
Aditya tidur di rumah pribadi Frita malam itu. Frita tinggal di sana sendiri. Itu tak lebih salah satu rumah yang sengaja Frita beli untuk investasi di masa mendatang. Dan ia kebetulan jarang menempatinya.
“Aku kecapekan akhir-akhir ini. Jadi sering tidur di rumah ini,” kata Frita saat mobil masuk ke pintu garasi.
“Sendiri?” tanya Aditya.
“Iya.”
“Ada hantunya, nggak?” goda Aditya.
“Kamu jangan macam-macam, Mas,” ketus Frita yang tak ingin mood-nya rusak oleh cerita-cerita hantu yang membuatnya merinding ketakutan.
Aditya cuma tertawa pendek.
Mereka tidur di kamar terpisah. Frita memberikan bantal dan selimut baru kepada Aditya bahkan sebelum lelaki itu membersihkan diri di kamar mandi.
“Kamu mau langsung tidur?” kata Aditya.
“Ya, Mas. Capek banget sih.”
Akhirnya Aditya membiarkan Frita beristirahat. Ia duduk melamun sendiri di kamar tamu. Bantal dan selimut barunya masih berbau wangi, membuatnya rileks. Ia teringat sang paman di desa. Ia berencana menelepon pamannya. Mungkin Aditya juga bakalan pulang lagi ke desa sebelum nanti pernikahan dia dan Frita dilangsungkan.
Namun malam sudah terlalu larut.
“Deri pasti juga sudah tidur,” gumamnya. “Ya sudahlah, lebih baik tidur saja.”
Aditya mencoba memejamkan mata. Ia tetap tak bisa tidur. Ia mencoba membaca buku yang ditemukannya di ruang tengah. Tetap saja tak bisa tidur.
Setelah mencoba memejamkan mata entah sekian lama, akhirnya Aditya bisa juga terlelap.
***
Aditya dibangunkan oleh Frita yang sudah terlihat cantik esok paginya. Gadis itu mengenakan baju tidur yang tipis, membuat kulit halusnya tampak jelas di balik sinar matahari pagi.
Untuk sesaat Aditya mengira mereka sudah menikah. Setelah benar-benar sadar, ia tahu mereka belumlah jadi suami istri. Dan itu membuat dada Aditya berdegup kencang tak keruan. Belum pernah ia merasa sebegini ketika melihat Frita. Entah kenapa.
“Sarapan sudah siap. Mau mandi dulu?” kata Frita segera setelah Aditya membuka mata.
__ADS_1
Aditya bangkit dengan semangat. Memikirkan ia tak lagi menghadapi apa pun di luar sana yang bahaya. Memikirkan akan ada lembaran baru baginya. Ia mandi dengan bernyanyi. Jarang-jarang Aditya sebahagia ini.
“Aku ingin segera menikah, Frita. Biar aku bisa memulai hidup baru,” kata Aditya setelah ia mandi dan mereka siap sarapan di meja makan.
“Ya, aku juga ingin, tapi urusan ini bukan cuma punya kita berdua, Mas,” lirik Frita genit, lalu mencubit perut Aditya.
Aditya malah balas memeluk tubuh Frita. Menahan pinggang perempuan itu sampai mereka tak berjarak. Keduanya nyaris berciuman, tapi Frita merasa terlalu malu. Aditya tak memaksa. Frita hanya memegang pipinya, dan kembali menyiapkan meja makan yang belum ditata.
“Kita perlu bicara lagi ke papa dan mamaku. Kamu juga perlu menghubungi Paman Salim. Ada banyak persiapan yang perlu kita lakukan lagi. Seperti waktu itu,” ujar Frita sambil tangannya sibuk mengambilkan piring dan nasi untuk Aditya.
Saat sarapan itulah Frita teringat akan rencana mereka membangun resort di Desa Sumber Kencana, yang selama ini terus saja tertunda, apalagi tempo hari ada peristiwa mengerikan akibat sosok samurai itu.
Resort itu nanti dimaksudkan untuk masa depan mereka berdua, sekaligus sebagai upaya memajukan desa tersebut.
Frita bilang, “Menurutku kita enggak perlu melibatkan orang lain di pembangunan resort itu, Mas.”
