
Tangan Sean mulai memegang belakang kepala Ellena. Tatapan dua insan itu kini bertemu. Ellena bisa menemukan sorot mata yang lebih lembut lagi saat ini dari Sean. Sorot mata dengan rasa berbeda daripada yang biasanya dia dapatkan dari pria itu.
Sean terpesona dengan wajah cantik yang ada di depannya itu. Wajah pasrah milik Ellena yang yang sedang menempel di dinding dan tidak bisa bergerak karena pergerakannya terkunci oleh tubuh Sean yang lebih besar dari dia. Sean ingin sekali menikmati pemandangan indah itu lebih lama.
Kleek!
“Rambut kamu bagus kalau dibiarkan tergerai lepas. Jadi makin cantik,” ucap Sean sambil meraih jepitan rambut yang ada di belakang kepala Ellena.
Ellena segera tertunduk malu saat dia menyadari dirinya salah sangka lagi dengan apa yang dilakukan Sean kepadanya. Sepertinya ingatan kejadian di kantin tempo hari itu kembali terulang. Ellena menundukkan kepalanya dan berharap geraian rambutnya ini akan membuat wajahnya tertutupi.
Sean tersenyum sendiri saat dia kembali berdiri tegak di samping Ellena. Dia bahkan hampir tidak bisa menahan tawanya saat melihat apa yang dilakukan Ellena dari pantulan pintu lift yang bisa menunjukkan apa yang di lakukan Ellena saat ini.
Kepala Ellena tertunduk dalam, dia juga sedikit menghentak-hentakkan kakinya ke dasar lift. Tangannya sesekali mengacak rambutnya tanda dia pasti sangat malu sekali. Tapi Sean sengaja tidak melakukan apa pun saat ini.
Ting
Bunyi suara lift mulai terdengar. Tidak lama kemudian pintu lift itu pun terbuka dan Sean segera menggandeng tangan Ellena kembali untuk segera menuju ke restoran. Ellena pasrah dan mengikuti langkah Sean yang ada di depannya.
“Pak,” panggil Ellena sambil sedikit menarik tangannya agar Sean berhenti.
“Apa lagi?” tanya Sean sambil menoleh ke arah Ellena.
“Saya mau ke toilet sebentar. Saya mau merapikan penampilan saya dulu.”
“Ok. Tapi ... ga ada Pak dan saya lagi. Keluar dari kamar mandi, cuma ada aku dam kamu. Kamu ngerti?”
“Aku dan kamu?”
“Iya ... latihan sana di depan wastafel. Buruan! Waktu kamu cuma 5 menit aja.”
Mendengar kata 5 menit, Ellena segera berjalan menuju ke arah lorong yang menuju ke toilet. Dia berjalan cepat sebelum nanti Sean akan berbuat aneh lagi padanya.
“Aku dan kamu? Dih! Kaya orang udah pacaran aja. Ga inget tuh ama yang digandeng tadi di sekolah,” gerutu Ellena kesal di depan kaca wastafel.
Ellena mulai merapikan penampilannya di depan kaca besar. Paling tidak meskipun memakai baju tidur, dia tetap ingin terlihat cantik dan rapi. Sepertinya di drama Korea yang sering dia lihat juga banyak adegan seperti yang dia alami saat ini.
__ADS_1
Sementara itu Sean masih berdiri di depan lorong. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan tangannya sibuk mengoperasikan ponsel yang ada di tangannya. Mata Sean melihat ada dua orang gadis muda keluar dari dalam lift.
“Maaf ... saya boleh beli jepitan rambutnya ga?” tanya Sean saat melihat jepitan rambut yang di pakai gadis muda itu.
“Jepit rambut?” ucap si gadis sambil memegang jepit rambut berbentuk pita yang dihiasi dengan beberapa diamond palsu tapi tetap saja terlihat berkilau, “Tapi ini ga dijual?” ucap si gadis.
“Jual aja sama saya. Saya beli 500 ribu ya?” bujuk Sean.
“Haaahh!! Seriusan mau beli 500 ribu?” tanya si gadis tidak percaya.
“Iya ... saya mau buat pacar saya makin cantik malam ini,” Sean mengambil dompetnya dari dalam saku celananya, “Nih, cash 500 ribu kalo kamu mau jual ke saya,” ucap Sean sambil mengulhrkan uang 500 ribu ke gadis itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu segera melepas jepitan rambutnya dan memberikan pada Sean. Dia segera mengambil uang Sean dan berlalu bersama dengan temannya sambil tertawa bahagia. Sean juga melakukan hal yang sama dengan jepit rambut yang kini ada di tangannya itu.
