
Aditya merasakan badan Jack gemetar mungkin dia begitu ketakutan. Satpam yang sedang memegang Sherly kelihatan bingung apa yang harus dia lakukan. Aditya menggoreskan pisau di leher Jack hingga mengeluarkan darah.
“Cepet suruh bajingan itu menyingkir!” bentak Aditya.
“Ba baik, jangan bunuh gue,” kata Jack sambil tangannya memberikan isyarat kepada satpam agar mundur. Satpam mulai mundur menjauhi Sherly. Dengan cepat Aditya membanting Jack lalu melempar pisaunya ke arah satpam.
“Aaakh,” satpam menjerit sambil memegang tangannya yang berdarah.
“Ini balasan dari gue!” Aditya tanpa ampun menghajar si satpam hingga tergeletak di lantai.
“Kelihatannya Bos masih bisa bersikap seperti dulu,” ujar Arfa.
“Bagaimanapun dia tetaplah manusia, dia bisa saja menunjukan sikap mengerikannya itu jika terusik,” jawab Adrian.
“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Aditya cemas.
“Aku baik-baik saja Dit,” jawab Sherly dengan mata berkaca kaca.
Beberapa anak buah Jack meloloskan diri dari Arfa dan Adrian mereka langsung berlari mengincar Aditya. Kemarahan Aditya semakin menjadi, dia langsung datang menyambut mereka dengan tinjunya. Sebuah mobil mewah tiba di halaman restoran. Tiga orang pria yang keluar dari dalam mobil dengan wajah heran, karena di halaman restoran beberapa orang sedang berkelahi.
“Ada apa mereka ribut di sini,” gumam seorang pria yang mengenakan kacamata hitam.
“Mungkin mereka ribut karena kalah main bos,” ujar seorang pria.
“Cih, seenaknya saja ribut di wilayah kita,” ucap pria berkacamata.
“Biar gue urus mereka,” kata seorang pria sambil berjalan menuju tempat perkelahian. Pria berkacamata dan seorang pria lagi mengikutinya dari belakang.
Pria itu dengan semangat menghajar beberapa anak buah Jack hingga tergeletak. Pria itu melihat Arfa dan Adrian juga berhasil menumbangkan beberapa orang. Pria itu menyeringai lalu menerjang Arfa. Walaupun kaget tapi Arfa berhasil menahan tendangan orang itu.
“Tidak buruk,” ujar pria itu lalu dengan bertubi-tubi menyerang Arfa tapi masih bisa ditahan dengan mudah.
“Kelihatannya bala bantuan yang muncul lebih hebat dari tikus ini, Hahaha,” kata Arfa sambil tertawa.
__ADS_1
“Cih kelihatannya masalah lain datang lagi,” ujar Aditya.
Melihat temannya kesusahan menghadapi Arfa seorang pria di samping orang berkacamata ikut maju untuk membantu. Namun Adrian menghadangnya. Perkelahian hebat mulai terjadi diantara mereka berempat. Anak buah Jack yang berani mendekat sedikit saja langsung babak belur. Beberapa orang malah melarikan diri dari tempat itu.
Tak lama kemudian dua pria yang baru datang mulai kewalahan menghadapi Arfa dan Adrian. Pria berkacamata tampak geram. Dia memasukan kacamatanya lalu maju membantu kedua anak buahnya. Ketika Arfa hendak menghajar lawan di depannya pria itu datang menangkap tangannya lalu menendang perutnya.
Arfa terjungkal kebelakang. Pria itu kembali menyerang namun Aditya maju sambil menahan serangan pria itu. Pria itu menendang Aditya namun berhasil dihalau. Tapi Aditya jujur mengakui kalau serangan pria itu benar-benar kuat. Mereka beberapa kali beradu tinju, saling serang, tampak hamper seimbang. Pria itu mundur kebelakang setelah menahan tendangan Aditya.
“Ho, gue nggak nyangka ada yang bisa ngimbangin kemampuan gue,” ujar pria itu. Kedua anak buahnya mendekat. Arfa dan Adrian juga mendekati Aditya.
“Siapa lu? Gue yakin lu bukan bagian dari orang-orang lemah ini,” tanya Arfa.
“Harusnya gue yang bertanya sama lu semua. Kenapa lu ribut-ribut di wilayah gue hah?!” bentak pria itu.
“Gue nggak bermaksud ribut di sini. Tapi mereka tidak memberi pilihan lain,” jawab Aditya sambil menunjuk Jack dan Wawan yang masih terkapar sambil menahan sakit.
