Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 309


__ADS_3

Sementara itu, di tempat tersembunyi.


Brenda Sukma meminta Marwan dan Shelly D untuk tak membuat suara. Ia tidak berbicara, melainkan memberi isyarat dengan jari telunjuknya.


Brenda Sukma yang terlatih bertahun-tahun mengintai, telinganya masihlah tajam. Ia bisa mendengar suara langkah beberapa orang di sekitar tempat tersembunyi mereka ini.


“Siapa yang datang?” tanya Marwan lewat bisikan.


Brenda Sukma cuma melotot ke arah suaminya. Menyuruhnya untuk tak lagi keluar suara.


Shelly D hanya diam ketakutan, berharap yang datang bukanlah orang-orang jahat itu lagi. Ia entah sudah berapa lama tak manggung. Tak muncul di ruang publik untuk beberapa lama jelas membuat banyak fans-nya cemas. Entah apa yang kini ada di pikiran mereka.


“Semoga kali ini Aditya menjemput kami, dan berkata kalau semua orang jahat itu sudah mati,” batinnya penuh harap.


Namun semua itu hanyalah harapan.


Brenda Sukma yang menempelkan telinga di pintu dapur yang terbuat dari kayu itu, mendadak terbanting ke lantai. Seseorang menendang pintu itu dnegan sangat keras/


Brakk!!!


“Aduh!” teriak Brenda spontan.


Marwan cuma bisa mengumpat, “Apa-apaan, Anjing?! Siapa kalian?!”


Orang-orang bertopeng tengkorak itu menghantam tengkuk Marwan hingga lelaki itu pingsan. Shelly D menjerit-jerit karena dijambak oleh salah seorang dari penerobos itu, dan menyeretnya ke dalam kamar.


“Diam kau, perempuan ******! Atau kubunuh ibumu!” kata lelaki asing itu.


Shelly D akhirnya berhenti berteriak, dan cuma bisa terisak-isak.


“Apa mau kalian?” tanya Brenda Sukma yang kini duduk bersimpuh di lantai dapur, memandangi atas, di mana para penerobos yang berjumlah entah berapa itu, berdiri mengitarinya.


“Kami mau anak gadismu yang seksi,” jawab salah satu dari mereka.


“Oh, dia sudah jadi milik seseorang,” kata Brenda Sukma sekenanya.


“Siapa orang itu, perempuan tua tolol?” sahut mereka dengan kasar, lalu salah satu darinya menampar Brenda hingga tersungkur ke lantai lagi.

__ADS_1


“Keluarga Setiawan Budi! Dia milik keluarga mafia itu! Kalian bisa mati kalau mau macam-macam dengan anakku!” kata Brenda.


Mereka justru tertawa.


“Hahahah! Setiawan Budi sudah mati, Goblok!” kata mereka.


“Ya, tapi keluarganya masih ada dan mereka semua setia!” sahut Brenda yang tak lebih cuma asal-asalan agar orang-orang asing yang tak tahu siapa ini segera pergi.


Namun mereka justru tertawa makin keras.


Di titik ini, Brenda tahu mereka adalah orang-orang suruhan Hestu. Ia pun tak lagi bicara. Membiarkan orang-orang itu memukulinya, menendanginya, lalu menyeret dia dan anaknya ke dalam sebuah mobil van bobrok.


“Ma, kita mau dibawa ke mana?” bisik Shelly D ketakutan.


“Entahlah. Kamu diam saja,” balas Brenda Sukma mencoba terlihat tenang.


“Papa mana?” tanya Shelly D.


“Kami meninggalkannya di rumah,” sahut salah satu penculik itu. “Tenang saja. Dia masih hidup kok. Kami biarkan memang. Toh dia enggak bahaya.”


Para penculik itu memang membiarkan Marwan pingsan di rumah persembunyian mereka setelah kabur terakhir kalinya waktu itu. Kini Brenda tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Dia juga ikut diculik.


Perjalanan dengan mobil van bobrok itu tak memakan waktu lama. Mungkin cuma setengah jam sampai mereka akhirnya tiba di salah satu markas Setiawan Budi di ktoa Bandung, yang kini jadi tempat Hestu menyombongkan diri sebagai raja baru.


Hestu memang kerap bersenang-senang setelah kematian tuannya yang lemah itu. Ia hanya merasa sedikit kesal ketika gagal membunuh Aditya waktu itu, tapi dia pikir masih ada banyak waktu.


