
Gua itu cukup luas. Sebuah gua tersembunyi buatan tangan manusia sejak zaman pendudukan Jepang. Entah Setiawan Budi mendapatkan properti ini dari tangan siapa, tapi tempat yang tampak terbengkalai dari luar ini merupakan markas favoritnya. Di area ini jugalah kadang-kadang Setiawan Budi mengubur para musuhnya.
Hestu jelas tahu di mana saja kuburan para musuh pesaing bisnis Setiawan Budi. Ia datang kemari di suatu hari yang hujan beberapa tahun lalu. Hanya berdua bersama Setiawan Budi.
Mafia tua itu berpesan padanya saat itu, “Siapa pun yang berkhianat denganku, kau bisa kubur di sini dengan atau tanpa sepengetahuanku.”
Hestu mengangguk patuh ketika itu. Sungguh ironi. Justru Hestulah pengkhianat itu dan ia jelas tak sudi dikubur di tanah terbengkalai macam ini.
Hestu bilang pada Niko, “Loe boleh habisin Aditya. Gue hanya menonton saja. Dan biar nanti urusan mayat dia biar gue yang urus.”
Niko tak bertanya apa-apa, kecuali meminta imbalan jika ia bisa membunuh lelaki itu, ia boleh meniduri Frita.
“Hahaha,” tawa Hestu menggema di lorong panjang serupa labirin menuju ke gua bawah tanah itu. “Mau loe apain saja, itu urusan loe, Bung. Yang jelas Aditya harus mati dan gue harus kubur mayatnya di tempat ini.”
***
Maka, beginilah jadinya.
Hestu menunggu di tempat tersembunyi di bagian gua pengap itu. Ada tumpukan peti kayu entah berapa lusin di ruangan itu. Frita disekap di antara peti-peti itu di ruang yang sama. Tak ada yang bisa melihat mereka kecuali memeriksa setiap sudut.
Di ujung labirin, Aditya bisa melihat sosok Niko berdiri santai dengan memainkan sebatang korek api di mulutnya.
“Kalian cari Frita? Silakan. Maju semua, maka dia akan mati!” ancam lelaki kekar itu.
Rako belum terlalu yakin, tapi gua persembunyian jelas bukan lokasi yang sempit sejauh yang bisa ia ingat. Jadi ia berbisik pada Rinda, “Mungkin saja Hestu punya anak buah yang banyak. Dia Niko. Orang kejam saudara kandung Nino.”
Rinda cuma diam saja.
Niko tersenyum sinis, “Nah, kalian semua para banci, kenapa Aditya tak bertarung dengan tangan saja denganku? Mari tarung sampai mati! Kita lihat siapa yang bakalan menang.”
“Kalau aku mati, kau tetap saja akan ikut mati. Mereka bakal menembakmu,” tukas Aditya melirik Skuad Malam.
“Oh, ya? Suara tembakan pertanda bagi Hestu untuk menembak kepala Frita,” ujar Niko, membuat Aditya marah.
Ia meminta seluruh Skuad Malam untuk melepaskan senjata mereka. “Jumlah kita banyak. Kalian bisa berkelahi dengan tangan, kan? Untuk jaga-jaga jika saja aku nanti kalah,” bisik Aditya.
“Tenang saja, Bang. Akan kami bantu sekarang juga!” sahut Teo penuh semangat.
“Tidak! Biar aku sendiri lawan orang ini.”
“Ya, biar dia sendiri,” sahut Niko. “Aku tak tahu apakah Hestu bersabar jika saja kalian ikut membantunya. Tapi kalau mau, boleh saja satu lawan sembilan!”
Mereka semua pun mundur memberi ruang. Niko dan Aditya memasang kuda-kuda di pintu masuk gua. Tempat yang cukup lebar untuk arena tarung.
Niko mengambil kesempatan pertama untuk menyerang. Sebuah lompatan yang amat tinggi membuat Aditya sempat terpana. Dan Niko dengan mudah menerjang dagu Aditya sampai mulutnya berdarah.
Aditya terjajar mundur, lalu berbaring di tanah.
__ADS_1
Rinda tampak geram. Ingin segera maju membantu, tapi Aditya bilang, “Biar aku saja! Hestu mungkin tahu kalau kalian membantu dan dia bisa melukai istriku!”
Niko cuma terkekeh mendengar itu.
Sejak itu tak ada lagi bantuan utnuk Aditya. Meski tentu saja Aditya jelas bukan tandingan Niko. Di atas langit masih ada langit. Aditya tak selamanya unggul atas tiap musuhnya. Ia dihajar habis-habisan oleh Niko.
“Rasakan ini!” teriak Niko sambil memukul kepala dan lalu punggungnya.
Semua itu dilakukan bergantian, persisten, tanpa memberi jeda pada Aditya. Seolah tiap gerak yang Aditya ambil bisa Niko ramal.
Niko benar-benar petarung yang hebat.
Aditya memang belum kehabisan tenaga dan masih kuat menyerang, tapi semua serangannya seakan tumpul.
Nancya berbisik pada Baskara, mencoba mengambil inisiatif.
