
“Di mana dia sekarang, Nin?!” tanya Sean sambil menekan segala rasa murkanya.
“Kira-kira 10 menit yang lalu sudah pergi dari sini, Pak. Saya tidak tahu ke mana calon istri Bapak itu sekarang,” jawab Nindi.
“Dia bukan calon istri saya! Jangan pernah ijinkan dia masuk ke sini kalau dia datang lagi! Suruh dia tunggu di ruang tamu sampai saya ijinkan dia masuk! Kamu ngerti!!” ucap Sean tegas pada sekretarisnya.
“Baik, Pak. Saya mengerti. Akan saya ingat lagi.”
“Ya sudah, keluar sana kamu!”
Sean menjadi semakin geram saat ini. Bagaimana mungkin Luna berani mencampuri urusannya dan datang ke kantor Sean. Padahal Sean sudah memperingatkan pada wanita itu agar tidak datang ke kantornya.
Saat pesta yang dia adakan beberapa waktu lalu, Luna sudah mendapatkan peringatan dari Sean karena datang tanpa pemberitahuan. Sean tidak suka kalau Luna terlalu mencampuri urusan pribadinya seperti ini. Sean masih bertahan berbaik hati Luna karena paksaan Mamanya, tapi kalau sudah seperti ini, Sean tidak bisa menahan amarahnya lagi.
“Bos, makanannya di sini,” ucap Mathias saat dia membuka tempat sampah.
Sean menoleh ke arah tempat sampah yang ada di depan Mathias. Di sana memang ada sebuah kotak makan yang tadi di bawa oleh Ellena untuk Sean. Kotak makan yang berisi masakan Ellena yang sangat ingin dia cicipi pagi ini.
“Ambil dan buka isinya apa,” ucap Sean memberi perintah.
“Tapi Bos, ini sudah ada di dalam tempat sampah,” jawab Mathias.
“Saya tidak menyuruh kamu menyiapkan makanan itu buat saya!! Saya cuma suruh kamu buka dan lihat apa saja yang ada di dalamnya. Setidaknya meskipun aku ga bisa makan makanan itu, paling tidak aku tahu apa isinya. Jangan sampai Ellena tahu apa yang terjadi pagi ini, dia pasti bakalan sedih nanti,” ucap Sean sambil melihat ke arah kotak makan itu.
“Baik Bos, saya mengerti.”
Mathias kemudian segera mengambil kotak makan yang ada di dalam tempat sampah itu. Dia kemudian membuka kotak makan dan memberi tahu apa saja makanan yang ada di dalamnya. Sean mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh Mathias tentang isi kotak makan itu. Hatinya merasa sangat sedih saat dia tidak bisa mencicipi makanan itu.
“Buang isinya dan buat seperti aku sudah memakannya. Aku akan memfoto itu biar Ellena senang,” ucap Sean sambil menghembuskan nafas berat.
“Baik, Bos.”
‘Brengsek kamu Luna! Kali ini aku masih akan maafkan kamu. Tapi kalo kamu nekat ganggu Ellena sehelai rambut saja, aku tidak akan memaafkan kamu!’ ucap batin Sean.
__ADS_1
Mathias segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Sean. Dia menyiapkan kotak makan itu seperti telah habis di makan oleh Sean. Dia meletakkan di atas meja kerja lalu mengambil foto yang akan dia kirim ke Sean.
Setelah mendapat kiriman foto dari Mathias, Sean pun segera mengirimkan foto itu pada kekasih hatinya. Dia ingin Ellena senang karena makanannya sudah dia makan sampai habis, seperti yang ada di dalam foto yang dia kirimkan.
‘Enak banget masakan kamu. Besok bisa kirim lagi ga?’ caption yang dituliskan oleh Sean di pesan yang dia kirimkan untuk Ellena.
‘Eh udah di makan? Beneran enak?’ balas Ellena.
‘Iya ... tuh liat sendiri kan kalo makanannya sampe abis,’ balas Sean lagi.
‘Iya aku liat. Aku seneng kalo kamu suka. Besok mau dibikinin sarapan apa lagi?” tanya Ellena dengan sangat bangga.
‘Kirim aja kaya yang kamu buatin besok pagi buat Nathan.’
‘Kamu mau yang kaya gitu? Ya udah besok aku taroh lagi di meja kerja kamu ya.’
‘Iya. Ato kamu bisa kok titip ke sekretaris aku. Nanti biar aku bilang sama dia.’
‘Ga usah. Aku masih malu kalo ada orang yang tahu tentang hubungan kita.’
