Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 94


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit Aditya kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, hari ini dia kembali mengantar Frita yang sudah dua hari tidak datang ke kantor. Kini sikap Frita terasa lebih lembut. Walaupun beberapa kali Aditya bersikap dingin kepadanya namun Frita tidak membalasnya.


“Duh, seminggu aku nggak masuk ke kantor, orang-orang masih ingat aku nggak ya?” tanya Aditya.


“Ya ingatlah, orang waktu beberapa hari yang lalu saja banyak sopir dan bagian keamanan yang nanyain kamu.”


“Gajiku bakalan di potong berapa nih?”


“Ya, kamu tunggu nanti pas gajian lah.”


“Ih kejam amat Mbak.”


Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang santai. Aditya yang awalnya ingin bersikap dingin kembali kepada Frita menjadi ikut terbawa suasana. Dia benar-benar merasa nyaman ketika bisa berbicara santai seperti ini dengan Frita begitu juga sebaliknya, Frita juga merasakan hal yang sama.


Ketika sampai di perusahaan Aditya segera membukakan pintu untuk Frita, bosnya itu keluar dengan senyuman manisnya. Aditya sudah tidak sabar ingin segera melakukan aktifitas seperti biasanya. Sepanjang jalan menuju gedung bagian keamanan dia bertemu dengan beberapa pegawai bagian lain. Kelihatannya suasana hati mereka begitu buruk.


Aditya juga merasakan hal yang sama ketika masuk ke bagian keamanan. Di sana tampak agak sepi dan orang-orang malah sedang terdiam sibuk dengan urusan masing-masing. Heni tidak biasanya sibuk di ruangannya sendiri. Dia benar-benar heran dengan suasana perusahaan yang suram seperti itu, Aditya kemudian menghampiri Wira.


“Suasana kantor sepia mat Wir,” sapa Aditya.


“Eh, lu sudah sembuh Dit. Iya nih Jana juga beberapa hari belum masuk.”


“Kok bisa?”


“Sejak dua hari lalu suasana perusahaan memang suram. Orang-orang banyak yang malas datang ke kantor.”


“Kenapa mereka malas seperti itu?”


“Aku dengar pak William menaikan gaji semua karyawan perusahaan.”


“Lah bagus itu, kok malah semakin males?”


“Ada banyak potongannya Dit, percuma gaji dinaikin juga orang gaji yang keterimanya malah kurang dari yang dulu.”


“Aneh, apa dia sudah mendapatkan persetujuan Presdir untuk kebijakan ini?” gumam Aditya.


“Aku juga nggak tahu tuh, yang jelas perusahaan kelihtannya memang akan segera bangkrut,” jawab Wira, dia mengira Aditya bertanya kepadanya.


Aditya pikir Wira tidak akan tahu banyak tentang kebijakan perusahaan. Dia kemudian menuju ruangan Heni untuk meminta penjelasan darinya. Ketika masuk ke ruangan Heni terlihat sedang membaca beberapa berkas yang ada di mejanya.


“Pagi bu Heni,” sapa Aditya.

__ADS_1


“Pagi Dit, sudah pulang dari rumah sakit ya?” jawab Heni hanya menoleh sebentar.


“Iya bu, perusahaan sepi banget sekarang bu.”


“Iya nih.”


“Bagian keamanan malah lebih sepi lagi bu.”


“Iya, saya juga sedang bingung nih banyak perusahaan luar yang membatalkan pelatihan satpam mereka di sini.”


“Kok bisa?”


“Saya juga tidak tahu, karena itu sedang saya baca satu persatu sekarang.”


“Dani kemana bu?”


“Katanya sih sedang sakit, baru hari ini dia tidak masuk.”


Aditya segera keluar dari ruangan Heni. Dia sadar terlalu banyak hal aneh di sini. Kenapa bisa William mengambil kebijakan seperti itu, mustahil juga Pandu mengijinkannya melakukan hal itu. Tiba-tiba ponselnya berdering.


“Ada apa Mbak?”


“Rani nggak masuk hari ini, kamu cepat ke sini ya.”


“Bukan itu, siapa juga yang nyuruh kamu gantiin Rani. Kamu ke sini saja dulu.”


“Oke,” jawab Aditya sambil melangkah pergi menuju gedung utama. Di luar terlihat Frita sedang mondar mandir dengan wajah cemas. Aditya kemudian menghampirinya.