Baskara tampak mengangguk, tapi terlihat ragu. Tak ada yang tahu pembicaraan dua orang itu.
Nancy lantas merogoh bagian dalam tas golf tadi, dan mengambil sebilah pisau. Ia dengan cepat, tanpa jeda, melempar pisau itu ke arah Niko. Lemparan tak mengenai bagian mematikan, tapi Niko terperanjat kaget melihat ada pisau menancap pada dada kanannya.
“Brengsek, akhirnya kalian menyerah juga, ya!” bentak Niko.
Aditya tak membuang waktu. Niko sempat lengah. Ia melompat ke belakang tubuh lelaki kekar itu, lalu bergelantungan di punggungnya dan mencolok kedua mata Niko dengan sangat kuat.
Niko menjerit kesakitan. Berputar-putar, membentur-benturkan tubuh Aditya pada tembok gua.
Tapi sia-sia saja. Aditya tak sabar lagi ingin merobohkan lelaki ini. Tak ada cara lain memang. Dan ia terpaksa harus curang.
Pada akhirnya Niko pun ambruk. Tak berdaya tanpa mata yang bisa melihat lagi.
Mereka semua meninggalkannya berteriak kesakitan di pintu masuk gua. Nancy nyaris akan menembaknya, tapi Aditya mencegahnya.
“Biar saja. Kita tak perlu membunuh lebih banyak orang,” katanya.
***
“Lewat sini,” kata Rako, yang segera membaca ke mana arah sembunyinya Hestu.
Tebakan Rako tepat, tapi dia disambut dengan sabetan pedang di lehernya hingga kepala Rako menggelinding hilang ditelan kegelapan.
“Akhirnya kita ketemu juga!” sambut Hestu menatap tajam mata Aditya.
Aditya kaget saat Hestu melempar pedang lain padanya. Bajingan itu mengajaknya adu pedang ternyata.
Aditya menerima tantangan itu.
Mereka berpedang entah berapa lama. Keduanya cukup mahir menyerang sekaligus menangkis serangan lawan. Keduanya seperti tak akan selesai beradu pedang.
__ADS_1
Skuad Malam berpencar mencari ke mana Frita disembunyikan.
Celaka. Hestu memasang cukup banyak jebakan. Ledakan demi ledakan seperti tadi yang membakar kulit Charlie terdengar. Jeritan Skuad Malam menggema di ruangan itu. Rinda tak tahu berapa banyak yang terkena, tapi ledakan itu dia hitung ada tiga.
Rinda yang matanya terlatih, segera tahu di mana saja posisi jebakan yang belum meledak.
“Ikuti aku!” katanya pada anggota skuad yang belum terluka.
Mereka berhasil menemukan Frita di bagian paling ujung.
Sementara itu, Baskara pergi keluar, mencari sinyal untuk menghubungi seseorang. Ia tahu Aditya pasti menang dan ia tahu paramedis akan dibutuhkan secepatnya. Maka ia ambil inisiatif sendiri.
“Ke mana Baskara?” tanya seseorang.
“Entahlah!” jawab Rinda.
Mereka berkumpul tak jauh dari tempat Aditya beradu pedang dengan Hestu. Ya, jelas saja Aditya unggul jauh, sebab luka di selangkang Hestu lumayan pedih. Lelaki jahat itu akhirnya tak imbang. Ia ambruk, terjajar ke belakang, dan Aditya tanpa buang waktu segera menyabet lehernya.
Hestu melotot terkejut.
Tidak, lehernya tidak sampai putus. Tapi darah mengalir deras dari leher Hestu. Ia berusaha menahan aliran itu dengan sia-sia saja.
Pada saat itu, Aditya merasa seolah segala beban hidupnya terangkat
Frita tak banyak bicara kecuali bilang, “Cepat bawa aku pulang!”
Mereka tiba di permukaan ketika ambulans yang dipanggil Baskara tiba. Polisi juga sudah ada di sana.
Jimmy Wijaya menyapa Aditya, “Hei, Dit. Ada apa lagi ini?” katanya
“Seseorang yang harus kubereskan demi masa depan pernikahanku,” jawab Aditya sambil menatap santai pada Jimmy.
Para petugas kepolisian menyisir lokasi gudang obat tua itu, dan mereka terkejut mengetahui betapa ada bunker yang sangat terawat di bawah sana.
Para perawat mengurus mereka yang terluka. Aditya dan Frita duduk di salah satu ambulans itu. Mereka berpelukan dalam diam. Mereka berharap, ke depan, tak ada lagi peperangan. Tak ada lagi darah atau kematian. Ke depan hanya akan terjadi kedamaian. Dan itu berlangsung selamanya-lamanya.
“Mas?” tanya Frita setelah beberapa saat dirinya mulai tenang.
“Ya?”
“Setelah ini, tak ada lagi, kan?”
“Ya. Tak ada lagi.”
“Kita memiliki anak yang banyak?”
“Boleh saja, selama kamu bahagia.”
__ADS_1
Frita memeluk Aditya dengan lebih erat dan mereka berdua berciuman tanpa peduli setiap mata di sana memandangi mereka.
Tamat