
Hanya berjarak beberapa meter dari klub malam The King, ada sebuah bangunan baru yang mentereng, sebuah klub malam lain yang jauh lebih eksklusif. Tempat itu tak lebih sebagai titik peneguhan status sosial seseorang. Hanya orang kaya dan kaum mafia seperti Rako saja yang bisa nongkrong di tempat semahal itu.
Maka, di sanalah pesta ulang tahunnya dilaksanakan.
Ya, rupanya pesta dansa itu bagian dari acara ulang tahun Rako. Sesuatu yang tak diketahui Clarissa sebelumnya. Ia pun terlihat bingung ketika di lobi depan ditanya oleh salah satu penjaga: “Undangan kalian mana?”
“Rako meminta kami langsung datang,” kata Aditya. Ia benar-benar datang ke sini tanpa sepengetahuan Frita.
Aditya beralasan pergi sebentar untuk menemui Guru Tanpa Nama, padahal dia dan Clarissa diam-diam ke pesta dansa Rako.
“Tak bisa masuk! Setiap tamu harus menunjukkan kartu atau surat undangannya!” kata si penjaga.
“Kami tak ada, meski diundang,” kata Aditya jengkel.
“Kalian tak boleh masuk!” bentak penjaga itu galak.
Aditya mendadak menangkap sepasang mata yang tak asing lagi baginya, yang kini berjalan mendekat ke arah lobi dari bagian dalam ruangan pesta.
“Dasar tolol loe! Kalau sudah dibilang permintaan Rako, ya, berarti mereka berdua boleh masuk!” bentak pemilik sepasang mata tajam itu pada si penjaga. Penjaga tersebut hanya menunduk ketakutan dan membukakan jalan untuk Aditya dan Clarissa.
Aditya sudah merasakan aura tak beres di pintu masuk, persis ketika Nino sekali lagi menatap matanya.
Nino bilang, “Maafkan penjaga tolol tadi. Mungkin dia enggak tahu siapa loe.”
Aditya tak berkata apa-apa. Nino pun juga mendadak memisahkan diri dari mereka berdua begitu mereka sudah masuk ke bagian dalam ruang pesta. Belum banyak tamu yang hadir tampaknya. Entah Rako ada di bagian mana.
“Kamu harus hati-hati, Dik,” kata Aditya pada Clarissa dengan berbisik.
“Ya, aku tahu,” jawab gadis itu pelan.
“Dan kamu juga harus siap untuk pulang seorang diri,” bisik Aditya lagi. Kali ini mereka tiba di ujung ruangan, di mana dari situ terlihat Rako berdiri sendirian di pojok yang lain.
“Ha? Maksudnya pulang sendiri?” sahut Clarissa cemas.
“Ya, siapa tahu aku ada ‘urusan’ di sini. Kamu tahu maksudku, Dik.”
Aditya sejak berangkat sudah memikirkan kemungkinan ini: bahwa dia sekali lagi akan berhadapan dengan Hestu dan kawan-kawan. Namun, demi kehidupan damai yang lama ia dambakan, ia kali ini tak akan lagi.
__ADS_1
“Akan kuselesaikan semuanya di sini, malam ini juga,” batinnya mantap.
Clarissa enggan membayangkan yang buruk-buruk. Ia kini sudah merasa menyesal saja sudah mengikuti kemauan Rako. Tapi toh telanjur sudah. Mereka sudah ada di sini tak tak bisa balik lagi tanpa membuat masalah apa pun.
Jadi mereka hampiri Rako.
Aditya bisa melihat tampang Rako sangat ketakutan. Ia seperti mendapat ancaman entah apa oleh Hestu dan geng barunya.
Dengan aneh, Rako mendorong tubuh Aditya dan berkata, “Ayo, sini maju! Jangan beraninya sama saudara gue yang pincang!”
Aditya tahu Rako tidak mabuk, dan dia juga tahu perkataan Rako barusan hanyalah dibuat-buat.
“Apa-apaan ini?” bisik Aditya.
Rako tampak melirik ke kejauhan dan mencoba mendorong Aditya sekali lagi, kali ini jauh lebih keras. Ia juga berbisik ke telinga Aditya sesaat sebelum mendorong itu, “Gue harus lakuin ini biar mereka enggak curiga. Mereka meminta kita berdua kelahi.”