“Ada keperluan apa Mbak?”


“Hari ini Rani nggak masuk ke kantor Dit.”


“Sakit mungkin?”


“Itu masalahnya Dit, Rani biasanya menghubungiku kalau dia tidak mau masuk ke kantor. Dia baru kali ini seperti ini.”


“Mbak sudah coba menghubunginya?”


“Sudah tadi beberapa kali, di telepon, di sms di WA sudah aku coba semua tapi nggak ada balesan dari dia.”


“Terus saya harus nganter Mbak menjenguk ke rumahnya langsung?”

__ADS_1


“Kamu sendiri saja Dit. Kamu tahu kan rumahnya?”


“Tahu sih, bukannya lebih bagus kalau Mbak ikut ya?”


“Aku ada keperluan yang lebih penting dan lebih bikin pusing lagi.”


“Eh iya, saya dengar ada masalah sama kebijakannya pak Williama ya? Kok bisa sih dia mengambil keputusan seperti itu, apa pak Pandu juga sudah menyetujuinya?”


“Hemh, maaf banget Dit saat ini aku belum bisa ceritain hal itu ke kamu,” ucap Frita pelan.


Aditya hanya mengangguk mengerti. Dia tahu posisinya saat ini di perusahaan memang tidak penting, pasti saja ada beberapa hal yang tidak bisa diceritakan Frita kepadanya dalam masalah perusahaan. Dia kemudian pergi mengemudikan mobil menuju rumah Rani. Sepanjang perjalanan dia terus menebak masalah apa gerangan yang sedang dialami perusahaannya.


Ketika Aditya sampai di tujuannya terlihat mobil pengangkut barang terparkir di halaman rumah. Beberapa tetangga juga pergi sambil membawa beberapa barang dari dalam rumah. Rani kemudian keluar dari dalam rumah, dia terlihat terkejut saat melihat Aditya sedang berdiri di halamannya.


“Kamu sudah keluar dari rumah sakit Dit?” tanya Rani sambil tersenyum.


“Sudah Ran, aku ke sini disuruh Mbak Frita buat melihat kondisimu. Takutnya sakit atau gimana.”


“Nanti sampaikan permintaan maafku kepada Mbak Frita karena hari ini dan beberapa hari ke depan mungkin nggak akan masuk kerja,” ucap Rani sambil tertunduk. Matanya terlihat berkaca kaca.


“Kamu kenapa Ran? Terus ini kok ada mobil pengangkut barang di halamanmu?” tanya Aditya. Rani malah semakin tertunduk terdengar dia berusaha menahan isak tangisnya. Tapi airmatanya tidak bisa dia bending.


“Kenapa Ran? Kamu bisa ceritakan semuanya kepadaku sekarang,” kata Aditya dengan lembut mengajak Rani duduk di mobilnya.


“Aku harus pindah rumah hari ini Dit,” jawab Rani pelan sambil tetap tertunduk sedih.


“Lalu kenapa kamu bersedih seperti ini?”


“Aku nggak apa-apa Dit, aku baik-baik saja,” jawab Rani sambil berusaha tersenyum.


“Kamu jangan seperti itu Ran, tatap mataku sekarang,” ujar Aditya sambil memegang lembut kedua pipi Rani lalu memaksa dia agar menatap dirinya. Airmata Rani terus berlinang sambil berusaha untuk tersenyum.


“Kamu tidak usah memaksakan diri untuk membuat senyuman palsu itu Ran. Kamu tahu, aku paling tidak suka melihat wanita menangis di depanku. Katakana kepadaku sejujurnya Ran. Kecantikanmu benar-benar bisa hilang jika terus seperti ini,” ucap Aditya pelan sambil tersenyum, lalu melepaskan tangannya.


“Aku kehilangan rumahku dan semuanya Dit, keluargaku terlilit hutang. Kami tidak bisa membayarnya,” jawab Rani.


“Kenapa bisa, padahal aku yakin dengan gajimu sekarang kamu bisa hidup dengan tenang.”


“Ayah dan kakakku terlilit hutang judi, mereka juga berhutang narkoba kepada beberapa mafia dan geng,” jawab Rani, airmatanya semakin deras mengalir di pipinya.


Aditya terdiam, dia tidak menyangka jika keluarga Rani berantakan seperti itu. Dia hanya menghela nafas. Seorang pria dengan wajah muram keluar dari rumahnya. Sambil melotot dia menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2