Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 46


__ADS_3

“Kak Aditya!” teriak Clarissa.”


“Tenang Ris jangan teriak!” tegas Aditya sambil berusaha menyeimbangkan posisi mobilnya.


“Hati-hati kak. Di depan satu mobil lagi kecelakaan,” teriak Arnold.


“Info yang bagus,” jawab Aditya.


“Tidak disangka pembalap unggulan kedua juga mengalami kecelakaan,” ujar orang lain yang ada di sekitar Arnold.


Aditya tersenyum. Kelihatannya semua pembalap unggulan malam ini sudah disingkirkan oleh penyelenggara terkecuali Ratna. Aditya terus mengemudikan mobilnya dengan keadaan sedikit miring laiknya ngedrift. Hal itu mengundang sorakan dari para penonton yang mengagumi kemahirannya. Aditya berhasil kembali ke jalan. Tampak ada mobil yang tersungkur menabrak pohon di tepi jalan.


Kini posisi Aditya berada di urutan keempat. Kedua mobil yang menghalanginya masih terlihat di depan. Dengan tatapan tajam Aditya kembali masuk ke celah diantara kedua mobil, ketika mereka hendak menjepitnya dia kembali memperlambat kecepatannya hingga kedua mobil berbenturan, Aditya memanfaatkan kesempatan itu untuk melaju ke posisi kedua. Terdengar tepuk tangan meriah dari penonton.


“Hebat kak!” teriak Clarissa.


“Harus berapa kali sih aku bilang agar jangan teriak,” kata Aditya.


“Eh lupa lagi kak,” jawab Clarissa sambil tertawa.


“Ayo kak, tiga tikungan lagi garis finish,” ucap Arnold.


“Oke! Kalian lihat saja sambil duduk manis.”


Aditya melesat menggunakan NOS miliknya. Di belokan pertama dia melaju dengan kecepatan tinggi karena menggunakan NOS, namun kecepatannya masih efektif karena dia berbelok sambil ngedrift. Tampak di depannya mobil Ratna sudah terlihat. Sambil tersenyum dia mengemudikan mobilnya hingga berada sejajar dengan mobil Ratna.


Kecepatannya kembali normal setelah hasil kompresi NOS di pembakarannya habis. Dia rasa kemungkinan memenangkan pertandingan ini semakin kecil karena dia sudah menggunakan NOS milik mobil Arnold itu. Sedangkan Ratna kemungkinan masih menyimpannya untuk berduel di trek lurus setelah tikungan terakhir.


Ratna tampak tersenyum sambil menatap Aditya. mereka berbelok sejajar sambil ngedrift. Aditya juga menatap Ratna yang tengah tersenyum manis kepadanya. Dunia terasa begitu lambat saat menatap senyum manis Ratna. Mereka kembali melaju di trek lurus, mendekati tikungan terakhir yang berbelok lumayan tajam ke arah kanan, mobil Aditya juga ada di sebelah kanan mobil Ratna.


“Jika adegan ini direkam secara slow motion pastinya akan menarik,” gumam Aditya sambil tertawa kecil.


“Slow motion apanya kak?” tanya Clarissa heran.


“Oh, Balapannya Ris,” jawab Aditya kaget. Dia lupa kalau masih terhubung dalam panggilan telepon dengan Clarissa.

__ADS_1


“Tanyakan kepada Arnold apakah Ratna sudah menggunakan NOS miliknya?” perintah Aditya.


“Katanya belum kak,” jawab Clarissa.


“Sesuai dugaanku,” gumam Aditya.


“Bilang ke Arnold juga, kalau ingin menang maka mobilnya pasti harus diperbaiki dan akan banyak yang lecetnya,” perintah Aditya.


“Dia bilang nggak apa-apa,” jawab Clarissa langsung.


“Disuruh tanyain dulu! Awas ya tanggung jawab kamu nanti!” gerutu Aditya sambil tersenyum.


Aditya yakin kalau Ratna akan menggunakan NOS miliknya setelah melewati tikungan terakhir ini karena garis finisnya juga cukup dekat dari tikungan. Tidak ada cara lain baginya untuk memenangkan balapan ini kecuali dengan cara yang sedikit ekstrim. Ketika tikungan sudah dekat, tampak Ratna sedikit melebar ke kiri untuk berbelok ke kanan.


“Sekarang!” gumam Aditya.


Dia malah memacu mobilnya dalam kecepatan penuh, bergerak lurus dan sedikit melebar kearah kanan. Ratna kemudian mengaktifkan NOS di mobilnya. Tiba-tiba dengan kecepatan tinggi dia menabrak bagian samping mobil Aditya yang melesat ke depannya. Hal itu sontak membuat Ratna kaget. Mobil Ratna terus mendorong mobil Aditya dari samping dengan kecepatan tinggi, hingga melewati garis finish.


Aditya menatap Ratna sambil tersenyum setelah kedua mobil berhenti bergerak. Ratna hanya tertawa, dia tidak menyangka sedikitpun jika Aditya akan melakukan hal se ektrim itu dalam balapan. Terdengar suara penonton bersorak sorak karena melihat balapan yang benar-benar menegangkan. Beberapa penonton malah mencoba menyalami Aditya dan Ratna namun dilarang oleh penyelenggara.


