Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 34


__ADS_3

“Kamu lagi ngapain di sini?” tanya Frita dengan dingin.


“Aku sedang menunggu kedatangan adikmu,” jawab Aditya sambil membaca Koran.


“Jangan sok peduli gitu deh. Ngomong saja mau caper sama gua,” kata Frita sambil duduk di kursi.


“Duh serba salah terus ya,” ujar Aditya sambil tersenyum.


“Sudah kamu tidur saja sana!” ucap Frita sambil melotot.


Aditya tertawa kecil. Dia rasa Frita tidak cocok bertingkah seperti itu karena malah kelihatan lucu. Namun karena Frita terus menyuruhnya pergi dia mengalah juga. Frita merebahkan tubuhnya di kursi sambil membaca Koran.


Tengah malam Aditya keluar dari kamar hendak minum. Saat melihat ke arah ruang tamu dia tersenyum melihat Frita sudah tertidur di kursi. Aditya kemudian menyelimutinya dengan selimut yang dia bawa dari kamar Frita. Sejenak Aditya mengusap wajah Frita, Aditya menghela nafas, Frita ternyata begitu manis saat tertidur seperti itu.


Frita terbangun ketika mendengar suara aneh. Dia pikir itu pencuri, dengan segera Frita berlari ke lantai dua. dari dalam tampak Clarissa yang menimbulkan suara itu, dia naik ke teras lantai dua menggunakan tangga. Frita membuka kunci pintu teras.


“Mau berlatih jadi pencuri ya de?” tanya Frita sambil berjalan keluar teras lantai dua.


“Eh kakak, kok belum tidur?” tanya Clarissa sambil cengengesan.


“Siapa yang bisa tidur kalau adiknya malam-malam belum pulang!” kata Frita dengan wajah kesal.


“Maaf deh kak,” jawab Clarissa sambil tertunduk.


Mereka berdua kaget ketika mendengar ada seseorang yang tertawa kecil. Aditya tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar pembicaraan mereka. Dia merasa lucu ketika Frita bilang tidak bisa tidur padahal dia sudah terlelap dari tadi.


“Kamu kok bisa ada di sini?” tanya Frita heran, jelas-jelas tadi pintu teras masih terkunci.


“Orang aku dari tadi ada di sini,” jawab Aditya.


“Lewat mana?”


“Ya lewat dalam rumah lah masa naik lewat dinding.”


“Kan tadi pintu terasnya masih dikunci.”


“Bercanda, aku lewat tangga tadi,” jawab Aditya, dia tidak menyangka ternyata pintu teras dikunci.


“Seingatku tangga masih ada di gudang,” sela Clarissa.


“Oh itu, aku sengaja nyuruh si bibi buat ngembaliin tangganya ke gudang sehabis naik ke sini,” jawab Aditya.


Frita menatap tajam Aditya. dia masih meragukan jawaban Aditya. hanya ada satu jalan di dalam rumah yang menuju ke teras lantai dua. sedangkan pintu teras masih di kunci dan kuncinya masih tergantung di dalam, hanya Clarissa yang memiliki kunci cadangan pintu teras itu, karena dia terbiasa pulang mengendap endap lewat sana menghindari kemarahan Pandu.

__ADS_1


Jika memang lewat tangga maka itu juga aneh, karena jam segitu biasanya para pembantu sudah tertidur. Tapi jika tidak lewat tangga memang tidak ada jalan lain yang lebih masuk akal. Clarissa sendiri heran kenapa Aditya dan kakaknya tampak sudah begitu akrab lebih dari sekedar Bos dan sopir. Dia penasaran sebenarnya seperti apa hubungan mereka.


“Kok kalian kayak dekat gitu kak?” tanya Rissa penasaran.


“Dekat gimananya Ris! Siapa juga yang mau deket sama orang kayak dia!” ujar Frita dengan geram.


“Masa panggilannya aku kamu?”


“Itumah dia saja yang sok dekat sama kakak! Ayok segera tidur nanti kamu di marahin ayah lagi,” ajak Frita sambil menarik lengan adiknya.


“Iya-iya.”


Mereka berdua turun lewat tangga dalam rumah. Sedangkan Aditya turun lewat tangga yang dipakai Clarissa lalu mengembalikannya ke gudang. Clarissa langsung menuju kamarnya di lantai dua. Frita kembali ke lantai satu hendak minum air dulu. Ketika melihat ke ruang tamu dia kaget ternyata selimutnya ada di sana.


Ketika dia bangun tadi, karena tergesa gesa dia tidak sadar kalau selimut itu sudah menyelimutinya. Frita berpikir mungkin ayahnya yang menyelimutinya. Frita lalu kembali ke kamar hendak beristirahat. Aditya juga demikian.


Pagi harinya tampak Pandu sedang duduk di kursi ruang tamu bersama Frita. Sedangkan di depannya tampak Clarissa sedang menunduk.


