Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 270


__ADS_3

Hari terakhir di Bali.


Aditya sedang duduk santai menikmati senja di Pantai Kuta. Duduk di salah satu kursi santai dan menghirup udara dalam-dalam untuk tubuhnya yang jenuh. Matahari terbenam di barat sana terlihat begitu menawan, membuat Aditya merasa rileks.


Anak-anak berlarian, saling kejar, tak jauh dari situ. Orang-orang membawa papan selancar mereka masing-masing. Gerakan mereka melangkah dengan papan selancar di sisi tubuh menimbulkan siluet indah di pasir pantai yang berkilau. Ini tempat yang tepat untuk melupakan segalanya. Ia bisa sejenak saja melupakan persoalan kehamilan Sherly yang dia rahasiakan dari Frita.


“Semoga tak akan ada masalah. Kalaupun nanti rembulanku itu tahu tentang siapa ayah dari bayi di kandungan Sherly, Frita bisa mengerti dan memaafkanku,” batinnya, meski ia merasa tak terlalu yakin juga. Bukankah dia juga tak menolak ketika Sherly menggodanya?


Saat itu Frita sedang tidak di dekat Aditya. Wanita itu memesan makanan di salah satu kios makan di dekat sana. Aditya bisa melihat istrinya yang berjarak kurang lebih lima puluh meter darinya.


Frita melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa minuman yang Aditya pesan tak ada alias sudah habis.


Aditya menjawab dengan tanpa suara karena suasana pantai sedang ramai. Ia tahu Frita bisa membaca gerak bibirnya: “Minum apa saja deh, Sayangku!”


Mendadak saja, Aditya yang baru berpaling ke arah pantai sekali lagi, melihat dua sosok tinggi kekar, berdiri tepat di depannya yang sedang berbaring di kursi santai.


“Halo, Bang!”


Suara itu membuat Aditya berasa ditarik kembali ke masa yang jauh di belakang.


“Halo, Teo. Loe ngapain di sini?” tukas Aditya spontan.


Teo berdiri bersama Charlie, sama-sama tak memakai baju kecuali celana pendek. Mereka basah kuyup. Keduanya habis berselancar dengan papan masing-masing.


“Liburan lah, Bang,” jawab Charlie.


“Oh, sama siapa saja? Nancy mana?” tanya Aditya. Entah kenapa ia menanyakan gadis itu.


Teo dan Charlie saling berpandangan, lalu keduanya cuma bisa nyengir.


Aditya curiga. “Jangan-jangan kalian kemari bareng Komandan Malik juga? Ada misi di Bali?”


“Enggak, Bang. Kami malah enggak tahu kapan bisa kumpul lagi. Aku di sini cuma sama Charlie,” jawab Teo terkekeh pelan.


Keduanya lantas duduk di samping Aditya. Kebetulan kursi santai di situ juga tidak ada yang menempati.


Frita melihat kehadiran dua orang yang pernah ikut menolongnya dari penculikan di Korea Selatan tempo hari. Ia merasa tak enak, khawatir Aditya terlibat lagi urusan lama yang mestinya sudah ia tinggalkan sesuai janjinya waktu itu.


“Ya, Bang,” kata Charlie setelah ia menempatkan posisi duduknya dengan lebih nyaman. “Kami ke sini cuma berdua. Sengaja liburan sekaligus cari pacar. He he he.”


“Wah, begitu rupanya. Baguslah.” Aditya terlihat lega dan ia sengaja tak menutupi itu di depan Teo dan Charlie.

__ADS_1


Kedua pemuda itu cuma bisa diam sejenak, tahu keputusan pensiun dini Aditya itu tak bisa lagi diganggu gugat. Namun satu yang belum Aditya tahu; mereka mungkin tak akan berkumpul lagi.


“Kamu belum tahu, ya, Bang? Skuad Malam dibubarkan, lho,” kata Teo yang lalu membuat Aditya seketiika menoleh kaget.


“Apa?”


“Ya, Skuad Malam yang baru dibentuk beberapa bulan ini dibubarkan. Diganti lagi dengan skuad lain yang entah siapa saja anggotanya. Kami tidak ditelepon Komandan, tapi kami baik-baik saja. Lagian lebih bagus begini,” sambung Charlie.


“Nancy sepertinya gabung di skuad itu,” sela Teo setelah diam beberapa saat.


“Oh, ya?” tanya Aditya.


“Yeah, dia tak pernah lagi menghubungi kami. Baskara juga mungkin ikut. Tetapi enggak tahu juga deh. Dia kurang terlalu akrab denganku,” lanjut Teo.


