Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 301


__ADS_3

Hestu bukan nama yang sebenarnya. Ia lahir dengan nama yang tak ada orang lain tahu. Ia sudah mengubah nama aslinya menjadi Jarot sekitar tiga puluh tahun yang lalu, ketika dia masih sangat muda. Ia berkelana ke jalanan, bukan hanya sebagai Jarot, tetapi pernah juga sebagai Rinto, Koko, Mardi, Gustam, dan entah berapa nama palsu lain lagi yang sudah ia pakai.


Namun, setelah memakai nama Hestu, ia memutuskan tak lagi mengganti namanya lagi.


“Kenapa dengan nama Hestu?” tanya Setiawan Budi suatu kali setelah sang mafia itu menolong Hestu dari pelariannya agar selamat sebagai buronan.


“Karena Hestu membawa keberuntungan,” jawab si lelaki bertubuh kurus tapi kuat itu.


Hestu memulai perjalanan kriminalnya ketika berusia delapan tahun dan kini tidak ada yang tahu berapa usianya. Keluarganya juga tak jelas ada di mana atau dari mana. Banyak orang menduga ia jauh lebih tua dari tampangnya, tapi tak sedikit yang juga berpikiran kalau Hestu sebenarnya jauh lebih muda.


Apa pun itu, orang yang pernah bermasalah dengan Hestu, tak mungkin bisa hidup untuk sekadar menghirup napas dari atas tempat tidur. Mereka semua pasti akan mati di tangannya.


Nama Hestu dianggap membawa keberuntungan setelah ia menolong seorang lelaki Jepang, bernama Tuan Watanabe. Watanabe memiliki bisnis narkoba dan membuka jasa pembunuh bayaran.


Waktu itu Watanabe mengalami kecelakaan hebat. Sopirnya mati terbakar dan dua orang pengawalnya tak selamat, kehabisan darah. Hestu yang berkeliaran di larut malam di sekitar pelabuhan tak menyangka ia menolong sekelompok pembunuh bayaran yang akan mengincar seorang pengusaha sukses di Jakarta.


“Kau bisa mati hanya dengan melakukan ini, Nak,” kata Tuan Watanabe ketika itu. Ia berbahasa Indonesia dengan sangat lancar, karena dulu sang kakek pernah menetap lama di sini setelah masa perang kemerdekaan.


“Aku sendiri berkeliaran di malam larut begini untuk membunuh orang yang bisa memberiku uang,” kata Hestu saat itu.


“Jadi, kau pembunuh bayaran?” tanya Watanabe yang kesusahan ditarik keluar oleh Hestu dari dalam mobilnya yang terbarik dan ringsek parah.


“Tidak, Pak. Saya perampok,” jawab Hestu, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaket lusuhnya.


“Bodoh!” bentak Tuan Watanabe yang kesal karena dia cidera parah kakinya, justru malah coba dirampok. “Bantu aku dulu. Nanti kau kuberi uang tanpa perlu kau rampok diriku!”


Hestu entah mengapa saat itu merasa harus patuh saja pada Tuan Watanabe. Maka, ia urung merampok lelaki yang baru saja kecelakaan itu, dan memapahnya ke tempat yang nyaman.


“Saya tak bisa memanggil ambulans atau polisi,” kata Hestu.


“Memang tidak perlu,” jawab Watanabe saat itu. “Karena kau tahu aku di sini buat apa, Nak? Aku dan teman-temanku yang mati itu kemari untuk membunuh seseorang. Dia tinggal tak jauh dari perumahan dekat pelabuhan ini.”


“Oh, ya?” sahut Hestu tak percaya.


“Ya. Dan bayaran yang kami dapatkan lumayan besar. Aku harusnya tak ikut, tapi aku perlu memastikan semua berjalan lancar,” ujar Watanabe yang mencoba meletakkan punggungnya lebih tepat ke sebidang tembok agar terasa nyaman.


“Kalian pembunuh bayaran?”

__ADS_1


“Tepat sekali, Nak.”


“Dan rupanya kalian gagal karena kecelakaan.”


“Ya, sopirku ternyata mabuk dan dia bertengkar dengan keponakanku tadi! Bocah itu ikut denganku untuk magang,” jawab Tuan Watanabe.


Pria Jepang itu lantas menatap tajam mata Hestu. “Kau sudah bunuh berapa orang, Nak?”


“Empat, Pak,” jawab Hestu yang kini tampak tertarik pada sosok lelaki Jepang yang berkharisma tersebut.


“Malam ini bisa kau tambah jadi lima?” kata Watanabe sambil terbatuk.


“Tentu bisa, Pak.”


“Nah, kau lakukan itu. Maka kau bukan hanya mendapatkan sedikit uang, tapi kau akan mendapat pekerjaan baru. Bagaimana?”


Hestu jelas tak menolak tawaran emas itu. Ia berangkat ke rumah sang target sesuai instruksi dari Tuan Watanabe, dan menyikat pengusaha itu tanpa banyak kendala.


Hestu mungkin saat itu masih terlalu ceroboh. Sosoknya tertangkap di CCTV.


Hestu mengeluarkan kamera dari sakunya. Kamera milik Tuan Watanabe. Si lelaki Jepang itu tersenyum senang. Dari foto itu, terlihat targetnya sudah mati.


“Baiklah. Tak serumit yang kukira. Sekarang bawa aku pergi dari sini. Kau tak akan balik ke Jakarta sampai waktu yang belum pasti,” kata Watanabe.


Hestu mengerti itu.


Ia membantu pria Jepang tersebut bangkit, memapahnya jalan, dan mencari taksi gelap, langganannya ketika habis merampok orang di area sepi tersebut, untuk menuju ke tempat tinggalnya yang sempit di sudut pelabuhan. Dua hari berikutnya, Hestu sudah berada di Jepang, menjadi anak buah Watanabe.


***


“Lalu bagaimana loe dipenjara? Jadi buronan internasional segala. Kasus kematian politikus Jepang itu, ya?” tanya Setiawan Budi.


“Bukan hanya itu, Tuan,” jawab Hestu.


Memang, status Hestu yang dianggap penjahat berbahaya bukan hanya soal matinya seorang politikus Jepang di tangannya, tapi juga beberapa sosok penting dari berbagai penjuru dunia. Tuan Watanabe tampaknya berhasil mendidik Hestu, dan kabarnya, dia dipuja-puja oleh Hestu selaiknya dewa.


Ketika Tuan Watanabe mati dalam sebuah misi, Hestu mewarisi sejumlah harta dari sang guru. Ya, begitulah ia menganggap sosok Watanabe. Mungkin ia dan Watanabe tak jauh beda hubungannya dengan Aditya dan Guru Tanpa Nama. Hanya jalan mereka saja yang berbeda. Itulah kenapa Hestu sangat ingin membunuh Aditya.

__ADS_1


Peninggalan Watanabe bukan hanya harta, tetapi juga sesosok anak gadis yang juga tak keberatan Hestu memegang kursi ‘perusahaan’ mendiang sang ayah. Gadis itu Miko. Ia kemudian menikah dengan Hestu dan memiliki empat orang anak.


Hestu tak bisa melarikan diri setelah dijebak oleh kliennya sendiri suatu kali ketika ia memulai misi pembunuhan di Rusia. Ia ditahan di sana oleh sejumlah tentara bayaran, disiksa, diperlakukan tak ubahnya binatang sebelum diserahkan ke polisi. Di penjara, ia mendapat banyak pengalaman tak menyenangkan, tapi itu justru membuat Hestu merasa jauh lebih hidup.


“Saya tak pernah merasa lebih hidup sebelum hari itu,” kisahnya pada Setiawan Budi.


Hestu mengaku di penjara Rusia itu ia membunuh selusin napi lain yang meledek dan meremehkannya. Membunuh mereka dengan hanya menggunakan gagang sapu.


Hestu dioper ke penjara yang lebih ketat penjagaannya, di lokasi lain di Eropa Barat. Dan ia membunuh para napi lagi. Ia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai suatu kali seorang hakim di Jerman memutuskan memberinya hukuman empat ratus tahun penjara.


“Empat ratus tahun. Artinya saya disuruh membusuk di tempat itu sampai saya tak lagi bernapas,” katanya dengan dingin.


Itulah kenapa Hestu melarikan diri. Ia kabur dengan cara-cara yang di suatu hari itu menjadi semacam legenda di kalangan para napi di beberapa penjara terkenal di seluruh penjuru dunia.


Kabarnya, ilmu hitam berperan besar dalam kesuksesan kaburnya dia, tetapi Hestu selalu membantah itu.


“Saya kabur karena saya cerdas,” katanya selalu jika berkisah masa lalunya.


Kini, ia yang seharusnya telah berada di puncak dunia, malah menjadi anjing dari sosok mafia ompong bernama Setiawan Budi. Ia memang tak ingin lagi berkelana ke luar negeri. Ia ingin menetap di tanah air, dan Setiawan Budi-lah yang saat itu bisa memberi perlindungan.


Tapi, Setiawan Budi kini sudah tak berguna.


Hestu memasuki ruangan sang tuan, dan melihat Setiawan Budi sedang mencopot pakaiannya, tak menyadari kedatangannya.


Hestu melangkah dengan tenang, mendekat dan mendekat. Pisau itu ia sabetkan ke leher sang tuan setelah dengan kekuatan penuh ia balikkan tubuh Setiawan Budi agar menghadap kepadanya.


“Bangsat loe, Hestu! Anjing biadab!” pekik Setiawan Budi yang sayangnya sudah terlambat. Darah mengucur deras dari lehernya.


Setiawan Budi ambruk. Sia-sia membuntu aliran darah dari lehernya yang koyak.


Sebelum mati, ia sempat mendengar seluruh pengakuan Hestu, bahwa sang ‘anjing’ penjaga inilah yang mengkhianatinya selama ini.


Setiawan Budi meregang nyawa dalam kondisi berdarah-darah. Baru ditemukan dua jam kemudian oleh seorang gadis simpanan yang baru pulang dari diskotik, yang menjerit-jerit. Ia bersaksi melihat kaca jendela pecah. Ia bersumpah melihat ada banyak jejak sepatu berlumpur di kamar itu.


Orang-orang segera menduga, pasti seorang pesaing-lah yang membunuh pria tua itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2