Aditya tak tahu apa tujuannya itu. Tapi dia tak ada pilihan lain. Dia juga melihat si Hestu sedang mengamati dari sudut gelap lantai dansa. Para tamu mulai banyak yang berdatangan. Mereka berdansa, mabuk, berteriak, bernyanyi. Tempat itu benar-benar berisik.
“Oke, siapa takut?” balas Aditya. Ia segera menonjok wajah Rako.
Perkelahian pura-pura itu rupanya dianggap serius oleh para tamu undangan. Tak ada yang tak bersorak kegirangan melihatnya.
Hestu, Nino, Atari, dan Benny Watanabe mendekat. Mereka rupanya terperdaya juga oleh sandiwara Aditya dan Rako. Hestu jelas sengaja menghabiskan Rako dengan cara ini. Sebuah cara yang sungguh memalukan bagi penerus terakhir Setiawan Budi.
Maka, Nino pun bersorak, “Kalau loe bisa menang, Rako. Loe bakal dapat tempat terhormat di rumah mendiang paman loe!”
Mereka tahu Rako jauh di bawah Aditya kemampuannya.
“Ya, ya! Benar kata Nino,” sahut Hestu tertawa. Ia tampak memeluk erat pundak Shelly D yang ketakutan.
Clarissa dan Shelly D saling berpandangan dalam bisu.
Pertarungan itu jelas tak imbang. Aditya sengaja menurunkan kemampuan aslinya. Itu ia lakukan agar perkelahian berjalan agak lama, agar dia juga bisa berpikir kiranya apa yang akan dia lakukan setelah ini? Apa yang terjadi jika dia menang?
“Kalau gue yang menang?” tanya Aditya pada Nino.
“Loe enggak masuk hitungan, Bangsat! Kalau loe yang menang, loe lawan Benny! Hahahaha!” balas Nino dengan angkuh.
__ADS_1
Benny terlihat meringis. Ia bertubuh kekar dan lebih besar dari Aditya. Ia sudi saja jika harus menghajar Aditya sampai mati.
“Boleh kubunuh orang itu?” bisik Benny pada Hestu.
“Boleh saja kalau nanti giliran loe tiba. Biarkan Rako kalah terlebih dulu,” bisik Hestu pada Benny Watanabe.
“Kalau gue menang lagi?” tanya Aditya sambil menghindar dari tinjuan Rako.
“Loe lawan gue! Anjing, jangan banyak bacot!” bentak Nino kesal.
“Gue maunya loe lawan gue pertama sebelum Benny,” tawar Aditya sambil dengan sigap menghindar sekali lagi dari serangan Rako.
Nino terlihat kesal. Hestu mengangguk pendek padanya.
“Baiklah, gue terima!” balas Nino.
Para penjaga segera memblokir seluruh pintu masuk dan keluar di klub eksklusif itu. Membiarkan para tamu menonton pertarungan mereka dan melarang siapa pun lapor ke polisi.
“Biar mereka bertarung sampai mati,” batin Hestu girang. Ia tahu belaka jika pasti Aditya-lah nanti yang menang. Saat musuhnya itu sudah lelah, saat itulah Hestu datang untuk menyiksanya.
“Nah, sekarang kita bersenang-senang dulu, Sayang!” kata Hestu lalu mengecup bibir Shelly D dengan buas, dan menarik tubuh sintal penyanyi itu menjauh, masuk ke kamar tempat di mana tadi Hestu sempat menyetubuhinya dengan paksa.
“Jangan lagi! Tolong!” pinta Shelly D dengan suara serak akibat banyak menangis.
Hestu menamparnya dengan kasar.
Diam-diam Clarissa membuntuti mereka. Dia ambil botol beling kosong yang tadi tergeletak di atas meja bar. Dia buntuti tanpa Hestu sadari itu.
Sebelum Hestu mendorong Shelly D masuk ke kamar sempit itu, Clarissa terlebih dulu menghantam kepala Hestu dengan sangat keras, dengan botol beling tadi. Lelaki itu menjerit kesakitan. Darah mengucur deras di puncak kepalanya.
“Biadab!” umpatnya. Tapi ia tak bisa melihat apa pun karena matanya tertutup oleh darahnya sendiri yang mengalir.
Itu memberi Clarissa banyak waktu.
Clarissa segera saja menggandeng tangan Shelly D, mengajaknya kabur entah lewat jalan mana.
Bersambung....
__ADS_1