
Sore harinya Dani sudah bersiap di depan kantor bersama Aditya. tak lama Frita keluar dari dalam kantor. Dani masuk ke dalam mobil kemudian Aditya membuka pintu belakang untuk Frita. Sembari tersenyum manis Frita masuk ke dalam mobil.
“Kamu jangan lama-lama ya Dit,” kata Frita.
“Paling lama juga sampai besok Mbak, besok pagi-pagi aku usahain pulang deh,” jawab Aditya.
“Hati-hati ya,” ucap Frita sambil melambaikan tangannya.
“Iya.”
Mobil Frita sudah keluar dari gerbang kantor. Aditya kemudian naik taksi online untuk menuju rumah sakit tempat Bima di rawat. Di perjalanan dia terus merenung memikirkan setiap kemungkinan yang akan direncanakan oleh Black Mafia. Dia mengeluarkan lima tanda pengenal militer dari saku bajunya.
“Kali ini aku berjanji kepada kalian, aku pasti berhasil,” gumam Aditya sambil mengepal erat lima tanda pengenal militer itu.
Tak berselang lama akhirnya dia sampai di rumah sakit tempat Bima berada. Di luar rumah sakit tampak beberapa anggota geng Merak sedang bercekcok. Ketika Aditya datang mereka terus menatapnya tajam. Aditya dengan santai pergi ke dalam. Tampak Ratna sedang terduduk lesu di ruang tunggu.
“Kamu kok malah di sini Rat?” tanya Aditya sambil mengernyitkan keningnya.
“Dit..” ucap Ratna, tanpa ragu dia langsung merangkul Aditya sambil menangis.
“Kamu kenapa Rat?” tanya Aditya sambil membelai rambut Ratna yang terus terisak.
“Kakek Dit, kakek..”
“Kenapa dengan Kakekmu?” tanya Aditya mulai cemas.
“Lima menit yang lalu Dokter masuk ke dalam, kami disuruh keluar dari ruangan.”
“Kenapa?”
“Katanya dia kritis kembali. Sampai saat ini Dokter belum keluar juga,” jawab Ratna sambil terus menangis.
“Sudahlah, aku yakin kalau dia akan baik-baik saja. Sekarang siapa saja yang berada di dekat ruangannya?” tanya Aditya sambil mendudukan Ratna dan menyeka air matanya.
“Ada Viktor, Brian sama Verdi.”
“Verdi?”
__ADS_1
“Ya, dia anggota lama geng Merak yang baru diangkat menjadi petinggi belum lama ini.”
“Jadi sekarang ada empat petinggi di geng Merak?”
“Bukan hanya geng Merak Dit. Sekarang semua geng besar memiliki empat petinggi terbaik, satu wakil ketua dan tiga petinggi.”
“Sejak kapan sistemnya berlaku?”
“Sebenarnya kakek mengangkat petinggi baru sengaja untuk mengimbangi kekuatan geng Serigala yang baru-baru ini juga mengangkat petinggi baru bernama Tri. Kemampuannya benar-benar hebat. Karena itulah geng lainnya juga mengangkat petinggi baru untuk mengimbangi kekuatan geng Serigala.”
“Aku tidak mendengar kabar apapun dari Adrian atau yang lainnya perihal masalah ini,” ujar Aditya sambil merenung.
“Aku dengar geng Gagak juga mengangkat petinggi baru yang bernama Vendi.”
“Jika terus berlomba meningkatkan kekuatan bisa-bisa perang ketiga geng besar akan lebih cepat terjadi.”
“Kakek juga berpikir demikian karena itulah dia juga mengangkat petinggi baru, terlebih setelah insiden pertemuan tiga geng besar di bar geng Gagak waktu itu geng Serigala mulai sering mencari gara-gara dengan geng lainnya.”
“Tidak heran memang karena waktu itu mereka juga pasti marah karena kehilangan tiga wilayah kekuasaannya. Itu bisa kita pikirkan nanti lagi, sekarang sebaiknya kita pergi ke ruangan kakekmu,” ajak Aditya.
“Kenapa kamu kemari?” tanya Viktor sambil bangkit menghampiri.
“Sudah Vik, dia cuma mau nengok Ketua,” cegah Ratna menengahi.
“Aku datang ke sini hanya ingin melihat keadaan Ketua kalian saja,” jawab Aditya dengan tenang.