“Lho, memang enggak perlu,” tukas Aditya sambil asyik mengunyah lauk daging ayam kesukaannya.
“Waktu itu Ratna bilang ingin bekerjasama, bukan?”
Aditya lupa siapa yang pertama memiliki ide membangun resort itu? Tapi, jika Frita menginginkan Ratna tak terlibat, apa boleh buat? Aditya akan menurut saja, sebab dia juga tak ingin terjadi sesuatu ke depannya nanti.
Jadi, Aditya menjawab dengan tenang, “Oh, ya. Aku ingat. Ya, aku sih setuju kalau Ratna sebaiknya enggak terlibat di proyek ini.”
Frita terlihat lega mendengar itu.
Lalu, setelah diam beberapa saat, Frita bertanya, “Kamu bisa bilang ke dia? Ratna tidak terlalu dekat denganku, Mas.”
“Ya, nanti bisa aku telepon dia. Atau besok?” sahut Aditya terlihat ragu.
“Ya, kapan pun kamu sempat, Mas. Telepon dia dan bilang kalau keputusan kita ini sudah bulat,” kata Frita.
Aditya mengangguk saja.
***
Dua bulan berlalu setelah itu.
__ADS_1
Frita telah meninggalkan dunia host yang sempat membuatnya tenar dan menjadi salah satu influencer.
Aditya dan Frita akhirnya duduk di pelaminan. Keduanya terlihat bahagia, seakan surga milik mereka berdua. Semua orang tampak bahagia, kecuali Clarissa. Sejak awal, Clarissa tak banyak bicara. Ketika rencana ini dimulai lagi seperti dulu, dia tak tampak seantusias waktu itu.
“Kupikir kegagalan pernikahan mereka yang pertama waktu itu tak akan terulang lagi,” batin Clarissa dengan kecewa.
Hanya saja, perasaan kecewa ini justru membuatnya merasa jadi sosok yang sangat jahat.
Clarissa merasa jahat kepada kakaknya sendiri. Ia juga merasa jahat pada Aditya, karena sudah lancang jatuh cinta pada lelaki yang tak sepatutnya ia cintai itu.
Maka, sepanjang hari, selama pesta pernikahan mewah itu berlangsung, Clarissa tak banyak tampil. Padahal ia biasa senang berfoto bersama keluarga dan para sahabatnya.
Shelly D yang diundang khusus untuk menjadi penyanyi selama pesta, mencari-cari keberadaan Clarissa.
“Kamu lihat Clarissa?” tanyanya ke seorang kru panggung setelah lagu terakhirnya ia nyanyikan.
Waktu itu sudah hampir pukul 21.00. Sebagian besar tamu undangan telah pergi meninggalkan gedung acara.
“Enggak lihat, Mbak,” jawab kru panggung itu sambil lalu.
Ia juga mendapat jawaban yang sama dari orang lain. Bahkan dari keluarga besar Pandu dan Gina. Mereka tak ada yang tahu ke mana Clarissa, dan tak tampak cemas. Mungkin mereka pikir dia ada di sekitaran gedung, sedang bermain dengan salah satu keponakan atau entah berfoto ria dengan siapa.
Shelly D tampak cemas. Ia tahu Clarissa tak ada di sekitar sini. Sejak awal juga ia sudah melihat gelagat tak beres di diri Clarissa. Ia hanya belum tahu saja kenapa gadis itu bisa begitu.
Maka, Shelly D segera meninggalkan gedung, memakai jaket bertudung supaya tak ada yang mengenali, dan menyeberang ke area parkir. Di dalam mobil dia coba telepon Clarissa.
“Nomornya gak aktif!” batin Shelly D.
Kali ini perasaan cemas itu berubah menjadi takut. Entah apa yang membuat Shelly D ketakutan. Ia rasa ada sesuatu yang keliru atas menghilangnya Clarissa yang secara mendadak sejak sore tadi.
Shelly D keluar dari mobilnya, kembali ke gedung dan mencoba menemui Aditya. Ia tak tahu lagi harus kepada siapa meminta bantuan.
Saat itulah, ia mendengar ponselnya berbunyi. Ia tatap layar ponselnya.
“Clarissa?!”
Tanpa pikir panjang, Shelly D segera mengangkatnya.
__ADS_1
Bersambung...