Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 240


__ADS_3

Paman Salim saat itu mengira situasi sudah mulai aman. Dari malam hingga siang itu tak terdengar ada korban baru.


Polisi dan para warga yang menyisir setiap sudut hutan jati juga tidak menemukan siapa pun. Bahkan mereka sampai harus menyewa lampu-lampu besar untuk menerangi setiap sudut tergelap desa untuk memastikan keberadaan penebar teror itu.


“Pelaku pembunuhan itu sudah tidak ada. Menghilang seperti siluman saja! Kalau memang bersembunyi di rumah salah satu dari warga, mereka pasti sudah mati,” kata seorang petugas.


Para warga sendiri sudah mulai memberanikan diri keluar rumah, dan mereka tidak menemukan ada saudara, teman, kerabat, sahabat, atau tetangga lainnya yang hilang ataupun terluka. Itu pertanda ‘peneror’ berhenti bekerja.


Tapi, apa mungkin?


Aditya belum terlalu yakin. Ia masih merasa perlu waspada. Ratna pun demikian. Ketika jasad Garin dibawa oleh petugas rumah sakit untuk diurus, Ratna terlihat sangat marah dan sekaligus sedih.


“Orang itu harus membalas kematian para warga di sini, juga kematian Garin.” Itu yang Ratna katakan.


Aditya tak bisa berbuat lain selain menghiburnya. Garin adalah sahabat Ratna dari mereka masih sangat kecil. Kini, Aditya yang lukanya belum terawat dengan baik mulai terlihat kesakitan.


“Ah, sialan!” gerutunya.


Ratna bilang, “Masih sakit? Sini, biar kuperiksa lagi.”


Ketika itulah Paman Salim pergi keluar untuk membeli makanan bagi Aditya, Yusi, Deri, dan Ratna.


Ratna kembali berkata, “Harusnya ini dibawa ke rumah sakit, Dit.”


“Tidak sampai orang sinting itu kita tangkap. Aku belum yakin pembunuh keji itu sudah pergi begitu saja dari desa ini,” sahut Aditya.


“Ya, aku pun sama,” balas Ratna sambil mengamati luka di balik perban Aditya.


Deri bilang, “Untuk apa juga dia datang kemari dan membunuhi banyak orang tak berdosa? Lalu, pergi begitu saja? Tidak mungkin!”


Mereka tadi tak menyadari Paman Salim pergi ke luar.


Paman Salim seketika ambruk bahkan sebelum meninggalkan halaman rumah.


Para tetangga yang ada di dekat situ segera lari ke segala arah, menyelamatkan diri masing-masing tanpa ada yang berani mendekat ke arah Paman Salim yang entah tertembak di bagian mana. Tak terdengar suara tembakan, tapi mereka tahu ada darah di tubuh Paman Salim.


“Tolong! Pembunuh itu datang lagi!” teriak seorang warga.

__ADS_1


Aditya terkejut dan berlarian keluar rumah, mendapati sang paman tergeletak entah hidup atau mati.


Ia tak peduli luka di dadanya yang masih pedih. Ia segera mengangkat sang paman untuk masuk ke ruang tamu. Paman Salim tertembak di bagian dada, tapi beliau seperti terlihat baik-baik saja.


“Cepat buka bajunya!” perintah Ratna yang segera dilakukan oleh Deri.


Aditya hanya bisa terduduk lemas melihat sang paman mungkin berada di ambang maut.


“Oh, syukurlah. Tertembak bukan di bagian yang fatal, tapi tetap Paman bisa saja kehabisan darah,” kata Ratna mencoba menenangkan Paman Salim.


“Saya masih bisa diselamatkan?” tanya Paman Salim cemas/


“Ya, saya akan berusaha, Paman,” kata Ratna.


Saat itu Paman Salim melihat ketulusan di mata Ratna. Sejujurnya, sejak detik saat ia ditolong oleh gadis itu, Paman Salim merasakan perasaan suka padanya. Sayangnya, Aditya sudah dijodohkan dengan Frita. Aneh. Ia dan Frita masih ‘belajar’ untuk saling menyukai, sementara di sini, sebuah kejadian mengerikan membuatnya mendadak suka begitu saja pada Ratna.


Namun, Paman Salim tak berkata apa-apa.