“Gue tahu lu punya niat buruk datang ke sini! Lu sengaja kan mau manfaatin kesempatan ini untuk menduduki posisi ketua geng Merak!” teriak Viktor sambil mencengkram kerah leher Aditya.
“Kamu terlalu berlebihan, aku tidak pernah punya niat seperti itu sedikitpun.”
“Sudah Vik! Jangan ribut di sini,” bentak Ratna sambil melepaskan cengkraman tangan Viktor.
Karena Viktor terlihat tidak senang dengan kehadiran Aditya, Ratna mengajak Aditya untuk duduk di tempat yang agak jauh dari mereka sambil menunggu Dokter keluar dari ruangan Bima. Rasa sedih terpancar begitu jelas dari wajah Ratna yang cantik.
“Kelakuan Viktor tadi jangan kamu ambil hati ya Dit,” ucap Ratna.
“Tidak apa-apa, aku yakin hal itu juga karena dia merasa sangat bingung dan panik dengan keadaan kakekmu saat ini. Oh iya sebelumnya apa hasil diagnosa Dokter terkait penyakit yang diderita oleh kakekmu?”
__ADS_1
“Menurut Dokter dia terkena serangan jantung. Beruntungnya waktu itu kami langsung membawanya ke rumah sakit jadi masih bisa diselamatkan,” jawab Ratna sambil tersedu-sedu. Aditya merangkul bahu Ratna, dia merasa sangat prihatin dengan keadaannya saat ini. Ternyata di balik perilakunya yang terkadang terlihat tomboy hatinya sangatlah rapuh.
“Memangnya sejak dulu kakekmu memang punya masalah dengan jantungnya?”
“Tidak Dit, setiap bulan dia selalu memeriksa kesehatannya secara rutin di rumah sakit tapi jantungnya tidak pernah bermasalah. Selama ini yang aku tahu kakek hanya punya masalah dengan penyakit darah tinggi saja,” jawab Ratna.
Aditya hanya mengernyitkan dahinya heran, jika memang jantungnya sehat-sehat saja seharusnya tidak akan terjadi hal seperti itu. Tak lama kemudian Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang perawatan Bima. Ratna dan Aditya juga langsung pergi menghampirinya.
“Bagaimana Dok dengan keadaan Ketua kami?” tanya Viktor.
“Bagaimana keadaan kakek saya sekarang Dok?” tanya Ratna.
“Kalian semua jangan khawatir, kondisi beliau saat ini sudah kembali stabil walaupun memang masih belum sadar. Jadi sejak saat ini kami akan rutin memeriksanya tiga kali sehari, selama pemeriksaan kami harap pihak keluarga untuk menunggu di luar ruangan,” jawab Dokter dengan tenang.
“Kami boleh melihat kondisinya?” tanya Brian.
“Silahkan, tapi jangan ribut,” ucap Dokter sambil berlalu pergi.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam. Terlihat Bima terbaring dengan mata terpejam di tempat tidurnya. Aditya hanya menatapnya dari kejauhan karena Viktor melarangnya untuk mendekat, dia khawatir kalau Aditya akan membahayakan Bima. Setelah cukup lama di dalam akhirnya mereka segera keluar meninggalkan Ratna sendirian. Aditya duduk sambil merenung, tiba-tiba Brian menghampirinya.
“Aku tidak tahu maksud kedatanganmu kemari, tapi sebaiknya kamu jangan sampai berbuat hal yang mencurigakan,” ancam Brian.
“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu, lagi pula mungkin kalian tidak tahu jelas kalau aku dan Ketua kalian berteman cukup baik,” jawab Aditya. tiba-tiba terdengar keributan di luar.
“Ribut sekali,” gumam Aditya sambil mengintip. Terlihat para anggota geng Merak sedang bercekcok kembali namun satpam rumah sakit tidak berani menghentikan mereka.
“Mereka cekcok terus dari tadi,” ujar Aditya.
“Setelah Ketua masuk rumah sakit mereka sering bercekcok. Entah siapa yang memulai tapi mereka terus meributkan siapa petinggi yang pantas menggantikan Ketua saat ini,” jawab Brian.
“Menyedihkan, itu hanya akan membuat geng kalian semakin lemah saja,” ucap Aditya.
Brian kemudian menelepon seorang anak buahnya yang ada di bawah untuk menghentikan percekcokan mereka saat itu. Tak berselang lama mereka kembali tenang. Namun tiba-tiba Aditya mendadak terkejut melihat dua mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Empat orang pria turun dari mobil.
“Kenapa mereka kemari?” gumam Aditya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1