
Aditya berhenti melangkah ketika dari pantulan kaca bangunan dia melihat Javier mengambil ponselnya. Dengan cepat Aditya melompat mundur, sebuah peluru melesat tepat di depan wajahnya.
“Lagi-lagi Sniper!” gerutu Aditya sambil bersembunyi di balik mobil musuh.
“Cih, dia menyadarinya!” gerutu Javier.
“Sorry Vier, gue tadi belum dapat titik yang pas buat nembak,” ucap seorang pria di telepon.
“Nggak masalah, yang penting lu bantu back up dari sana.”
“Beres.”
Javier kemudian menembak tangki mobil hingga meledak, Aditya ternyata berhasil selamat dari ledakan. Javier dan empat anak buahnya memberondong Aditya dengan tembakan. Tapi Aditya masih selamat karena berlindung di balik pohon.
Frita mencoba untuk menahan tangis harunya. Dia juga mencoba untuk menenangkan hatinya yang terus berdebar ketika melihat Aditya datang untuk menyelamatkannya. Setelah apa yang dia lakukan kepadanya selama ini Aditya masih mau menyelamatkan dirinya.
“Kemampuannya benar-benar berbeda dengan orang-orang yang kita habisi di jalanan tadi. Sebenarnya siapa dia?” gumam Javier.
“Apa kalian mulai ketakutan?” ledek Frita. Javier terkejut sambil menoleh ke Frita karena seharusnya mulutnya masih di lakban.
“Siapa yang membuka lakban di mulutnya?” teriak Javier sambil menatap semua anak buahnya.
“Maaf bos,” ujar salah seorang anak buahnya sambil tertunduk.
“Kenapa lu buka lakbannya! Sekarang dia jadi berisik,” bentak Javier.
“Maaf bos tadi tangan saya kena tembak, saya gunakan lakban itu buat menutupi lukanya,” jawab pria itu sambil menunjuk lakban di tangannya.
“Bodoh!” bentak Javier.
“Asal kalian tahu dia lebih kuat dibandingkan orang-orang yang kalian lawan di jalan tadi,” kata Frita.
“Lu ambil lakban biar dia nggak berisik terus!” perintah Javier
“Cih! Jika aku terus di sini aku pasti gagal menyelamatkan Frita. Terlebih amunisiku tinggal sedikit lagi,” gumam Aditya sambil memegang pistolnya.
__ADS_1
“Sniper itu terlalu merepotkan, aku harus menghabisinya terlebih dahulu. Tapi aku yakin mereka juga tidak akan membiarkanku mendekatinya,” gumam Aditya sambil melihat sekelilingnya mencari tempat si Sniper menembak.
Aditya kemudian melesat pergi menjauh. Dia bermaksud mencari tempat si Sniper berada. Javier yang melihatnya segera melepaskan tembakan, namun tidak mengenai Aditya. Javier kemudian menghubungi si Sniper agar terus mengikuti pergerakan Aditya.
“Kalian bertiga segera kejar dia! Aku bersama orang bodoh ini akan mengawasi sandera,” perintah Javier.
“Baik!” jawab tiga orang anak buahnya sambil segera pergi mengejar Aditya.
“Seperti dugaanku, mereka benar-benar mengejarku,” ujar Aditya ketika melihat ada tiga orang anak buah Javier yang mengikutinya.
Aditya bersembunyi di balik sebuah pohon sambil bersiap menghadapi tiga orang yang mengejarnya. Tapi ketika tangannya muncul sedikit sebuah peluru melesat di hadapannya. Aditya kembali bersembunyi sambil menggerutu.
“Sniper itu benar-benar merepotkan,” gerutu Aditya sambil mencari rencana lain.
“Seharusnya tempat ini ke bangunan tadi sudah cukup jauh. Hanya ada satu kemungkinannya jika dia masih bisa melihatku disini. Dia berada di tempat paling tinggi di hutan ini,” gumam Aditya sambil mencari tempat yang cukup tinggi di sana.
“Dia di sana!” teriak seorang anak buah Javier sambil menunjuk persembunyian Aditya.
“Satu orang harus mendekat! Sisanya cover dari belakang!.”