“Kamu benar-benar pembalap yang gila ternyata,” ujar Ratna sambil menyalami Aditya.


“Jika bukan mobil mahal pastinya semua kaca mobilnya sudah pecah karena benturan tadi,” puji Ratna.


“Ini mobil temanku, lagipula mobilmu lebih mahal lagi,” kata Aditya sambil menunjuk mobil Ratna yang hanya lecet sedikit bemper depannya.


“Kamu punya nyali juga membuat mobil temanmu penyok seperti itu,” ujar Ratna tertawa sambil menunjuk pintu samping kiri mobil Arnold yang agak penyok dan lecet karena ditabrak oleh mobil Ratna.


“Aku rasa uang dari hadiah balapan ini masih lebihan jika dipakai servis mobil ini doang mah,” jawab Aditya sambil tertawa.


Para pemenang lomba segera diumumkan oleh penyelenggara balapan. Aditya menempati posisi pertama, Ratna kedua dan sisanya para pembalap titipan malam itu. Semua urutan dan para pemenang balapan sesuai dengan taruhan yang dibuat oleh Dewa Judinya Bandung, dia hanya meleset satu orang saja yang menempati urutan kesepuluh.


Pria bertopi hitam tersenyum puas melihat hasil balapan yang berlangsung malam itu. dia pasti akan mendapatkan keuntungan banyak malam ini. Mr. K tampak sedang berusaha menenangkan bandar judi yang gusar.


“Aku harap kalian bersabar telebih dahulu. Aku sudah memiliki rencana untuk mengatasi hal ini,” kata Mr. K.

__ADS_1


“Rencana seperti apa? Aku yakin para pejudi tidak mau bersabar untuk mendapatkan uang mereka,’ tegas Mr. Bark.


“Aku akan merebut hadiah milik Mentarinya Bandung dan nomor 63 itu. Aku akan memberikannya kepada kalian semua,” bujuk Mr. K.


“Sayang sekali, kerugian kami tidak akan bisa ditutupi dengan uang sekecil itu!. Kerjasama kita berakhir di sini!” bentak Mr. Bark.


Mr. Bark dan bandar judi lainnya pergi sambil terus menggerutu, karena malam itu mereka mengalami kerugian yang sangat besar. Mr. K menendang beberapa kursi yang ada di sana. Kemudian memanggil seorang anak buahnya.


“Aku tidak mau tahu, malam ini mereka berdua harus dihabisi!” perintah Mr. K sambil menunjuk Aditya dan Ratna.


“Menghabisi pria itu bukanlah masalah Bos, tapi jika kita mencoba menghabisi wanita itu maka kemungkinan masalah lain akan segera muncul,” jawab anak buahnya.


“Aku tidak peduli! Kumpulkan semua orang kita yang masih ada di sini. Ada berapa orang?”


“Kalau tidak salah ada sekitar lima puluhan lebih Bos.”


“Bagus, kumpulkan semuanya. Habisi mereka berdua dengan cara apapun terserah kalian.”


“Kalau boleh, kami ingin menangkap wanita itu dulu sebelum dibunuh.”


“Dasar otak mesum! Terserah kalian saja! aku akan melihatnya dari sini.”


Pria itu pergi meninggalkan Mr. K dengan wajah senang. Sedangkan Mr. K duduk kembali sambil menyalakan cerutunya. Rupanya rencana Mr. K itu di dengar oleh Vivi yang berada tidak jauh dari sana. Dia segera berlari hendak menemui Aditya, Ratna, Clarissa dan Arnold.


Di tempat balapan Aditya sedang memperhatikan Clarissa yang sedang bercekcok kembali dengan Ratna. Dia terus memaksa Ratna agar bersujud dan meminta maaf kepada Arnold. Namun Ratna menolaknya dengan alasan bahwa seharusnya dia menang jika Aditya tidak memaksakan dirinya menang dengan nekat seperti tadi. Ratna menganggap kejadian kali ini dianggap impas.


“Impas dari mananya! Sudah jelas kalau kamu cuma dapet juara kedua!” bentak Clarissa.


“Ya sudah kalau nggak mau impas kamu saja yang sujud dan minta maaf kepadaku,” tegas Ratna.


“Apa? Kenapa malah harus gua yang minta maaf! Eh sesuai dengan kesepakatan dong!”


“Kesepakatan apanya? Kalau lu yang ikut balapan itu baru adil, inimah sudah diwakilin malah ngerasa menang sendiri.”


“Eh, sudah jelas dari awal tadi gua udah bilang kalau kakak gua yang mau balapan, lu juga sudah setuju.”

__ADS_1


Aditya dan Arnold hanya terdiam melihat pertengkaran mereka berdua. Sudah pasti jika mereka terlibat hanya akan menjadi sasaran saja. jadi saat ini dia pikir lebih baik menunggu keduanya kehabisan energi dan menjadi lebih tenang. Tiba-tiba Vivi datang dengan nafas memburu. Wajahnya tampak pucat.


BERSAMBUNG…


__ADS_2