Sean mencoba memuji apa yang tadi dilakukan oleh Ellena untuk dia. Meskipun dia tidak merasakan nikmatnya nasi goreng yang dimasak oleh Ellena, tapi dia ingin mengucapkan terima kasih pada kekasihnya atas usahanya itu.
Di lantai bawah, Ellena yang sedang memegang ponselnya terus saja tersenyum saat dia menerima pesan dari Sean. Dia senang kalau Sean menyukai masakannya. Dia benar-benar seperti orang yang sedang jatuh cinta saat ini.
Arina yang ada di depan meja kerja Ellena pun menjadi ikut terpaku dengan sahabatnya itu. Dari tadi sahabatnya itu memegang ponselnya sambil tersenyum bahagia. Bahkan sekarang dia meletakkan ponselnya itu di dadanya seolah seperti sedang memeluk seseorang.
Tuk tuk tuk
Arina mengetuk kaca pembatas yang ada di antara meja kerja dia dan juga Ellena. Ellena yang baru saja terbang melayang karena kata pujian Sean di chat segera tersadar dan menyembunyikan senyumnya yang mengembang saat ketukan di kaca pembatas itu terdengar.
“Kamu kenapa?” tanya Arina.
“Ga papa kok, lanjut kerja gih,” ucap Ellena sambil meletakkan lagi ponselnya.
__ADS_1
“Ga mungkin ga ada apa-apa tapi kamu senyum-senyum gitu,” tanya Arina penuh selidik.
“Ada kabar baik aja soal kenaikan jabatan aku, tapi masih rahasia. Jangan kepo dulu, ok!” ucap Ellena berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya? Semangat, Ell! Kamu pasti bisa!” ucap Arina memberi pesan.
Ellena mengepalkan tangannya lalu menekuk sikunya tanda dia juga akan bersemangat dengan apa yang dikatakan Arina tadi. Ellena tidak ingin sahabatnya itu curiga kalau dia senang karena chat dari Sean. Hati Ellena saat ini teramat senang.
Mungkin ini yang disebut dengan bahagia saat pendapat pujian dari pacar. Ini pertama kalinya dia rasakan setelah lama dia tidak jatuh cinta. Jatuh cinta? Ya ... sepertinya Ellena sudah jatuh cinta pada Sean tanpa dia sadari.
“Ell ... kamu bisa ke ruang dokumen ga?” tanya Bu Silvia yang tiba-tiba berdiri di belakang Ellena dan menepuk pundaknya.
“Eh ... ruang dokumen, Bu? Apa yang harus saya minta?” tanya Ellena sambil menoleh ke belakang dan melihat atasannya itu berdiri sambil membawa note yang ada di tangannya.
“Ell, tolong mintakan dokumen calon karyawan baru dong. Saya mau periksa dan bikin jadwalnya,” perintah Silvia.
“Bu, Ellena mau naik pangkat ya?” celetuk Arina.
“Tau aja kamu itu, Rin. Kerja yang bagus, biar kaya temen kamu ini,” ucap Bu Silvia pada Arina.
“Saya pergi sekarang, Bu,” jawab Ellena.
Ellena meraih ponselnya lalu dia segera beranjak dari tempat duduknya setelah Bu Silvia pergi. Ellena melangkah santai masih dengan senyum yang mengembang. Dia hari ini mendapat dua kebahagiaan. Satu karena Sean dan yang lain adalah kabar pengangkatan dirinya yang sepertinya tidak akan lama lagi.
Ellena masuk ke dalam lift dan segera menuju ke lantai 8 gedung ini yang dipakai oleh bagian kesekretariatan. Sambil menunggu lift itu mengantarkannya ke lantai 8, Ellena memilih berkaca sambil merapikan penampilannya.
“Eh iya ... kan ada paket dateng di bawah tadi ya. Ambil sekalian aja deh,” ucap Ellena yang segera menekan tombol lobi untuk menuju ke lobi kantor terlebih dahulu.
Ellena hendak menuju ke meja resepsionis terlebih dahulu untuk mengambil paket yang datang untuk dirinya. Mumpung dia keluar ruang kerja, jadi dia sekalian saja mengambilnya.
Ting
Pintu lift terbuka. Ellena segera melangkah keluar untuk menuju ke resepsionis. Dia berjalan sambil mengirim pesan balasan untuk Sean.
__ADS_1
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat dia melihat ujung sepatu di hadapannya. Pandangan Ellena naik ke atas untuk melihat siapa orang yang ada di depannya.
Bersambung....