Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 131


__ADS_3

Aditya kembali ke ruangan Heni untuk menemui Dani, di perjalanan dia berpapasan dengan Pandu, Clarissa dan Frita. Mereka terlihat buru-buru hendak pergi dari rumah sakit.


“Kelihatannya buru-buru banget pak?” sapa Aditya.


“Iya Dit, tadi ibunya anak-anak nelepon dia bilang sedang menunggu kami di rumah. Kamu mau pulang bareng sekarang apa nanti nih?”


“Kalau saya pulang nanti nggak apa-apa kan pak?”


“Nggak lah, tapi jangan malam-malam ya,” kata Pandu sambil pergi diikuti oleh Clarissa dan Frita.


Aditya bukan tidak mau pulang bareng saat itu, tapi dia sebenarnya males untuk bertemu dengan Gina. Selama ini dia selalu menganggapnya orang yang tidak berguna. Gina juga kelihatannya tidak suka dengan kehadirannya. Karena itu Aditya memutuskan untuk pulang nanti saja dengan harapan Gina sudah pulang.


“Kenapa ibu datang mendadak seperti ini ya?” tanya Frita.


“Entahlah, mungkin dia ada keperluan penting sampai tidak sempat mengabari kita,” jawab Pandu sambil menyetir.


“Mungkin ibu mau ngasih kejutan ulang tahun buatku,” sela Clarissa.


“Yeh udah lewat beberapa minggu nih maunya dikasih hadiah terus,” ledek Frita.


Mereka semua akhirnya sampai di rumah. Tampak sebuah mobil mewah sudah terparkir di halaman. Gina bersama seorang sopir pribadinya sedang duduk di kursi luar rumah. Gina langsung bangkit menyambut kedatangan kedua putrinya. Mereka kemudian masuk ke rumah.


“Maaf ya Ris waktu ulang tahunmu mama tidak bisa datang,” kata Gina sambil memberikan kado.


“Nggak apa-apa kok mah,” jawab Clarissa sambil menerima kado dari Gina dengan senang.


“Tumben kamu datang ke sini tidak ngasih kabar dahulu?” tanya Pandu.


“Aku buru-buru datang kemari. Ris, kamu buka kadonya di kamar saja ya, mama ada keperluan penting sama papa.”


Clarissa hanya mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Frita yang juga hendak pergi ditahan oleh Gina, dia bilang sebenarnya keperluan yang dia maksud juga berhubungan dengan Frita. Wajah Gina terlihat menjadi lebih serius dari sebelumnya, entah kenapa hal itu malah membuat Frita berdebar.

__ADS_1


“Memangnya keperluan seperti apa hingga kamu mendadak datang kemari?” tanya Pandu.


“Sopir pribadinya Frita sekarang di mana?” tanya Gina mengabaikan Pandu.


“Dia sedang ada di luar-“


“Memang nggak bisa diandalkan tuh orang,” gerutu Gina memotong perkataan Pandu.


“Sebenarnya kedatangan ibu kemari membawa kabar gembira buat kamu Fri,” kata Gina sambil tersenyum.


“Kabar gembira apa bu?” tanya Frita.


“Ibu berniat menikahkanmu dengan anak kenalan teman ibu dari luar kota,” jawab Gina.


Pandu dan Frita sangat terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka jika itu adalah maksud kedatangan Gina ke sana. Bagi Frita sendiri itu malah seperti kabar buruk yang datang tiba-tiba. Bagaimanapun saat ini dirinya sudah benar-benar jatuh cinta kepada Aditya yang beberapa kali sudah menyelamatkan nyawanya.


“Kabar baik dari mananya Gin? Kamu kan tahu kita sudah mentunangkan Frita dengan Aditya!” tegas Pandu.


“Memangnya apa yang bisa diharapkan dari orang seperti dia mas? Bahkan sampai saat ini dia tidak berkontribusi apapun kepada Frita! Bahkan beberapa kali Frita malah berada dalam bahaya karena dia tidak berguna!” sanggah Gina.


“Menyelamatkan? Itu memang tugas dia! Kalau dia berhasil mencegah Frita di culik baru luar biasa!” tegas Gina. Sementara Frita masih tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


“Lalu apa untungnya Frita harus menikah dengan anak kenalanmu itu?”


“Banyak dong! Pertama, Diaz itu sudah selesai kuliah di Harvard, punya bisnis besar dengan penghasilan besar perbulannya. Kedua, ayahnya Diaz itu adalah seorang tentara. Dengan begitu keselamatan Frita juga bakalan terjamin,” jawab Gina.


