
“Saya tahu jika mengatasi serangan hacker saja masih sulit untuk membuktikan saya tidak bersalah. Karena itu saya akan membuktikan siapa sebenarnya orang yang memasukan malware itu ke dalam komputer di ruangan pak Hadi,” jelas Aditya sambil berjalan mengelilingi Yana.
“Jadi lu nuduh gue?” tanya Yana sambil melotot.
“Nggak, gue cuma mau jelasin sedikit deduksi dari pemikiran gue.”
“Seperti yang semuanya tahu, kemarin memang saya adalah orang terakhir yang mengoperasikan komputer di ruangan pak Hadi, tapi coba lihat ini. Saya meminta bantuan pak Dani untuk menyelediki CCTV secara menyeluruh dan ternyata pak Yana juga sempat mengoprasikan komputer itu,” jelas Aditya.
“Gue cuma nyari file pribadi doang, lu jangan seenaknya nuduh. Coba tanyain Hadi!” bela Yana.
“Hemh file pribadi ya. Masuk akal sih emang. Tapi coba lihat setelah mencabut kembali flashdisk miliknya pak Yana hanya mematikan monitor saja.”
“Apa masalahnya?”
“Itu berguna untuk menjebak saya agar mengoperasikan komputer untuk mematikannya.”
“Tapi itu hanya dugaan saja. Mana bukti nyata jika saya adalah orang yang memasukan virus itu?” tantang Yana.
“Itu yang saya tunggu. Kalau boleh saya ingin meminjam flashdisk yang pak Yana gunakan waktu itu.”
Yana hanya tersenyum, dengan tenang dia memberikan flashdisk miliknya kepada Aditya, kemudian flashdisk itu Aditya serahkan kepada tim IT untuk diperiksa isinya. Yana hanya tertawa dan bilang jika Aditya konyol karena mengada-ngada agar tebebas dari tuduhan.
“Sayang sekali, mungkin pak Yana terlalu meremehkan bagian IT perusahaan ini. Atau mungkin pak Yana memang tidak tahu, bahwa jejak file yang bapak hapus dari flashdisk masih bisa di recovery lagi selama flashdisknya belum diformat walau memang kadang filenya sudah tidak utuh. Namun saya pikir itu sudah cukup untuk membongkat kejahatan pak Yana,” jelas Aditya sambil tersenyum.
Bagian IT kemudian berhasil menemukan jejak malware yang ada di flashdisk Yana. Setelah mereka cek ternyata malware itu sama dengan yang menginfeksi semua komputer di perusahaan. Yana hanya diam dengan keringat bercucuran.
“Satu hal lagi, saya yakin pak Yana tidak merencanakan hal ini sendirian. Sekarang tolong beritahu kami siapa orang yang bekerjasama dengan anda?” selidik Aditya.
“Jika iya, cepat katakan! Aku bisa memastikan hukumanmu tidak akan bertambah berat jika mengatakannya!” bentak Frita.
“Iya katakan! Kalau lu masih ingin hidup!” bentak William. Yana malah semakin tertunduk bisu. Dia tidak berkata sedikitpun.
“Seperti yang pak Willi bilang, katakan jika masih ingin hidup!” bentak Aditya menirukan William. Tangan kanannya memegang kerah baju Yana dan mengangkatnya hingga menyentuh tembok dan kaki terapung dari lantai.
Melihat Aditya yang marah seperti itu membuat semua orang kaget. Kata-katanya yang tegas serasa langsung menghujam ke tubuh. Tatapannya yang dingin benar-benar menakutkan. Frita kemudian batuk mencoba untuk memberi isyarat kepada Aditya agar tenang. Aditya melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
Saat itu juga Frita memecat Yana. Karena perbuatannya yang merugikan perusahaan Yana akan di proses juga di kepolisian untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, Dani juga berhasil mengumpulkan catatan kriminal lainnya dari Yana. Salah satunya ialah korupsi. Sebenarnya Aditya tahu siapa orang yang memerintahkan Yana melakukan hal seperti itu. Hanya saja saat ini dia belum punya bukti kuat untuk menyeretnya keluar.
“Jadi apakah sekarang saya sudah bebas dari tuduhan?” tanya Aditya.
“Sudah, aku minta maaf jika terlalu berlebihan. Kalian berdua lagi-lagi berjasa kali ini,” puji William sambil berjabat tangan.
“Tidak apa-apa, lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi agar tidak terjebak seperti itu,” jawab Aditya sambil tersenyum. Semua orang kemudian pergi dari ruangan itu menyisakan tim IT saja yang sedang bekerja.
“Terimakasih ya Dit. Aku tidak menyangka jika kamu bisa melakukan hal seperti itu,” ucap Frita.
