempar jauh. Tembakannya hanya mengenai dinding ruangan saja.
“Belati ini, jadi lu it-“ Hendrik yang belum selesai berbicara sudah tergeletak karena lehernya di tendang oleh Aditya. Dia segera mengambil belati miliknya lalu melepaskan ikatan pada tubuh Rani.
“Diit..” ucap Rani sambil memeluk Aditya sambil menangis.
“Sudahlah Ran. Kita sebaiknya segera pergi dari sini sebelum masalah lain datang,” ucap Aditya sambil membantu Rani berdiri.
“Tapi ayah dan kakak ku bagaimana?”
“Mau apa Dit?”
“Aku nggak bisa melindungi kamu jika jarak kita jauh, karena itu aku akan menggendongmu agar lebih mudah ketika ada yang menyerang.”
“Eh tapi,” Rani terlihat ragu, wajahnya tersipu malu.
Rani akhirnya mau, dia kemudian digendong oleh Aditya. Jatungnya terasa berdetak kencang, hatinya berdebar. Tapi dia juga merasakan ketenangan saat ini. Aditya perlahan berjalan keluar. Beberapa musuhnya maju menghadang, tapi dengan lihai dia membanting mereka semua.
Teman-teman Gugun terlihat sudah babak belur dan terluka parah. Aditya mulai berlari keluar sambil menggendong Rani. Beberapa pukulan dan hantaman tongkat billiard mengenai tubuhnya, namun tidak ada satu seranganpun yang mengenai tubuh Rani. Dia segera keluar dari bar dan masuk ke dalam mobil. Beberapa orang berusaha mengejarnya namun tidak mampu.
Aditya dengan cepat segera mengemudikan mobilnya menjauh dari bar milik Hendrik tersebut. Di perjalanan mobilnya berpapasan dengan mobil Gerald. Tatapan mereka beradu saat mobil berdekatan.
“Dia..” gumam Aditya pelan.
“Orang itu bukankah dia mantan tangan kanan Ketua geng Gagak..” ujar Gerald.
“Siapa Dit?” tanya Rani.
“Dia itu pemilik bar tadi.”
__ADS_1
“Bukannya bar itu milik Hendrik?”
Aditya tidak menjawab, dia segera mengemudikan mobilnya secepat mungkin, saat ini dia tidak mungkin mencari masalah dengan tangan kanan Ketua geng Serigala. Terlebih saat ini Rani adalah prioritas utamanya.
***
Gerald sampai di bar yang sudah berantakan. Dia kemudian mengumpulkan semua anak buah Hendrik yang tersisa lalu menghajarnya. Dia juga menyuruh untuk membuang mayat teman-teman Gugun dari bar itu. Gerald kemudian mencari Hendrik, dia menemukan Hendrik sedang mengerang kesakitan karena tangannya tadi tertancap belati milik Aditya.
“Bangun lu!” bentak Gerald.
“Ampun bos, ampun.”
“Ampun hah? Mana orang yang membuat keributan di sini? Mana!”
“Di dia sudah pergi bos.”
“Keparat! Ngejaga bar kecil saja nggak becus!” bentak Gerald sambil membanting Hendrik dengan satu tangannya.
Dia kemudian menyuruh semua anak buah Hendrik yang ada di sana untuk kembali merapikan bar. Dia lalu memeriksa kamera CCTV yang ada untuk memastikan siapa orang yang sudah berbuat keributan di bar milik gengnya. Matanya melotot giginya gemertak menahan amarah, tangannya lalu mengepal kuat. Dia kemudian menelepon Ketua geng Serigala.
“Ada apa Rald? Apa sudah beres?”
“Cecunguk itu berhasil kabur bos, mereka bahkan tidak bisa mengulur waktu sampai aku datang kemari.”
“Dasar sampah! Sebaiknya lu segera beri mereka pelajaran!”
“Akan aku lakukan, tapi ada sesuatu yang lebih penting untuk aku sampaikan.”
“Apa?”
“Orang yang berbuat ulah di sini adalah hantu masa lalu dari dunia gelapnya Bandung.”
“Maksudmu bekas tangan kanan Ketua geng Gagak?”
“Ya, setelah sekian lama tidak ada kabar tentangnya, sekalinya ada dia malah berbuat onar di wilayah kita.”
“Hahaha, jadi orang itu masih hidup. Kelihatannya kita harus segera membuat perhitungan dengan geng Gagak karena masalah ini.”
“Ya, bagaimanapun orang itu terlalu berbahaya jika kita biarkan saja. Terlebih aku masih memiliki dendam kepadanya,” ucap Gerald dengan sorot mata penuh amarah.
BERSAMBUNG…
__ADS_1