
Karina terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Sean kepadanya. Bagaimana mungkin Sean menanyakan kepada dirinya tentang siapa ayah kandung dari Aura sebenarnya. Padahal Karina sudah sering mengatakan pada Sean untuk tidak mengatakan itu untuk tidak menyinggung Luna.
Ada gelagat mencurigakan yang ditunjukkan oleh Karina saat Sean meluncurkan pertanyaan tersebut. Kecurigaan Sean kalau anak itu adalah anak kandung Rian sepertinya semakin besar. Selama ini Rian seperti dijauhkan dari sosok Luna, padahal dulu mereka dekat saat Rian masih bekerja di Amerika.
“Kok diem, Ma. Rian bukan Papa Aura kan?” tanya Sean lagi.
“Sean, kakak kamu ga mungkin lakukan itu. Dia orang baik-baik. Dia ga mungkin lakukan hal rendah kaya gitu,” ucap Karina membela Rian.
“Kalo bukan, trus kenapa Sean yang di suruh nemenin Luna? Apa karena Sean dulu suka main sama banyak cewek trus Sean dianggep bisa lakukan hal ini dengan mudah?”
“Ya kan kamu emang lebih mudah gaul sama cewek dibandingkan kakak kamu. Udahlah kamu ga usah banyak nanya soal ini. Ayo kita makan siang bareng. Di tunggu sama Luna kita,” ucap Karina sambil membereskan barangnya.
“Ga mau. Sean ga minat makan di luar.”
“Sean, jangan bikin Mama malu.”
“Apa?? Bikin Mama malu? Mama bilang Sean bikin Mama malu karena Sean nolak ajakan Mama buat makan siang sama Luna? Sean ga salah denger Ma. Sean yang malu jalan sama cewek gila kaya dia!” ucap Sean tegas.
“Sean!! Mama ga pernah ajarkan kamu ngomong kaya gitu selama ini ke orang lain!” ucap Karina tidak kalah tegas.
“Dulu memang Mama selalu ajarkan Sean baik tapi Sean suka seenaknya sendiri, tapi sekarang Sean sudah pengen jadi orang baik tapi Mama malah ajarkan Sean sesuatu yang buruk. Ma ... sudah cukup Sean kabur dari rumah karena tekanan Mama, sekarang lepaskan Sean. Jangan lagi tuntut Sean untuk terus sama Luna. Sean mau hidup sendiri, Ma. Sean mau atur dan jalani hidup Sean sendiri.”
“Buat wanita itu?” tanya Karina sambil memandang tajam pada putranya.
Sean kaget dengan apa yang dikatakan mamanya. Dia tidak menyangka kalau mamanya itu akan mengatakan tentang Ellena juga untuk menekannya.
“Jangan berani sentuh milik Sean, Ma. Mama udah tau kan kalo Sean udah nekat nanti bakalan kaya gimana,” ucap Sean memberi penegasan pada mamanya.
“Kamu selalu kaya gini. Terserah kamu lah. Awas aja kalo kamu bikin Mama malu!”
Karina segera mengambil tasnya yang ada di atas sofa. Dia segera pergi meninggalkan Swan sendirian di dalam ruangannya. Tanpa berpamitan lagi pada Sean, Karina keluar sambil membanting pintu.
__ADS_1
Sean menjatuhkan dirinya di atas kursi kerjanya yang sangat nyaman itu. Begitu kerasnya hentakan itu, membuat kursi itu sampai sedikit mundur ke belakang. Sean mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya. Hari ini terasa sangat berat untuk Sean.
Padahal tadi dia baru saja menghabiskan waktu yang indah bersama dengan Ellena, tapi sekarang dia sudah harus dibuat stres lagi dengan kehadiran mamanya. Sean menarik nafas panjang dan dalam untuk meredakan emosinya saat ini.
***
Jam pulang kantor sudah tiba. Ellena yang sedari tadi sibuk dengan banyaknya pekerjaan sampai lupa untuk mengecek ponselnya. Dia sangat larut dengan kesibukannya. Perasaan hati yang bahagia ternyata mampu membuat seseorang semangat bekerja.
“Ell, udah beres?” tanya Arina.
“Udah ... pulang yuk?” ajak Ellena dengan senyum indahnya sambil mematikan laptopnya.
“Aku masih ada kerjaan nih ... kamu duluan aja, aku naik yang kedua aja.”
“Yakin nih?? Apa perlu di bantu?” tawar Ellena pada sahabatnya.
