
Pandu sekeluarga, termasuk juga Frita dan Clarissa, pergi ke Eropa esok paginya. Mereka berangkat dini hari setelah secara dadakan mempersiapkan para stafnya di kantor untuk mengurus tugas-tugas mereka sebelum kepergian itu.
“Kita bisa atur pekerjaan kita nanti dari luar negeri,” kata Pandu pada Frita.
Clarissa sendiri tak masalah ia untuk sementara tak berangkat kuliah. Lagi pula di kampus kini berkeliaran lagi Rako Subandi, yang dibencinya, yang juga tak mau henti mengincar tubuhnya.
“Sejak kejadian waktu itu, Rako jadi semakin kurang ajar. Dia sering diam-diam berjalan di belakangku, Kak,” kata Clarissa pada Aditya. “Stalker kurang kerjaan!”
“Tenang saja, selama kalian ada di luar negeri, semua akan aman saja.”
“Kenapa kamu tidak ikut, Dit?” tanya Pandu.
“Bukankah kekacauan ini karena saya? Jadi saya yang harus menyelesaikan,” jawab Aditya.
Mereka bermobil ke bandara melewati jalan yang tak biasa. Jaga-jaga jika saja di luar sana ada para pembunuh bayaran atau mungkin pengintai yang dikirim oleh Setiawan Budi. Namun tak ada suatu masalah pun sampai mereka tiba ke bandara.
Sementara itu, di desa, Yusi dan Deri juga sudah berkemas untuk mengajak serta Paman Salim pergi ke Belanda, menyusul keluarga Pandu.
“Kenapa kita mesti ke Belanda?” tanya lelaki renta itu.
“Ceritanya panjang. Ini soal musuh keluarga Tuan Pandu,” kata Yusi padanya.
Untunglah Paman Salim tak banyak bertanya. Andai saja ia tahu perginya mereka ke Eropa ini ada kaitan dengan sosok Setiawan Budi, mungkin Paman Salim tak akan mau pergi. Ia jelas khawatir pada Aditya. Yusi dan Deri sengaja tak bilang kalau Aditya tak ikut bersama mereka.
“Nanti kita akan bertemu mereka di Belanda,” kata Deri.
Aditya merasa lega setelah pesawat mereka terbang. Kini tinggal ia sendiri di sini, di Bandung, untuk menyelesaikan urusan dengan keluarga Setiawan Budi entah dengan cara macam apa.
“Selama keluarga Frita dan Paman Salim aman, aku dengan senang hati menghabisi musuh-musuhku,” batinnya. Ia juga tidak lupa meminta bantuan pada mantan anggota dari Skuad Malam, untuk menjaga Pandu sekeluarga di Belanda. Hanya Nancy yang tak bisa dihubungi.
Teo bilang, “Dengan senang hati kami membantu. Kami juga diberi izin oleh atasan kami, atas permintaan langsung Pak Pandu tentunya.”
Teo, Baskara, Charlie, dan Linda menyusul mereka ke Belanda sore nanti.
Aditya segera menyamar untuk menyempurnakan rencananya. Ia pergi ke salah satu kenalan, yang sudah diteleponnya sebelumnya.
“Sudah ada barangnya?” sapa Aditya di sebuah kedai kopi sederhana yang jauh dari keramaian jalan raya.
“Nih,” kata orang itu sembari menyodorkan tas ransel berisi kartu identitas baru dan beberapa lapis karet khusus untuk menutupi wajah asli Aditya. Ia segera berdandan di toilet umum di belakang kedai itu, merapikan janggut palsunya, merapatkan lem pada jidatnya yang juga ‘baru’. Kini Aditya terlihat seperti sosok yang berbeda.
__ADS_1
Aditya keluar dari toilet dengan perasaaan yang jauh lebih baik. Seseorang yang memberinya paket penyamaran khusus itu bertanya, “Bagaimana kabar Ratna? Kalian tidak pacaran?”
“Aku sudah menikah, Bro,” jawab Aditya pendek.
“Ya, ampun. Perempuan mana yang kau nikahi? Kau tak tahu seberapa naksirnya si Ratna padamu, ya?” balas orang itu sambil menyerahkan sebuah kunci mobil. Itu kunci mobil sebagai pelengkap samaran Aditya juga.
“Sudah tahulah. Sayangnya kami tak bisa pacaran,” tukas Aditya pendek.
“Baiklah. Jadi pekerjaan barumu bodyguard. Nama palsumu Rio.”
“Terserahlah. Aku nggak harus bekerja persis seperti di kartu ID yang kau berikan,” kata Aditya terkekeh.
“Ya, itu terserah kamu juga memang. Asal kau tahu, sembunyi memang jauh lebih baik.”
Mereka berpisah setelah saling menjabat tangan sebentar.
***
“Oh, jadi mereka kabur?” kata Setiawan Budi.
“Ya, Tuan,” jawab seorang informan./
“Kita hancurkan saja propertinya. Bakar semua rumah mereka, juga apartemen dan kantor mereka,” kata seseorang. Dialah sosok yang bernama Hestu, yang tempo hari disebut- sebut oleh Guru Tanpa Nama.
