
Ellena kaget dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Dia seolah tidak bisa mengedipkan matanya dan tidak lagi bernafas. Matanya membulat lebar saat mendengar kata ‘Nikah’ yang meluncur begitu saja dari bibir Sean.
Pria muda itu seolah tidak merasa ada yang aneh dengan apa yang dia katakan tadi. Bahkan kata-kata itu terasa begitu datar tanpa beban sedikit pun. Sean justru merasa aneh saat melihat Ellena saat ini.
Tuk
“Aduh!” keluh Ellena sambil memegangi keningnya yang sakit karena di sentil oleh Sean.
“Sakit,” keluh Ellena yang terdengar sangat manja dan menggemaskan di telinga Sean.
“Jangan pasang muka kaya gitu makanya, jelek tau ga! Keluar itu ntar mata lama-lama. Ayo buruan turun,” ucap Sean sambil melepaskan sabuk pengamannya.
“Turun? Emang mau ke mana?” tanya Ellena sedikit panik.
“Makan. Perutku laper dari tadi belum makan.”
“Tapi saya sudah makan, Pak.”
“Yang nyuruh kamu makan siapa. Kamu ke sini cuma nemenin aku makan doank,” ucap Sean yang sudah mulai keluar dari mobil mewahnya.
“Dasar cowok aneh!” gerutu Ellena makin kesal dengan apa yang dilakukan oleh Sean.
Ellena pun segera melepaskan sabuk pengamannya. Dia tidak ingin Sean makin marah mengomel nantinya kalau dia lama. Ellena segera turun dan menutup pintu mobil. Terdengar suara pintu mobil di kunci oleh Sean setelah Ellena keluar dari mobil.
“Ayo buruan. Aku udah laper banget,” ajak Sean yang menoleh sebentar ke arah Ellena.
“Iya,” jawab Ellena yang segera melangkah mengikuti Sean.
Namun baru beberapa langkah saja dia berjalan di belakang Sean, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ellena teringat kalau dia datang ke tempat ini hanya memakai baju tidur dan juga sandal jepit saja. Itu sangat berbanding terbalik dengan Sean yang masih memakai setelah kerjanya yang harganya sangat mahal itu.
Ellena segera kembali ke balik mobil dan berdiri di samping pintu mobil tempat dia duduk tadi. Sean yang merasa kalau Ellena tidak segera menyusul berjalan di sampingnya pun juga berhenti lalu segera menoleh ke belakang. Dia melihat Ellena masih berdiri di tempat yang sama seperti saat wanita itu turun dari mobilnya.
“Kamu ngapain di situ?” tanya Sean mulai kesal.
Ellena memggelengkan kepalanya, “Saya ga papa. Bapak aja yang masuk ke sana. Saya tunggu di sini,” ucap Ellena pelan.
“Ngapain lagi sih? Aku salah apa lagi?”
__ADS_1
“Ga salah kok. Bapak ga salah apa-apa.”
“Trus ... ngapain kami di sana. Ato buruan?”
Ellena hanya kembali menggelengkan kepalanya. Dia menolak diajak masuk oleh Sean ke dalam restoran hotel itu. Dia malu kalau nanti dia hanya akan dianggap seorang pelayan Sean atau mungkin dia akan membuat Sean malu dengan penampilannya saat ini.
Sean yang melihat Ellena makin menundukkan kepalanya jadi semakin kesal dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu. Dia kembali melangkah mendekati mobilnya untuk segera menyeret Ellena masuk.
“Kalo mau digandeng bilang donk,” ucap Sean sambil meraih pergelangan tangan Ellena.
“Eh ... bukan itu,” ucap Ellena sambil menarik tangannya agar langkah Sean terhenti.
Sean menoleh ke arah Ellena, “Trus ngapain? Kamu ga alergi kan makan sama aku?”
“Enggak, tapi saya malu,” ucap Ellena pelan.
“Malu kenapa?”
Sean bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ellena. Dia melihat wanita cantik yang dia culik itu dari atas ke bawah dengan teliti. Tapi tetap saja tidak tahu apa yang salah pada diri wanita itu.
“Saya cuma pake baju tidur, Pak. Saya ga mau bikin Bapak malu,” jawab Ellena sambil memamerkan pully eyes-nya ke Sean.