“Siapa namanya bu?” tanya Frita pelan.


“Namanya Diaz Argawijaya. Ibu juga ada fotonya kok ganteng loh Fri, dia juga baik dan sopan,” kata Gina sambil menunjukan foto Diaz di ponselnya. Frita malah tersenyum memang wajahnya lumayan ganteng tapi kalau dibandingkan dengan Aditya yang sudah rapi tetap saja masih menang Aditya.


“Gimana kamu suka kan?”

__ADS_1


“Walaupun begitu aku masih tidak setuju! Tidak seharusnya kita menikahkan Frita kepada orang selain tunangannya sendiri!” tegas Pandu.


“Terserah mas! Orang yang mau menikah juga Frita. Memangnya siapa sih yang mau menikah sama orang yang penampilannya saja kayak gelandangan begitu? Ingat mas putri kita itu cantik banget, bahkan dia dibilang orang mah Rembulan Kota Bandung. Terus mas tega gitu nikahin dia sama Gelandangan kota Bandung?”


“Kamu itu tidak tahu sebesar apa pengorbanan Aditya untuk Frita selama ini!” bentak Pandu.


“Kok mas bentak aku sih?! Dari dulu kamu selalu begitu beruntung juga aku pisah denganmu!” balas Gina.


“Kalau Diaz jadi suami Frita aku yakin dia bisa berguna! Frita tidak akan sampai diculik! Ayahnya saja yang bernama Argawijaya selain pengusaha dia juga tentara, mana mungkin ada orang yang berani mengganggu keluarganya!” tegas Gina.


“Aku itu khawatir sama Frita! Wajar kan? Orang aku juga ibunya, yang sudah susah-susah melahirkannya. Wajar kan jika aku ingin orang yang terbaik untuk mendampingi hidup Frita?!” tambah Gina.


Frita terlihat mulai menangis, suasana saat ini mengingatkannya dengan saat-saat Gina dan Pandu hendak bercerai. Dia tidak ingin suasana itu terus berlanjut, dia tidak ingin Clarissa melihat kedua orang tuanya sedang bertengkar seperti itu.


“Sudah bu, yah. Kasian Clarissa jika sampai tahu kalian bertengkar seperti itu,” ucap Frita berusaha melerai pertengkaran mereka.


“Ayahmu memang sejak dulu tidak pernah memikirkan masa depanmu! Gimana Fri kamu mau kan menikah sama Diaz?” tanya Gina pelan.


“Ibu cuma ingin yang terbaik buat kamu nak. Ibu nggak mau mendengar kamu kenapa-napa lagi. Ibu selama ini selalu khawatir dengan keselamatanmu, mungkin ini permintaan ibu setelah sekian lama tidak bisa bersamamu, jika kamu menikah dengan Diaz maka hidup ibu akan lebih tenang,” tambah Gina dengan mata berkaca-kaca.


“Tapi kalau langsung menikah Frita masih belum siap Bu,” jawab Frita sambil terisak.


“Nggak apa-apa kok Fri, kita pelan-pelan saja sekalian kamu juga biar mengenal dulu Diaz. Ibu yakin kamu pasti langsung jatuh cinta sama dia. Ibu sudah sepakat dengan keluarga Diaz kalau minggu depan kita akan mengadakan acara lamaran. Sehabis itu kamu bisa punya waktu untuk mengenal Diaz dulu sebelum akhirnya menikah,” jelas Gina sambil memeluk Frita yang kian deras tangisannya.


“Iya bu,” jawab Frita pelan.


Pandu hanya geleng-geleng kepala saja karena Gina bahkan sudah menentukan hari lamarannya tanpa berunding dahulu dengan mereka. Selang beberapa menit kemudian setelah Frita setuju Gina pamit pulang. Sementara Aditya yang baru datang naik taksi online berpapasan dengan mereka. Terlihat rasa jengkel di wajah Gina ketika melihatnya.


Aditya langsung masuk ke dalam rumah dengan perasaan heran. Di dalam tampak Frita sedang terisak memeluk ayahnya. Aditya mengernyitkan keningnya. Frita langsung pergi ke kamarnya saat menyadari keberadaan Aditya. hal itu semakin membuatnya bertambah heran.


“Mbak Frita kenapa pak?” tanya Aditya.

__ADS_1


“Hmmmh, maaf Dit aku belum bisa memberitahunya. Kamu lebih baik menanyakannya langsung kepada Frita saja,” jawab Pandu bangkit sambil menepuk pundak Aditya. lalu dia pergi meninggalkan Aditya yang semakin bingung.


BERSAMBUNG…


__ADS_2