
“Kamu cuma harus tersenyum dan terima obatnya. Jangan lupa nanti di minum sebelum tidur.”
“Iya iya. Terima kasih ya Dit.”
Mobil mereka kembali melaju di jalanan. Rani pikir ternyata Aditya orangnya tidak seperti yang Frita sangka. Dia pikir mungkin Frita selalu salah paham dengan Aditya, hingga dia selalu menganggap salah setiap tindakan Aditya.
“Kita mampir dulu yuk di warung bakso,” ajak Aditya.
“Loh, aku masih kenyang tahu,” jawab Rani.
“Kan aku yang kelaperan. Dari tadi sore belum makan nih. Kamu sih enak sudah makan sama mbak Frita,” kata Aditya sambil memegangi perutnya.
“Boleh deh,” ujar Rani.
Dia merasa kasihan kepada Aditya. tadi sore memang Frita rencananya mau ngerjain Aditya tapi malah terjadi hal yang mengerikan.
Aditya dan Rani masuk ke kedai bakso. Mereka sengaja duduk di kursi paling dekat dengan jalan, agar dapat melihat suasana indah malam hari kota Bandung.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil mendekat dengan perlahan. Di dalamnya ada dua pria sedang mengawasi gerak-gerik Rani, yaitu Yana Suryana dan Angga.
“Ada apa Yan, Kok berhenti di sini?” tanya Angga heran karena Yana menghentikan mobilnya di belakang sebuah mobil.
“Itu tuh. Kalo nggak salah itu kan mobilnya Frita,” jawab Yana sambil menujuk mobil di depan mereka.
“Ah yang bener. Masa Frita nongkrong di tempat seperti ini.”
“Noh lihat. Itu Rani kan? Berarti emang mereka lagi makan bakso di sini.”
“Tapi kok dia semeja sama pria sih Yan.”
“Mana?”
“Itu tuh. Eh bukannya itu si sopir baru ya?” tunjuk Angga sambil mengingat ngingat wajah Aditya.
“Iya bener itu sopir baru. Wah cari masalah nih dia, berani deket-deket sama putri senja gua.”
Yana dan Angga keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Aditya dan Rani yang sedang menikmati bakso. Aditya menengok ke arah mereka sambil mengernyitkan dahinya. Sementara Rani masih asik makan bakso dan tidak menyadari kedatangan mereka.
“Ciee. Putri senjaku sedang kencan nih,” ucap Yana sambil duduk di kursi yang kosong di dekat Rani.
“Kencan apaan sih Yan,” kata Rani sambil terus menyantap makanannya.
“Wah nggak sopan banget nih sopir duduk semeja sama sekretaris direktur,” ujar Angga sambil menepuk pundak Aditya.
__ADS_1
“Biarin Ang. Begitu begitu juga dia itu masih tetap sopir kok. Masih berhak duduk di bawah meja,” timpal Yana sambil tertawa.
“Haha Iya juga ya. Aku lupa kalo sopir juga manusia,” ucap Angga.
Rani mulai risih dengan keberadaan mereka berdua. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Yana di tempat itu. Aditya tidak menanggapi hinaan mereka berdua. Dia terus melanjutkan menikmati bakso yang dia pesan.
“Rani, aku minggu ini sudah membuat beberapa bait puisi untukmu loh. Coba dengerin ya,” kata Yana.
“Kala mentari mulai meredupkan sinarnya,
Kala senja mulai menampakkan indahnya,
Kecantikan wajahmu bisa menandinginya.
Putri senjaku..
Aku pasrah kepada cinta yang kian membuatku resah,
Aku tumbang oleh rindu yang terus membuatku bimbang,
Cinta dan rinduku itu selalu ada untukmu.”
Rani hanya terdiam mendengarkan puisi yang dibacakan oleh Yana. Sedangkan Aditya tampak kesulitan menahan tawa dengan tangannya. Yana terlihat tersinggung dengan tingkah Aditya yang menganggap puisinya itu lucu. Yana segera bangkit dan berdiri di samping Aditya dengan wajah marah.
“Maaf Pak tenggorokan saya gatal ingin ketawa,” jawab Aditya sambil terus menahan tawanya.
“Maksudmu puisi yang kubuat itu lucu hah!” Yana semakin emosi.
“Eh emangnya lu bisa buat puisi seperti itu?!” tanya Angga dengan nada tinggi.
Beberapa pelanggan tampak melirik ke arah mereka karena suaranya terdengar seperti bertengkar. Rani mulai khawatir kalau Aditya akan dihajar oleh Yana, dia sudah tahu seperti apa sifat buruk Yana jika sudah merasa tersinggung.
“Sudah Yan. Aditya nggak mungkin berniat menertawakanmu, lagian puisinya juga abagus kok,” kata Rani sambil menarik baju Yana.
“Orang kayak gini harus dikasih pelajaran tahu Ran! Dia bakalan ngelunjak kalo terus dikasihani,”
“Aditya juga orang baru Yan. Mungkin dia tidak tahu kalau kamu menjabat sebagai salah satu kepala bidang,” ujar Rani sambil sedikit memuji Yana agar hatinya luluh.
“Kalo begitu kamu harus membuktikan kepada si sopir ini kalau emang kamu pantas dihormati!” kata Angga malah memanasi Yana.
Rani tampak menatap tajam Angga yang tersenyum. Dia pikir Angga mencoba untuk membuat Yana menghajar Aditya. Rani bingung apa yang harus dia perbuat jika sudah seperti ini. Tentunya Yana juga tidak akan semudah itu mendengarkan kata-katanya.
Yana kemudian memegang kerah baju Aditya. melihat ada orang yang ingin berkelahi di kedainya pemilik warung bakso itu datang menghampiri dengan wajah kesal. Dia mencoba untuk menasehati Yana dan Aditya agar tidak ribut di sana karena bisa menghancurkan barang-barang miliknya.
__ADS_1
“Saya akan mengganti semua kerugian dari kedai bapak,” kata Yana sambil mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dua lembar.
“Jika masih kurang, nanti akan saya tambah lagi setelah menghajar orang ini!” tambah Yana sambil menatap tajam pemilik kedai.
“Ba-baik Pak,” kata pemilik kedai sambil menjauh dari tempat mereka.
“Mau minta maaf nggak lu!” bentak Yana kepada Aditya.
“Maaf Pak,” jawab Aditya sambil tersenyum.
“Yang bener!” teriak Yana sambil meninju perut Aditya.
Rani menutup matanya ketika Aditya dihantam tinju Yana. Tampak Aditya malah tertawa lebar setelah menerima tinju Yana. Baginya tinju seperti itu tidak terasa sakit sama sekali. Karena kesal Yana membanting Aditya ke lantai dengan keras. Angga tertawa melihat kelakuan temannya itu.
Dengan cepat Aditya bangkit kembali sembari menatap tajam mata Yana. Melihat hal itu Yana sedikit heran karena Aditya tampaknya tidak merasa kesakitan sama sekali. Angga kini melayangkan tinjunya kepada Aditya namun dengan mudah serangan Angga ditangkis oleh tangannya.
“Boleh juga ternyata sopir ini,” gumam Yana.
“Kurang ajar juga ya,” kata Angga sambil melayangkan beberapa pukulan.
“Sudah sudah hentikan! Yana, Angga hentikan!” teriak Rani sambil mencoba memegang lengan Yana.
“Biarin saja Ran,” ucap Yana sambil tersenyum memegang tangan Rani.
Rani semakin risih melihat tatapan Yana kepada dirinya. Sedangkan Angga terus menerus menghajar Aditya. tampak pipi Aditya terluka karena mengenai meja ketika jatuh terkena tinju dari Angga. Aditya terus bangkit tanpa melakukan perlawanan hingga dirinya dibanting ke lantai.
“Ran. Aku beneran suka kamu,” kata Yana sambil memegang tangan Rani.
“Kamu ini, aku sejak dulu sudah bilang kalau aku tidak tertarik dengan yang namanya cinta,” jawab Rani sambil berusaha melepaskan genggaman Yana.
“Seperti apa pun dirimu, aku akan terus berusaha untuk membuatmu merasakan cinta yang sesungguhnya. Aku berjanji.”
“Lepaskan tanganku Yan.”
Aditya segera bangkit dengan wajah kesal karena Yana tampaknya sudah tidak waras lagi. Angga sedikit terkejut dengan tatapan dingin Aditya.
Dia merasa sedang beradu tatapan dengan seorang pembunuh. Tubuhnya sedikit gemetar melihat wajah kesal Aditya.
Aditya dan Yana lama bersitatap. Yana mulai melancarkan pukulan.
“Bangsat!” pekik Yana.
Adit sambal tersenyum menahan pukulan itu dengan santai. Terdengar tulang jemari Yana bergemerutuk karena Adit mencengkeramnya kuat-kuat.
__ADS_1
BERSAMBUNG…