Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 39


__ADS_3

Tiiit


Terdengar ada suara ID card pegawai yang di tempelkan di pintu depan. Kedua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu segera menoleh ke arah pintu.


Ellena segera memundurkan duduknya agar menjauh dari Sean. Tangannya juga meraih tisu yang ada di atas meja untuk melihat apa ada lipstiknya yang berantakan dengan menggunakan kamera ponselnya. Setelah bibirnya sudah dipastikan aman, Ellena melihat ke arah Sean. Dia takut ada lipstik yang tercecer di sana.


“Eh lipstiknya beneran bagus ternyata. Aman banget,” gumam Ellena pelan.


Tatapan mata Sean kembali tajam melihat ke arah pintu. Dia ingin tahu siapa orang yang berani mengganggu kencannya saat ini dengan Ellena. Sementara Sean menunggu orang itu muncul dan siap memarahinya, hal berbeda terjadi pada Ellena. Wanita itu tampak gugup, takut akan ketahuan ada di tempat ini bersama dengan Sean.


“Bos,” ucap Mathias yang muncul dari balik pintu.


“Heeh!! Bisa ketuk pintu dulu ga kalo mau masuk!!” bentak Sean pada Mathias yang membuat dia sedikit panik.


Mata Mathias menangkap ada Ellena di sudut sofa. Dia tidak tahu kalau Ellena ada di ruangan ini bersama Sean. Kini dia tau kenapa Sean marah kepadanya.


“Maaf, Bos. Saya tidak tau kalau ada Ellena di sini. Saya minta maaf,” ucap Mathias sambil menundukkan wajahnya.


“Sean ... udah, jangan dimarahi. Kan emang dia ga tau. Udah ya,” ucap Ellena menenangkan Sean.


“Hmm ... untung Ellena baik, ada apa?” tanya Sean lagi.


“Ibu Karina mencari Anda,” lapor Mathias.


“Mama ... ngapain dia ke sini?” tanya Sean.


“Saya tidak tahu, Bos. Tapi tadi Nindi mengatakan kalau Bos lagi ada klien. Jadi sekarang Ibu Karina menunggu di ruangan.”


Sean menoleh ke arah Ellena. Dia sebenarnya tidak ingin pergi dari sana. Dia masih ingin berduaan dan bermesraan dengan Ellena di sini. Tapi Ellena menganggukkan kepalanya, tanda dia menyuruh Sean untuk menemui mamanya.


“Aku duluan keluar ya. Aku harus mengambil berkas di sebelah,” ucap Ellena sambil berdiri.


“Ell, ini ketinggalan,” ucap Sean sambil memberikan kartu ATM yang tadi dia berikan untuk Ellena.

__ADS_1


Ellena melihat sebentar pada kartu itu sebelum menerimanya dari tangan Sean. Dia tidak ingin kalau nanti Sean marah kalau apa yang dia mau di tolak. Dia sangat tahu bagaimana sifat Sean.


“Aku ambil ya. Keluar dari sini 5 menit lagi ya,” ucap Ellena sambil memasukkan kartu ATM itu ke saku celananya.


“Aku akan cek tiap hari, Ell. Kalo sampe saldonya ga berkurang, aku bakal marah sama kamu,” ucap Sean memberi peringatan.


“Aku ga suka belanja. Jadi uang ini bakalan jarang kepake juga.”


“Aku ga mau tau. Pokoknya tiap hari harus ada belanja. Beliin Nathan mainan ato baju-baju juga sepatu. Ato apa aja lah. Kebutuhan rumah kamu, kebutuhan kamu sendiri dan Ibu mertua aku juga. Inget itu, Ell,” tegas Sean sebelum Ellena pergi.


Ellena tidak bisa menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mengerti apa yang diinginkan Sean. Membiayainya seperti seorang istri, membuat dia sedikit tidak enak.


Ellena takut dibilang matre. Apa lagi satu kartu ATM Sean pasti isinya tidak mungkin sedikit. Dia jadi sedikit bingung dengan apa yang akan dia lakukan dengan kartu pemberian Sean itu. Ellena memilih keluar saja dulu dan mengambil berkas yang tadi di suruh oleh Bu Silvia.


Ellena kembali ke ruang kesekretariatan. Di sana ternyata dia sudah di tunggu karena berkasnya sudah tersedia. Setelah mengambil berkas itu, Ellena segera kembali ke ruang kerjanya lagi.