“Kamu ngapain?” tanya Ellena saat dia melihat Sean tersenyum sendiri sambil melihat jepit rambut di telapak tangannya.
“Ga papa, ini jepit rambut buat kamu. Aku barusan beli,” ucap Sean sambil menunjukkan jepit rambut mahalnya itu.
“Beli jepit rambut? Di mana?”
“Haah?? Emang kamu beli berapa jepitan itu? Kok dia ampe mau sih?”
“500 ribu.”
“Apaaa!! Sean, ini paling juga ga akan sampe 50 ribu harganya. Kamu gila ya beli jepitan semahal itu?”
“Ga akan terasa mahal, asal kamu yang pake. Aku pasangin ya?”
Sean segera mendekati Ellena. Dia merapikan sedikit rambut di samping kepala Ellena. Dia ingin memasang jepit rambut itu di posisi yang bagus. Karena belum pernah memasang jepit rambut di kepala seorang wanita, Sean sempat beberapa kali melepas untuk mendapatkan tempat yang terbaik.
Setelah dibantu Ellena, akhirnya jepit rambut itu kini terpasang sangat manis di kepala Ellena. Wanita itu merasa ada sangat banyak kupu-kupu di hatinya saat ini. Dia merasa diperlakukan sangat istimewa oleh Sean. Pria muda itu bahkan tidak masalah mengeluarkan uang begitu banyak hanya untuk sebuah jepit rambut.
“Tuh ... cantikkan. Yuk kita jalan,” ajak Sean.
“Iya,” ajak Ellena yang kini makin percaya diri berjalan bersama dengan Sean.
__ADS_1
Dua insan itu kini berjalan berdampingan menuju ke restoran hotel yang ada di ujung koridor. Tangan Sean beberapa kali menabrak tangan Ellena yang tergantung bebas. Dengan secepat kilat, tangan Sean segera menyambar tangan Ellena. Tapi kali ini bukan lagi di pergelangan tangannya, tapi tepat di tangannya sambil membelai lembut punggung tangan sang wanita.
Ellena seolah lupa dengan semua perlakuan kasar dan menjengkelkan Sean selama ini kepadanya. Dia merasa sebagai wanita istimewa yang sedang ditunjukkan Sean pada dunia. Hati Ellena sangat bahagia.
Pelayan restoran melayani mereka saat ini. Dia memberikan buku menu pada pasangan yang masih belum jelas statusnya itu. Mereka berdua membaca satu persatu menu yang ditawarkan oleh restoran.
“Kamu mau makan apa, sayang?” tanya Sean.
Ellena kaget dengan panggilan Sean kepadanya. Dia melihat ke arah Sean dan nampak di matanya Sean memang melihat ke arahnya yang saat ini sedang ada di depan Sean.
“Aku ... aku makan apa ya? Aku ga gitu laper sih, kayanya steak ikan dori boleh,” ucap Ellena sambil melihat ke arah pelayan.
“Kayanya itu juga bagus. Aku pesen yang sama ya. Tambahkan sup asparagus juga buat saya,” pesan Sean pada pelayan.
“Minumnya mau apa?” tanya pelayan.
“Gimana kalo wine?” tanya Sean sambil melihat ke arah Ellena.
“Boleh, tapi kamu ga boleh terlalu banyak. Kamu nyetir nanti,”
“Ok sayank. Aku udah cukup mabuk sama kecantikan kamu kok,” ucap Sean yang lagi-lagi membuat Ellena merona.
Ellena tidak mampu lagi menahan rasa malunya. Malu karena pujian Sean yang dia dengarkan dari tadi. Pujian yang membuatnya merasa terbang melayang tinggi jauh ke atas awan. Hatinya sangat berbunga-bunga saat ini.
“Kamu ternyata pinter gombal ya?” tanya Ellena sambil memberanikan diri menatap Sean.
“Aku? Gombal? Emang ada ya orang kaya aku yang gombal?” tanya Sean balik.
“Trus kalo kamu ga gombal trus ngapain dong dari tadi muji aku mulu,” ucap Ellena sambil menatap Sean yang ada di depannya.
“Ga ada gombalan yang dari hati, Ell. Ini kejujuran namanya.”
“Iya deh, terserah kamu aja. Pinter ngeles emang kok.”
“Trus ... apa selanjutnya kita bakal ke atas kalo aku berhasil gombalin kamu?” ucap Sean sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.
__ADS_1
Bersambung....