“Aku hanya terpaksa melakukannya untuk membersihkan nama baik diriku sendiri,” jawab Aditya dengan dingin sambil pergi meninggalkan Frita.
Rumor tentang Aditya yang menghalau hacker tersebar ke seluruh bagian di perusahaan. Sherly yang mendengar kabar itu segera menghubungi Aditya untuk menentukan waktu makan malam mereka berdua. Mereka berdua akhirnya setuju untuk bertemu di sebuah restoran terkenal besok malam.
Sore harinya Aditya seperti biasa menunggu Frita di mobilnya. Ketika Frita datang dia melihat Aditya baru saja menelepon seseorang. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Mungkin masalah Hacker masih bisa diatasi, tapi sekarang yang membuatnya pusing adalah pembatalan kerjasama dari beberapa klien perusahaannya. Sampai rumah pun Frita masih murung.
“Kamu kenapa Fri?” tanya Pandu.
“Ayah belum dapat kabar?”
“Kalau begitu nanti saja aku ceritain.”
“Makin hari dia makin sering murung saja,” ujar Pandu.
“Maklum lah Pak, dia masih belum terbiasa dengan pekerjaan tambahan yang anda berikan,” ucap Aditya.
Malam harinya Frita hendak menceritakan kejadian hari ini di perusahaannya, namun Pandu bilang dia barusan tahu karena William menghubunginya. Aditya sendiri saat ini sedang serius berbincang dengan seseorang di telepon.
“Menurut ayah, aku harus bagaimana sekarang?” tanya Frita meminta pendapat Pandu untuk mengatasi permasalahan pembatalan kerjasama.
“Untuk saat ini kamu sudah melakukan langkah apa saja Fri?” Pandu malah balik bertanya.
“Aku sudah memerintahkan beberapa orang untuk menyelidiki akar yang mereka permasalahkan yaitu kualitas sample dan peroduk yang dikirim kepada mereka.”
“Lalu hasilnya?”
__ADS_1
“Hasilnya tidak ditemukan ada sesuatu hal yang aneh dengan semua itu. Mereka lebih terlihat mengada-ngada saja. Setelah aku telepon pak Dika untuk mengkonfirmasinya, dia malah tidak terima dan membuat alasan yang seolah dibuat-buat.”
“Jika seperti itu kelihatannya mereka memang sengaja ingin memutuskan kerjasama tanpa alasan yang jelas. Kemungkinan ada seseorang yang mempengaruhi mereka hingga membuat keputusan yang sebenarnya merugikan mereka juga.”
“Lalu bagaimana dong?”
“Nanti ayah bantu. Ayah akan menghubungi Presdir All Cosmetic untuk menanyakan permasalahan ini secara langsung.”
“Terimakasih yah. Aku benar-benar minta maaf karena masih belum bisa menghandle semuanya, malah aku masih ngerepotin ayah,” ucap Frita sambil tertunduk.
“Kamu ini, baru juga beberapa hari. Ayah yakin kok lama-lama kamu juga bisa melakukannya sendiri,” hibur Pandu sambil meembelai rambut putrinya.
Esok harinya di perusahaan Glow & Shine Co. kembali heboh karena ternyata orang yang kemarin marah-marah dan membatalkan kontrak kerjasama pagi ini datang kembali ke kantor. Frita dan Rani menemui Dika di ruang tunggu.
“Selamat pagi bu,” sapa Dika dengan ramah.
“Selamat pagi pak.”
“Saya ke sini hanya ingin minta maaf atas kesalahpahaman kemarin. Hari ini saya ingin menarik kembali semua berkas pembatalan kontrak kerjasama kemarin.”
“Kok seperti itu?” tanya Frita, walaupun dia sebenarnya senang ketika Dika ingin menarik kembali berkas pembatalan itu.
“Tadi malam saya sudah di telepon oleh pengacara anda. Saya akhirnya sadar setelah berbicara dengannya jika yang saya lakukan kemarin hanyalah kesalahpahaman saja.”
“Pengacara?” gumam Frita.
“Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja,” ajak Frita.
“Tidak, kemarin saya membuat masalah di sini. Karena itu hari ini saya juga harus menyelesaikannya di sini. Saya hanya ingin meminta maaf dan menarik kembali berkas kemarin.”
“Baiklah, Ran tolong ambilin semua berkas yang diberikan pak Dika kemarin,” perintah Frita. Rani mengangguk dan pergi mengambil berkas yang dimaksud Frita.
“Kalau boleh saya tahu, siapa pengacara yang anda maksud?”
“Saya tidak tahu namanya, saya kira bu Frita cuma punya satu pengacara saja. Tapi saya masih simpan nomornya,” jawab Dika sambil menunjukan nomor yang menghubunginya kepada Frita. Melihat nomor itu Frita heran sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG…