Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 245


__ADS_3

Amy Aurora terlihat duduk santai di atas sebuah kursi. Di meja bundar yang ada di depannya terdapat dua gelas kosong. Ada sebotol anggur mahal di samping kedua gelas tersebut.


Amy Aurora hanya menjawab keheranan Aditya dengan pertanyaan, “Apa kabar, Dit?”


“Kamu kenapa bisa di sini?” Aditya bergumam pendek, lalu duduk tanpa menanti dipersilakan dulu oleh Amy Aurora.


Tanpa bertanya-tanya pun, Aditya kini merangkai pemikiran sendiri. Bahwa wanita ini pastilah bekerjasama dengan Guru Tanpa Nama saat ini. Tapi, bagaimana mereka bisa kenal? Kalau soal Amy Aurora yang menjadi agen rahasia atau mata-mata, ia telah tahu sejak dulu.


Tapi, Aditya justru bertanya, “Bukankah kamu sudah bosan dengan semua ini?”


“Tentu saja bosan. Siapa tidak bosan hidup dikepung bahaya sepanjang waktu? Aku di sini juga tak percaya bisa bertemu denganmu lagi, Dit,” sahut Amy dengan suara tenang.


Ia lalu tersenyum pada Aditya dan mempersilakan pemuda itu untuk mendekatkan gelasnya ke botol yang kini ia angkat.


“Mari kita minum dulu sebentar. Masih ada waktu sampai nanti jam 2 dini hari,” kata wanita itu.


Aditya tak bicara lagi, kecuali terus memandangi Amy Aurora yang entah kenapa kini terlihat begitu berbeda. Ia kini tampak sedikit lebih kurus. Dan wajahnya yang indah diterpa sinar rembulan, membuat wanita yang terbilang jangkung untuk ukuran orang lokal itu terlihat cukup misterius.


“Aneh,” kata Aditya. “Sekarang aku merasa kamu benar-benar misterius.”


“Kalau kamu mau tahu kenapa aku bisa ada di sini, sebaiknya jangan tanyakan itu pada Rahman Sugandi. Aku takut dia tersinggung atau apalah. Itu urusan kami berdua di masa lalu. Sebuah janti yang harus kutepati,” sahut Amy.


Aditya mendadak tertawa, membayangkan wajah Rahman Sugandi terakhir kali di saat mereka berpisah dulu. Ia juga penasaran sekali bagaimana kini tampang lelaki yang saat ini entah berumur berapa itu?


Aditya sendiri tak pernah yakin usia sang Guru Tanpa Nama memang 50 tahun. Tapi yang pasti sudah cukup tua, meski terlihat tidak terlalu lemah atau sakit-sakitan.


“Aku sendiri juga ada di hadapanmu saat ini juga karena janji, Amy,” tukas Aditya setelah pikirannya tentang Rahman Sugandi beralih ke kehidupan pribadinya yang tidak pernah benar-benar tenang.

__ADS_1


“Ya, aku tahu kamu akan menikah. Tapi, situasi ini sangat mendesak. Kamu belum dengar dari Guru kita itu? Mari kita sebut saja Rahman Sugandi sebagai ‘guru kita’ saja sejak sekarang,” kata Amy.


“Belum! Aku malah belum tahu apa yang mesti kulakukan dan ke mana aku harus pergi untuk membantunya.”


Amy Aurora segera menjelaskan bahwa semua ini terkait harta karun nasional yang berupa benda-benda langka dan berharga milik museum, yang jika diperjualbelikan di pasar gelap, akan memberi keuntungan sangat besar bagi siapa pun pencurinya.


“Jadi, kita harus menangkap pencuri itu? Selicin apa dia sampai negara, dan entah siapa yang menyuruh Guru kita itu, harus meminta bantuan orang seperti kita?”


“Oh, tidak, Dit. Ceritaku belum selesai,” kata Amy. “Kita tidak sedang memburu seorang pencuri. Mereka justru sudah mengurung pencuri itu di salah satu penjara yang tersembunyi.”


Aditya menebak-nebak bahwa penjara yang dimaksud mungkin penjara di mana ia waktu itu ditugaskan untuk mengelabui Si Tua Leo. Jika benar begitu, ini sama saja misi mempertaruhkan nyawa. Apa yang mesti ia kerjakan?