“Ga usah ... tinggal edit kok. Kamu duluan aja. Kalo nunggu aku nanti takutnya kelamaan.”
Ellena segera memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas. Dia meraih gelas yang ada di depannya itu lalu segera menenggak isinya sampai tandas. Tangan Ellena meraih ponselnya dulu untuk mengecek apa ada pesan penting yang harus segera dia balas.
“Kok ga ada pesan sama sekali sih? Dia ke mana ya?” ucap Ellena pelan saat dia tidak mendapati pesan dari Sean.
“Apa dia sibuk juga? Ato dia lagi pergi keluar kantor? Hmm ... tapi masa sih dia sampe ga bisa hubungi aku sama sekali. Ah ... ya udah lah, dia emang aneh kok,” gerutu Ellena sambil sedikit manyun.
Ellena berpamitan pada Arina saat dia hendak pergi meninggalkan ruangan kerjanya. Saat dia berbalik dan hendak melangkah menuju ke pintu keluar, mata Ellena menangkap sosok Devan yang keluar dari ruangan Bu Silvia. Karena takut dipanggil, akhirnya Ellena melangkah dengan sangat cepat.
Ellena segera menekan tombol lift yang akan membawa dia ke lantai dasar. Ellena sudah membayangkan dia akan pulang cepat lalu akan bermain bersama Nathan dan mulai menceritakan pada ibunya dan juga putra tampannya itu tentang sosok Sean. Ellena ingin mempertemukan mereka berdua.
Saat sedang hendak menuju ke luar kantor, Ellena masih melihat ada mobil Sean terparkir di depan lobi. Itu menandakan Sean masih ada di kantor ini. Ellena yang sedang berdiri di depan meja resepsionis sampai tidak konsentrasi saat temannya mengajaknya bicara.
“Ell, ngelamun aja sih?” protes temannya.
__ADS_1
“Eh maaf. Eh ... Pak Sean belum pulang ya, ada tamu kah?” tanya Ellena sedikit berbisik.
“Enggak kayanya. Emang kenapa? Eh Ell, bener ya kamu naksir sama Pak Sean?”
“Haah!! Kabar dari mana itu?”
“Banyak yang bilang, Ell. Bahkan banyak yang bilang kalo sejak pesta itu kamu naksir si bos. Duh Ell, si bos kan udah punya calon istri, jangan sampe jadi permainan bos aja deh.”
“Pak Sean punya calon istri?” tanya Ellena pura-pura tidak tahu.
“Iya ... ih kamu ga tau ya? Makanya kamu tuh gaul, jangan kerja mulu. Kan tadi calon istrinya ke sini. Katanya ada kejadian di ruangan Pak Sean.”
“Kejadian apa?” tanya Ellena penasaran.
“Aku ga tau jelas sih, pokoknya katanya calonnya itu cemburu. Cemburu sama kotak makan yang ada di atas meja kerja Pak Sean. Dan kamu tau, kotak makan itu di buang trus Pak Sean marah-marah. Duh ... kalo gini kan jadi makin bingung, itu kotak makan dari siapa.”
“Haaah!! Kotak makannya dibuang??” tanya Ellena kaget.
‘Kalo ada kotak makan dibuang sama Bu Luna, apa itu kotak makan aku? Apa itu artinya Sean boong sama aku kalo makanannya enak? Kenapa pake boongin aku ... kenapa dia boongin aku?’ protes Ellena dalam hati.
Mata Ellena melihat ke lantai atas gedung perkantoran ini. Lantai atas itu masih menyimpan Sean di dalamnya. Dia ingin bertemu dengan Sean saat ini. Dia ingin tahu keadaan Sean, kenapa dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya tadi saat mereka bertemu.
Tanpa memedulikan lagi apa yang dikatakan oleh teman resepsionisnya, Ellena segera berlari menuju ke lift lagi. Dia ingin pergi menemui Sean saat ini juga. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dari mulut orang yang dia cintai itu langsung.
“Kenapa Sean lakuin ini. Kalo emang kotak makan aku tadi dibuang Bu Luna, harusnya dia bilang. Kenapa dia sampai bohong segala. Kenapa dia simpan semuanya sendiri. Dasar Sean! Egoisnya berlebihan!” gerutu Ellena di dalam lift.
Ting
Lift telah sampai di lantai tempat Sean bekerja. Ellena sedang menunggu pintu lift itu terbuka. Perlahan pintu itu terbuka dan menampakkan sosok seorang pria yang berdiri di luar lift. Tatapan mata Ellena dan pria itu saling beradu.
Bersambung....
__ADS_1