Pria itu bersembunyi sambil mencabut pisau di tubuhnya sedangkan Aditya bergegas lari menjauh, dua orang anak buah Javier menembakinya tapi tidak mengenainya sama sekali. Di saat dia sedang berlari si Sniper terus mencoba menembaknya walaupun tidak berhasil karena pergerakan Aditya sangat sulit untuk ditebak.
Aditya menghentikan langkahnya karena di hadapannya terbentang jurang yang cukup dalam. Tapi si Sniper masih berhasil mengetahui keberadaannya walaupun tembakannya tidak tepat mengenai Aditya. tak lama kemudian tiga orang anak buah Javier berhasil menyusulnya.
“Mau lari kemana lagi lu!”
“Keluar lu kalau berani!”
“Dasar pengecut!”
“Kalian rupanya bermulut besar juga,” ujar Aditya dari balik pohon.
“Hahaha kenapa lu tidak keluar? Apa lu sudah kehabisan amunisi? Atau mungkin lu memang cuma seorang pengecut saja?”
“Kalian harusnya bilang seperti itu kepada teman kalian yang membidik diriku dari kejauhan. Katakan padanya kalau dia itu cuma pengecut!” ledek Aditya.
__ADS_1
“Cih! Kalian berdua lindungi gue!” ucap seorang lawannya sambil mendekat.
Baru beberapa langkah saja dia berjalan tiba-tiba saja lehernya sudah tertancap pisau. Dua orang temannya terlihat kaget ternyata Aditya menyerang mereka sambil tiarap di tanah untuk menghindari si penembak jitu yang terus mengincarnya.
“Cih! Dia cerdik juga!” gerutu sniper dari kejauhan sambil terus fokus melihat pergerakan Aditya.
Aditya berguling menghindari tembakan dua orang musuhnya. Dengan cepat dia mengambil pistol musuhnya yang sudah tumbang. Lalu sambil berguling dia membalas tembakan hingga satu lagi musuhnya roboh ke tanah. Aditya kemudian kembali bersembunyi di balik pohon untuk menghindari Sniper.
Tiba-tiba saja tanpa diduga orang terakhir yng ada di sana melompat ke tempat persembunyian Aditya sambil hendak menembak. Namun refleks Aditya yang cepat berhasil menendang lawannya hingga pistol yang dipegangnya terlempar. Namun diluar dugaan orang itu menerjang Aditya dengan tubuhnya. Mereka berdua terlihat jelas terjatuh ke jurang yang ada dibelakangnya.
“Cih, mereka berdua malah mati,” ujar si Sniper sambil turun dari atas pohon. Dia kemudian menghubungi Javier dengan ponselnya.
“Vier, pengganggu kita sudah tewas. Tapi tiga orang anak buahmu juga ikut tewas.”
“Benarkah?” tanya Javier dengan nada terkejut.
“Ya, aku melihat sendiri mereka jatuh ke jurang di selatan. Aku yakin tubuh mereka sudah hancur membentur bebatuan di bawah.”
“Baiklah, kalau begitu lu cepat kemari. Kita harus segera pindah dari sini,” kata Javier.
“Ya, kita sebaiknya bawa wanita itu ke tempat Ketua. Masalah formula bisa kita urus nanti.”
“Lu benar,” jawab Javier sambil mengakhiri panggilannya.
“Sayang sekali. Kelihatannya orang yang akan menyelamatkanmu sudah tewas,” ucap Javier dengan tersenyum menatap Frita yang tampak terkejut.
“Tidak mungkin, Aditya..” batin Frita sambil membayangkan wajah Aditya. tanpa sadar air mata kembali mengalir dari kedua matanya. Tubuhnya bergetar sambil tertunduk.
“Hahaha kelihatannya dia memang tidak beruntung karena berani melawan kita,” ujar Javier sambil tertawa.
“Hahaha benar bos, dia memang bodoh.”
“Lu juga bodoh! Cepat siapkan mobil, kita akan segera pergi dari sini,” perintah Javier.
Anak buahnya segera pergi untuk menyiapkan mobil. Javier menyuruh Frita untuk berdiri tapi Frita hanya terdiam saja. Tubuhnya seakan tidak memiliki tenaga sama sekali. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah Aditya.
__ADS_1
BERSAMBUNG…