“Kamu ini Ris, sudah ayah bilangin jangan pulang malam-malam kayak gitu. Ayah khawatir tahu,” ucap Pandu menasehati Rissa.


“Maaf Yah. Aku nggak bakalan kayak gitu lagi,” jawab Clarissa.


“Mana pulang lewat teras lantai dua lagi. Kamu ini perempuan atau laki-laki sih Ris,” omel Frita.


“Pokoknya ayah nggak mau kamu pulang malem lagi. Kalau ayah tahu kamu melakukannya lagi. Uang jajan kamu akan ayah potong.”


“Yah, jangan gitu. Rissa nggak akan pulang malem lagi kok janji,” ujar Clarissa dengan wajah memelas.


“Ya sudah. Ayo berangkat sekolah.”


Mereka bertiga keluar dari rumah. Aditya terlihat sedang mengelap kaca jendela mobil sambil bersiul. Frita melihatnya hanya tersenyum masam, dia pikir Aditya sedang mencoba menarik perhatiannya agar tidak dikerjai lagi. Tanpa memperdulikan Aditya, Frita segera membuka pintu dan duduk di dalam.


“Eh Mbak. Jangan duduk di sa-“ kata Aditya mencoba memperingatkan Frita.


“Eh kok kursi mobilnya basah sih,” teriak Frita dari dalam mobil lalu keluar lagi.


“Saya sudah bilang jangan duduk di kursi yang itu Mbak. Eh malah maen duduk saja,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Ih kok kursi mobilnya dilap sih? pakaianku jadi basah kan!” tanya Frita dengan wajah kesal.


“Lah, tadi ada kotoran cicak di kursi yang itu, jadi daripada ntar mbak dudukin kotoran cicak, ya saya bersihin. Lagian kursi yang satunya lagi kering kok,” bantah Aditya.


“Lagian Mbak buru-buru amat masuk ke dalam. Coba kalau tadi sapa saya dulu, pasti langsung saya ingetin,” kata Aditya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ih sialan!” gerutu Frita.


“Kakak ada-ada saja, iya bener lagian buru-buru amat. jadi ngompol kan,” ledek Rissa sambil tertawa.


“Ih, kamu juga ya!”


Dia sadar melihat sikap Aditya sudah pasti itu jebakannya untuk balas dendam karena ditinggalin di mall. Secara umum memang dia juga yang salah, karena itu berdebat seperti apapun tetap dia yang salah. Bahkan adiknya sendiri tahu akan hal itu. Dengan terpaksa dia pasrah lalu duduk di kursi yang kering.


“Nggak mau ganti baju dulu nih Mbak?” tanya Aditya sambil tertawa kecil.


“Nggak! Nanti di jalan juga kering!” jawab Frita dengan dingin.


“Oke. Kita langsung berangkat,” kata Aditya sambil masuk ke dalam mobil.


“Awas lu ya Dit,” umpat Frita.


“Loh kok kayak masih kesel gitu sama saya?” tanya Aditya sambil tersenyum, Frita tidak menjawab.


Pandu hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Dia tidak menyangka Aditya berani melakukan hal itu, tapi di lain sisi dia juga senang karena mungkin mereka akan jadi lebih akrab lagi jika terus saling menjahili. Mobil Aditya sudah melaju di jalanan. Pandu masuk ke mobil di ikuti oleh Rissa.


Clarissa tampak semakin penasaran dengan hubungan antara Aditya dan kakaknya. Mana mungkin ada sopir biasa yang berani ngerjain Bonya kayak begitu. Kakaknya juga tampak tahu kenapa Aditya melakukan hal seperti itu kepadanya.


“Yah. Kayaknya kakak sama Pak Aditya akrab banget ya?” tanya Clarissa.


“Hus jangan panggil Bapak, dia masih belum menikah Ris panggil saja abang, mamang atau kakak,” jawab Pandu.


“Iya yah. Kenapa kakak bisa akrab begitu ya sama mang Aditya?”


“Sebaiknya kammu tanyakan sendiri deh sama kakakmu nanti, kalo penasaran.”


“Ih ayah nyebelin! Kakak juga bilang katanya biasa saja dan nggak akrab sama sekali. Eh btw hari ini boleh aku yang nyetir mobilnya ke sekolah Yah?”


“Nggak boleh Ris. Biar ayah saja yang nyetir.”


“Ih kan aku sudah punya SIM ini.”


“Nggak boleh Ris.”


Clarissa terdiam kesal karena ayahnya tidak mengijinkannya mengemudikan mobil itu. Pandu sengaja belum membiarkan Clarissa menyetir sendirian di jalanan walaupun sudah punya SIM.


Jika Rissa sudah dibiarkan menyetir maka dia akan seenaknya sering membawa mobil untuk bermain dengan teman-temannya. Dalam usia yang masih labil seperti itu Pandu khawatir kalau Clarissa akan mengemudi seenaknya di jalanan hingga memancing bahaya.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2