Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 238


__ADS_3

Pagi itu di Desa Sumber Kencana.


Seorang pedagang ayam baru saja akan pergi ke pasar untuk mencari rezeki, tetapi tiba-tiba ia ambruk. Istrinya berteriak panik, karena dari mulut sang suami, keluar cairan hijau menjijikkan yang sangat bau.


“Wah, kenapa suaminya ini, Bu?” tanya seorang tetangga yang kebetulan lewat.


“Enggak tahu! Tiba-tiba saja begini! Tolong, tolong suami saya!”


Para warga seketika berkerumun di halaman depan pedagang ayam itu, tapi sayang mereka tak bisa berbuat banyak. Pedagang ayam itu tak sempat terselamatkan, karena bahkan hanya makan waktu kurang dari satu menit, dia langsung meninggal.


Istri si pedagang ayam menjerit-jerit marah sekaligus shock. Ia teringat akan beras yang dimasaknya tadi subuh. Kebetulan saja ia belum makan, jadi mungkin suaminya keracunan beras itu.


“Pasti berasnya! Suamiku pasti keracunan beras!” jerit wanita itu.


Warga segera menuju ke dapurnya, memeriksa karung beras keluarga pedagang ayam itu, tapi berasnya terlihat normal-normal saja. Bahkan kualitas terbaik, sebab sang pedagang ayam tergolong orang yang sukses di desa tersebut.


Dugaan lalu menuju ke ubi rebus yang semalam sempat mereka makan berdua.


“Tapi, Ibu tidak kenapa-kenapa. Kalau ubinya beracun, pasti ibu juga kena,” tukas seorang tetangga setelah dengar istri pedagang ayam itu mulai menuduh Paman Salim sebagai biang kerok suaminya keracunan.


Pagi itu menjadi pagi yang tak kalah menggelisahkan bagi Paman Salim. Ia kembali dituduh yang tidak-tidak, padahal sudah seminggu ini tidak menjual ubi.


“Saya malah baru balik dari Bandung!” kata Paman Salim.


Memang banyak yang percaya dan tahu itu. Mereka mau tak mau menuduh Si Dirga sebagai pelakunya, karena mungkin tak terima ayahnya kini dipenjara. Namun, di luar dugaan, Dirga ditemukan mati tergantung di pohon mangga di tepi desa.


Untuk sesaat mereka mengira Dirga memang pelakunya. Meski tak tahu apa yang diracuni oleh pemuda itu. Namun, tubuh Dirga babak belur. Bahkan ada sayatan pisau di perutnya yang terlihat jelas dari balik kaos putihnya.


“Bunuh diri tidak seperti itu,” bisik para warga sambil merinding ketakutan.


Siapa gerangan peracun juragan ayam dan pembunuh Dirga itu?

__ADS_1


Belum sampai rasa bingung itu terjawab, siang harinya mereka menemukan dua orang guru yang kerja di sekolah negeri terbaik di desa, yang sedang menyiapkan pesta perpisahan bagi para murid mereka usai kelulusan, terbaring tak bernyawa di tepi jalan menuju desa sebelah. Leher mereka digorok sampai hampir putus.


Orang-orang menduga mereka mungkin dirampok.


“Tapi, mana mungkin?” kata seorang warga tak percaya.


“Iya, benar. Apa juga yang mau dirampok dari mereka?” sahut warga lainnya.


Di hari yang sama, menjelang sore, mereka menemukan seorang bocah SMP yang juga suka bikin onar, tergeletak tak bernyawa dengan tubuh gosong. Bocah SMP itu tak lain adalah adik kandung Bandi, teman dekat Dirga. Bandi mengamuk mencari Deri yang ia curigai sudah melakukan itu.


“Apa buktinya saya dituduh begini?” bantah Deri.


“Ya, karena loe teman Aditya, dan dia musuh bebuyutan Dirga!” kata Bandi.


Tuduhan itu jelas tak berdasar dan orang hanya bisa memisahkan mereka berdua. Bandi malah disuruh menenangkan diri di rumah oleh para warga sementara ini. Deri merasa tak enak karena tuduhan itu, tapi warga tahu itu bukan salahnya.


