
Aditya sedang menikmati sarapannya ketika lagi-lagi Rahman Sugandi menelepon. Lelaki berambut putih itu bilang, “Coba nyalakan TV!”
Segera saja Ratna mengambil remote, menyalakan TV. Berita kematian Setiawan Budi tersiar di sana. Terdengar begitu jelas di telinga mereka bertiga. Ya, tak salah. Pria tua itu sudah mati.
Frita-lah yang terlihat paling bahagia.
“Yes! Akhirnya bajingan itu mati juga! Sekarang enggak ada lagi yang tersisa dari para musuhmu, Mas!” katanya menoleh pada Aditya.
“Ya, memang,” tukas Aditya juga terlihat senang, tapi sejujurnya ia juga merasa ini semua terlalu aneh. Terlalu cepat. Setelah Rama mendadak mati dengan cara yang tak wajar. Kini giliran Setiawan Budi? Yang benar saja.
Menurut polisi yang bicara dalam berita itu, Setiawan Budi mungkin mati dirampok, tapi mereka belum dapat memastikan. Dan akan mendalami terlebih dulu TKP dan para saksi di rumahnya.
Terlihat dalam tayangan itu, beberapa politikus dan pengusaha besar yang selama ini berada di balik lindungan sang mafia. Mereka tampak berduka di rumah Setiawan Budi. Namun tak ada yang sedia diwawancarai oleh wartawan.
“Apa pun itu, mau dia mati dirampok atau entah kenapa, yang jelas semua ini sudah berakhir! Aku akan telepon Papa biar mereka semua bisa balik dari Belanda. Dan kita harus pulang hari ini juga,” kata Frita dengan penuh semangat.
Ratna yang juga menikmati sarapannya tampak tak berselera. Ia berbisik pada Adit, “Setidaknya tinggallah beberapa malam lagi.”
Aditya tak bisa menjawab dan hanya mengangkat bahu. Seolah berkata dari pikiran ke pikiran: “Aku tak bisa menolak permintaan istriku. Dan lagi pula sandiwara kita ini sudah selesai!”
Jelas Ratna tak bisa menghalangi mereka.
Frita segera mengemasi pakaian Aditya yang masih tergeletak rapi di dalam lemari sebagian besarnya. Ia juga tak lupa menghampiri Ratna.
Frita bilang, “Terima kasih atas sandiwaranya. Aku masih tidak percaya kalian bisa melakukan itu.”
“Kamu masih mengira kami berbohong?” tanya Ratna agak sinis.
“Oh, tidak,” sahut Frita yang kini sudah berdandan rapi, karena ia tidak bawa koper satu pun.
Aditya berdiri di antara mereka berdua, tampak seperti patung pajangan.
“Kalau masih tak percaya, sekali lagi, kamu bisa tanyakan Guru Tanpa Nama itu,” kata Ratna, lalu berbalik dan membiarkan mereka pergi tanpa sempat Aditya mengucap salam perpisahan.
Kini Ratna merasa tak tahu apa yang mesti dilakukan. Ia hanya memandangi tubuh Aditya menjauh ke seberang jalan bersama Frita, memasuki mobil mereka, lalu pergi ke rumah mereka sendiri. Sebuah rumah yang mungkin tak akan pernah sudi untuk Ratna sambangi.
Entah kenapa tangannya tergerak mengambil ponsel pintarnya, lalu dia menelepon salah satu sepupu jauhnya, yang tempo hari itu membantunya selama persiapan menikah dengan Aditya.
__ADS_1
“Aku cerai,” kata Ratna pendek. Nyaris tanpa tekanan dan nadanya sangat datar.
“Apa? Kamu mabuk?”
“Enggak. Aku sudah memutuskan cerai dengan suamiku. Aku enggak cinta dia,” kata Ratna.
“Kamu kenapa sih? Serius?!” tanya sang sepupu.
“Memangnya aku kedengaran bercanda?”
“Berapa hari kalian menikah?”
“Entahlah. Hitung saja sendiri,” tukas Ratna ogah-ogahan.
“Baiklah. Aku ke tempatmu, ya?” tanya sepupu jauhnya itu.
“Ya.”