“Sejujurnya aku benci harus pergi lagi dari Frita dan Pamanku. Tapi merasa lega karena sudah melarang polisi memberi tahu ke mana aku pergi tadi,” kata Aditya.


Amy Aurora hanya memandangnya sambil tersenyum.


“Lanjutkan, apa yang mesti kita lakukan?” tukas Aditya dengan tampang yang kini terlihat antusias.


“Sempurna! Sebuah janji di masa lalu dengan orang yang banyak membantuku saat itu, kini membawaku kembali menjadi narapidana palsu, dan biar kutebak. Pasti nyawa jadi taruhan, bukan?”


“Bisa iya, bisa juga tidak. Tugasmu membujuk pencuri yang bernama Rai Siluman itu. Untuk memberi tahu di mana keberadaan benda terakhir yang ia curi. Ia tak pernah mau mengatakannya. Ingat, Dit. Rai Siluman bukan orang sembarangan. Sejak pertama ditangkap, ia terus membisu dan hanya pengacaranya saja yang bicara.”


Aditya sudah bisa mengira seberapa sulit tugasnya ini. Tapi, itulah yang memang ia harus lakukan. Kata Amy Aurora, Aditya harus bisa membujuk Rai, mempengaruhinya, sehingga barang curian terakhir itu bisa diselamatkan.


“Sepenting apa benda itu?”


“Bukan benda antik seperti yang kamu bayangkan mungkin. Tapi dokumen negara. Sebuah dokumen kemiliteran yang jika dibocorkan ke dunia, negara kita rentan diserang oleh siapa pun,” tukas Amy Aurora yang kini tak lagi terlihat santai.

__ADS_1


“Entah bagaimana Guru kita itu mendapat urusan seperti ini,” gerutu Aditya tidak senang harus menghadapi misi berat sekali lagi.


“Kudengar ia kenal dekat dengan Menteri Pertahanan. Berkat bantuan guru kita itu juga Rai Siluman berhasil ditangkap. Kau tahu sendiri Rahman Sugandi sangat disegani dan dikenal di kalangan pebisnis barang antik. Pencuri seperti dia, mudah saja dilacak, asal guru kita menginginkannya.”


Setelah mengobrol beberapa menit lagi, ternyata sebuah telepon masuk. Amy lantas berdiri dari kursi, turun ke lantai satu toko roti tutup itu, dan menemui seseorang. Aditya turun juga menyusulnya ke bawah.


“Kita pergi lebih awal, Dit. Kamu siap?” tanya gadis itu.


“Sejak kapan aku pernah bilang ‘tidak siap’?” tukas Aditya.


Mereka segera menumpang sebuah sedan usang. Sedan itu dikemudikan lelaki yang tampaknya tak tahu cara tersenyum. Ia sama sekali tak menyapa Aditya sekalipun lelaki ini mencoba tersenyum pada sopir tersebut.


Sepanjang perjalanan itulah Aditya tahu ia akan diajak bertemu lebih dulu dengan Sang Guru Tanpa Nama, sebelum pagi ini juga ia diantar ke penjara khusus yang dijaga ketat oleh militer.


“Kamu sudah bertemu Rahman Sugandi? Eh, tadi aku lupa. Bagaimana kalian dulu bertemu? Kapan berpisah?”


“Ceritanya sangat panjang, Dit. Aku bisa saja menjadikan cerita itu sebagai sebuah novel kalau mau, tapi buat apa juga? Aku tak terlalu suka guru kita itu.”


“Bukankah dia baik?” tukas Aditya.


“Ya, memang baik. Tapi di titik tertentu aku dibuatnya kesal oleh tindakan-tindakan guru kita itu. Yah, seperti yang harus kamu jalani sekarang ini.”


Aditya hanya mengangguk. Bagaimanapun, mereka tetap menghormati sang Guru Tanpa Nama. Amy Aurora juga mengalami nasib yang sama di masa lalu. Ia mengenal Rahman Sugandi berkat pertolongan lelaki itu padanya.


Sopir menoleh ke belakang sekitar sejam kemudian, berkata bahwa dua belas menit lagi mereka tiba di rumah rahasia milik Rahman Sugandi.


“Aku sungguh penasaran seperti apa dia sekarang?” gumam Aditya.

__ADS_1


“Aku pun sama,” sahut Amy.


Bersambung...


__ADS_2