Sean melihat ke arah Ellena lagi. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh Ellena yang baru dia sadari kalau saat ini Ellena memang benar-benar sedang memakai pakaian rumah yang sangat sederhana. Dia tersenyum melihat polosnya Ellena yang sedang mengkhawatirkan penampilannya itu saat ini
“Hmm setelan tidur kamu kaya gini ya? Ku pikir kamu bakal pake baju kaya yang kamu pake 7 tahun lalu di depanku. Tapi ga papa sih, ini lebih baik,” ucap Sean sambil terkekeh.
“Maksudnya lebih baik apa?”
“Ya kan kita dateng ke tempat yang tepat. Habis makan, kita bisa langsung masuk kamar untuk mengulang kejadian 7 tahun lalu,” ucap Sean santai.
“Pak Sean!” ucap Ellena marah.
“Ga usah marah gitu donk, nanti aja manggilnya kalo udah di kamar ya,” ledek Sean.
“Saya ga mau!! Saya mau pulang!!” Ellena makin kesal pada Sean.
“Eeh ga bisa!! Kamu ke sini harus temenin aku makan. Aku udah capek nyetir ke sini, nahan laper juga dan sekarang kamu bilang mau pulang? Bosnya di sini aku, bukan kamu!” ucap Sean tegas.
__ADS_1
“Cuma makan, ga pake yang lain!”
“Iya ... cuma makan. Lagian badanku capek, lagi ga pengen. Ayo buruan!”
“Tapi, Pak,” ucap Ellena lagi saat dia teringat dengan pakaiannya.
“Kalo ada yang berani menghina wanita Sean, hidupnya ga akan tenang! Termasuk kamu kalo masih membantah juga!”
Sean segera kembali meraih pergelangan tangan Ellena. Dia segera menggandeng wanita muda yang cantik dengan penampilan sederhana itu menuju ke lift yang akan membawa mereka masuk ke dalam restoran hotel. Sean tidak ingin lagi menerima penolakan dari Ellena saat ini.
Ellena tersenyum sendiri saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Sean. Pria menjengkelkan ini ternyata memiliki sisi romantis yang manis seperti ini. Ellena jadi tersanjung saat diperlakukan istimewa seperti ini.
Kini dua orang itu ada di dalam lift. Mereka akan menuju ke restoran hotel untuk mengisi perut mereka yang mulai berontak minta di isi. Ellena meskipun tadi sudah sempat makan, entah kenapa kini merasa ikut lapar lagi.
“Gimana tadi keadaan di kantor?” tanya Sean.
“Baik, Pak. Tidak ada yang luar biasa. Oh ya, tadi Pak Johan telepon saya, Pak. Sepertinya beliau ingin mengambil barang dari kita dalam jumlah besar untuk dia kirim ke Sulawesi, Pak,” lapor Ellena.
“Bagus itu. Follow up aja terus. Oh ya, saat kita lagi berdua kaya gini jangan panggil Pak lah. Keliatan tua banget aku. Dan itu juga, saya ... Bapak ... aduh formal banget, ga suka aku,” protes Sean.
“Lalu saya harus panggil apa?”
“Panggil apa aja boleh. Panggil sayang juga boleh kok,” ucap Sean sambil menoleh ke Ellena.
“Sayang?”
“Iya sayang, kenapa?” balas Sean sedikit menggoda Ellena lagi.
Tanpa perlu di suruh lagi semburat merah di wajah Ellena pun segera saja muncul. Dia bahkan mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali saat dia dipanggil seperti itu pertama kalinya oleh seorang pria setelah bertahun-tahun lamanya.
Sean makin gemas dengan apa yang dilihatnya saat ini dari Ellena. Bagaimana mungkin wanita yang ada di depannya ini terlibat makin imut dan sangat cantik saat wajahnya bersemu merah menahan malu seperti ini.
Sean reflek memajukan badannya untuk sedikit membuat Ellena terdesak dan semakin menempel di badan lift. Kebetulan sekali di dalam lift itu hanya ada mereka berdua saja.
Perlahan namun pasti, nafas hangat Sean mulai menerpa di wajah cantik Ellena. Wanita yang kini sedang tersudut itu kian mengedip-ngedipkan matanya saat tubuh Sean semakin mendekat kepadanya.
Bersambung....
__ADS_1