Hestu terlihat acuh tak acuh.
“Lalu kita baiknya harus bagaimana?” tanya Rama yang kini terpaksa harus terus memakai tongkat sebab kakinya tak bisa diselamatkan.
“Cari tahu siapa saja yang berangkat. Kita sekarang jangan lagi peduli pada Pandu dan perusahaan Frita. Itu bisa diurus belakangan nanti. Sekarang kita habisi saja dulu si Aditya itu,” jawab Setiawan Budi.
Para anak buah sekaligus keponakan dan saudara-saudaranya saling bertatapan.
“Ya, pastikan dia mati. Biar dendam pribadi itu terlunaskan,” lanjut Setiawan Budi. “Tapi jangan seketika mati. Kalau bisa, siksa separah mungkin.”
Paman Rudi yang mendengar itu cuma menunduk diam. Membayangkan di mana kini Aditya berada dan apa yang mestinya ia katakan pada pemuda itu. Kini Setiawan Budi justru bukan mengincar keluarga Pandu lagi. Kini Setiawan Budi ingin Aditya mati.
***
Penyebabnya sederhana.
__ADS_1
Sebuah kejadian kecil di masa lalu.
Waktu itu Salman alias Paman Salim masih sangat muda. Begitupun Setiawan Budi. Salman sudah berada di ambang kariernya sebagai penipu ulung bersama Kakek Darma ketika tak sengaja melihat Setiawan Budi masuk ke sebuah depot makan dari arah pintu belakang.
Setiawan Budi rupanya menggoda salah satu koki perempuan di sana. Sang koki itu tak berani, paham benar bahwa penggodanya orang yang dengan mudah membunuh jika memang mau.
Maka, ia biarkan telapak tangan kasar Setiawan Budi merogoh ke dalam roknya, meraba-raba pahanya, menggapai ****** ********, dan menariknya hingga kain tipis itu sobek.
“Tolong, jangan di sini! Suami saya bisa marah! Tolong, kita bisa lakukan di tempat lain!” tangis koki perempuan itu.
“Halah, banyak bacot!” bentak Setiawan Budi.
Saat itu depot belum buka tentu saja. Pemilik depot yang tak lain suami sang koki masih ada di rumah. Salman alias Paman Salim kebetulan bersahabat dengan mereka dan sering makan di sana. Dia juga menyewa kamar sempit tak jauh dari depot itu.
Melihat kelakuan Setiawan Budi, Salman tidak tahan. Ia ingin memberi pelajaran pada bajingan musuh bebuyutan bos barunya itu.
Maka, ketika Setiawan Budi memelorotkan celananya sendiri hingga kini ia bersiap menusuk sang koki dari arah belakang, Salman justru dengan tangkas meraih wajan di dekat situ, dan menyiramkan minyak jelantah pada pantat Setiawan Budi.
“Brengsek, apa-apaan ini?!” pekik Setiawan Budi. Ia tadi sudah sangat tegang, tapi seketika alat reproduksinya mengkerut.
“Dasar bajingan tidak tahu malu!” kata Salman sambil menggasak wajah Setiawan Budi dengan wajan itu hingga tersungkur.
Sejak kejadian itu, Setiawan Budi sudah menyimpan dendam pada Salman. Itulah kenapa Salman lebih mantap untuk ‘pensiun’ dari dunia penipuan, untuk kabur, kembali ke desanya yang tidak pernah diketahui oleh sekelompok penipu ibu kota itu.
Tampaknya, entah bagaimana, sebuah sumber menyampaikan hal menarik di mata Setiawan Budi tentang Aditya.
“Dialah bocah yang ditolong Salman di masa lalunya. Bocah yang dianggapnya tak ubahnya anak sendiri,” kata sumber terpercaya itu.
Ia bahkan memberikan sejumlah foto saat Aditya masih belia, juga foto baru-baru ini. Kata sumber itu, “Rudi tahu semua ini. Tapi dia bungkam. Dia tahu entah dari mana atau dari siapa.”
“Rudi? Tak mungkin saudaraku sendiri,” bantah Setiawan Budi.
“Tanya saja kalau tak percaya, Tuan.”
Setiawna Budi hanya terdiam cukup lama.
“Oh, jadi dia bocah yang dirawat orang yang dulu mempermalukanku, ya,” batin Setiawan Budi mulai geram.
Ia jelas tak lupa bagaimana malu ia dulu saat digrebek warga karena hampir saja memperkosa sang koki cantik itu. Ia tak lupa bagaimana ia sempat dipenjara beberapa bulan karena perbuatan itu, dan tak henti mendapat ledekan dari teman-temannya sebab yang mencegahnya itu tak lebih dari anak buahnya Kakek Darma.
__ADS_1
Kini, Setiawan Budi tak menginginkan hal lain. Ia hanya ingin Aditya mati dengan cara yang sangat kejam. Untuk Rudi saudaranya itu, dia akan menyiapkan hukuman tersendiri nanti.
Bersambung....