“Duh ... pacaran kaya apa sih ini? Panik juga ya kalo sampe ada yang tau,” ucap Ellena saat dia sendirian di dalam lift.


Ellena melihat bayangan tubuhnya sendiri dari pantulan pintu lift. Dia sengaja menggerak-gerakkan badannya sedikit untuk melihat kecantikan yang dia punya.


Sementara itu di ruangan Sean, Karina sudah menunggu putranya itu datang. Dia duduk sambil melipat kakinya dan membuka majalah bisnis yang ada di atas meja. Dia duduk di sana dengan di temani secangkir teh hangat yang disuguhkan Nindi.


Sean dengan langkah malas menuju ke arah ruangannya. Dia sudah bisa menebak apa yang kira-kira akan di katakan oleh sang mama kali ini. Sepertinya akan ada pembahasan tentang Luna lagi kali ini.


Entah apa lagi yang diadukan oleh Luna saat ini pada mamanya. Mungkin saja tentang kejadian tadi pagi yang membuat dia kesal juga. Selama permintaan mamanya tidak memberatkan Sean masih mau berbaik hati membantu. Tapi kalau sudah berlebihan, tentu saja tidak akan.


“Ma ... kok ga kasih kabar mau ke sini?” sapa Sean sambil duduk di sofa single di dekat sang mama.


“Kamu udah beres sama klien kamu?” tanya Karina.


“Udah ... ini makanya bisa ke sini.”


“Ikut mama makan siang yuk,” ajak Karina dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Sean melihat ke arah sang Mama dengan tatapan yang penuh rasa curiga. Tidak biasanya mamanya melakukan hal ini, apa lagi dia juga adalah orang yang sangat sibuk. Sean sampai menautkan kedua alisnya agar sang mama tahu kalau dia curiga.


“Kenapa? Curiga sama mama?” tanya Karina yang tahu ekspresi anaknya.


“Makan sama siapa?” tanya Sean tanpa basa-basi.


“Tante Maya dan Luna.”


“Males ah. Ga minat banget,” ucap Sean sambil melangkah ke meja kerjanya.


“Sean ... kata kamu mau bantu Mama, kenapa sekarang malah kaya gini sih.”


“Ma ... ini udah terlalu lama. Dan Sean ga bisa terus-terusan di kekang ga jelas sama Luna. Kata Mama kan Sean bisa bantu dia sembuh dan terima kenyataan, tapi sekarang dia malah kaya pengen miliki Sean. Duh males banget.”


“Emang kamu ga suka sama dia?”


“Banget ... ga suka banget. Sean dulu mau bantu kan cuma karena Aura. Kasian liat anak sekecil itu di tinggal kabur pap dan mamanya sakit juga. Eh malah di manfaatin. Mulai sekarang ga mau lagi ah. Sean ga mau lagi terlibat sama Luna.”


“Kenapa sekarang kamu ga liat Aura lagi. Mama janji bakal lebih banyak terapi Luna.”


“Ga mau, anak itu udah ikut liar kaya mamanya. Masa iya anak sekecil itu udah mau tenggelamin temannya di sekolah. Kan ga bener itu,” ucap Sean mengadu pada sang Mama.


“Seriusan kamu?”


“Serius lah. Lagian ya Ma, masa dia ke sini trus buang makanan yang ada di atas meja Sean. Mana pas Sean ga ada lagi. Kan nyari masalah itu namanya.”


“Mungkin dia pengen perhatian kamu kali. Kamu bikin salah ke dia lagi ya?”


Sean melihat ke arah Mamanya, dia menatap sang mama penuh ketegasan. Sean ingin bersikap tegas kali ini. Dia tidak ingin hidupnya di setir lagi oleh sang mama.


“Ma ... kenapa Mama ga nyuruh Rian aja untuk bantu kesembuhan Luna? Kan dia dari dulu dekat sama Luna. Sean baru kenal sama Luna kan sejak Luna pindah ke Amerika sama anaknya,” tanya Sean pada mamanya.


“Ga bisa! Rian tidak mungkin dilibatkan dalam hal ini. Biarkan dia kerja seperti apa yang Papa kamu tugaskan ke dia,” tolak Karina.

__ADS_1


“Kenapa Rian ga bisa dan Sean harus? Ma ... Aura bukan anak Rian kan?” tanya Sean dengan nada curiga.


Bersambung....


__ADS_2