***
Sepupu jauh Ratna itu adalah cucu dari saudara kandung mendiang Bima. Ia lama tak menjumpai Ratna sejak belasan tahun lalu, ketika mereka masih remaja. Sampai keduanya ketemu lagi ketika meninggalnya Kakek Bima saat itu.
“Hai, Ratna, kamu enggak kenapa-napa?” sapa Vino yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Ratna tampak duduk santai di depan TV, sambil minum entah berapa gelas anggur mahal koleksinya.
Vino memberi isyarat pada sang pacar untuk membantu membereskan gelas dan botol anggur itu.
“Sudah. Kamu jangan minum terlalu banyak,” katanya pada Ratna yang kini mulai jengkel.
“Terserah aku dong!” sembur Ratna.
Vino cuma mampu memeluknya. Ia dan pacarnya sepakat untuk menginap di rumah Ratna sementara waktu. Ia sudah tinggal di Bandung sejak Ratna memulai beberapa perusahaan baru sepeninggal sang kakek. Vino membantu banyak di perusahaan itu. Sementara saudara dan sahabat dekat Ratna banyak yang memulai lembaran baru di luar sana setelah Bima tiada.
Di luar dugaan Vino, Ratna ternyata bisa bangkit jauh lebih cepat. Ratna tertidur siang itu selama entah berapa jam. Malamnya ia menyambut Vino dan sang pacar yang duduk di ruang santai.
“Apa kabar kalian? Maaf tadi aku mabuk parah,” katanya.
__ADS_1
“Enggak masalah. Kami baik-baik aja. Kamu sendiri?” tanya Vino, mencoba untuk tak menyinggung langsung soal Aditya.
“Sejauh ini sudah baikan,” jawab Ratna. “Lagian kami menikah itu cuma pura-pura kok.”
“Apa?!” tanya Vino kaget. Pacarnya hanya bisa melongo tak percaya.
“Ya, cuma pura-pura. Sandiwara saja,” jawab Ratna santai sambil mencomot satu lembar roti tawar di meja bar yang terbuka. Ia bisa melihat Vino dan sang pacar yang ada di meja ruang tengah. “Kalian sudah makan?” tanya Ratna sambil mengambil botol selai kacang.
“Tunggu, tunggu! Sandiwara gimana maksudmu?” tanya Vino tak mengerti.
Ratna malah ngakak tak keruan. Ia kini bisa menertawai kejadian itu, sungguh. Ia sudah tak merasa sakit hati lagi. Ia mulai bisa merelakan Aditya setelah tidur siang yang cukup lama tadi. Entah keajaiban macam apa ini. Ratna pikir mungkin ketertarikannya pada sosok Aditya tak lebih dari nafsu semata.
Ia bilang, “Ya, semua itu cuma demi melindungi Aditya dari sosok Setiawan Budi. Kamu tahu kan, pengusaha kaya itu, yang rumornya melindungi banyak politikus busuk itu?”
“Ya, ya, aku tahu orang itu,” kata Vino. “Tapi kok bisa?”
“Ceritanya panjang kali. Udahlah, jangan dibahas lagi,” kata Ratna yang kini telah selesai mengolesi rotinya dengan selai dan melompat ke kursi di depan Vino, bergabung bersama mereka.
“Kamu enggak bercanda, kan?” tanya pacar Vino.
“Enggak. Tanya saja Aditya. Lagian dia juga sudah beristri, bukan?”
“Benar juga,” gumam Vino. “Tapi sumpah ini aneh banget, lho!”
“Hahaha, memang aneh kok. Tapi nyata. Sekarang sandiwara kami sudah selesai. Mana hadiah untukku?” kata Ratna tampak ceria.
“Hadiah atas apa?” tanya Vino dan sang pacar bersamaan.
“Karena aku sudah berhasil menipu kalian dan semua tamu, serta seluruh keluarga kita!” jawab Ratna.
“Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi,” kata Vino. “Tapi kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku enggak kenapa-napa, Vino. Aku justru mulai menyadari sesuatu. Ada hal lain yang jauh lebih berharga ketimbang mengejar orang yang tak mencintai kita. Bukan begitu?”
“Ya, kurasa benar apa katamu,” jawab Vino.
Ia masih mencemaskan Ratna. Tapi obrolan mereka berikutnya, yang berjalan amat lancar dan normal, membuat Vino yakin sepupu jauhnya itu memang baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung....