Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 265


__ADS_3

Aditya tiba di rumah Shelly D lima belas menit kemudian.


Penyanyi idola para kawula muda itu terlihat senang, “Cepat sekali! Apa yang terjadi, Dit? Kamu menang?”


“Enggak lah. Aku kabur. Hehehe,” jawab Aditya enteng.


Clarissa menyahut, “Kamu pasti bikin mereka ngamuk, Kak. Tapi semua ini salah aku sendiri sih.”


“Tenang saja. Kan tadi Shelly D sudah menelepon polisi. Sekarang mereka sudah ditangkap,” sahut Aditya.


Clarissa masih tak henti menangis. Kesalahan seperti tadi, mabuk dan ikut balapan liar, mungkin tak terlihat aneh jika ditangisi sesaat. Tapi Clarissa menangis cukup lama. Sejak di arena balap tadi, hingga tiba di rumah, ia tak berhenti.


Shelly D dan Aditya memang belum tahu hancurnya perasaan Clarissa ketika sang pujaan hati menikah dengan kakak kandungnya sendiri.


Clarissa tetap bertekad menyimpan semua itu, dan biarlah hanya Frita saja yang tahu.


Shelly D menenangkan Clarissa dengan memeluknya. Mereka akhirnya terdengar bernyanyi di ruang tengah. Aditya berjalan ke dapur untuk mengambil air minum sebab haus.


Mendadak hapenya berbunyi. Ada telepon dari Frita, bertanya tentang kabar adiknya.


“Apa yang terjadi pada adikku, Mas?” tanya Frita cemas.


“Sudah beres. Hanya kenakalan anak muda saja. Semua sudah beres.”


“Apa sih? Kenakalan macam apa? Tolong jelaskan!” tanya Frita dengan suara yang terdengar marah.


Aditya heran. Jelas begitu, karena ia tak tahu Frita merasa cemburu atas perasaan adiknya pada Aditya. Takut kalau-kalau Aditya memang diam-diam menyukai Clarissa juga meski tak ada perselingkuhan di antara mereka.


Aditya akhirnya menjelaskan seluruh kronologisnya. Meski ia tak tahu kenapa adik Frita itu sampai mabuk segala di rumah temannya.


“Aku bisa ngomong ke dia sekarang?” tanya Frita.


“Ya, dia lagi nyanyi sama Shelly,” jawab Aditya.


Aditya melangkah ke ruang tengah, menyerahkan ponselnya pada Clarissa yang tak segera menerimanya.

__ADS_1


“Sudahlah, terima saja. Apa pun masalah kalian, bukankah kalian bersaudara? Aku enggak tahu apa yang terjadi, Dik. Tapi kalian bersaudara dan akan tetap begitu sampai maut memisahkan,” tutur Aditya memberi nasihat.


Clarissa luluh juga. Ia menangis mendengar perkataan Frita yang entah apa. Shelly D juga tak tahu dan tak ingin mencari tahu. Yang penting kini kedua kakak beradik itu bisa berdamai. Segalanya sudah dipastikan tak akan ada lagi masalah di antara mereka.


Clarissa bilang, “Kita akan ngobrol lagi setelah ketemu nanti.”


Setelah itu, telepon diputus dan Clarissa terlihat lega. Ia bahagia dan merasa bisa untuk menatap mata sang kakak seperti dulu. Aditya sempat mengira berantemnya dua kakak beradik itu sebab Frita berhenti jadi host di program yang sedang naik daun. Dan Clarissa malah bilang, “Ya, aku marah karena kakakku berhenti jadi host. Aku yang dari dulu pengen jadi artis saja cuma bisa berharap!”


Aditya dan Shelly D tertawa mendengar itu.


Shelly D bilang, “Yah, kapan-kapan kuajak main kalau ada undangan ke studio TV. Di sana nanti kukenalin deh kamu ke para produser.”


“Minta tolong ke Kak Frita juga bisa, kan?” tanya Clarissa.


“Oh, jelas bisa. Dia kan sudah kenal beberapa orang TV,” sahut Shelly.


Clarissa memutuskan menginap di situ malam ini. Aditya pun pamit pulang, tapi ia tadi ingat batal minum gara-gara ada telepon dari Frita.


