
“Ada orang miskin belanja di tempat ini? Cih! Ke mana harga diri toko ini sekarang,” ucap Luna saat dia melihat Ellena ada di hadapannya.
“Orang miskin?”
“Siapa sih?”
“Eh ... jangan-jangan cuma dibuat ambil foto biar busa pake baju yang bagus.”
“Eeh iya bener. Bisa jadi buat gaya-gayaan aja itu.”
Ada banyak suara dan mata yang kini mengarah ke arah Ellena. Tatapan yang merendahkan dan kata-kata yang sangat tidak enak didengar. Ucapan yang penuh penghinaan khas orang kaya saat melihat orang miskin di tengah mereka.
Ellena berusaha tidak melawan. Dia tidak ingin membuat keributan di tempat itu. Dia hanya ingin berbelanja dan segera pulang. Oleh karena itu dia tidak akan memedulikan suara yang ada di sana.
Ellena kembali berjalan menuju ke tujuannya. Dia menggandeng Nathan yang tidak tahu apa-apa itu ke arah kamar pas. Namun sayangnya tatapan mata Luna yang ada di depannya itu makin kesal saat Ellena tidak memedulikannya.
“Mau ke mana kamu!” ucap Luna sambil memegang lengan Ellena kuat sambil mendorongnya ke belakang.
“Bu Luna! Saya tidak tahu apa maksud ibu. Saya masuk ke toko ini, ingin beli baju untuk anak saya. Saya ke sini tidak seperti yang Ibu tuduhkan tadi,” jawab Ellena tegas dengan tatapan menantang pada Ellena.
“Apa?? Beli baju?? Ga salah denger apa ya. Mana ada kamu bisa beli baju di sini. Kalo satu mungkin iya, tapi kalo untuk ...,” Luna melihat ke tumpukan baju di tangan Ellena, “Ini baju segini banyak butuh berapa uang? Ga mungkin banget,” ucap Luna sambil menaikkan satu sudut bibirnya.
“Saya mau beli baju berapa pun itu urusan saya. Saya tidak meminta uang dari Ibu, jadi tolong jangan ikut campur dalam kehidupan dan urusan saya!” jawab Ellena makin tegas.
Bantahan-bantahan yang dilontarkan oleh Ellena membuat Luna makin geram. Emosinya makin naik dan makin tersulut tinggi. Luna menatap Ellena dengan tatapan penuh kebencian dan ingin menghancurkan wanita di depannya itu.
“Oh, udah berani sombong kamu sekarang ya! Kamu udah bangga setelah jadi pelakor! Kamu udah bangga setelah kamu datang merayu pacar oran? Oh ... apa kamu dapet uang ini juga dari hasil kamu jual rayuan?” tuduh pedas Luna pada Ellena.
“Eeh ...pelakor ternyata.”
“Dasar penjual kecantikan aja. Ga nyangka ya kalo masih ada manusia kata gitu berani tampil di depan publik,”
Suara cibiran kembali datang menyerbu Ellena. Tapi untung saja hal itu tidak membuat Ellena gentar menghadapi Luna. Dia tidak salah dan Sean adalah miliknya. Dia percaya pada Sean saat ini.
“Ell, ada apa ini,” ucap Siska yang mendatangi Ellena karena mendengar keributan di dalam toko.
“Bu, bawa Nathan bentar. Ellena mau beresin orang ini dulu. Dasar orang ga tau malu,” ucap Ellena yang tetap menatap tajam ke arah Luna.
“Apa kamu bilang? Saya ga tau malu! Mau saya permalukan kamu di sini.”
__ADS_1
“Berhenti! Tolong jangan membuat keributan di toko kami. Ini akan membuat pelanggan lainnya tidak nyaman berbelanja,” ucap manajer toko yang datang dengan langkah cepat.
“Kebetulan kamu di sini. Cepat usir wanita miskin ini. Saya pelanggan di toko ini, saya ga sudi kalo ada wanita murahan kaya dia ada di sini!!” ucap Luna sedikit berteriak.
Manajer itu tampak melihat ke arah Ellena. Dia melihat Ellena dari atas ke bawah. Pandangan manajer itu seolah menilai apa yang sedang dikenakan Ellena saat ini.
“Maaf ... apa Ibu akan berbelanja?” tanya manajer itu pelan.
“Tentu saja. Saya akan belanja di sini dan saya punya uang,” jawab Ellena.
“Punya uang. Uang pacarku yang sedang kamu rebutkan! Ingat, dia tunanganku wanita busuk!” teriak Luna.
“Ya ampun ...pelakor jaman sekarang ga malu ya.”
“Iya ... itu padahal ada tunangannya.”
“Tunangan? Maaf, saya tidak pernah merebut siapa pun. Kalau saya berhubungan dengan seseorang, saya juga akan pastikan kalau orang itu memang single sejak awal,” jawab Ellena sambil berusaha menahan emosi.