Aditya cuma bisa mengangguk-angguk.,


Charlie menjelaskan bahwa Skuad Malam dinyatakan tak bisa lagi aktif, sebab ada beberapa faktor yang membuatnya begitu, termasuk salah satunya berhentinya Aditya dari kesatuan.


Aditya menyahut dengan heran, “Lho, bukankah sejak awal aku memang bukan bagian dari kalian? Aku bukan anggota Skuad Malam dan hanya menemani saja sesuai permintaan Komandan!”


“Ya. Tapi itulah yang sudah beliau katakan. Katanya, ‘Kalian tak akan bisa jalan sendiri tanpa adanya Aditya’,” kata Charlie.


Aditya merasa lega sekaligus iba pada teman-teman barunya ini. Mereka tidak bisa berkumpul lagi seperti dulu karena dipisahkan. Tapi Aditya tak perlu cemas. Adanya dua sosok ini di Bali ternyata bukan demi mengajaknya turun ‘bertempur’.


Frita cuma bisa bilang, “Semoga kalian bisa berlkumpul lagi seperti dulu, ya?”


“Ah, kami baik-baik saja kok. Lebih enak begini kali, Kak,” kata Teo sambil tak henti menoleh ke belakang Aditya.


Aditya menoleh juga ke arah situ, dan tahu di sana ada dua orang cewek bule yang cukup seksi dan cantik. Aditya tahu isi kepala Teo dan akhirnya berkata, “Naksir cewek itu? Buruan gih kejar, sebelum dia balik ke negara asalnya!”


Frita tertawa mendengar itu.


Charlie dan Teo pun undur diri setelah mengabarkan mereka menginap di hotel mana.


“Wah, kita satu hotel ternyata,” kata Frita.


“Masa?”


“Iya, tapi nanti malam sudah check out,” sahut Aditya.


Mereka pun tahu tak akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini. Jadi Teo dan Charlie menyempatkan menjabat tangan Aditya dan mengucapkan terima kasih padanya atas inspirasinya selama ini.

__ADS_1


Mereka bertiga berpelukan selaiknya sahabat yang sudah lama kental.


“Aku bukan siapa-siapa, tapi terima kasih atas kebaikan kalian,” kata Aditya.


Kedua pemuda itu pun cabut, mengejar dua bule yang mungkin saja mau jadi pacar mereka.


“Nggak nyangka, ya, Mas. Padahal pas pesta pernikahan kita, kupikir skuad itu tak ada masalah,” kata Frita.


“Ya. Aku juga tak percaya. Secepat itu. Komandan biasa memang merancang dan menyusun skuad-skuad rahasia. Tapi Skuad Malam cukup cepat juga dibubarkan. Entah ada apa,” kata Aditya.


“Setidaknya mereka kini bisa menikmati hidup. Semoga hal yang sama juga dialami Nancy, Linda, dan Baskara. Aku enggak akan melupakan jasa mereka saat pergi ke Korea Selatan menyelamatkanku,” ujar Frita sambil menyodorkan piring makanan Aditya.


Aditya bilang, “Oh, jadi cuma mereka yang menyelamatkanmu? Aku enggak?”


“Ih, kamu juga dong, Sayang!”


Mereka tertawa-tawa sambil menikmati makanan.


Frita mendadak berhenti tertawa dan menatap Aditya dengan tatapan yang hangat.


“Mas, jangan lagi kembali bersama mereka, ya? Maksudku, kalian tentu saja bisa bersahabat erat, tapi jangan lagi membahayakan dirimu sendiri,” katanya.


Aditya paham maksudnya. Ia berjanji lagi pada Frita. Memastikan agar istrinya itu tak terus-terusan cemas.


“Enggak lagi. Aku janji.”


Mereka makan dengan sangat nikmat sore itu.


***


Frita menelepon sang papa setelah mereka kembali ke hotel. Suara di seberang sana terdengar sangat berisik.


“Pa. Ada apa itu?” tanya Frita heran.


“Eh, Frita. Begini... papa tutup dulu teleponnya, ya!” jawab Pandu dengan suara setengah berteriak.


Di sana masih terdengar oleh telinga Frita. Ia bisa menangkap suara teriakan sang kakek. Kakek Darma sedang berteriak? Kakek yang dikenal lembut hatinya itu sangat jarang marah.


“Pa, ada apa itu?!” tanya Frita dengan cemas.


“Sudah, Frit. Kamu cepat pulang saja. Ini situasi sudah terkendali,” kata Pandu.

__ADS_1


Memang suara berisik itu berhenti begitu saja. Frita tetap tak tenang. Meminta sang suami untuk segera berkemas. Mereka harus memastikan kondisi Kakek Darma secepat mungkin.


Bersambung....


__ADS_2