“Sudah kau pastikan dia datang, bukan?” tanya Hestu ke seseorang via telepon. Tak tahu siapa orang itu.


“Ya, Aditya harus datang malam nanti, Bego!” bentaknya ke orang di telepon itu.


Kemudian terdengar suara berisik langkah kaki banyak orang dari arah depan.


“Nah, ini dia sudah datang!” kata Nino dengan senang.


“Oke, tak boleh ada yang menyentuhnya selain aku! Kalian boleh pakai gadis mana pun di tempat ini, kecuali dia,” kata Hestu pada Nino, Atari, dan juga Benny.


Mereka bertiga mengangguk. Para anak buah mereka juga mendengar itu dan tidak bakal berani menentang perintah Hestu.

__ADS_1


Brenda Sukma menatap wajah Hestu dengan jijik. “Hei, mau kau apakan anakku? Jangan coba-coba, ya!”


“Oh, si Putri Maut yang tak lagi berbahaya coba melawanku, ya?” sahut Hestu. Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekat ke arah Brenda dan menghajar rahang wanita itu sampai gigi-giginya rontok.


“Mama!” jerit Shelly D tak berdaya. Ia dicengkram oleh dua penculik berbadan kekar tadi.


“Lepaskan dia,” kata Hestu pada dua orang itu.


Shelly D berlari memeluk ibunya. Brenda tak berkata apa-apa, hanya meludahi tangannya sendiri yang kini ikut berlumuran darah dari mulutnya.


“Biarkan dia pergi. Aku yang kalian inginkan, kan?!” teriak Shelly menatap ke arah Hestu.


“Kamu apa-apaan? Sudah gila, ya?” kata Brenda pada anaknya sendiri. “Kita tetap di sini berdua! Apa pun yang terjadi!”


“Ya,” kata Hestu. “Kalian berdua tetap di sini, apa pun yang terjadi. Karena kamu, gadis manis, akan jadi selirku. Kamu harus selalu ada di sisiku, mendampingiku, kapan pun aku mau!”


Brenda tampak geram, tapi para anak buah Hestu menodongkan tongkat baseball ke arah kepalanya. Siap menghantamnya kalau berani menerjang.


“Dan, jika kau penyanyi cantikku, enggan melayani hasrat dan keinginanku, ibumu pasti bakal mati!” tambah Hestu, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


Sejak awal Hestu memang sudah tergiur melihat tubuh indah Shelly D. Sebentuk tubuh yang mengingatkannya pada mimpi-mimpi basah di masa lalu. Sebentuk tubuh yang selama itu hanya dimiliki oleh Rama Subandi saja.


Kini dialah yang berkuasa di sini. Maka, sepatutnya tubuh Shelly D juga menjadi miliknya.


“Anakku artis yang cukup padat jadwalnya. Sang manager juga mencarinya terus akhir-akhir ini. Kalau dia tidak manggung, orang akan curiga,” kata Brenda.


“Masa bodoh para penggila musik tak berguna itu!” bantah Hestu. “Mulai malam ini, Shelly D hanya menyanyi untukku!”


Brenda kesal dan berhasil merebut tongkat baseball itu, tapi tangannya tak cukup kuat untuk melukai para anak buah Hestu. Yang ada dia sendiri justru dihantam oleh tongkat itu sampai pingsan.


Shelly D cuma bisa menangis.


“Hei, kamu!” kata Hestu pada dua orang gadis penghibur yang bermain-main air di kolam di dekat kursi singgasananya. “Bawa dia ke kamar mandi. Bersihkan dan dandani seperti kalian sampai cantik!”


“Aku tak sudi kalian sentuh!” kata Shelly D.


“Oh, mau ibumu mati? Aku serius, Manis. Aku bisa saja membunuhnya di depan matamu sekarang juga. Gimana?” kata Nino dengan sorot mata yang licik.

__ADS_1


Shelly D pun tak berdaya, mau tak mau menuruti apa yang diminta oleh Hestu. Ia didandani sedemikian rupa malam itu untuk pergi ke acara ulang tahun Rako, menemani Hestu. Ke sebuah pesta dansa yang diatur oleh Hestu untuk kematian orang yang paling dibencinya.


Bersambung....


__ADS_2