
Dini hari Aditya bangun. Dia merasa hari ini dia bangun sedikit lebih pagi dari biasanya. Handphone miliknya yang ada di meja bergeser sekitar tiga centimeter dari posisi awalnya. Dia yakin Frita sudah melakukan sesuatu selama dia tidur.
“Kelihatannya dia menggunakan obat tidur kepadaku,” gumam Aditya. Dia kemudian menggunakan kamera ponselnya untuk memeriksa jika Frita mencoret coret wajahnya, namun ternyata hal itu tidak terjadi.
Pagi harinya Aditya sudah bersiap berangkat kerja di dalam mobil. Setelah Frita masuk mobilnya mulai melaju di jalanan. Sepanjang jalan sikap Frita terlihat berbeda dari biasanya. Dia terus menarap Aditya dari belakang.
“Ada apa Mbak?” tanya Aditya.
“Nggak apa-apa Dit. Aku cuma mau berterimakasih kepadamu karena selama ini kamu selalu melindungiku. Padahal sikapku begitu dingin kepadamu.” jawab Frita sambil tersenyum.
“Eh, apa maksudnya?” tanya Aditya lagi. dia berusaha untuk tetap tenang meskipun sebenarnya dia tadi cukup terkejut ketika mendengar ucapan Frita.
“Tidak usah di tutupi begitu, aku sekarang yakin kok kalau kamu orangnya.”
Entah harus senang atau apa ekspresi yang harus dia tunjukkan saat ini. Jujur saja Aditya senang ketika Frita bersikap begitu lembut seperti ini kepadanya. Tapi dia juga khawatir karena sekarang Frita sudah tahu bahwa dia adalah pria yang selalu menyelamatkannya.
“Mbak ini ada-ada saja. mau ngerjain lagi nih ceritanya,” ucap Aditya sambil tertawa.
“Ya, mungkin tidak ada banyak bukti yang kumiliki. Hanya saja setelah ditolong olehmu di kolam renang terus memperhatikanmu secara seksama aku sekarang sudah yakin sembilan puluh persen jika kamu orang yang selalu menyelamatkanku, terlebih aku juga memeriksa ponsel milikmu tadi malam,” jelas Frita sambil tersenyum.
“Duh saya jadi semakin bingung nih Mbak,” ucap Aditya. Dia masih berusaha untuk menutupi semuanya. Tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di perusahaan.
“Aku juga tidak memaksamu untuk mengatakan yang sebenarnya kok. Aku yakin kamu punya alasan tersendiri untuk menyembunyikannya. Aku cuma ingin berterimakasih saja kok. Tuan penggemar rahasia,” bisik Frita, sebelum akhirnya masuk ke kantor disertai senyuman manisnya.
“Hemh.. Aditya Aditya, sekarang apa yang akan lu lakuin kalau sudah begini,” ujar Aditya sendiri.
Dia tidak menyangka jika Frita tenggelam di kolam renang hanyalah kebohongan semata agar dia bisa memastikan identitas Aditya. Dia juga yakin pasti selama Frita memperhatikan dirinya dia juga berusaha mengingat pin ponselnya.
Kelihatannya semua itu memang sudah direncanakan oelh Frita termasuk fogging yang dilakukan di kamarnya. Rencana itu berhasil hingga malam tadi Frita tahu bahwa dia adalah penyelamat sekaligus orang yang mengaku sebagai penggemar rahasianya setelah memastikannya sendiri.
Malam harinya, Aditya sedang berbincang dengan Pandu di ruang tamu. Dia bercerita bahwa seharian ini di perusahaan, Frita selalu bersikap baik dan lembut kepadanya. Sebenarnya dia sangat senang mendapat perlakuan seperti itu, namun dia juga khawatir tentang keselamatan Frita.
“Menurutku sendiri, hal itu tidak akan menjadi masalah selagi kamu ada di dekatnya.”
“Bukan itu masalahnya pak. saya yakin anda juga tahu masa lalu saya. Musuh saya begitu banyak, jika yang muncul hanya satu dua saja mungkin bisa saya atasi. Tapi jika mereka sudah tahu bahwa saya ada di sini. Keselamatan bapak sekeluarga benar-benar terancam, saya juga pasti akan kesulitan menanganinya.”
__ADS_1
“lalu keputusan seperti apa yang akan kamu ambil?”
“Saya ingin bapak pura-pura memberi saya upah atas usaha saya menyelamatkan Frita. Selebihnya percayakan kepada saya.”
“Tapi-“
“Ini juga demi kebaikan Frita pak. setidaknya dengan begitu kemungkinan musuh yang akan datang masih bisa saya atasi.”
“Baiklah jika memang itu keputusanmu.”