“Ada sesuatu yang tak beres di desa kita,” gumam Pak Bambang.


Sampai hampir tengah malam hari itu juga, sudah 11 warga Desa Sumber Kencana mati dengan cara bermacam-macam dan sangat mengerikan. Deri diminta oleh Paman Salim untuk segera menghubungi Aditya di Bandung.


Saat itulah, keesokan harinya Aditya mendapatkan kabar itu.


Sampai siang berikutnya, warga desa yang mati mendadak dengan cara-cara sadis dan misterius masih terus bertambah. Paling tidak sudah total 26 orang yang mati di desa itu tanpa ada yang tahu pasti kenapa dan siapa dalang di balik itu.


Memang kematian mereka kebanyakan terlihat alami, tetapi beberapa yang mati tanpa ada tanda mati alami, membuat mereka curiga semua kematian itu pastilah ulah seseorang. Mungkin saja itu ulah dukun yang sengaja dikirim oleh mantan Pak Lurah yang dendam, yang kini mendekam di penjara.


Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada bukti untuk tuduhan itu.


***


Saat itu, dari balik gelap hutan di tepi desa, seorang lelaki misterius sedang asyik merokok. Ia mendengar orang-orang berteriak ketakutan. Ia bahkan tahu beberapa orang kini sedang berusaha mencari sesuatu atau seseorang dengan lusinan cahaya senter dan obor yang terlihat dari tempatnya duduk kini, tapi ia tak peduli. Bahkan meski para polisi turut membantu.

__ADS_1


“Ayo, kita cari pembunuh itu!”


“Ya, kita buru sampai dapat!”


Suara-suara itu membuat Takeshi Yobu tersenyum sinis.


“Bisa apa kalian? Memburu orang yang tak pernah kalian sadari kehadirannya?” batin samurai yang hatinya penuh dendam itu.


Takeshi Yobu atau yang biasa meminta dipanggil Yobu-San itu memilih lokasi yang bagus untuk bersantai sampai pagi berikutnya tiba. Ia bisa tidur dengan nyenyak di mana pun ia mau tanpa orang menyadarinya, sambil merokok atau bahkan membaca buku atau mungkin ia bisa juga menyeduh air panas untuk memasak mie instan.


“Aku sengaja begini sampai bajingan itu datang. Sampai saat itu belum terjadi, aku akan terus membunuhi orang-orang tak berdosa di desa sial ini. Ya, tentu, sang paman juga menjadi targetku. Tapi aku mesti menunggu waktu yang tepat,” katanya pada diri sendiri.


Sebagai lone wolf, Takeshi Yobu memang kerap bicara atau berdialog dengan diri sendiri seperti barusan terjadi itu. Dan kini ia melakukannya dengan sangat baik selagi menikmati membayangkan wajah marah Aditya ketika nanti sang paman dihabisinya persis di depan hidungnya.


“Ayolah, kapan kau datang? Urusan apa yang membuatmu belum juga datang ke tempat busuk ini, Aditya?”


***


Di helikopter, Aditya tidak henti meminta Deri memberikan informasi terbaru apa pun terkait keadaan desa. Ia tiba sore hari itu ketika korban pembunuhan sudah mencapai 37 orang.


Entah berapa ribu atau bahkan juta tetes air mata yang sudah tumpah di desanya ini selama 24 jam terakhir. Kini orang-orang tak peduli lagi pada tetangga sekitar dan tidak ada yang keluar rumah karena sibuk melindungi diri masing-masing.


Para bocah yang suka bermain di lapangan desa, sore itu tak terlihat. Orang-orang dewasa yang biasa terlihat mengobrol atau beraktivitas sewajarnya di hampir setiap sudut desa, kini juga sudah tak terlihat.


Aditya dan Yusi sengaja turun dari helikopter di lapangan kantor kecamatan. Dari tempat itu mereka diantar oleh mobil Pak Camat yang sudah mengenal Aditya sejak kasus Pak Lurah.


Setiba di halaman rumah Paman Salim, Aditya mendapatkan firasat buruk.


“Semoga saja firasatku ini salah. Semoga aku bisa segera menemukan penyebab kenapa orang-orang ini bisa mati!”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2