“Lagi pula ini semua bukankah urusan asmara Aditya? Aku ndak ada urusan sama sekali. Orang tua sepertiku hanya membuat sulit jika mengatur-atur perasaan mereka, bukan?” batin Paman Salim.


Beruntung pertolongan Ratna tak telat. Paman Salim berhasil diselamatkan. Beliau sungguh nyaris saja mati, tapi selamat dan membuat Aditya lega. Ia bahkan memeluk Ratna dengan sangat erat. Sebuah pelukan yang membuat perempuan itu bahagia, tapi sekaligus sedih.


“Kita akan memburu orang itu dengan caraku sendiri,” kata Aditya.


“Apa yang kamu lakukan, Dit?” kata Ratna yang baru saja kembali dari dapur sore itu.


“Tenang. Kuminta kamu menjaga paman. Aku tak mau kamu terluka juga seperti kami,” tukas Aditya sambil menarik lengan Ratna agar menjauh dari Yusi maupun Deri. Paman Salim ada di kamar, jadi beliau juga tak mungkin mendengar obrolan mereka.


“Maksudmu apa? Aku bisa turun tangan membantu kalian!” balas Ratna.


“Aku sudah punya tenaga bantuan. Mereka datang nanti malam. Sekarang aku tak butuh kamu terluka atau celaka, Ratna. Aku ingin kamu tetap selamat bersama Paman Salim,” ucap Aditya yang mendadak terlihat murung.


“Kenapa?” tanya Ratna cemas.


“Entah. Aku tidak yakin saja kali ini aku bakal tetap hidup. Yang jelas, pikiran ini biarlah hanya kita berdua saja yang tahu.”


“Kamu jangan ngomong begitu! Kamu tetap akan hidup, Dit! Dia hanya seorang saja. Samurai itu pasti mati di tangan kalian!” kata Ratna dengan kesal.

__ADS_1


“Ya, semoga saja.”


“Tapi, siapa tenaga bantuan yang kamu maksud?” tanya Ratna penasaran.


“Skuad Malam. Mereka sudah berangkat ke sini sejak tadi pagi atas permintaan dari calon mertuaku. Nanti malam tiba di desa ini.”


Mendengar nama Skuad Malam, Ratna merasa sedikit lega dan setuju ia tak akan ikut memburu sang samurai, melainkan menjaga Paman Salim di rumah saja.


Waktu pun berlalu. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Matahari merangkak turun dan menyisakan kegelapan. Saat itulah Skuad Malam mengetuk pintu.


“Baskara memang hebat. Kami tak tersesat, meski kamu memberikan alamat yang kurang lengkap,” kata Teo sebagai sapaan pertama pada Aditya.


“Yeah, lagi pula Komandan Malik sudah tahu di mana persisnya lokasi rumah ini,” jawab Aditya.


Mereka beristirahat sejenak, sebelum siap membagi tugas masing-masing di ruang tamu.


“Aku sudah menggambar beberapa skema di sini,” kata Aditya sambil membuka selembar kertas buku tulis yang sudah ia corat-coreti dengan garis-garis dan huruf serta angka.


Skuad Malam berkumpul di sekitarnya. Yusi dan Deri juga.


“Ini kita berpencar?” tanya Nancy.


“Ya,” kata Aditya.


Lalu dia pun membagi tugas siapa yang harus berada di mana, serta apa saja yang mesti mereka lakukan.


“Kita pasti bisa membodohi samurai biadab itu. Dengan caraku, kurasa, ini peluang terakhir bagi kita,” tegas Aditya pada mereka.


“Kita tak boleh gagal, ya?” tanya Baskara.


“Tak boleh.”


“Oke, berarti, kita jangan sampai gagal! Aku bisa pastikan tugasku berjalan dengan lancar!” sahut Charlie dengan penuh semangat.


Mereka mengangguk serempak.


Waktu itu pukul 20.00 WIB. Suasana desa sudah sangat sepi, jauh dari kebiasaan di Desa Sumber Kencana. Semua karena si peneror dari Jepang ini.

__ADS_1


“Sekarang kau akan menelan akibat kejahatanmu, Bajingan!” batin Aditya sambil membayangkan wajah Takeshi Yobu.


Bersambung...


__ADS_2