Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 24


__ADS_3

Makan malam pesanan Ellena dan Sean sudah datang. Pelayan segera menyajikan makanan itu di depan mereka. Ellena terlihat sangat gembira saat dia melihat steik dori yang dia pesan ada di depannya.


Sean tersenyum sendiri melihat aksi polos Ellena itu. Dia yakin, saat ini Ellena tersenyum lebar bukan karena bertemu dengan ikan dori, tapi bertemu dengan dirinya yang mampu membuat Ellena merasa seperti wanita yang sesungguhnya.


Sean mendapatkan kabar dari Mathias, kalau sejak Ellena dinyatakan hamil, hidup wanita cantik itu sedikit menderita. Dia banyak dibicarakan orang tentang kehamilannya itu dan juga tentang pekerjaannya yang makin keras dan berat untuk membahagiakan Nathan dan juga Siska.


‘Ell, aku akan mengganti semuanya. Aku akan mengganti semua air mata kamu, keringat kamu, lelah kamu dan semua derita yang kamu rasakan selama 7 tahun ini. Aku akan menggantikannya dengan kebahagiaan dan membuat kamu menjadi seperti seorang ratu. Kamu layak mendapatkannya, Ell,’ ucap Sean dalam hati sambil menatap wajah ayu yang sedang menikmati makanan di depannya.


“Eh ... kok liatin terus, kenapa? Ada yang belepotan ya?” tanya Ellena sambil mengambil serbet yang ada di pangkuannya.


“Ga kok, sayang. Cuma ga bisa aja ga liat wajah cantik kamu. Kamu begini aja keterlaluan cantiknya, apa lagi kalo kamu dandan. Ah ... lemah aku pasti,” ucap Sean sambil memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


“Alaaah ... gombal aja terus. Ga mempan buat Ellena,” ucap Ellena sambil mempoutkan bibirnya.


“Ga yakin kalo ga mempan. Tuh mukanya udah kaya udang goreng lagi.”


“Eeh ... ini bukan karena kamu. Ini karena kepedesan.”


“Oh pedes ya? Sejak kapan ada steik pedes ya? Udah kaya bakso aja ni makanan,” ucap Sean sambil terkekeh.


Sean dan Ellena melanjutkan makan malam mereka. Tidak banyak obrolan yang mereka lakukan karena Sean tampak sangat lahap menikmati makanannya. Tampaknya pemuda itu memang sangat lapar seperti yang dia katakan dari tadi. Ellena juga mencoba mencuri pandang untuk menikmati wajah tampan di hadapannya.


“Ell, kamu ada masalah ga di kantor?” tanya Sean.


“Masalah apa?” tanya Ellena balik.


“Ya apa aja. Target atau klien. Ato mungkin atasan kamu.”


“Emmm ... ga ada sih, semua lancar. Target promosi aku juga bentar lagi ketutup kok.”


“Bagus. Tapi aku ga suka kamu deket sama Devan.”


“Kenapa? Aku dengar katanya kalian saudara sepupu ya?”


“Ga penting soal itu, yang penting aku ga mau kamu deket sama dia. Aku ga suka!”


“Tapi ....”


“Ga ada tapi! Semua pokoknya ga boleh dan aku bener-bener ga suka kalo kami deket sama Devan!” potong Sean egois.


“Iya ... aku ga akan deket dengan dia.”

__ADS_1


Dua orang itu kembali menikmati makan malamnya. Mereka tidak bisa terlalu lama di sana karena hari sudah semakin malam. Sean tidak ingin Ellena pulang terlalu larut di rumahnya, oleh sebab itu setelah menyelesaikan makan malam, mereka segera pulang.


Di dalam mobil, Sean juga mengajak Ellena bercanda. Mereka sudah sangat akrab bahkan Ellena tidak lagi canggung untuk tertawa dan memukul lengan Sean. Sean menikmati waktu ini dengan sangat baik. Dia bahkan bisa menggandeng tangan Ellena selama di dalam mobil.


“Aku anterin kamu sampe rumah ya?” tanya Sean.


“Ga usah, di sini aja. Aku jalan masuk sendiri aja. Kan ga jauh juga.”


“Tapi ini udah malam, Ell. Aku anter ya.”


“Ga usah. Biasanya di sana ada hansip kampung yang keliling. Malah ga enak kalo nanti mereka liat kamu. Aku masuk sendiri aja.”


“Ya udah, tapi kabari aku kalo kamu udah di rumah nanti.”


“Harus ya?”


“Iya lah. Kan kita pacaran sekarang.”


“Kata siapa? Pede banget ni orang ya. Aku aja belum tahu nomor telepon kamu kok,” ucap Ellena sambil tersenyum.