“Mau gimanapun alasaannya lu nggak berhak buat ribut-ribut di wilayah gue!” bentak pria itu. Aditya mulai merasakan firasat buruk.
“Asala lu tahu restoran ini masuk ke wilayah geng Merak! Kalau lu nyari masalah di sini berarti lu nantangin geng Merak!” teriak pria lainnya.
“Jadi orang-orang ini juga anggota geng Merak?” tanya Aditya sambil menunjuk Jack.
“Bukan. Mereka hanya cecunguk yang ditugaskan mengawasi beberapa tempat,” jawab pria itu.
“Kalau begitu berarti gue nggak ada urusan dengan kalian, karena gue cuma punya masalah sama mereka,” kata Aditya dengan tenang.
“Oh, sayang sekali. Gue nggak bisa ngelepasin kalian begitu saja terutama lu! Lu udah ngotorin pakaian gue!” bentak pria itu sambil menunjuk Aditya.
“Asal kalian tahu, dia adalah bos kami, Viktor!” tegas pria lain.
“Oh pantas saja lu lumayan hebat, ternyata salah satu petinggi dari geng Merak rupanya,” ujar Arfa sambil tertawa kecil.
“Seperti yang bos gue bilang. Gue nggak mau cari masalah dengan kalian, karena jika kita buat masalah di sini sama saja buat peperangan kecil diantara geng Merak dan geng Gagak,” kata Adrian dengan tatapan tajam tertuju kepada Viktor.
__ADS_1
“Ho, jadi lu semua anggota geng Gagak rupanya. Sayang sekali ternyata nyali kalian cuma secuil. Nggak jauh beda sama Ketua kalian yang cuma bisa sembunyi di belakang tiga orang terkuat mereka saja,” ledek Viktor disambung tawa anak buahnya.
“Sayang sekali itu nggak benar, karena dua diantaranya ada di sini sekarang,” jawab Arfa sambil menyeringai.
“Gue Adrian dan dia Arfa Kusuma. Seenggaknya lu semua mungkin pernah mendengar nama itu,” timpal Adrian.
Viktor tampak terkejut karena tidak menyangka dia akan berhadapan dengan dua orang terkuat geng Gagak sekaligus. Saking senangnya dia malah tertawa terbahak bahak. Lalu dia menunjuk mereka bertiga.
“Kalau begitu, kenapa kita nggak perang sekalian!” ucap Viktor.
“Geng mereka nggak ada hubungannya dengan masalah ini. Gue yang awalnya buat masalah, jadi lu cukup berhadapan sama gue,” ucap Aditya.
“Kalau dia bukan orang terkuat di geng Gagak lalu siapa hah? Berani menyela pembicaraan kita!” bentak Viktor.
“Kalau gue kenalin mungkin lu bakalan lari ketakutan. Dia-“
Belum selesai Arfa berkata, Aditya memberikan isyarat agar berhenti. Dia tidak mau jika masih disangkutkan dengan masa lalunya. Karena kini dia tidak seperti dulu lagi, sebisa mungkin dia tidak ingin terlibat masalah besar seperti ini.
“Gue Aditya Laksmana,” jawab Aditya.
“Cih, kelihatannya sekarang geng Gagak sudah kehilangan taringnya, atau mungkin sayapnya. Bahkan lu semua nerima gitu saja sampah ini memotong perkataan lu,” ledek Viktor.
“Bajingan!” Arfa sudah tidak bisa menahan emosinya. Dia maju menyerang Viktor namun dua orang anak buahnya menghadang. Adrian membantu Arfa. Viktor maju ke arah Aditya yang masih berdiri dengan tenang.
“Gue tahu lu bukan sampah biasa, kalau lu emang nggak mau buka mulut. Gue yang akan memaksanya!” ujar Viktor sambil menyerang Aditya.
Sherly mulai gemetar karena mengetahui jika orang yang sedang dihadapi Aditya adalah salah satu geng besar di kota Bandung. Gara-gara dia sekarang Aditya harus terlibat masalah serius seperti itu. Rasa bersalah terus menjalar di pikirannya. Tiba-tiba beberapa orang pria keluar dari dalam restoran. Salah satunya adalah anak buah Ratna yang pernah bertemu dengna Aditya.
“Bos Viktor?” gumam anak buah Ratna terkejut melihat Bosnya sendiri malah bertarung dengan Aditya.
“Kita harus segera bantu bos Viktor!” ujar teman temannya.
“Tahan! Gue laporin dulu kejadian ini ke bos Ratna.”
__ADS_1
BERSAMBUNG…