Setelah menyampaikan hal itu kepada Pandu membuat hatinya merasa lega. Sekarang yang perlu dia lakukan hanyalah membuat Frita kembali menjauh darinya. Aditya kemudian mencari keberadaan Frita, akhirnya mereka bertemu di teras lantai dua.
“Malam ini pemandangannya begitu indah kan?” ujar Frita.
“Ya, pekatnya kegelapan seolah olah hendak menelan sang rembulan.”
“Loh kok serem gitu. Biasanya kan puisinya indah indah gimana gitu,” goda Frita sambil tersenyum.
“Hahaha, sebenarnya itu hanya siasatku untuk menunjukan kepadamu bahwa dengan mudahnya aku bisa membuatmu terkesan,” jawab Aditya dengan seringai licik.
“Dit, Aditya, eh kamu di sini rupanya. Ini Dit sesuai kesepakatan kita,” sela Pandu yang tiba-tiba datang ke tempat mereka. Pandu kemudian memberikan amplop yang cukup besar kepada Aditya. Kemudian dia pergi lagi.
“Itu apaan Dit?” tanya Frita.
“Ya seperti yang kamu dengar. Selama ini aku menyelamatkanmu bukan tanpa alasan Fri. ini yang selama ini aku inginkan,” jelas Aditya sambil mencium amplop dari Pandu.
“Bagaimana rasanya dikerjain sopir sendiri? Eh iya. tunangan sendiri?” tanya Aditya sambil mendekatkan wajahnya ke Frita.
Frita spontan menampar pipi Aditya. Dia terlihat begitu kesal dan marah setelah merasa dipermainkan oleh Aditya. Dia pergi dengan deraian airmata di pipinya. Sementara itu Aditya hanya termenung di teras sambil menatap indahnya malam.
“Maafkan aku, Frita,” gumam Aditya pelan.
***
Setelah kejadian itu sikap Frita kembali dingin kepada Aditya, walaupun memang tidak sedingin dahulu. Kelihatannya fakta bahwa dia telah diselamatkan Aditya masih mampu membuat hatinya sedikit luluh.
__ADS_1
Sejak dua hari yang lalu ayahnya juga jarang sekali datang ke kantor. Semua kebijakan perusahaan kini Pandu limpahkan ke tangannya, dia bilang sudah saatnya dia belajar lebih jauh lagi dalam memimpin perusahaan. Jabatan Presdir memang masih menjadi milik ayahnya. Hari ini Frita sedang sibuk memeriksa beberapa File laporan dari bagian Pemasaran.
“Mbak, gawat mbak,” ucap Rani yang tiba-tiba masuk ke ruangan Frita.
“Gawat apanya Ran?” tanya Frita cemas.
“Di depan ada pak Dika direktur dari perusahaan All Cosmetic sedang menunggu Mbak.”
“Loh, kok tiba-tiba begitu?”
“Iya Mbak. Mana kelihatannya marah banget lagi.”
Frita dan Rani buru-buru menemui Dika di ruang tunggu kantor. Ketika mereka sampai di sana terdengar Dika terus menggerutu tak jelas.
“Ada keperluan apa ya pak?” tanya Frita sambil mengajak bersalaman namun ditolak oleh Dika.
“Saya kemari cuma buat ngebatalin kontrak kerjasama kita!” tegas Dika dengan nada tinggi. Hal itu menimbulkan banyak karyawan yang datang karena penasaran.
“Bapak sabar dulu ya, kita bicara baik-baik di ruangan saya,” bujuk Frita. Dia tidak mau rumor buruk menyebar di seluruh karyawan perusahaan.
“Sabar apanya!” bentak Dika.
“Lalu apa alasan bapak ingin membatalkan kontrak kerjasama kita? Bukankah kontrak kita baru berjalan enam bulan saja?”
“Alasannya karena kualitas sample produk tidak sesuai dengan kesepakatan kita!”
“Kalau masalah itu sebaiknya kita bicarakan di ruangan saja pak biar tenang. Bapak juga pasti lelah setelah perjalanan kemari.”
“Saya tidak tertarik! Ini terima saja berkas pembatalan kerjasamanya. Oh iya, ini bukan hanya berkas kerjasama perusahaan All Cosmetic saja tapi ada beberapa perusahaan lain yang memang membatalkan kerjasamanya dan diwakilkan kepada saya,” jelas Dika sambil menyerahkan dokumen tebal kepada Frita.
Frita hanya bisa pasrah menerima dokumen itu, dia tidak ingin berdebat panjang di depan mata para karyawan yang berkumpul di sana. Dika kemudian pergi keluar, sekilas Frita melihat di luar ada seorang pria yang cukup familiar baginya sedang melambaikan tangan dan tertawa, pria itu kemudian pergi bersama Dika.
“Daniel?” gumam Frita pelan.
BERSAMBUNG…
__ADS_1