“Dasar anak nakal ni ya. Sini ponsel kamu,” ucap Sean dengan pandangan gemas ke Ellena.


Sean segera mengambil ponsel milik Ellena yang dia pegang dari tadi. Sean kemudian memasukkan nomor telepon pribadinya di ponsel Ellena. Dia bahkan menuliskan nama ‘Sean Sayang’ untuk kontaknya. Lalu setelah itu dia menarik lengan Ellena agar mendekat padanya dan mengambil foto mereka berdua malam ini.


“Enggak kita belum pacaran. Aku masih mempertimbangkan kamu. Makasih buat malam ini, aku pulang ya,” ucap Ellena sambil membuka pintu mobil dan turun dari mobil Sean.


“Ell ... ada yang ketinggalan. Cepet banget sih turunnya?” keluh Sean.


“Apanya yang ketinggalan?” ucap Ellena sambil melihat Sean dari kaca mobil yang terbuka.


“Give me hug and kiss tonight, Ell.”


“No! Not now, Sean. Good night dan bye,” ucap Ellena sambil melambaikan tangannya.


"Eh ... nakal kamu ya," ucap Sean sambil tersenyum sendiri saat dia melihat Ellena melambaikan tangannya dari kejauhan.


Ellena mulai berjalan masuk ke dalam gang rumahnya. Jalanan sudah sangat sepi. Dia berjalan sambil tersenyum sendiri mengingat apa yang dia lakukan tadi bersama Sean. Langkah Ellena ringan dan sangat santai.


Ellena menghentikan langkahnya saat dia merasa ada yang mengikutinya. Ellena segera menoleh ke belakang untuk tahu apa yang ada di belakangnya. Saat dia menoleh, Ellena mendapati sosok Sean yang berjalan sedikit jauh di belakang Ellena.


Sean tidak ingin wanitanya itu jalan sendirian di tengah malam ini. Oleh sebab itu dia memutuskan untuk mengikuti meski tidak jalan bersama. Dia ingin menjaga Ellena sampai ke rumahnya.

__ADS_1


“Ell, kamu jam segini baru pulang, kamu darimana aja?” tanya Siska saat dia mendengar ada suara pintu rumahnya yang terbuka.


“Dari keluar sama temen, Bu.”


“Temen? Temen yang mana?”


“Besok aja Bu ceritanya. Ellena ngantuk, pengen tidur dulu. Besok kerja soalnya,” ucap sambil segera masuk ke dalam kamarnya.


***


‘Morning sayang. Kamu udah bangun belum?’ Sean menulis chat untuk Ellena yang membuat wanita di seberang sana berguling-guling senang.


‘Udah, kok kamu udah bangun?’ balas Ellena.


‘Aku ga bisa tidur. Semalam ga dapat kiss and hug soalnya.’


‘Ga usah manja! Kita masih ... masih apa ya? Pokoknya belum ada hubungan, jadi ga boleh ada yang seperti itu.’


‘Kok gitu sih. Ell, aku boleh nanya sesuatu ga?’


‘Boleh. Emang mau nanya apaan?’


‘Kapan aku kamu bolehin ketemu sama Nathan? Aku pengen kenal anak aku, Ell.’


Ellena terdiam membaca permintaan Sean di obrolan chat mereka. Dia ingin sekali menolak apa yang diminta oleh Sean itu. Tapi itu sama saja dengan dia egois pada Sean dan Nathan. Bagaimanapun juga, Sean adalah papa kandung Nathan.


‘Nanti pelan-pelan ya. Kamu masih bisa sabarkan?’


‘Iya ... tapi tolong kamu mau ya cerita soal Nathan. Aku bener-bener ingin tahu soal anak kita, Ell.’


‘Iya ... nanti akan aku ceritakan apa saja yang kamu ingin ketahui tentang Nathan.’


‘Makasih, Ell. Makasih udah jaga anak aku sampai sebesar ini. Makasih udah lahirkan anak yang luar biasa tampan. Pasti dia ngikut cantiknya sang Mama.’


‘Dia mirip kamu juga, Sean.”


Ellena kemudian mengirimkan beberapa foto Nathan ke ponsel Sean. Sean senang mendapat kejutan dari Ellena pagi ini. Dia tidak menyangka bisa melihat putranya setiap saat meskipun hanya melalui foto. Kini dia hanya tinggal menunggu waktu untuk bisa memeluk putranya itu.


“SEAAN!! Di mana kamu!!”


Terdengar teriakan seorang wanita di apartemen Sean. Pemuda itu sampai kaget dan ponselnya terlepas dari tangannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2