“Apa? Single? Jadi kamu pikir saya ini apa? Trus kamu pikir saya yang jadi pelakor di antara kaIian berdua, IYA?!”
“Saya ga pernah bilang gitu, Bu. Saya hanya ....”
Ellena yang sudah kepalang tanggung melawan Luna kini ingin mengakhirinya sekarang juga. Melihat tangan Luna terangkat, dia pun bersiap untuk menangkis tamparan Luna. Dia tidak ingin dipermalukan meskipun dia cuma orang miskin.
“Hentikan!!”
Terdengar suara seorang pria dari arah belakang di balik para pelayan toko yang juga ikut melihat keramaian yang dibuat oleh Luna. Semua mata kini mengarah ke arah sosok pria yang melerai Luna dan Ellena itu.
“Waah ganteng banget. Itu bukannya Presdir Pasifik Grup ya?”
“Eh iya ... itu orang yang kemarin ada di majalah kan. Ternyata yang direbutkan ini. Pantes aja.”
Sean datang mendekati Ellena sambil menggendong Nathan di tangan kanannya. Tanpa ragu tangan kiri Sean juga segera merangkul bahu Ellena.
“Berani sentuh dia sedikit saja, aku tidak akan segan menghancurkan kamu, Luna!” ucap Sean tegas.
“Sean,” panggil Ellena pelan.
“Kamu ga papa, sayang?” tanya Sean sambil menatap lembut wajah kekasihnya itu.
__ADS_1
“Aku ga papa. Sini sama Mama,” ucap Ellena mengulurkan tangannya pada Nathan.
Nathan rupanya terlalu nyaman saat bersama Sean. Dia malah menyandarkan badannya di badan Sean dan melingkarkan tangannya di leher Sean. Sepertinya ikatan batin sebagai ayah dan anak sudah mulai terjalin di antara mereka.
“Daddy. Dia Daddy aku!” teriak Aura yang melihat Nathan temannya di sekolah itu kini digendong Sean.
“Sean! Tega banget kamu lupain kita demi mereka. Dia cuma manfaatin kamu aja. Liat Aura nangis pengen kamu balik lagi. Sadar Sean,” ucap Luna yang kini mengiba seolah dia korban dari Ellena.
“Berhenti bersandiwara, Lun. Belajar terima kenyataan!! Ell, udah selesai belanjanya? Kita bayar sekarang ya,” ucap Sean sambil menggandeng tangan Ellena.
Pasangan itu segera berbalik meninggalkan Luna dan Aura yang menangis memanggil Sean. Luna sampai mengepalkan tangannya karena dia sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Sean padanya sekarang.
Tatapan semua orang kini beralih pada Luna. Mereka seolah sedang mempertanyakan kebenaran yang dikatakan Luna dari tadi. Hal ini karena orang yang ternyata sedang diperebutkan dari tadi adalah Sean Wijaya, Presdir yang sedang naik daun itu.
“Duh, masa sih anak Pak Wijaya kaya gitu?”
“Iya bener, lagian yang sama cewek heboh gitu siapa yang mau sih.”
“Iya bener.”
Suara-suara meragukan Luna kian terdengar berbisik-bisik. Luna yang tahu dirinya dikalahkan Ellena menjadi sangat dendam pada wanita itu.
‘Lihat Ellena!! Aku akan segera menghabisi hidup kamu!!’ tekat Luna dalam hati.
Sean mengajak Ellena dan Nathan pergi ke kasir. Dia tidak ingin orang tercintanya itu ada di sana lebih lama. Sean tidak ingin Ellena dan Nathan akan mengalami trauma psikis karena di permalukan di depan umum.
“Masih ada yang mau kamu beli ga?” tanya Sean.
“Ga kok. Kayanya ini cukup. Kita bayar sekarang aja ya,” tanya Ellena meminta persetujuan.
“Iya ... bayar dulu sana,” ucap Sean yang lalu mengajak Nathan yang masih nyaman di gendongannya pergi menemui seorang staf toko.
Ellena melihat ke mana Sean dan Nathan pergi sambil menunggu barang belanjaannya itu dihitung oleh kasir. Dia tersenyum saat melihat dua orang itu bisa akrab dan tampak sekali Sean sangat mencintai Nathan yang sedang asyik bermanja pada papanya.
“Daddy! Daddy! Back to me!!” teriak Aura sambil menangis sambil memukuli kaki Sean dan sesekali terkena kaki Nathan.
“Apaan sih! Cari papamu sendiri sana. Luna! Ajari anak kamu yang sopan!” hardik Sean pada Luna yang hanya berdiri diam melihat apa yang dilakukan Aura.
“Dia sudah bertemu papanya. Karena kamu papa kandung Aura!!” teriak Luna kencang.
__ADS_1
Bersambung....