“Eh, Shelly, aku boleh minta minum? Haus nih,” kata Aditya.


“Ya, ambil saja di dapur. Tadi enggak jadi kan?” sahut Shelly yang kini tampak asyik memilih kaset film yang akan ia tonton bersama Clarissa.


Mereka berdua terlihat bahagia.


Saat itu Aditya ada di dapur, membuka pintu kulkas dan memandangi jendela dapur yang setinggi dagunya. Di jendela itu berdiri tembok rumah tetangga dan cahayanya remang-remang. Ini rumah lama Shelly D, tempat ia sembunyi jika merasa jenuh dikejar para fans. Jadi tempat itu terlihat agak suram.


Aditya yang sedang asyik menatap tembok itu mendadak dikejutkan oleh bayangan yang bergerak ganjil dari balik tembok, lalu kemudian memanjat ke arah genteng rumah Shelly D.


“Brengsek. Apa itu?” gerutunya pelan.


Aditya membuka pintu dapur, dan menoleh ke arah menghilangnya bayangan aneh itu, tapi tak ada sesuatu di sana. Tak ada bunyi atau penglihatan apa pun yang bisa dia tangkap.


Aditya belum tenang. Ia merasa diamati, dan bahkan merasa diincar.


Akhirnya Aditya segera pamit pulang pada Shelly D. Ia bilang akan memesan taksi online saja, jadi tak perlu sopir Shelly mengantarnya.

__ADS_1


“Ya sudah, hati-hati di jalan, Dit,” kata Shelly.


“Selamat bermalam pertama, Kak,” kata Clarissa sambil mengedipkan mata.


Aditya hanya tersenyum pendek, tak terlalu merepons candaan itu sebab masih tak yakin akan bayangan tadi.


Maka, sekeluar dia dari rumah Shelly D, ia berbelok ke samping, memasuki pagar milik tetangga Shelly, dan melongok ke atas. Benar saja. Di atas rumah Shelly D saat ini bertengger seorang lelaki. Tak terlihat wajahnya. Sebab ia bertopeng. Sebuah topeng berwarna hijau yang menyiratkan dendam.


***


Reza digiring ke kantor polisi tanpa melawan. Ia hanya meminta menghubungi sang ayah saja. Entah bagaimana bisa polisi memberi izin begitu saja. Tanpa ada yang tahu, telepon singkat yang hanya empat detik itu digunakan oleh Reza untuk mengontak The Green Devil.


“Aditya. Ya, tadi aku sama Aditya. Sekarang dibawa ke kantor polisi,” katanya tak panjang lebar.


Tentu The Green Devil memiliki klien di mana-mana. Sebagian besar klien orang berpengaruh yang jahat dan nakal. Reza dan keluarga adalah salah satu klien potensial yang selalu ia puaskan.


Begitu mendengar nama Aditya, The Green Devil yang sempat gagal menghabisi Aditya waktu itu, malah berkata, “Tanpa dibayar pun, gue ladeni.”


Ya, itulah jawaban di telepon itu.


Reza segera menutup telepon, secepat mungkin menghapus riwayat panggilannya, dan membiarkan polisi menyita barang tersebut.


The Green Devil memiliki seribu cara dan alat untuk melacak targetnya. Dalam waktu singkat saja ia tahu di mana Aditya berada. Di rumah Shelly D. Rumah lama sang artis, tempatnya bersembunyi dari kejaran para fans liar.


***


Untuk sesaat, kedua sosok itu bertatapan.


Aditya tak membawa senjata. Tapi ia tahu The Green Devil membawa penembak pahah, sebuah senjata yang terbilang ribet untuk ukuran membunuh mantan pasukan khusus sepertinya


Tapi The Green Devil bukan pembunuh bayaran sembarangan.


Sebelum Aditya gesit memanjat tembok dan melompat ke atas genteng agar bisa menyerangnya, penjahat keji itu cepat memanah Aditya. Mungkin tak mengenai bagian vital, tapi tetap saja melukai Aditya.


Panah itu menembus lengan kiri Aditya!

__ADS_1


Membuat Aditya meringis dan bersumpah, “Baiklah, malam ini salah satu dari kita harus mati!”


Bersambung...


__ADS_2